Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Episode 59


__ADS_3

Pagi yang cerah.


"Sayang jangan gerak terus dong ih." Ziya berusaha memasangkan dasi dengan benar di leher suaminya dengan sedikit berjinjit. Tapi sepertinya Aditya tidak membiarkan semua berjalan lancar. Dia sibuk dengan aktivitasnya mencium pipi dan bibir Ziya, tangannya juga tidak bisa di kondisikan lagi.


"Kamu manis, aku suka."


Masih dengan tangan jailnya menggerayangi bagian sensitif Ziya. Enak juga menurut Ziya tapi bukan waktunya untuk itu. Pagi ini Rizal sudah mewanti wanti akan ada meeting penting.


"Nanti keburu Rizal datang, yang!" Berusaha memasang dasi dengan benar.


"Sayang kalau nggak mau anteng, aku nggak mau pasang." Pura pura ngambek.


"Oke oke, sini istriku yang cantik, yang manis, dan yang aku cintai sepenuh hati." Memegang pinggang Ziya. Mulai anteng membiarkan Ziya memakaikan dasi dengan benar.


"Akhirnya, selesai juga. Sudah perfect suami tampanku yang mesum." Ziya tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Kau ya mulai berani sekarang ya." Menggelitik pinggang Ziya.


"Sayang, jangan ih geli. Ayo cepat turun nanti kamu terlambat."


"Baiklah, ayo turun." Ziya mengambil tas suaminya dan menggandeng lengan Aditya. Mereka berjalan beriringan. Dibawah sudah ada Syita dengan sarapannya. Dan Cak Ali juga Rizal yang ikut sarapan.


"Selamat pagi tuan, selamat pagi nona." Cak Ali dan Rizal kompak.


"Selamat pagi kakak ipar, selamat pagi, bang!"


"Maaf, tuan!" Cak Ali berdiri dia merasa tak pantas ikut sarapan dengan majikan. Buru buru dia menarik kursi untuk Aditya.


"Mengapa berdiri, Cak mari lanjutkan." Aditya berkata lalu menarik kursi untuk Ziya.


"Mama kenapa tidak dirumah, kak!" Syita bertanya sambil menyuapkan nasi kemulutnya.


"Kalau makan jangan sambil ngomong. Cak Ali pasti sudah cerita padamu kan. Jangan pura pura tidak tahu." Aditya sambil mengambil sendok dan mulai makan sarapan yang diambilkan oleh Ziya.


"Abang ih selalu aja begitu!" manyun. Cak Ali hanya diam menunduk. Rizal diam fokus pada sarapan di hadapannya.


"Sayang, kamu mau ikut ke kantor nggak?" Ziya menghentikan sarapannya. Heran dengan sikap Aditya yang beberapa pagi ini bertanya seperti itu. Dia memang belum bercerita tentang kedatangannya ke kantor waktu itu.


Apakah Aditya tahu, pikirnya. Atau sopir itu yang cerita atau Rena ah Cak Ali kan juga tahu.


"Tapi, sayang!"


"Nanti siang, datanglah dengan Syita ke kantor bawa makan siang untukku ya." mengambil tissue untuk mengelap mulutnya setelah itu berdiri. Ziya juga ikut berdiri ingin mengantar kepergian Aditya.

__ADS_1


"Habiskan saja sarapanmu, sayang!" Aditya mencium kening istrinya. Mengambil tas di kursi samping Ziya lalu pergi bersama Rizal. Tentunya setelah Rizal mengambil alih tas yang di pegang Aditya.


Kini tinggal Ziya dan Syita berdua. Cak Ali yang telah selesai membereskan piring piring kotor di bantu oleh Lisa.


"Lisa, apa kabar kamu?" Ziya memeluk Lisa yang beberapa hari ini baru, dia lihat.


"Kabar baik nona."


"Panggil saja Ziya!" Ucap Ziya ramah.


Syita memperhatikan keduanya tanpa komentar.


Kak Ziya orang yang baik. Tapi mama ah mama kan memang selalu saja suka bikin masalah. Aku tahu, papa menghindari pertengkaran dalam rumah, makannya lebih milih di pulang ke Apartemen.


Ziya dan Lisa sedikit mengobrol dan berbasa basi. Disitu Ziya bisa tahu jika Lisa pulang untuk dikhitbah oleh calon suaminya. Dan akan menikah secepatnya.


"Hai Syita, kau ini ya, kenapa bengong hemmh!" Ziya telah selesai dengan Lisa. Melihat Syita yang masih bengong di tempat, diapun mendekat.


"Ah tidak kaka hanya saja, aku kadang nggak ngerti dengan keluarga ku sendiri. Ketika ada masalah, salah satu dari kami akan ada yang pergi tanpa mau membicarakannya untuk mencari solusi. Setelah semua reda mereka akan kembali berkumpul seperti tanpa ada masalah sebelumnya."


"Itu lebih baik kan, dari pada ribut ribut dan bertengkar akan membuat rumah menjadi tidak nyaman." Ziya berpendapat.


"Kak, aku malah tidak suka, karna akar dari permasalahan tidak tuntas. Itu akan menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan keluarga ini."


"Semoga ya, kak! tetapi tidak sesederhana itu bagiku. Aku merasa ada hal besar yang di sembunyikan mama. Tapi, aku harap tidak akan mempengaruhi keharmonisan keluarga ini." Ucap Syita lirih.


"Mengapa, kamu punya pemikiran seperti itu, Syita."


"Tidak apa apa, kak. Aku mau ke kamar dulu ya. Nanti siang jadi kan ke kantor bang Aditya." Diangguki oleh Ziya dan Syita pergi ke kamarnya.


Ziya masih berdiam di meja makan. Ponselnya berdering. "Tumben dia menelpon pagi pagi gini ada apa ya...!"


🌿🌿🌿


Di gedung Adiba Corporation.


"Bagaimana Rizal, mana sekretaris baru itu."


"Sebelumnya maaf, tuan. Aku akan memanggilnya." Aditya mengernyit 'tak biasanya Rizal meminta maaf untuk perihal sekretaris.'


Rizal masuk dengan membawa seorang wanita. Aditya yang tadi memeriksa beberapa berkas mendongak sekilas dan menunduk lagi.


"Perkenalkan namamu" Perintah Rizal. Aditya masih acuh.

__ADS_1


"Apa kau lupa padaku, Dit?"


Aditya mendongak lagi melihat siapa orang di hadapannya.


"Kenapa kau malah membawa orang ini, Zal. Apa tak ada orang lain." Aditya tampak jengkel.


"Maaf tuan! tapi hanya, dia yang memenuhi kriteria dalam waktu yang sangat singkat ini." Bagaimana tidak dalam dua hari Rizal harus sudah dapat sekretaris seperti yang diinginkan Aditya. Meski banyak pelamar tapi yang bisa menguasai minimal enam bahasa tentu saja mustahil di dapat dalam dua hari.


"Baiklah, kau jelaskan apa semua pekerjaannya. Dan kau Dona jangan buat masalah lagi kali ini. Aku tahu pasti ada sesuatu yang, kau rencanakan."


"Tidak Aditya kali ini karna, aku sangat butuh pekerjaan." Dona menunduk kembali.


"Tunjukkan pada dia meja untuknya bekerja. Kuharap kali ini, kau bisa di percaya. Tidak ada kesempatan kedua kali Dona." Aditya menatap tajam.


"Iya, Aditya aku paham." Masih menunduk dan takut. Tapi memang benar, dia butuh pekerjaan ini untuk kelangsungan hidupnya.


Selang dua jam telah berlalu Rizal kembali memasuki ruangan Aditya.


"Sudah saatnya rapat bos. Klien kita dari Jepang sudah datang." Mengambil berkas yang ada di hadapan Aditya.


"Aku akan menyambutnya, Zal. Kau pastikan perempuan itu bekerja dengan benar."


Sampai di luar, Aditya sudah mendapati sekretaris barunya menunggu di depan pintu. Ditangannya juga ada dua map yang sama dengan yang di pegang Rizal.


Ada rasa kasihan sebenarnya di benak Aditya. Teman masa kecilnya itu selalu dalam kesusahan itulah yang sering kali menjerumuskan gadis malang itu ke jalan yang salah.


"Sudah siap semua!"


"Sudah, tuan!"


"Bagus, ayo kita berbisnis."


Aditya berjalan lebih dahulu, lalu diikuti oleh dua orang di belakangnya. Mereka memasuki ruang rapat. Dan betapa terkejutnya Dona saat melihat siapa yang datang.


"Anda..!"


"Kau!"


"Apa kalian saling mengenal?" Aditya curiga.


**Bersambung.......


Selamat membaca**

__ADS_1


__ADS_2