Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Rencana.


__ADS_3

Disebuah ruangan tampak seseorang menyandarkan kepalanya. Sedari pagi pikirannya terkuras dengan banyak pekerjaan yang sudah dua hari menumpuk. Ada beberapa berkas di meja, tapi tak sebanyak sebelumnya. Jam makan siang pun, dia lakukan dengan singkat, mengingat masih banyak pekerjaan yang belum di selesaikan.


tok tok tok


"Masuk."


Ucapnya, Rizal mendorong pintu dengan membawa sebuah berkas dan tablet di tangan kanan.


"Ini, hasil kerja sama kita dengan PT GUSA sebulan lalu, tuan. Hasil proyek kita sudah mencapai 50% dan di pastikan dalam tiga bulan semua akan selesai."


"Pastikan mereka mengerjakannya dengan baik. Aku tidak mau ada kesalahan fatal seperti kemarin. Pastikan material yang di gunakan memenuhi standar."


Aditya membolak-balik berkas yang dibicarakan, lalu membubuhkan tanda tangan di sana.


"Lalu, bagaimana dengan sekretaris pengganti Rina, apa sudah kau dapatkan?"


Pasalnya Rina meminta cuti untuk kehamilannya yang memasuki bulan kesembilan.


"Sudah, tuan dan akan mulai bekerja besok."


"Baiklah, kau urus semuanya." Dengan sopan, Rizal menjawab patuh.


"Tuan." Rizal menjeda omongannya. Dia tampak ragu mau mengatakannya dan gelagat itu, bisa di baca oleh Aditya.


"Katakan Rizal." Rizal memberikan tabletnya. Mata Aditya membulat sempurna melihat apa yang ada di sana.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang Zal."


"Tapi, akan ada meeting dua puluh menit lagi, tuan." Aditya mengusap rambutnya kasar.


"Baiklah setelah itu, aku mau pulang. Pecat saja kedua orang itu."


"Baik tuan."


Tapi salah tuan juga tidak memperkenalkan nona Ziya pada publik.


"Rizal." Yang di panggil menoleh, walau sudah memegang gagang pintu.


"Ah tidak pergilah."


Rizal menggelengkan kepalanya, lalu mengerjakan apa yang di perintahkan. Dia juga cukup lelah setelah kejadian kemarin, tugasnya seperti tak ada habisnya.


Maya kini berada ditengah perjalanan menuju hotel tempatnya bertemu janji dengan seseorang. Dia melakukan mobilnya dengan lambat. Kemacetan terjadi di jam pulang kantor. Sehabis dari mansion, dia mampir ke kafe untuk sekedar minum kopi.


Setelah sedikit bersabar, akhirnya, dia sampai di sebuah hotel. Dan langsung mencari kamar yang di tuju. Tak berapa lama, akhirnya yang ingin di jumpai pun membukakan pintu.


"Hai tante, lama sekali tidak ketemu ya, aku kangen banget tau." Suara manja itu terdengar merajuk, di sambut pelukan hangat Maya.


"Tante juga kangen sama kamu, Kamu lama banget seh nggak main ke rumah tante, dan kenapa kamu malah milih tinggal di sini daripada di rumah tante. Atau setidaknya di apartemen yang tante pilih." Maya tak kalah antusias mengatakan rindunya. Gadis itu menghela nafas.


"Ya sekalian, aku di sini bisa mengurus hotel, sesuai keinginan papa. Padahal aku lebih senang menjadi traveller, bebas!"

__ADS_1


"Ayo masuk dulu tante, akan aku ambilkan sesuatu untuk tante."


"Tidak usah repot, tante hanya sebentar kok, takutnya suami tante keburu pulang nanti."


"Tidak repot kok tante, hanya minuman saja." Dibawanya dua minuman dingin dan camilan lalu di suguhkan pada Maya.


"Dona, apa rencana kamu untuk memisahkan anak saya dan istrinya." Maya mengatakan itu sambil memegang teh di tangannya.


"Saya sudah mendaftarkan diri sebagai sekretaris di kantor Aditya tante. Aku akan lebih sering bersama Aditya dengan cara seperti itu, dan membuat istrinya cemburu." Senyum kemenangan sudah berkembang sebelum rencana di mulai.


"God job. Kau memang selalu membanggakan." Maya mengangkat salah satu jempolnya.


"Kau tenang saja tante, aku pastikan Aditya akan berpisah dengan istrinya. Akan aku buat Aditya secepatnya meninggalkan wanita itu." Ucapnya antusias. Maya hatinya sangat senang. Keinginan untuk menyingkirkan Ziya dari rumahnya sebentar lagi akan terwujud.


"Aku tidak salah membawamu kembali lagi kemari." Maya tersenyum lebar.


"Pasti! aku tidak akan membuatmu menyesal." sambil menikmati minumannya.


"Tapi, bagaimana jika Aditya marah lagi seperti waktu itu tante, dan suami tante jika tahu, pasti akan sangat marah." Melirik Maya. Sejenak Maya nampak berpikir.


"Kita main cantik, buat seolah kau tak tahu itu kantor Aditya. Dan ketika, kau bertemu suamiku, jangan sampai, kau mengatakan semuanya! Apakah, kau mengerti?" Dona hanya mengangguk angguk.


"Saya rasa, cukup sampai di sini. Sebentar lagi suamiku akan pulang ke rumah." Maya memeriksa jam tangan yang melingkar di lengannya. Mereka berdua pun berpelukan sebelum berpisah.


Maya tampak terburu buru memasuki lift dan tanpa sadar, ternyata bukan hanya dia seorang di sana. Ada seorang pria lagi. Maya acuh saja seakan tidak ada orang di sampingnya. Tapi saat lift terbuka dan hendak melangkahkan kaki keluar, pria itu mencekal lengan Maya. Sontak saja Maya menoleh.

__ADS_1


"Kauuuuu!"


Bersambung.....


__ADS_2