Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 18 Makan malam


__ADS_3

"Selamat malam Tuan," sapa Zea, kemudian mempersilahkan Aditya dan Rizal untuk duduk diikuti oleh dirinya dan Marcell yang kembali duduk untuk memulai acara jamuan makan malam ala Zea.


Tidak ada yang spesial, semuanya terlihat mengenakan baju santai. Marcell bahkan mengernyit heran akan acara makan malam kali ini. Rizal dan Aditya pun seperti sepakat hanya memakai kaos berlapis jaket kulit, sesuai dengan petunjuk Zea tentunya. Santai sekali!


Suasana restoran tidak terlalu ramai, sebab Zea sudah mengatur segala sesuatunya sedemikian rupa, sehingga hanya beberapa pengunjung yang diperbolehkan masuk. Sebenarnya Zea sempat terpikir untuk mengosongkan restoran itu, tapi sepertinya akan sedikit berlebihan. Jadi, buat saja seolah sedang sepi pengunjung, padahal restoran itu akan sangat penuh jika waktu makan malam. Bahkan tak jarang ada yang memesan tempat dahulu sebelum berkunjung.


"Bukankah sekarang kita seperti sebuah keluarga?" Zea berbisik di telinga Marcell. Kini mereka berada di sebuah ruang VVIP.


"Apakah kau ingin membingkai kenangan indah bersama pria Indonesia itu?" Marcell seperti menguak sebuah rahasia hati yang dipendam oleh anaknya. "Makan malam hanya strategi, kau licik sekali ternyata. Dan bodohnya aku, tidak menyadari bahwa aku juga bagian dari rencana mu!" Marcell terkekeh geli melihat wajah putrinya merona.


"Hai, bukankah Dady yang mengajarkan itu semua kepadaku," menaik turunkan alisnya.


"Momymu bisa membunuhku jika tahu akan hal ini." Marcell pun berbisik.


"Ya, pastikan saja Momy tidak tahu, atau Dady akan menanggung akibatnya sendiri," Zea terkekeh melihat perubahan wajah Dadynya.


"Apakah ini bagian dari rencanamu untuk bisa melihat batu kuno yang tersusun itu?"


"Anggap saja begitu! Aku sudah meminta izin kepada kalian agar bisa mengunjungi tempat suci orang-orang Budha itu, tapi kalian tidak mengizinkan. Jadi, terpaksa aku akan mencari jalanku sendiri."


"Kau memang putriku!"


"Tentu saja, maka restuilah aku, akan kupersembembahkan foto diriku di atas candi Borobudur yang begitu indah."


"Yah, baiklah! Selamat berjuang. Tapi sepertinya, dua hari lagi Momymu akan kembali." ucap Marcell.


"Jadi kau mengizinkan aku?" Zea berbinar.


"Hai diamlah, lihat disana tamu undanganmu itu nampak memperhatikan kita juga."


"It's oke, saatnya kita menjadi Tuan rumah yang baik!" Zea menarik lengan Marcell untuk menyapa Aditya yang baru saja datang diantar oleh seorang pelayan.


"Selamat malam Tuan Marcell, Nona Zea," Rizal yang menyapa. Sedangkan Aditya hanya membungkuk dan tersenyum tipis.


"Selamat malam Tuan Aditya, Tuan Rizal!" Marcell dan Zea hampir bersamaan.


"Kalian sudah saling mengenal?"

__ADS_1


"Dalam lingkungan bisnis, siapa yang tidak mengenal Tuan Aditya sebagai macan Asia!"


"Anda berlebihan Tuan Marcell!"


"Silahkan Tuan Aditya, Tuan Rizal!"


Mereka berempat akhirnya duduk dan mulai memesan makanan.


"Tuan Aditya, Saya tidak menyangka jika malam ini mendapat sebuah kehormatan bisa makan malam bersama Anda malam ini! Dan sebab kita bertemu disini, Tuan Aditya, saya juga menyampaikan rasa terima kasih atas pertolongan yang Tuan berikan untuk putri saya malam itu."


"Bagitupun saya Tuan, saya tidak menyangka, jika Nona yang cantik ini putri Anda! Dan mengenai hal itu, saya rasa sudah seharusnya kita hidup dengan saling tolong menolong Tuan. Jadi, anggap saja sebagai bentuk rasa peduli kita sebagai sesama manusia, saya akan membantu siapa saja yang sedang dalam musibah." kelakar Aditya, sedangkan Rizal mengernyit heran. Tidak biasanya Aditya bicara banyak sedikit menyanjung wanita begitu.


"Tuan, berarti Anda setuju jika saya menyelidiki Nona Zea lebih jauh?" Rizal berbisik di sela-sela obrolan Marcell dan Aditya. Bolehkah Aditya memberi pelajaran untuk Rizal saat ini, bogeman mentah misalnya? Tapi sepertinya Aditya hanya memiliki kesempatan untuk melotot tajam saja, beruntung Rizal sudah faham akan ketidaknyamanan sang bos.


"Yah, dan saya juga tidak menyangka bisa memiliki putri secantik dia," merangkul pundak Zea dengan sayang. Rizal memperhatikan dengan seksama setiap ucapan dan adegan yang berlangsung.


"Apakah kalian pernah terpisah sebelumnya?" celetuk Rizal, yang membuat semuanya terbungkam. "Ah maaf, saya hanya menduga, mungkin gadis cantik seperti Nona Zea memiliki kembaran!"


"Ah, apa maksud Tuan ya?" Zea bisa menebak jika kedua tamunya ini tengah mengintrogasi dirinya. Zea juga mengamati wajah Marcell yang sejenak terpaku. Tapi sedetik kemudian pun berubah seperti semula, tenang dan penuh wibawa. Tapi Zea tidak sebodoh itu, sehingga tidak bisa membaca gelagat yang mencurigakan pada diri Marcell.


"Tidak ada! Mungkin saya hanya teringat dengan seseorang yang pernah berada di tengah-tengah kami!" terang Rizal.


"Kurang lebih begitu?" ucap Rizal.


Kenapa bukan Tuan Aditya yang menjawab seh. kesal Zea. dalam hati tentunya.


"Nyonya Gerrard juga pernah mengatakan hal yang sama!"


"Ah, maaf! Pesanan kita sudah datang!" Marcell menghentikan obrolan mereka. Lagi-lagi Zea menaruh kecurigaan untuk Marcell. Salah sendiri, Marcell menurunkan ilmu fisiognomi kepada Zea. Bahkan Zea mampu mempelajari itu dalam kurun waktu yang singkat.


Untung pelayan ini datang tepat waktu, hampir saja. Hufft. batin Marcell.


Mereka terdiam sejenak memberi ruang kepada para pelayan untuk menata makanan di meja. Dan setelah itu, mereka mulai menyantap makanan yang mereka pesan.


"Silahkan Tuan,"


"Mereka pun mulai menyantap makanan yang tertata di meja."

__ADS_1


✓✓✓


"Rizal, apakah menurutmu Nabila tahu sesuatu tentang Zea, maksudku tentang siapa Zea sebenarnya?" Aditya dan Rizal kini berada di ruang tamu setelah menghadiri acara makan malam yang super santai itu.


"Bisa jadi Tuan! Sebab tidak mungkin Nona Nabila bersikeras melarang Tuan kecil ikut, setelah Anda menjelaskan bahwa kita akan pergi makan malam bersama Nona Zea."


"Kau benar! Padahal saat kami bicara ditelpon, Nabila sudah mengizinkan."


Saat itu, Aditya dan Rizal datang ke rumah Nabila untuk menjemput Zafran ikut dalam acara makan malam yang dibuat oleh Zea. Aditya juga tidak tahu, kenapa dia kepikiran untuk mengajak Zafran.


Dan saat sampai di rumah Nabila, tiba-tiba saja Zea menelpon untuk memastikan kehadiran kedua pemuda itu. Saat itu juga, Nabila datang untuk menyambut Aditya, sehingga tahu jika Aditya pergi makan malam bersama Zea.


✓✓✓


"Sayang, kau belum tidur?" Steven menghampiri Nabila yang duduk pada dasboard ranjang mereka, menanti Steven yang kembali dari ruang kerja.


"Belum mengantuk!" lirih Nabila.


"Memikirkan apa hemmh?" Nabila menghembuskan nafasnya berat. Steven sudah menebak apa yang dipikirkan istrinya, tapi tetap saja membiarkan sang istri bercerita dengan sendirinya.


"Aku masih tidak ingin jika Zafran pergi dari kita!" Steven merengkuh tubuh Nabila dan menenggelamkan di dada bidang miliknya.


"Hari itu pasti akan tiba, Sayang! Zafran adalah bagian dari kita, tapi ada wali yang lebih berhak atas dirinya."


"Tapi ... Zafran dia anak kita, aku yang menyusuinya, aku juga yang menjaga dan merawat anak itu! Aku tidak mau dipisahkan dengannya. Apa kau tidak tahu itu?" Nabila mengusap kasar wajahnya dia bangkit dari dada Steven dan menatap wajah Steven.


"Nabila, dengarkan aku!"


"Tidak mau!"


"Nabila!" Steven merengkuh tubuh Nabila dengan paksa meski awalnya menolak, tapi akhirnya luluh juga.


"Nabila, kita bisa meminta kepada Aditya untuk membiarkan Zafran hidup bersama kita. Kita mohon pada Aditya. Aku yakin, Aditya akan memberi waktu lebih lama lagi."


"Aku tidak yakin Aditya akan memberikannya!" Nabila semakin terisak.


**Bersambung....

__ADS_1


Selamat hari raya idul adha mohon maaf lahir dan batin.


Teman-teman lagi korban apa ya? Kalau author lagi Korban perasaan nih. Makannya beri dukungan biar author tidak korban perasaan terus hehe. Terimakasih**


__ADS_2