Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 39


__ADS_3

Kenyataannya adalah, cinta tetap teruji meski kita berusaha mengikat hati.


Aditya meninggalkan Zea di koridor rumah sakit, untuk mengambil mobil di parkiran. Ada orang iseng yang sengaja memarkir mobil sembarangan, sehingga Aditya kesulitan mengeluarkan mobil. Untung saja, ada penjaga yang membantunya dengan cara menghubungi si pemilik mobil.


"Zea, dimana Zea? Bagaimana dia bisa menghilang?" Aditya panik bukan main. Dengan terburu-buru, Aditya pergi ke ruang Cctv. Tiada guna memiliki rumah sakit sendiri, jika dia juga kesusahan begini. Pertama karena parkiran dan sekarang, dia kehilangan istrinya.


Jenna yang tadi sempat menemani juga merasa sangat bersalah. Awalnya dia yang berinisiatif menjaga Zea. Aditya dia suruh ambil mobil, dan Jenna dan Zea menunggu di koridor. Sayangnya, Jenna ingin membuang hajat, sehingga dia harus ke kamar mandi.


"Momy tidak ingin ada terjadi hal buruk terjadi padanya. Tolonglah Zea." pinta Jenna histeris. "Tahu begini , aku tidak akan meninggalkan dirinya sendiri tadi."


"Sabar Nyonya Anderson, saya pastikan Zea akan kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun." janji Aditya.


"Cepat periksa cctv koridor utama." Perintah Aditya, dua satpam yang baru saja datang langsung menjalankan perintah."


" Kemana kamu, Zea?" Aditya mengusap kasar wajahnya. Baru saja dia mereguk manisnya pertemuan, mengapa harus terpisah kembali. Dia harus menuntut keadilan Tuhan. Memaksa agar Zea dikembalikan ke dalam pelukannya. Dan bila itu terjadi, Aditya tak akan pernah lagi meninggalkan nya barang sedikitpun. hemmmh


"Ketemu Tuan! seseorang telah menculik Nona Zea." Terlihat jelas dari Cctv, dua orang berpakaian serba hitam di lengkapi penutup kepala yang juga hitam, membius Zea hingga tak sadarkan diri. Meski Zea sempat melawan, tapi sepertinya tetap kalah oleh pengaruh obat bius.


Duaaarrrrr


"Menyingkir kau!" Aditya mengambil alih kendali, orang yang bertugas mengawasi Cctv hampir saja terjungkal.


Aditya memainkan jemarinya, memeriksa nomer mobil yang digunakan, tak lupa pula Aditya memotret nomer itu untuk diberikan kepada anak buahnya nanti. Selain itu, Aditya juga mencoba mengingat kemungkinan dia pernah bersitegang dengan orang lain. Tapi sepertinya tidak ada. Entahlah.


"Siapa mereka?" Aditya masih menerka. "Dua orang berbaju hitam lengkap dengan penutup kepala, adalah pelaku penculikan Zea. Dan sialnya lagi, tidak ada seorangpun yang menolong istrinya. Iyalah, tempat itu cukup lenggang, sebab tidak banyak orang yang lewat sana.


Aditya mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Cepat kau selidiki nomer polisi yang aku kirimkan padamu. Juga kirim beberapa anak untuk mencari keberadaan Zea." Titah tegas Aditya. "Suruh ahli IT kita guna melacak keberadaan si pelaku.


"Berani sekali orang itu. Dia tidak sadar berurusan dengan siapa." Aditya berjalan cepat menuju tempat kejadian semula.


"Ada apa Aditya? Dimana Zea? Mengapa kau di sini sendirian?" Jenna ini yang tadinya bersama Zea. Jenna yang kebelet karena faktor alam, harus meninggalkan Zea untuk sementara. Sayangnya, toilet terdekat dari koridor utama mengalami kerusakan. Alhasil, Jenna pergi ke toilet lain.


"Nyonya, ada yang menculik Zea, mereka membawa Zea." Jenna shock, memegang kepalanya yang tiba-tiba pening. Reflek Aditya membantunya agar tetap tegak, kemudian menuntun Jenna duduk pada kursi tunggu yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Nyonya! kumohon Nyonya, kuatkan hatimu. Kita harus mencari Zea." ucap Aditya, bisa repot jika dia tetap mengurus mama mertuanya ini. Bisa-bisa jejak Zea menghilang.

__ADS_1


Untung ada seorang suster yang segera menghampiri, guna memberikan pertolongan pertama.


"Suster! Suster! Cepat kemari! Bantu saya."


"Nyonya kenapa?" tanggap suster itu.


"Kepala saya pusing."


"Saya ambilkan minyak kayu putih, mungkin bisa menghilangkan pusingnya." Jenna mengangguk saja.


"Kamu pergilah." titah Jenna kali ini kepada Aditya. "Temukan Zea segera. Jangan sampai ada sesuatu hal yang buruk menimpanya."


"Pasti." jawab Aditya mantap


"Sus. Antar dan rawat Nyonya Jenna sampai keadaannya membaik."


"Iya, Tuan!"


"Aditya!"


"Bawa Zea dalam keadaan selamat." Aditya mengangguk tanpa kata. Setelah itu, berjalan kilat meninggalkan Jenna.


Zea dalam keadaan tidak sadarkan diri, di bawa masuk ke dalam sebuah rumah minimalis yang cukup jauh dari hunian lainnya. Tempat yang asri dan menjanjikan panorama indah. Daerah pegunungan yang sejuk dengan pepohonan besar yang menambah kesan hijau menyegarkan. Aroma bunga sesekali terhirup semerbak mewangi.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia baik-baik saja, Bos."


"Bagus! perketat penjagaan, namun jangan sampai dia terusik. Kau bisa menjaganya di luar. " Pria bernama Jack itu mengambil rokok dan menyulutnya perlahan, asap keluar melalui rongga mulut dan juga hidung.


"Apa tidak terlalu berbahaya Bos? kita telah berurusan dengan Bagaskoro. Dan keluarga Anderson." seorang anak buah terpercaya mulai meragukan aksi bosnya. Dia orang suruhan Marina yang sengaja di tempatkan di sisi Jack.


"Kau meremehkan aku?" Jack menarik kuat tubuh anak buahnya. Dia sudah malang melintang di dunia kejahatan, sebab itulah, tidak takut pada apapun, bahkan kematian.


"Ampun Bos! Ampun." perlahan cengkeraman itu terlepas.

__ADS_1


"Kita merantau jauh keluar Negeri juga untuk mengasah kemampuan. Tentu saja, saat kembali, kita akan tetap melakukan tujuan kita . Tiga tahun yang lalu, kita juga berurusan dengan Mike. Dia adalah kakak dari gadis ini. Aku berharap, kali ini juga berhadapan dengan dirinya. Mike Anderson telah berani mengambil nyawa adikku. Maka jangan salahkan aku, jika melakukan hal yang sama."


"Tapi, Bos! bagaimana jika yang datang kali ini Tuan Bagaskoro? bukankah dia juga mengalahkan kita malam itu?" ingat akan Zea yang berhasil meloloskan diri sebab bantuan Aditya.


"Diam kau! Lakukan saja perintahku, jangan banyak bacot." menarik kerah jaket anak buahnya. Dengan takut, anak buahnya pun mengangguk.


"Ba-baik Bos."


~


~


Ruangan meeting yang semula berjalan kondusif, kini harus dihentikan untuk sementara, sebab masalah keluarga. Mon mendekati Mercell setelah mendapatkan notifikasi dari seseorang. Mon membisikkan sesuatu. Setelahnya,


"Rapat akan dijadwalkan lagi besok, saya minta untuk merevisi ulang semua yang telah aku jelaskan tadi." Marcell berdiri lalu pergi dari ruang rapat.


"Kita kecolongan, Dad! Zea telah diculik oleh Jack." ucap Mike tergopoh-gopoh datang menemui Marcell


"Kita atur strategi, kita belum tahu dimana Jack menyembunyikan Zea. Tunggu! darimana kau tahu jika itu adalah Jack?" selidik Marcell.


"Rizal mengirimkan foto terjadinya penculikan itu, mereka memiliki tato di tangan sebelah kiri. Tato simbol Singa Kelaparan." ungkap Mike. "Aku pernah berurusan dengan Jack sebelumnya, Pa! Jadi kemungkinan, Jack menculik Zea sebab keinginan untuk balas dendam."


"Hal sekecil ini kau masih saja merepotkan Dadymu ini. Keterlaluan!" Marcell mengumpat kesal. Padahal dadanya berdegup tak karuan, khawatir jika akan terjadi sesuatu pada anak perempuannya.


"Maaf, Dad, Aku hanya ingin meminjam beberapa orang saja, sebab orang-orang ku masih dalam tugas di Kanada." ucap Mike.


"Pa! Pa! Zea Pa! Zea. Zea kita di culik." Jenna entah darimana tiba-tiba saja muncul.


Sedangkan di tempat lain seorang wanita sedang menikmati perawatan di sebuah salon kecantikan. Sebuah notif semakin membuat wanita cantik itu melebarkan bibir.


"Kau memang bisa di andalkan. Tidak rugi aku menggelontorkan banyak dana untukmu." wanita itu memposisikan tubuhnya dengan sangat nyaman.


"Sepertinya kukuku juga perlu di percantik. Aku sangat bahagia hari ini, kau akan mendapatkan bonus."


"Anda memang yang terbaik."

__ADS_1


to be Continued...


__ADS_2