Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Cerita


__ADS_3

"Maaf Marina, jika, aku membuatmu bersedih dengan mengingat masa lalu itu." Ziya masih memeluk Marina sedangkan Devan tersenyum lucu.


Wanita memang aneh.


menggelengkan kepalanya.


"Kau harus tahu Ziya, mertuamu bukanlah orang baik." Marina berucap di sela tangisnya. Dia nampak mengatur pernafasan dan bercerita kembali.


"Setelah aku bertemu dengan tante Maya dan berkenalan, aku pikir, aku mendapatkan pengganti ibuku yang telah tiada. Tapi aku salah. Malam itu, aku berada di mall bersama Raisa. Aku mendapati tante Maya jalan berdua dengan seorang pria. Raisa pergi ke toilet karna panggilan alam dan aku merasa perlu menyapa tante Maya mengingat, dia adalah ibunya Aditya.


Tapi saat, aku mendekat kudapati mereka saling bergandengan tangan. Mereka juga melontarkan kata kata romantis. Aku mulai memahami situasi, aku pun tidak jadi menyapa, tapi duduk di tak jauh dari sana. Hingga Raisa yang datang mengagetkan aku, membuat tante Maya tahu, aku ada disana.


Tante Maya sepertinya tidak suka kepadaku. Menatapku dengan tajam. Bahkan menanyai, aku. Apakah, aku mendengar perbincangan mereka. Aku pura pura tidak tahu." Marina menerawang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Kau tahu Ziya, aku tidak bersalah melihat mereka selingkuh bukan? Tapi aku yang kena getahnya. Tiga hari setelah itu, aku mendapatkan pesan dari wanita itu. Untuk menemuinya di sebuah hotel. Akupun menyetujui tanpa curiga suatu apapun. Bahkan, dia bilang ada Aditya juga di sana.


Aku di suruh masuk ke dalam sebuah kamar setelah makan malam bersama. Tetapi Aditya tidak datang. Saat aku masuk ke dalam aku merasakan sakit kepala yang hebat dan aku tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, kudapati diriku sudah terbaring bersama seorang pria."


Marina menangis sejadi jadinya mengingat betapa hancur dirinya malam itu. Mahkota yang dia jaga harus berakhir dengan air mata. Entah mengapa Ziya tidak menemukan kebohongan di mata Marina. Hingga, dia pun terhanyut dalam kesedihan kisah Marina.


"Apa aku salah membenci perempuan itu? katakan!"


Ziya hanya diam. Membiarkan Marina menyelesaikan ucapannya. Dia berharap setelah ini, Marina merasa lebih baik.


"Pria itu adalah Agung. Setelah kejadian itu, Aditya seperti menjauh dariku. Ditambah lagi, aku diusir dari rumah oleh ibu tiriku. Ayah tidak percaya lagi padaku karna foto foto yang di kirim ke rumah. Dan aku tahu siapa pelakunya. Di saat, aku tidak memiliki uang, karna di usir dari rumah. Saat itu adalah ujian akhir sekolah, aku kebingungan mencari biaya untuk bertahan hidup dan membayar uang sekolah.


Aku di pertemukan lagi dengan Agung. Dia menawariku untuk menjadi model majalah dewasa. Akupun setuju saja, agar pendidikan ku tidak berhenti. Bahkan aku bisa sampai keluar Negeri. Semua karna Agung. Aku memang kotor, telah melakukan itu tanpa perkawinan, tapi aku hanya melakukannya dengan satu orang. Dialah Agung!"


Marina sesenggukan mengusap air matanya.


"Jadi, yang melakukan itu semua adalah mama." Ziya bingung antara mau percaya atau tidak. Karna setahunya, Maya sosok yang baik namun, dia juga tidak terlalu dekat dengan mertuanya itu.

__ADS_1


"Aku mengetahui semuanya bukan tanpa bukti Ziya. Aku sudah menyelidiki setiap hal yang terjadi padaku malam itu. Agung juga mengaku telah membeli ku dengan harga yang mahal."


"Maafkan aku Marina, membuatmu mengingat masa tersulitmu." Mata Ziya berkaca kaca, Ziya tidak pernah menyangka ada ya seorang perempuan melakukan hal kotor kepada perempuan lainnya.


"Tak apa Ziya, aku malah merasa lega, setelah sekian lama aku memendam semua kesedihan ini sendiri. Rasanya lega sekali Ziya, terima kasih kamu sudah mau mendengar ceritaku." Marina mengambil tisu di meja dan membuang ingusnya.


"Kan, aku pasti jelek habis nangis!"


Devan dan Ziya malah tertawa melihat kekonyolan Marina.


"Tidak jelek kok, hanya kurang cantik kalau nangis." Ziya mulai mencairkan suasana.


"Ziya, apakah kamu mencintai Aditya?" Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari mulut Marina. Ziya terkejut mendapatkan pertanyaan yang dia sendiri belum yakin jawabannya apa. Ziya melakukan hubungan suami istri juga karna merasa itu adalah kewajibannya. Tapi, dia merasa sangat nyaman bahkan merindukan Aditya saat tidak bersama.


"Apakah itu cinta!" Lirih Ziya yang membuat dua orang di sana saling menatap curiga.


"Maksudmu?" Devan dan Marina bersamaan.


Marina tersenyum melihat gelagat Ziya. "Aku bukan anak kecil yang mudah, kau bodohi Ziya. Aku melihat kegamangan dalam sorot matamu. Kau seperti tidak percaya pada cinta Aditya. Tapi, aku sangat tahu, Aditya begitu cinta padamu. Aku melihat itu Ziya, dia benar benar mencintaimu percayalah."


Ziya seperti mendapatkan angin surga yang menunjukkan mendengar kata kata Marina.


"Apakah itu benar?" Ziya memastikan.


"Aku berkata jujur, Ziya! hanya saja..."


Ucapan yang menggantung membuat Ziya cemas.


"Kau harus bisa menghadapi sikap mertuamu. Dia sangat pintar memainkan perannya." Ziya melihat kesungguhan dari ucapan Marina, membuat nyalinya menciut. Tak mungkin, dia melawan ibu mertuanya. Sebagai menantu, sudah seharusnya dia berbakti pada orang yang membesarkan suaminya.


Sanggupkah, aku jika apa yang dikatakan Marina tentang mama adalah kebenaran. Wahai dzat yang membolak-balik kan hati, buatlah hati ibu mertuaku menjadi baik. Amin.

__ADS_1


"Ah! jangan kau pikirkan Ziya!" Membuyarkan lamunan Ziya. "Kau pasti kuat menghadapinya, lagian, kau punya bodyguard seperti Winda." Ziya menaikkan alisnya lalu keduanya tertawa lepas.


"Apakah, kau kesakitan saat itu?" Ziya mengulum senyum di balik pertanyaannya.


"Kau mau mencobanya! Aku bisa memberikan bonus juga lho!"


"Hahaha sepertinya kau sangat terkesan ya." Ziya kembali menggoda Marina.


"Sudah ya Ziya jangan cari gara gara, kamu!" Dengan tersenyum sambil menunjuk.


"Terkadang lucu ya, kita di pertemukan dalam keadaan bermusuhan, tapi lihat sekarang." Ziya mengingat masa pertemuan yang tidak baik dengan Marina.


"Hai, kau sadar sesuatu tidak seh, bukannya tadi ada...!"


Marina dan Ziya menyadari tadi mereka bertiga ngobrol bareng, tapi kenapa hanya dua orang yang bersuara. Di sofa panjang itu, ada satu makluk yang tampak tertidur pulas.


"Lihatlah...!" Marina menunjuk dengan dagunya.


"Hahaha, dia memang tidak pernah berubah." Ziya berkomentar. Marina mengernyit.


"Begitulah, dia kalau sudah jenuh mendengarkan, dia akan tidur seperti bayi yang di dongeng ibunya."


"Kau dengar itu, Nak. Ayahmu bukan pendengar yang baik, kau jangan tiru, dia ya." Marina mengelus perut datarnya.


"Sepertinya, kau bahagia dengan kehamilanmu."


Marina tersenyum mendengar ucapan Ziya.


"Bagaimana, aku tak bahagia. Aku akan memiliki keluarga yang akan menyanyangi dan selalu ada untukku. Aku sudah lama sebatang kara, dengan kehadiran anak ini, aku akan memiliki keluarga kembali."


Aku juga ingin memiliki anak. Ziya memegang perutnya tanpa sadar.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2