Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 11


__ADS_3

Bedanya luka dan Rindu, luka bisa sembuh tetapi rindu akan terus saja kambuh. Begitulah yang dirasakan Aditya setiap waktu. Setiap dia sendiri, setiap malam datang, hatinya selalu sedih dan pilu. Hatinya hampa, kosong, menangis tanpa suara dan air mata. Tiga tahun telah berlalu, peristiwa tragis yang membuatnya selalu menangis setiap detiknya.


Ziya, aku sudah mencoba untuk menerima takdir cinta yang tidak berpihak kepada kita. Tapi hati ini tetap tidak bisa. Aku selalu berharap waktu segera berlalu dan membawaku kepadamu, aku hidup Ziya, tapi tidak dengan hatiku. Dia telah mati bersama dengan kepergianmu. Sungguh aku menyesali semua yang telah terjadi, aku tidak bisa menjagamu, tidak bisa menjaga buah cinta kita, tapi aku berjanji kepadamu, aku akan menjemput, dan merawatnya dengan sepenuh hati. Batin Aditya.


"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Rizal yang setia selalu mengawal dan menemani kemana saja sang Bos itu pergi. Saat Aditya sedih dan terluka dialah orang yang pertama kali mengetahui hal itu. Rizal bagaikan bayangan Aditya. Kini Aditya melirik lemah tangan Rizal yang masih bertengger di bahunya.


"Maaf Tuan!" Rizal ganti menyodorkan minuman kepada Aditya.


"Silahkan minum dulu Tuan, mungkin dengan minum, bisa menenangkan hati dan pikiran Tuan."


"Rizal, apakah aku tidak pantas menjadi seorang ayah? Kenapa aku tidak bisa memilikinya? Ziya pasti akan marah kepadaku nanti. Aku tidak bisa menjaganya dengan benar!" Aditya mengusap wajahnya frustasi.


Dia mengingat wajah anaknya yang begitu mirip dengan dirinya. Semua apa yang ada dalam dirinya, mengalir pada tubuh anak itu, terutama wajah.


Saat di rumah Steven.


"Jangan menangis, Dady pasti akan menyelesaikan masalahmu," anak kecil itu, mengulurkan tangan mungilnya, terlihat sebuah sapu tangan berada di tangan itu.


Deg


"Mulai sekarang, kamu jangan menangis, oke Boy!" tangan mungil itu menepuk bahu Aditya, entah ada kekuatan di dalamnya, perasaan Aditya yang semula kacau mendadak jadi tenang dan damai. Aditya menoleh perlahan kepada anak itu, Aditya tertegun sejenak.


Wajah yang sangat mirip dengan dirinya.


"Don't cry!" suara anak kecil bagaikan oase di gurun pasir. Begitu sejuk dan menenangkan, matanya yang bening membuat Aditya tak kuasa untuk segara memeluknya.


Cukup lama Aditya memeluk anak itu, hingga anak itu sendiri yang memberontak untuk minta dilepaskan.


"Zafran, Sayang! Mandi dulu gih, sama Ano dan Nanay di belakang!" titah Nabila. Dia juga meraih tubuh bocah kecil itu, memisahkan pelukan Aditya.


"Zafran!" lirih Aditya hampir tidak terdengar. Itu adalah nama yang diinginkan oleh Ziya.


"Kenzo Zafran Gerrard," ucap Nabila. "Dia putraku dan putra Steven."


"Tidak! Dia putraku dengan Ziya." tolak Aditya.


"Anakmu meninggal!"


"Tidak! Dia masih hidup. Dan tadi yang disini, adalah anakku!" tegas Aditya dia berdiri tegak dengan tatapan elangnya.

__ADS_1


Semua orang yang di sana mendadak diam semua. "Sayang, kondisikan emosimu, itu akan


berpengaruh pada bayi kita," Steven merangkul pundak istrinya dan menuntunnya untuk duduk.


"Sayang, sudah saatnya Aditya tahu apa yang sebenarnya!" ucap Steven. Aditya yang mendengarnya pun membelalakkan mata. Sepertinya dugaannya benar.


"Berarti dia putraku?" Dengan tidak sabarnya Aditya menarik tubuh Steven hingga Steven melepaskan tangannya dari pundak Nabila, dan berdiri sejajar dengan Aditya. "Katakan! Apakah dia putraku?"


"Bukan!"


"Ya!" Nabila dan Steven mengucapkan kata yang berbeda dalam waktu bersamaan, membuat Aditya semakin geram, namun dia harus bisa mengontrol emosi saat ini, Nabila adalah sosok yang tidak bisa dia lawan dengan kekerasan ataupun amarah. Sebab jika kau marah, tentu Nabila semakin mempersulit keinginan Aditya.


"Sayang, kita harus jujur, seperti apa yang telah diamanahkan oleh Ziya." ucap Steven lagi.


Nabila akhirnya menceritakan yang sebenarnya terjadi, bahwa beberapa saat sebelum penculikan Ziya terjadi, Ziya meminta kepada Nabila dan Steven melalui Cak Ali, agar anaknya ditukar dengan bayi yang sudah meninggal, guna mengelabuhi Maya yang ingin berbuat tidak baik kepada Ziya.


Nabila dan Steven menyetujui hal itu. Nabila yang sudah pulih terlebih dahulu, sebab melahirkan secara normal, pulang terlebih dahulu dengan membawa dua bayi, yang dinobatkan sebagai bayi kembar.


"Baiklah, Aditya. Kau boleh membawa pergi Zafran suatu hari nanti, jika kau sudah menemukan istri dan ibu yang pantas dan cocok untuk Zafran. Aku akan memberi tahuku kriteria ibu yang pantas untuknya. Dan aku yang akan memilihkannya untukmu. Tapi tidak untuk saat-saat ini. Bila waktunya, aku akan memberitahu." tegas Nabila.


"Tapi aku bisa bertemu dengan Zafran setiap saat kan?" Nabila mengangguk.


Aditya masih termenung memikirkan nasibnya, nasib anaknya di masa depan nanti.


"Rizal, apakah aku harus menuruti persyaratan Nabila?"


"Menurutku, itu lebih baik Tuan. Setidaknya, Tuan kecil Zafran akan bersama dan dalam perlindungan Tuan."


"Tapi kenapa harus menikah lagi?"


"Mungkin agar nanti Tuan Kecil mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang lengkap Tuan!" ucap Rizal.


"Tapi tidak harus gadis yang dipilih oleh Nabila juga kan, Zal?" Keduanya hening kembali.


"Rizal, bawa aku ke klub," Rizal hanya mengangguk dan mengambil jaket kulit miliknya dan juga milik Aditya.


Beberapa menit di perjalanan, mereka telah sampai pada sebuah dunia malam yang penuh dengan surga dunia. Mereka seperti kupu-kupu yang menari seiring denyut musik yang bergelombang memekakkan telinga.


Aditya masuk diikuti oleh Rizal. Dengan wajah datarnya, Aditya mengambil tempat duduk di hadapan bertender. Aditya memesan Vodka, sedangkan Rizal hanya memesan minuman dengan kandungan alkohol rendah. Dia ingin selalu bisa menjaga Tuannya. Aditya tersenyum kecut melihat hal itu.

__ADS_1


"Kau selalu siaga, Zal!"


"Sudah tugas saya Tuan!"


"Betapa lemahnya saya, Zal. Bahkan nyawa pun dijaga oleh orang lain. Dan hati ini juga begitu!" Aditya meneguk minumannya hingga tandas. Rizal tersenyum tipis melihat hal itu.


Bertender menuang kembali minuman yang sama ke dalam gelas milik Aditya.


Seorang perempuan berambut pirang dengan pakaian kurang bahan mendekati Aditya. Rizal yang melihatnya memberi isyarat untuk menjauh. Tapi sepertinya gadis itu tidak mengindahkan, berlagak sok cantik dia mendekati Aditya.


"Halo, Tampan!" Wanita itu mengelus rahang Aditya dengan lembut, lalu turun ke dada.


"Mau cari mati kau!" ucap Aditya terdengar menusuk, dan jangan lewatkan tatapan matanya yang terlihat tajam seperti Elang kelaparan. Gadis itupun akhirnya pergi dengan ketakutan. Rizal tersenyum sinis.


"Murahan!"


"Dia cukup lumayan Bos, apa kau tidak ingin mencobanya?" goda Rizal dengan terkekeh. Bos yang dulu bucin, kini masih tetap setia meski pasangannya telah tiada.


"Kenapa tidak kau saja yang mencoba. Sepertinya dia begitu ahli, siapa tahu dia bisa mengajari burungmu itu!" ketus Aditya.


"Longgar, mana nikmat!"


"Itu, yang baju putih di pojokan kayaknya masih sempit!" Aditya masih fokus sama minumannya, tapi kenapa bisa tahu jika di pojok sana ada seorang gadis yang duduk sendiri sambil mengaduk aduk minumannya. Sepertinya gadis itu menunggu seseorang.


"Bos, dia sepertinya bukan peminum." Rizal melihat yang di pesan hanya sebuah minuman bersoda.


Rizal sesekali masih melirik gadis yang tengah duduk di sofa sudut ruangan yang cukup temaram. Di sampingnya ada sepasang manusia yang saling berpagutan tapi gadis itu sepertinya tidak terganggu. Rizal menajamkan penglihatannya, dia seperti pernah melihat gadis itu, entah dimana, Rizal mencoba mengingatnya.


Hingga tangan gadis melambai ke arah pintu. Rizal bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Wanita cantik yang tadi siang menabrak Aditya.


"Tuan, gadis itu ada disini Tuan!" ucap Rizal dengan antusias.


Aditya menoleh sekilas, dadanya tiba-tiba saja berdetak saat melihat senyum gadis itu, meski bukan untuk dirinya.


Dan tiba-tiba datang dua pemuda datang menggoda Zea dan temannya.


"Dia dalam masalah, Tuan!"


"Bukan urusan kita," jawab Aditya cuek.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2