
"Hai, Nona, kalau jalan lihat-lihat. Ini bukan milik nenekmu sehingga kau bisa seenak jidat asal menyebrang," omel pria berbadan gemuk yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Hai, kau sudah membuat mobilku tergores dan sekarang main pergi saja." teriaknya lagi, di elusnya bekas goresan pada bemper depan akibat terserempet tiang listrik, karna mencoba menghindari kecelakaan. Pria itu terus saja mengumpat menatap nanar kemana arah Syita pergi.
"Tuan, ini kartu nama saya, anda bawa saja mobil anda ke bengkel terbaik dan tagihannya silahkan bebankan kepada saya nanti." Rafel memberikan kartu nama kepada orang itu dengan tergesa-gesa, karna ingin cepat mengejar Syita.
"Syita!"
Yang di panggil tidak menghiraukan lagi, atau memang sudah tidak mendengar. Syita terus saja berlari.
"Papa, apa yang terjadi, kenapa Syita terlihat menangis tadi," Tisya menemui papanya setelah kepergian Syita.
"Entahlah, Nak! papa tidak tahu bagaimana menghadapi kenyataan ini. Sepertinya Syita marah sama papa. Dia tidak mau menerima keberadaan papa sebagai ayah kandungnya," cicit Rama mengacal rambutnya frustasi.
"Papa jangan patah semangat, ya!" ucap Tisya memegang bahu papanya untuk memberi kekuatan. Keduanya berpelukan.
"Maafkan papa, nak! telah memisahkan kalian dari kecil. Dan terima kasih, karna kamu telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang begitu perhatian sama papa!" merenggangkan pelukannya dan menciumi pipi Tisya dengan sayang.
"Aku tahu perasaan papa, papa yang sabar, ya! kita pasti akan bisa bersatu!" ucap Tisya tulus. Sebenarnya ada rasa cemburu di hati Tisya saat mengetahui bahwa akan ada saingan antara dia dan papanya. Tapi saat melihat papanya seperti ini, ada rasa kasihan di dalam hati Syita.
Perasaan papa pasti seperti aku yang selalu merindukan kehadiran mama di sisiku, batin Tisya.
"Pa, bolehkan jika aku sesekali menemui mama?," dengan penuh harap Tisya mengatakan keinginannya.
"Tapi!"
Bagaimana jika, dia tahu, sifat mamanya? terhadap Syita saja, Maya kurang peduli.
"Pa, boleh, ya!" bujuk Tisya lagi sambil menggoyang lengan sang papa.
"Iya, boleh!" ucap Rama kemudian. Tidak mungkin Rama mengatakan apa yang di khawatirkan dirinya.
Rafel terengah-engah mengejar langkah kaki Syita yang begitu cepat. Dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, Kini ditemukannya gadis yang sedari tadi, dia cari.
__ADS_1
"Kau, ini seperti kancil saja kalau berlari!" ucap Rafel sambil mendudukkan pantatnya di rerumputan, tepat di sebelah Syita menjatuhkan tubuhnya.
"Jangan menangis, kamu terlihat jelek kalau menangis." kata Rafel menenangkan. Diusapnya pipi Syita yang basah, karna air mata.
"Aku bukan anak papa!" suara Syita tercekat di kerongkongan. Tangisnya pecah kembali dengan isakan yang lebih menyanyat.
"Syuut, jangan nangis, ya!" Rafel memeluk tubuh Syita yang bergetar, karna menangis.
"Kau ambil kesempatan dalam kesempitan, ya!" mendorong tubuh Rafel, sehingga pelukannya terurai.
"Bilang saja, kau merasa gugup makannya mendorongku," ucap Rafel yang langsung di tanggapi pelototan oleh Syita. "Iyakan!" menoel dagu Syita dan menaik turunkan alisnya.
Apa dia tidak mengerti jika dadaku bergemuruh, karna ulahnya, batin Syita. Lupa sudah akan kesedihannya beberapa detik lalu.
"Katakan kepadaku, kenapa kamu lari tadi?" saat dilihatnya Syita sudah mulai tenang.
"Aku, bukan anak papa," lirih Syita. Dia tidak menyangka jika selama ini yang menyanyangi dirinya dan membesarkan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga ternyata bukan ayah kandungnya.
"Sudah, jangan menangis lagi! anak siapapun kamu, aku tetap ada untukmu, kok!" gombal Rafel.
"Aku tahu, kau pasti bingung dengan keadaan ini. Dan menurutku anak siapapun kamu, pasti papamu tetap sayang kepadamu."
"Apakah itu mungkin, apakah papa tidak akan membuangku, jika tahu siapa sebenarnya, aku!" ucap Syita sendu.
"Sebaiknya kau tanyakan itu langsung kepadanya," Rafel tersenyum manis kepada Syita. Sedangkan Syita menatap sorot mata Rafel mencari sebuah dukungan.
"Apa tidak apa-apa aku menanyakan kepada papa?" Syita merasa enggan, karna takut papanya akan terluka nanti. Selain itu, dia masih berharap jika apa yang di dengarnya dari Rama adalah sebuah kebohongan. Syita tidak ingin menjadi anak siapapun, dia tetap inginenjadi anaknya Denny.
🍀🍀🍀
Di rumah sakit.
Denny lebih memilih diam saja semenjak percakapannya dengan sang istri kemarin. Ziya mengemas barang barang milik Maya.
__ADS_1
"Kamu, tolong bawa ini ke mobil," titah Aditya kepada pelayan yang di kirimkan oleh Cak Ali.
"Mama, aku yang dorong ya!" ucap Ziya sambil tersenyum. Sejak tadi pagi Maya diam saja sambil terus memandangi Ziya, sebenarnya Ziya canggung dan was was di tatap seperti itu, tapi satu sisi dia berpikiran positif, mungkin saja ini awal yang baik untuk hubungan dirinya dan mama mertua.
"Sayang, biar aku saja yang mendorong mama," ucap Aditya sambil meraih pegangan kursi roda sang mama yang di pegang Ziya. Ziya pun menggeser tubuhnya, karna tindakan Aditya.
Denny masih tetap diam saja tidak seperti biasanya. Ziya mencolek pinggang suaminya, menanyakan apa yang terjadi melalui bahasa isyarat, tapi Aditya yang tidak tahu menahu hanya menggidikkan bahu.
"Apakah papa tidak ingin mendorong mama, Pa?" kata Aditya mencairkan suasana. Aditya bisa melihat jika hubungan orang tuanya tidak baik-baik saja.
"Kau saja," jawab Denny singkat. Tatapannya tetap tidak beralih dari yang gawai yang di pegangnya.
"Apa papa baik-baik saja?" Ziya mendekati mertuanya. Denny tersenyum manis, meski sebenarnya di paksakan.
"Papa baik-baik saja," merangkul bahuenantunya " Aditya, bawa mamamu, papa ingin berdua dengan menantu papa yang cantik ini." Aditya hanya mendengus kesal.
"Bisa-bisanya papa ambil kesempatan dalam kesempitan," gumam Aditya tak jelas. Maya hanya diam saja memperhatikan tingkah mereka. Hati dan pikirannya masih di liputi kegundahan. Dia masih memikirkan perkataan suaminya kemarin.
"Bahkan otakmu begitu dangkal hanya untuk sekedar mengetahui kejujuran dan kesetiaan yang selama ini aku perjuangkan. Apakah karena cemburu itu sehingga kau berkhianat?"
ucap Denny saat itu.
Maya sudah merasa bersalah, karna berani berkhianat. Dan pagi ini, mereka belum juga bicara dari hati ke hati. Bahkan Denny selalu saja menjauhinya. Dan sekarang, lebih memilih jalan dengan menantunya ketimbang dirinya.
Maafkan, aku papa, tapi bagaimana bisa aku meminta maaf, jika papa terus saja menjauhiku. batin Maya, dia menatap nanar suaminya yang merangkul pundak sang menantu. Sedangkan Aditya nampak cemberut sambil mendorong mamanya.
"Papa, sedang punya masalah sama mama, ya!" ucap Ziya saat sudah sampai di halaman rumah sakit. Mobil mereka sudah menunggu di kemudikan oleh supir pribadi.
Denny hanya menghela nafas, terdengar berat. " Tidak, papa hanya ingin mamamu menerima kalian berdua," melirik sekilas wajah menantunya.
"Terima kasih, papa!"
Aku tidak ingin ada kehancuran di keluargaku.
__ADS_1
**Bersambung..
Apakah Maya akan berubah dan tidak plin plan lagi. Serta mau memaafkan Ziya. Ayo ikuti terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejak**.