Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 38 Hari ini


__ADS_3

Jika saja bisa, tumbuhkan lah mawar tanpa duri, sehingga tidak akan ada yang terluka sebab terperdaya oleh kecantikan nya.


Marina membaca sebuah kalimat pada label sebuah botol dalam kotak kayu kuno.


"Inilah penawar itu. Aku yakin sekali." Marina membuka botol kaca yang cukup kecil itu, mencium aromanya yang kurang sedap. "Ini seperti bau darah. Tapi, bukankah ini adalah kumpulan ramuan itu?" Marina membongkar kotak kayu di hadapannya. Mengeluarkan semua isinya. Hanya kain putih yang membalut beberapa botol kecil. Marina memperkirakan, jika isinya pastilah ramuan khusus. Sedangkan satu obat di luar bungkusan, di ketahui Marina adalah obat penawar untuk sakitnya Zea.


"Bukannya aku berniat jahat kepadamu Zea. Sakit hati ini lah yang menyeretmu jatuh ke dalamnya. Jangan salahkan aku yang juga menjadikanmu bidikanku." Marina mencium botol kecil kemudian menyimpannya pada saku baju miliknya.


"Kau akan lebih aman bersamaku." segera dia mengemas kembali semua benda yang dia keluarkan tadi, menguncinya rapat hingga mungkin orang lain akan sulit menemukannya.


Marina kemudian mengambil ponsel miliknya. "Jack, apa kau sudah bergerak?" Marina semakin melebarkan bibirnya kala jawaban di seberang sesuai dengan apa yang dia inginkan. "Dia masih berada di rumah sakit. Jika perkiraanku benar, besok gadis itu akan keluar. Kau bisa standby di sekitar rumah sakit, untuk selanjutnya, kau pasti sudah mengerti akan tugasmu." Marina tersenyum licik. Panggilan terputus.


"Bodoh! sampai matipun tidak akan aku serahkan!" Marina mencium botol itu, lalu mendekati kamar mandi.


Betapa hitamnya dunia dendam, iri dan dengki. Bahkan di saat dunia terang benderang sekalipun, tetap saja mata dendam tak melihat terangnya cahaya.


"Tidak ada gunanya juga kau di ciptakan. Keberadaanmu sungguh tidak berguna. Sebaiknya, kau lenyap saja ya." Marina menuangkan isi botol itu ke dalam closet. Air bersih terlihat lebih kejam mengguyur obat penawar yang seharusnya menyembuhkan seseorang.


"Selamat jalan! hidup ini adalah kemenangan, siapa yang menggunakan akalnya, akan bertahan lebih lama. " Marina tersenyum puas.


Mungkinkah cahaya tidak akan lagi mampu menerangi langkahnya? entahlah. Mungkin sebagian orang pernah melihat cahaya, tapi memilih di tempat yang gelap hanya karena sebuah tujuan.


tok


tok


tok


"Nyonya!" Marina segera mencuci tangannya, kemudian keluar kamar.


"Ada apa?" seorang pelayan tengah membungkuk sopan.


"Ada seorang wanita yang datang untuk menemui Anda Nyonya."


"Siapa?"


"Setelah kami tanya, namanya adalah Nyonya Maya." pelayan itu sempat ketakutan, perubahan wajah Marina terlihat mencolok.


mungkinkah majikannya tidak menyukai keputusan pelayan untuk menerima tamu itu?


"Kau boleh pergi." mengibaskan tangannya.


Marina berjalan dengan gaya anggun namun angkuh. Seakan angin kemenangan benar-benar telah bertiup ke arahnya.

__ADS_1


"Nyonya besar Bagaskoro." Marina menyebut nama musuhnya dengan lantang, disertai senyum penuh ejekan. "Saya tidak menyangka, akan kedatangan tamu seorang wanita bangsawan yang agung."


Maya meremas tas yang berada di tangan, seolah menyalurkan sebuah kesabaran ganda pada aliran darahnya yang mendidih. Tentu dia paham, jika Marina hanya ingin menghina dirinya. Sedangkan tujuan Maya, ingin mendapatkan penawar untuk Zea.


"Apa Anda tidak takut terkontaminasi olehku wahai Nyonya Besar Bagaskoro. Kau datang ke gubukku yang penuh kotoran ini. Angin apakah yang sampai tega membawamu kemari hah!" Marina telah sampai pada anak tangga terakhir, dia memilih bersendekap, daripada mengulurkan tangannya menjabat sesama.


"Marina, langsung saja. Saya ingin kau berbelas kasih sedikit saja. Berikan penawar untuk Zea." Marina tertawa meledek.


"Berikan penawar? sayangnya, kali ini aku tidak ingin berbagi pada siapapun." Marina duduk dengan sangat angkuh juga sombong.


"Marina, tidakkah kau memiliki nurani? Zea tidak bersalah, dia sama sekali tidak pernah melakukan hal buruk padamu? Lalu bagaimana bisa kau berbuat sekeji itu padanya?"


Maya mulai geram. Dia yang selalu hidup bergelimang harta dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak akan sudi menurunkan egonya. Dia akan tetap terlihat elegan meski tengah meminta.


"Hati nurani?" Marina merasa lucu. "Siapa yang tidak memiliki hati nurani Nyonya?" Marina mengepalkan tangannya, udara yang semula sejuk, kini mulai terasa memanas. "Kau bahkan lebih tega dariku. Bukankah selama ini, kau yang menginginkan kematian Zea? Bahkan kau pernah secara terang-terangan menyerangnya."


"Diam!"


"Benar apa kata orang, sekecil apapun kesalahan orang lain, akan nampak. Tapi lihatlah, pernahkah kau melihat kesalahanmu? pernahkah kau berkaca pada hari nuranimu?" Marina membuang muka. Matanya berkaca-kaca sebab teringat masa di mana Maya selalu merendahkannya. Karena Maya jugalah, dirinya serapuh sekarang.


"Maaf untuk semua yang telah ku lakukan di masa lalu, tapi ada baiknya kau tidak melibatkan Zea dalam hal ini. Kasihan dia." Maya menangkup kedua tangannya di depan dada. Marina melihat ide kelicikan yang lebih keren.


"Maaf! Hanya sampai di situ caramu meminta maaf?" Maya yang mengerti akan kemauan Marina, memejamkan mata, menurunkan ego yang sudah lama dia junjung tinggi.


"Sepertinya sepatuku kotor." Marina menggoyang sepatu di kakinya. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa, 'Jika ingin di maafkan, Maya harus membersihkan sepatunya. ' Hancur sudah harga diri Maya yang telah dia jaga selama ini.


"Kurasa .... kau memang tidak pernah bersungguh-sungguh meminta maaf!" memainkan kuku jarinya yang lentik.


Maya mendekat, Marina semakin tersenyum lebar. Pelan tapi pasti, Maya mengambil tissue dan mengelap sepatu dan juga kaki Marina.


"Ini lebih bagus lagi jika diabadikan bukan?" Marina mengambil video ketika Maya melakukan permintaannya.


"Selesai, sekarang, berikan penawar itu."


"Masih saja kau bersikap angkuh Nyonya." Marina berdiri kedua tangannya kembali bersendekap.


"Pintu keluarnya ada di sana!" Menunjuk pintu keluar. Artinya Marina tetap tidak ingin menyerahkan penawar itu.


"Marina! cobalah untuk sekali saja. Gunakan nalurimu."


"Naluriku telah mati bersama niat jahatmu padaku. Tidakkah kau tahu itu?"


"Marina!"

__ADS_1


"Sebaiknya kau pergi saja. "


Menunjuk pintu keluar. .


"Kau!"


"Apa perlu saya bantu untuk keluar?" gertak Marina. "Pengawal!"


"Tidak perlu. saya bisa sendiri."


"Silahkan!"


Maya pulang dengan kekecewaan. Marina kembali duduk dengan rasa bangga pada dirinya sendiri.


~


~


~


"Selamat untukmu, kau sudah diperbolehkan pulang hari ini." Ucap Aditya antusias.


"Benarkah?" Zea begitu bahagia, memeluk Jenna yang sudah berada di sana sejak dua puluh menit yang lalu.


"Mari, Sayang! kita pulang. Momy akan membantumu ganti baju." kata Jenna lembut.


"Ayolah Momy, aku bukan anak kecil lagi. Aku juga tidak pengidap sakit parah yang harus di bantu berpakaian." Zea memutar bola mata malas. Jenna sebenarnya masih ingin berlama-lama hidup bersama sang anak, memanjakannya dengan kasih sayang, tapi mau bagaimana lagi, kebahagiaan anaknya dirasa jauh lebih baik daripada keegoisannya sendiri.


"Baiklah, Momy mengalah." Zea bersorak bahagia, langsung mencium pipi ibunya.


Di bagian parkiran rumah sakit, dua pria tengah standby dengan sangat siaga.


"Jika gadis itu keluar, kita segera bertindak."


"Baik Bos."


"Apakah benar dia Bos?"


"Iya! Dialah target kita." Mereka pun turun.


"Lakukan tanpa meninggalkan jejak."


"Baik Bos

__ADS_1


Bersambung,


Karena para pembaca minta lanjut, jadinya aku lanjutkan lagi. Tapi, maaf bila ada kekeliruan dalam penulisan, pengunaan bahasa dan lainnya. Jangan lupa dukungannya ya


__ADS_2