Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 10


__ADS_3

Setelah sampai hotel dan istirahat. sejenak, Aditya dan Rizal langsung berkunjung ke kediaman Gerrard.


"Maaf, ingin bertemu dengan siapa Tuan?" ucap satpam dengan sopan.


"Saya ingin bertemu dengan Nona Nabila," ucap Aditya to the poin.


Satpam dan Bodyguard itu saling melemparkan pandangan. Lalu Bodyguard itu menempelkan Benda pipih di telinga. Rupanya meminta izin kepada pemilik rumah.


"Silahkan Tuan!" ucap pria itu, setelah melakukan panggilan. Gerbang itupun terbuka lebar. Rizal mengemudi mobilnya memasuki halaman yang luas itu, lalu berhenti di bawah pohon marple yang sudah mulai gugur.


Aditya memandangi pohon itu dengan perasaan yang campur aduk.


Flashback


Pagi itu, Aditya akan pergi ke Kanada untuk keperluan bisnisnya dengan Steven dan beberapa kolega lainnya. Ziya yang tengah hamil, tentu tidak bisa ikut, apalagi sebelumnya dia mengalami masalah.


"Sayang, andai saja bisa diwakilkan, aku tidak akan pergi meninggalkanmu!" Aditya melingkarkan tangan kokohnya ke pinggang sang istri dari belakang. Aditya mengelus perut buncit Ziya. "Dia semakin aktif saja, aku jadi enggan meninggalkan kalian berdua."


Tapi kemudian Ziya memutar tubuhnya sebab mendengar ucapan Aditya.


"Sayang, jangan gitu dong, kamu harus pergi. Itu semua demi masa depan kita dan anak-anak. Kalau papanya rajin bekerja, dia akan merasa bahagia, masa depannya terjamin. Dan mamanya, akan sangat bahagia sebab bisa belanja sesuka hati," ucap Ziya, meski hatinya sebenarnya berteriak agar Aditya tidak pergi. Tapi Ziya tidak mau egois, banyak orang yang bergantung hidup pada perusahaan suaminya.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk selalu menjaga diri, Oke!" Aditya mengecup bibir istrinya dengan cukup lama.


"Mau dibawakan oleh-oleh dari Kanada?" Aditya menangkup pipi chubby sang istri.


"Aku mau ... daun Maple!" Aditya mengernyit heran.


"Sayang, benarkah apa yang kau katakan?"


Ziya mengangguk antusias.


"Kak Nabila selalu bercerita, jika musim gugur seperti sekarang, daun Marple berwarna keemasan terbang dengan begitu indah. Aku ingin salah satu daun Marple yang berwarna kuning keemasan itu. Aku akan mengabadikannya dalam kaca dan aku buat gantungan." Wajah Ziya nampak begitu antusias.


"Yakin kau menginginkan itu?" Mungkin jika gadis lain akan meminta emas, permata, berlian atau sesuatu barang branded dengan harga yang fantastis. Tapi Ziya, hanya meminta sebuah daun, itupun yang sudah gugur.


"Tapi lain kali, aku sendiri yang akan kesana dan mengambil daun itu sendiri." ucap Ziya. Aditya mengecupi seluruh wajah istrinya.


"Tentu saja, Sayang!"

__ADS_1


Flashback off


Aditya mengambil daun yang jatuh tepat di depan sepatunya. Aditya memutar perlahan daun itu, daun yang sama yang pernah dia bawa untuk Ziya.


"Aku belum sempat menepati janjiku, tapi kau sudah pergi meninggalkanku sendiri." lirih Aditya.


"Tuan, apakah kau baik-baik saja?" Aditya hanya menghembuskan nafas pelan, udara musim gugur yang begitu segar dan nyaman ternyata tidak dirasakan oleh Aditya. Dimana-mana rasanya sesak. Tapi dia harus tetap hidup bukan?


"Rizal, apakah kita akan bertemu dengannya?"


"Tentu saja, Tuan!"


Rizal dan Aditya mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk. Dengan langkah pelan, dua pria dewasa itu masuk ke dalam rumah di antar oleh pelayan tadi.


"Silahkan duduk Tuan, saya akan memberitahu Tuan dan Nyonya." ya hari ini adalah hari minggu, kebetulan sekali Steven dan Nabila berada di rumah.


Tak berapa lama, datanglah pemilik rumah. Mereka sepertinya heran, sebab tidak ada pemberitahuan sebelumnya, jika Aditya akan datang.


"Ada angin apa ini, sebab tidak ada angin tidak ada hujan, Tuan Aditya datang berkunjung di gubuk kami ini," sapa Steven dengan merendahkan diri.


"Saya kira bukan hal yang mengherankan jika adik ipar dan berkunjung ke rumah Kaka iparnya," jawab Aditya.


"Kau pasti sudah tahu kakak ipar, aku selama ini menjalani hidup seperti apa!"


Bukan sebuah rahasia lagi, jika Aditya telah berubah semenjak Ziya di kabarkan meninggal.


"Lalu, apa tujuanmu kemari," cerca Nabila.


"Sayang, sebaiknya kita persilahkan mereka duduk dulu, dan kau Nany, tolong buatkan minuman untuk tamu kita," titah Steven.


"Silahkan duduk Tuan Aditya dan Tuan Rizal."


Mereka duduk berhadapan. Aditya memperhatikan perut Nabila yang membuncit, membuat dadanya bergemuruh. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, dia mengusap cepat air mata yang hampir terjatuh itu.


"Sekarang katakan, apa keperluanmu datang kemari?" Rizal hendak bersuara, tapi ditahan oleh Aditya. Aditya menggelengkan kepalanya pelan, pertanda Rizal tidak boleh ikut campur.


"Aku ingin bertemu dengan anakku!"


Duarrr, Nabila meremas tangan Steven yang sejak tadi bertaut dengannya. Steven dan Nabila saling menatap.

__ADS_1


Nabila sudah menduga akan hal ini suatu saat pasti akan terjadi. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini. Nabila tidak ingin terpisah dengan anak itu. Dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


"Aku tahu, anakku masih hidup, aku ingin sekali bertemu dengannya. Tolong!" lirih Aditya dengan sangat menghiba.


"Aditya, bukankah kau tahu bahwa ankmu sudah tiada? Apa kau lupa itu? Dan kau pasti sudah tahu siapa penyebabnya!" ketus Nabila.


"Tidak!"


"Aku tahu, selama ini aku dibodohi, aku mengerti, kakak marah kepadaku sebab tidak bisa menjaga Ziya. Dan hukumlah aku, Kak! Tapi tolong, izinkan aku melihat wajah ankku." Aditya merosotkan tubuhnya ke lantai.


"Tuan!"


Rizal memegang bahu Aditya, tapi dengan pelan Aditya menyingkirkannya.


Tuan, anda memiliki segalanya, tapi kenapa hidup anda menderita. Hidupmu selalu diuji dengan cinta dan air mata."batin Rizal.


"Tidak Rizal, aku akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengan anakku." Aditya tanpa malu meneteskan air mata.


"Aditya, aku tidak mengerti maksudmu," ketus Nabila dengan wajah datarnya, padahal hatinya sedang bimbang. Dia juga tidak ingin memisahkan hubungan antara ayah dan anak. Tapi bagaimana jika bersama Aditya, nyawa anak itu terancam. Nabila tidak pernah lupa, bahwa Maya tidak bisa mencintai Ziya ataupun anaknya.


"Nabila, Cak Ali sudah menceritakan semuanya," bola mata Nabila membola. Sekarang akan sulit baginya untuk menutupi kebenarannya. Tapi, hatinya tidak rela jika harus berpisah dengan anak itu, namun dia juga tidak boleh egois, anak itu juga perlu kasih sayang orang tua kandungnya.


"Lalu!"


"Izinkan aku bertemu anakku!" Aditya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Aditya, maaf tapi_"


"Kakak, aku mohon, setidaknya aku bisa melihat buah cinta kami. Kak Nabila, tidakkah kau iba kepadaku, aku sudah kehilangan Ziya, separuh nyawaku bersamanya. Dan sekarang, aku merasa bernyawa kembali, setelah tahu, bahwa anakku masih hidup. Tolonglah Kak! Izinkan aku bertemu dengan anakku." Aditya menunduk dengan air mata yang membasahi pipi. Entah kenapa dia menjadi cengeng seperti ini.


Tanpa mereka ketahui, ada seorang anak yang datang kepada Aditya. Dia menyodorkan sapu tangannya kepada Aditya.


"Jangan menangis, Dady pasti akan menyelesaikan masalahmu," anak kecil itu, mengulurkan tangan mungilnya, terlihat sebuah sapu tangan berada di tangan itu.


Deg


"Mulai sekarang, kamu jangan menangis, oke Boy!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2