Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
kejutan


__ADS_3

Winda mengusap air matanya berulang kali karna tertawa begitupun Ziya sambil memegang perutnya. Syita yang baru pulang nampak terbengong dengan tingkah keduanya.


"Syita...! kau sudah pulang." Ziya dan Winda bersamaan menubruknya. Syita hampir saja ambruk karna mereka.


"Kalian kenapa aneh gitu sehh tertawa tidak jelas." bukan menjawab malah kepo sama tingkah Ziya dan Winda.


"Kau juga akan ketawa jika melihatnya." Syita di gandeng oleh dua orang itu ke taman belakang. Tadi mereka berdua menahan tawanya di dekat Aditya karna Takut dengan sorot mata tajamnya. Akhirnya mereka cari aman meluapkan tawanya di ruang tamu.


"Siapa itu, kak. Kenapa nempel gitu?" sedikit tersenyum geli melihat kakaknya di pepet terus sama Vin. Ziya dan Winda menceritakan kejadian yang sebenarnya. Syita manggut manggut mendengarkan.


"Jail banget seh kalian!"


"Ini tuh ide si Ziya, kakak mah ikut aja keles."


"Entahlah, aku rasanya puas setelah mengerjainya." wajah Ziya terlihat berbinar.


Kedua orang di hadapannya bersitatap.


"Tapi kakak biasanya sangat menjaga hati kak Aditya."


"Ini juga aku jaga agar tidak cemburu." Ziya berkata santai.


"Bagaimana jika abang nanti malah pindah ke hati si jablay itu." Syita menunjuk Vin.


"Sudah yuk, kita selamatkan dia." Ziya ngacir duluan.


"Apa dia cemburu." Di lihatnya Ziya mendorong Vin lalu ganti dia bergelayut manja di tangan suaminya.


"Mungkin efek bumil!" Bisik Winda di telinga Syita.


"Apaaaa...Bu..!"Winda langsung membungkam mulut Syita. Dan meletakkan telunjuk di bibirnya.


"Jangan keras keras. Makannya jangan minggat, biar tahu info terupdate." Gerutu Winda. Syita memonyongkan bibirnya.


"Aku tidak minggat, tapi pergi menenangkan diri." tambah manyun bibirnya.


"Pergi tidak izin itu namanya minggat, neng! ada ada aja seh luh. Pas gue sibuk di luar kota lagi." dongkol Winda.


"Baruuu juga sampai rumah sudah kena semprot lagi." Syita memoyongkan bibirnya.


"Uluhh uluhh penyuk penyuk sini." Winda terkekeh sambil merentangkan tangannya.


"Ogah ah!' Syita langsung nyelonong meninggalkan Winda menuju tempat Ziya dan Aditya berada.


Kehebohan terjadi lagi. Aditya membawa Syita ke dalam pelukannya. Setelahnya mereka saling berbagi cerita.

__ADS_1


Malam yang di tunggu telah tiba. Ziya sudah terlihat begitu cantik dengan gaun yang melekat di tubuhnya.


"Yang, kita mau pergi kemana seh?" Ziya masih tidak mengerti dengan Aditya yang secara tiba tiba menyuruhnya berdandan.


"Kita mau pergi kondangan ya!"


"Iya, kita akan menghadiri acara penyambutan bayi." jawab Aditya singkat sambil tepok jidat nya sendiri.


"Bayi siapa, kok aku nggak tahu!"


"Sudah diam bisa nggak seh." Takut juga kalau keceplosan nanti. Ziya akhirnya tutup mulut lagi.


"Syita kok nggak ada di rumah kemana ya!" mulai lagi mengurusi yang tidak penting.


"Dari mana kamu tahu Syita tidak di rumah?"


"Ini yang aku nanya Cak Ali katanya satu jam yang lalu Syita sudah pergi. Kok malah pergi dengan Vin kira kira kemana ya!" Ziya menimang hpnya sambil tetap bergelayut manja di lengan Aditya.


"Mau aku banting lagi tuh handphone?" Sinis Aditya.


"Tidak tidak tidak!" memasukkan handphone ke dalam tas. Ziya tersenyum lebar setelah itu.


"Suamiku ini sekarang cemburuan ya!" menoel pipi Aditya sambil nyengir kuda. Aditya mendesah pelan karna ingat keusilan Ziya.


"Iya ya maafkan, aku!" dengan mimik puppy eyes. Aditya malah langsung menarik tengkuk Ziya karna gemas. Hingga keduanya kehabisan nafas baru dia lepaskan.


"Mesum ih!" Umpat Ziya dengan pipi merona.


"Pengennnya lebih dari ini, tapi waktunya kurang pas." Aditya berbisik di telinga Ziya.


"Balik saja, kita ronda semalaman!" Balas Ziya berbisik juga. Sontak saja mata Aditya membuat sempurna. Ini seperti bukan sifat Ziya, pikirannya langsung berkeliaran lagi ke malam sebelumnya, Ziya bisa begitu agresif saat di ranjang.


"Kenapa, yang!" Heran juga melihat suaminya bengong lalu menggelengkan kepala berulang kali.


"Tidak apa apa!" Ucapnya gugup. Ziya jadi tersenyum geli melihat ekspresi suaminya.


"Kamu akhir akhir ini kok menggemaskan gini sih." Mencium pipi suaminya. Setelah itu Ziya mengambil bedak di dalam tasnya untuk berkaca.


Aditya merasa heran dengan tingkah Ziya yang akhir akhir ini sering menciuminya. Apakah orang hamil kadar nafsunya bertambah ya.


Pikir Aditya.


Tak terasa sampailah mereka ke tempat yang di tuju.


"Kita sudah sampaikah?" Ziya masih meneliti make up-nya, kali aja rusak karena ciuman Aditya.

__ADS_1


"Ayok kita keluar!" Aditya keluar terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk istrinya.


"Kok sepi sekali, dan kenapa tempatnya gelap kayak gini." Ziya mengedarkan pandangannya. Aditya hanya tersenyum tipis.


"Ayo..!"Menarik tangan Ziya lembut. Dalam temaram ada seorang waiters membawa buket bunga mawar yang di serahkan kepada Aditya. Aditya menerimanya lalu menyerahkannya untuk Ziya.


"Wahai Ziya Almahiyra maukah kau menjadi istriku dan ibu dari calon anak anakku kelak." Aditya tiba tiba berjongkok dan menodongkan bunga di hadapan Ziya.


"Singkat banget kata katanya, kau melamarku, dikit banget kata katanya." ledek Ziya bukannya menerima langsung malah protes. Aditya menghela nafas.


"Wahai Ziya Almahiyra bidadari senja yang hadir tanpa sengaja, wanita yang bersemayam di sukmaku maukah kau, menjalani kisah cinta dengan diriku, mengukir kebahagiaan bersamaku, menjadi pelengkap hidupku, menjadi teman di siang dan malam ku, hingga akhir hayatku, menjadi istri dan ibu dari anak anakku."


Ziya merona karna mendengar kata kata Aditya. Menangkap kedua pipinya yang bersemu merah.


"Ternyata kau bisa so sweet juga ya. Ah jadi terharu aku." Bukannya jawab iya malah mencubit pipi Aditya gemas hingga sang empunya meringis.


"Bagaimana, di terima tidak nih. Aku telah mengikuti kelakuan konyol orang orang di sinetron. Nyatanya lututku terasa mau copot ini!" Gerutu Aditya yang belum juga mendapat jawaban iya dari Ziya.


"Hahahaha siapa suruh, sok romantis kayak gitu. Lagian juga sudah menikah sok bergaya ngelamar segala." Sontak semua orang keluar dan terkikik mendengar jawaban Ziya.


Aditya yang kesal karena acaranya tidak berjalan sesuai harapan langsung berdiri meletakkan buket bunga di tangan Ziya.


"Sudah aku relain capek capek berlutut bukannya jawab iya." Mod Aditya jadi berubah buruk. Rizal yang keluar dari persembunyian bersama yang lainnya masih terkikik menahan tawa.


Rencananya kan kalau nanti Ziya menerima akan ada adegan saling peluk terus lampu menyala dan si horas keluar sambil menyuarakan confetti eh pupus deh karna kekonyolan keduanya.


"Ayo pelukan dong biar ada gunanya ini confetti." Rizal menunjuk benda di tangannya.


"Iya dong ayo pelukan." Syita mengompori.


"Kirain tadi bakal lihat drama korea."


"Kalian semua ada di sini, ini sebentar acara apa seh!" Ziya jadi bingung.


"Ini acara karna bakal ada orang ketiga di antara kamu dan bos besar Aditya." Jawab Rizal antusias.


"Jadi kau menjadi romantis karna ada orang ketiga?" Ziya melempar bunga ke wajah Aditya.


Semuanya terkejut sedangkan Rizal menutup mulutnya.


"Rizaaaalll." Winda dan Syita bersamaan.


Bersambung....


Rizal kira kira di lempar apa ya...

__ADS_1


__ADS_2