Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Ikut Rafel


__ADS_3

Sebuah restoran yang menampilkan suasana romantis. Restoran ini memang di desain begitu adanya untuk menarik peminat dari pasangan yang ingin mengukir jalinan kasih mereka.


"Apa kau serius ikut bersamaku ke desa?" Sebuah suara membuat Syita mendongakkan kepalanya.


"Iya, mungkin aku bisa mencari udara segar di desa. Kata orang desa itu ramah dan tenang!" Syita mengaduk minumannya beberapa kali dan menyedotnya lagi. Sedangkan pria di hadapannya menghela nafas berulang kali.


"Masalah itu, harusnya di hadapi bukan di hindari!"


"Aku tidak lari. Aku hanya ingin tenang, setidaknya untuk sesaat saja." Lirih Syita.


"Apa kau tidak takut pergi bersama dengan aku?" Pria itu mulai membuat strategi untuk mematahkan keinginan Syita.


"Maksudnya!"


"Aku ini lelaki normal nona Bagaskoro. Aku bisa saja berbuat buruk terhadapmu." Jelas pria itu. Dia tidak habis fikir. Bagaimana bisa perjalanan bisnisnya kali ini harus terganggu karena adanya perempuan menyusahkan seperti Syita. Dan dia hanya menurut saja.


"Ya aku tahu kau bukan banci." Syita berkata santai.


Tak tahu apa jika perkataannya membuat pria itu jengkel.


"Syitaaa!'


"Iya Rafel?"


Syita menatap wajah pria itu.


"Sudahlah, tak apa! kita pergi sekarang." Ucapnya Rafel lagi. Rafel mengambil dompet dan mengeluarkan kartu miliknya hendak di serahkan kepada pelayan, tapi di tahan oleh Syita.


"Rafel biar, aku...!" Merogoh sakunya tapi tidak menemukan barang apapun yang di cari.


"Sudahlah, nona Bagaskoro sudah tahu kena rampok sok pengen bayar." cibir Rafel. Syita memanyunkan bibirnya beberapa senti.


Mereka pun mulai melakukan perjalanan menuju sebuah desa yang di maksud oleh Rafel. Kurang lebih dua jam lamanya mereka sampai di sebuah desa yang nampak hijau. Udara segar membelai rambut Syita. Rafel menghentikan mobil sport miliknya menuju sebuah bangunan berlantai satu. Rumah itu bergaya klasik dengan interior modern yang cukup wahh.


"Ini villa keluarga gua." Ucap Rafel. "Tapi kita tidak menginap di sini. Kita menginap di rumah kakekku saja."


Rafel turun dari mobil di sambut oleh dua orang penjaga villa, setelah mobilnya masuk garasi, dia mengeluarkan motor sport miliknya. Syita tampak heran dengan kelakuan manusia satu di hadapannya ini.


"Ngapain ganti kendaraan?"


"Biar kerenlah!" Rafel mulai menghidupkan motornya untuk menghangatkan mesin terlebih dahulu.

__ADS_1


"Lho aden nggak masuk dulu?" Sebuah suara membuat Rafel mengecilkan volume mesinnya.


"Tidak, pak. Saya tidur di rumah kakek saja." Rafel bicara dengan ramah.


"Wahh mau mengenalkan calonnya ya!" Goda pria paruh baya.


"Dia temen saya kok, pak!"


"Temen apa demen?" godanya lagi.


"Ya pantasnya gimana ya, pak!" Rafel berkata sambil mengecek motor miliknya.


"Jadi demen aja, den. Cocok bener sama aden mukanya mirip!" Jawab orang itu sambil tersenyum ramah.


"Nggak pengen kenalan, pak! kali aja nyantol." Celetuk Rafel dan sontak saja membuat Syita mengernyit.


"Saya Dikin, Ning! orang mengurus villa milik keluarga aden Sulaiman" Mengulurkan tangannya di sambut oleh Syita.


"Saya Syita, pak!" Ucap Syita pendek.


"Sudah beres, ayo kita pergi. Atau di sini saja menemani pak Dikin?" Gurau Rafel sambil tersenyum. Dia tahu Syita mulai tidak nyaman karna pak Dikin mengedipkan matanya berulang kali.


"Kami pamit ya, pak! kapan kapan kami akan menginap." Rafel melambaikan tangannya tak menghiraukan jawaban dari pak Dikin.


💮🌷


Ziya mengelap ingusnya berulang kali. Bahunya naik turun merasakan kecewa dan juga sakit hati yang begitu dalam. Setelah Maya dan Denny keluar dari kamarnya. Membicarakan segala strategi untuk menemukan Syita.


Aditya mendapat telpon dari seseorang dan meminta untuk bertemu. Ziya mengetahui hal itu, menaruh kecurigaan karna, Aditya terkesan sembunyi sembunyi mengangkat telpon, membututi Aditya hingga sampai sebuah kafe.


"Kenapa kamu harus bohong Dit?" Ziya berjalan sambil sesenggukan. Pikirannya sedang kacau saat ini. Masih terbayang perlakuan manis Aditya terhadap Marina.


"Kenapa juga aku harus curiga kepadamu tadi. Tahu begini aku tidak akan mengikutimu agar tidak sakit hati begini." Kesal sendiri.


"Benar kata mama, kau menikahiku bukan karena cinta. Aku hanya gadis pembayar hutang." Ziya bicara pada dirinya sendiri. Awalnya, dia tidak terpengaruh saat Maya mulai mempengaruhi Ziya dengan cerita yang sama dengan Marina ceritakan. Tapi ucapan Maya yang waktu itu.


'Asal kamu tahu ya Ziya, walau kau memiliki Aditya, apakah kamu yakin hatinya ada untukmu. Yang ku tahu, Aditya begitu mencintai Marina tapi karena aku mereka pun akhirnya berpisah. Tapi bisa saja kan mereka akan berbaikan lagi saat Marina menceritakan yang sebenarnya.' Ucap Maya saat di luar kamar kemarin.


'Aku yakin dengan Aditya!' Ucap Ziya yang mencoba tidak terpengaruh.


'Yakin di tinggalkan.' Dengan teganya Maya mengatakan itu dan sekarang, dia melihat dengan mata kepalanya Marina dan Aditya bertemu dengan diam diam.

__ADS_1


Tin tin tin


Mobil mendadak berhenti tepat di hadapan Ziya. Devan turun sambil memperhatikan Ziya yang nampak kacau.


"Ziya, kamu kenapa dan bagaimana bisa kamu berada di sini?" Bukannya menjawab Ziya malah memeluk kakak angkatnya.


Semakin kencang menangis, bahkan beberapa orang yang melintas menatap mereka curiga.


"Mungkin mereka lagi bertengkar." Salah satu orang yang lewat berkomentar.


"Iya, mungkin suaminya sedang membujuk istrinya karna ketahuan selingkuh." Ucap yang lainnya. Ziya semakin menangis mendengar ucapan mereka.


"Kamu kenapa Ziya?" bingung sendiri karna ulah adiknya.


"Oke kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol ya." Devan mulai membujuk Ziya. Dia pun mengehentikan mobilnya tepat di tempat yang sama saat Ziya memergoki suaminya.


"Kenapa kita malah kemari?" Sadar Ziya saat menatap sekeliling. Devan tersenyum mengusap kepala sang adik.


"Aku rasa ini tempat terdekat yang paling nyaman untuk menenangkan diri." Devan memegang bahu adiknya mengajak masuk.


Sampai di dalam, Ziya mengedarkan pandangannya. Sudah tidak ada Aditya ataupun Marina di sana.


Kemana mereka pergi ya, kenapa cepat sekali mereka pergi!. Batin Ziya.


"Ini, minumlah dulu, agar kau kembali tenang!" Devan menyodorkan minuman dingin entah kapan datangnya. Ziya hanya menerima dan meminumnya tanpa mengucapkan apapun.


"Mas, bagaimana kabar Marina?" Tanya Ziya basa basi sebenarnya dia ingin memberi tahu Devan jika Marina bertemu Aditya tapi takut nanti malah membuat Devan sakit hati seperti dirinya.


"Dia baik!" Ucap Devan santai sambil memegang HP seperti mengetik sesuatu.


"Kenapa tidak pergi dengan mas Devan? Yang di tanya tercengang.


"Maksudnya...mas tadi mau kemana? kenapa tidak bersama dengan Marina!" Ziya nyengir sebenarnya dia ingin mengatakan jika melihat Marina di sini.


"Tadi, dia mengajak ketemuan di sini! tapi sepertinya sudah tidak ada. Aku hubungi juga tidak nyambung.


Devan menunjukkan benda di tangannya.


"Lho ini siapa yang pesan, mas!" Heran Ziya, karna tadi dia belum pesan sesuatu.


Tiba tiba ponselnya berdering, ada nomor Aditya di sana....

__ADS_1


Ngapain dia nelpon?


Bersambung.....


__ADS_2