
Cerita Cak Ali.
Seorang pemuda berpakaian rapi berhenti di depan rumah minimalis yang letaknya berada di pinggir desa. Rumah yang cukup jauh dari keramaian, tapi suasananya begitu memanjakan mata. Sawah bersusun dan berakhir pada sungai yang mengalir cukup jernih terlihat jelas dari rumah ini.
"Anda sudah datang Tuan!" sapa pria paruh baya yang sengaja keluar hanya untuk menyambut tamunya. Badannya yang ringkih di balut shal dan baju hangat.
"Sepertinya aku juga akan betah di sini Cak," seloroh pria itu sambil menyalami pria paruh baya itu.
"Nikmat manalagi yang kau dusta kan!"
"Kau benar Cak Ali, dan sekarang kau terlihat sangat sehat ya!"
"Betul Tuan! Aku bahkan sudah siap untuk menceritakan segalanya." pria itu tersenyum lebar. Inilah hal yang paling dia tunggu-tunggu selama dua setengah tahun terakhir sejak dia menemukan Cak Ali dalam keadaan tak sadarkan diri. Cak Ali mengalami masalah di bagian pernafasannya, sehingga sulit mengajaknya bicara terlalu lama. Tapi berkat terapi dan obat-obatan dari dari dokter, Cak Ali akhirnya bisa pulih walau harus mengasingkan diri di tempat yang jauh dari kota, agar tetap terjaga dari polusi. Dan pernafasannya bisa segera membaik.
Denny datang menemui Cak Ali di sebuah rumah sederhana di desa. Denny yang semula mengira bahwa Cak Ali sudah meninggal, nyatanya dia dipertemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Apa kau bisa mulai bercerita? Aku mohon Cak Ali, Aku ingin pewaris Bagaskoro tetap berlanjut. Maya telah banyak berbohong kepadaku. Aku sudah muak dengan semuanya," Denny mengepalkan tangannya kuat.
"Tentu, Tuan. Aku akan mulai bercerita." Cak Ali memposisikan dirinya, bersandar pada dinding kayu jati. Mereka berada di teras, dipan yang terbuat dari bambu itu menjadi tempat mereka bersantai dalam cerita masa lalu yang menegangkan.
"Dokter keluar dari ruangan operasi, tapi tidak mengabarkan hal yang baik. Devan histeris dan tidak percaya, masuk ke dalam ruangan itu. Dia memeriksa seluruh tubuh adiknya. Menekan dada, dan memberikan nafas buatan. Entah apa yang dilakukan, tapi aku pernah melihatnya pada sebuah film, bahwa itu adalah upaya menyelamatkan seseorang yang jantungnya berhenti berdetak.
__ADS_1
"Selang beberapa lama, ternyata usaha Devan membuahkan hasil. Tangan Nona Ziya bergerak. Betapa bahagianya semua yang ada di sana. Perawat berteriak memanggil dokter. Bahkan Tuan Devan sendiri tertawa bersorak sebab Nona Ziya masih hidup. Lalu beberapa dokter masuk dan kembali sibuk dengan pekerjaan mereka."
Dokter keluar dari ruang itu dan mengabarkan kabar baik, bahkan janin Nona Ziya juga selamat. Aku yakin, itu semua berkat perbuatan baik yang dilakukan oleh nona Ziya, sehingga membuat Tuhan tidak tega mengambil nyawa kedua ibu dan anak itu." Cak Ali menatap nanar hamparan sawah di hadapannya. Cak Ali berulang kali bernafas meski terasa berat.
Satu hari di rumah sakit, datanglah Nona Nabila dan suaminya. Nona Nabila masuk ke dalam ruangan. Aku masih mengamatinya di luar saja. Dan setelah itu, para suster memindahkan Nona Ziya ke ruang rawat inap. Banyak perban di kepala Nona Ziya, sebab terkena pecahan kaca.
Saat tersadar, Nona Ziya tidak mengenali lagi siapa saja yang berada di sana. Nona Ziya mengalami cidera di kepalanya, hantaman vas bunga yang di lempar oleh nyonya Maya, berpengaruh bagi otaknya. Dan beberapa serpihan kaca yang menempel di wajah Nona Ziya, semakin memperburuknya, banyak kain kasa yang menempel di wajah.
Saat itu, datanglah Tuan Aditya. Aku memang mengabari dirinya, jika Nona Ziya di rawat. Tuan Aditya yang baru saja pulang dari tugas keluar kota, tentu saja marah, mendapati istrinya dalam keadaan tidak baik.
Tuan Aditya datang langsung memeluk Nona Ziya. Tapi Nona Ziya tidak mengenalinya. Bahkan berusaha memberontak. Tuan Aditya semakin menyalahkan dirinya sendiri. Nona Nabila juga marah-marah kepadanya.
Tuan Steven yang di sana juga berusaha meredam kemarahan nona Nabila. Bukannya Nona Nabila mereda, tapi malah semakin menjadi. Nona Nabila memukul dada Tuan Steven yang dia anggap pembohong. Dan dari perkataan mereka, Aku menarik kesimpulan, jika awalnya Tuan Steven menyembunyikan keadaan Nona Ziya.
Berkat kegigihan Tuan Aditya, nona Ziya kembali pada Tuan Aditya, dengan syarat, Nona Ziya harus aman selamanya. Tuan Aditya membawa istrinya pulang ke rumah mereka sendiri dengan rasa bahagia. Hari-hari mereka dipenuhi kegembiraan. Tuan Aditya begitu nyaman menjalani perannya sebagai suami dan calon ayah siaga.
Tuan Aditya begitu bahagia, meski Nona Ziya belum sepenuhnya mengingat, tetapi Nona Ziya begitu manja terhadap Tuan Aditya. Apalagi kehamilan Nona Ziya, membuat keduanya terlihat selalu mesra. Hingga suatu hari, Tuan datang bertamu, waktu itu, Tuan meminta maaf atas kesalahan yang di perbuat oleh istri Tuan. Sampai Nyonya Maya menangis tertunduk meminta maaf. Meski Nona Ziya kebingungan karna Amnesianya, Nona Ziya yang pada dasarnya baik pun hanya memaafkan.
Disitulah semua orang menduga, jika semuanya baik-baik saja. Bahkan mertua telah menyadari kesalahannya, tinggallah hanya kebahagiaan.
Hingga suatu hari, Tuan Aditya harus kembali keluar kota. Tuan Aditya kembali meninggalkan Nona Ziya yang dalam keadaan hamil besar. Dititipkan di rumah utama Bagaskoro.
__ADS_1
Keadaan saat itu memang tidak baik. Perusahaan mengalami guncangan, sebab saudara angkat Tuan Denny meminta hak waris. Tuan Denny dan Tuan Aditya jadi sama-sama sibuk. Nona Ziya yang hamil besar hanya bisa menangis, tapi setiap ada yang bertanya, dia berdalih jika baik-baik saja. Sedangkan kedua ipar kembarnya menuntut ilmu ke luar negeri."
Denny menghembuskan nafasnya kasar. Denny ingat betul kondisi saat itu, keuangan perusahaan tidak stabil, ditambah banyaknya pihak yang korupsi.
"Aku saat itu tidak memikirkan apapun selain mempertahankan perusahaan yang hampir runtuh." lirih Denny hampir tidak terdengar.
"Dan di saat itu pula, kebusukan nyonya Maya terungkap kembali. Nyonya Maya menanti keteledoran saya dalam mengemban amanah melindungi Nona Ziya."
"Apa yang dilakukan istri saya waktu itu?" tanya Denny tanpa basa-basi.
"Nyonya Maya mengajak keluar Nona Ziya, tanpa pengawal ataupun sopir."
"Apa kau tidak mengikuti mereka?"
"Saya mengikutinya Tuan."
"Saya melihat nyonya Maya membawa Nona Ziya ke rumah sakit.
Setelah itu, saya kehilangan jejak. Tapi setelah berusaha mencari, saya melihat Nona Ziya di dorong di atas brankar dan masuk ruangan operasi. Saya pun berpikir jika Nona Ziya akan melahirkan.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Deny sudah tidak sabar. Bahkan badannya dia Condongkan agar lebih jelas mendengar cerita Cak Ali yang nafasnya mulai tersengal.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya, tinggalkan jejak, love you all