Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 31


__ADS_3

"Siapa mereka Zal?"


Terlihat satu pria yang sangat dikenal oleh Aditya dan Rizal, diikuti oleh beberapa pria lain yang berperawakan tinggi turun dari dalam mobil bersamaan.


"Bagaimana ini Tuan?" Rizal bisa merasakan hawa panas di luar sana. Satu pria mulai menggedor pintu samping.


"Buka pintu Zal." setelah memastikan keadaan Zea yang masih tidur pulas di pundaknya. Tidak bergeming dan bahkan dengkuran halus itu menunjukkan betapa pulasnya dia tidur. Tangannya terulur untuk mengusap lembut kening wanitanya.


"Keluar wooi!" gedoran semakin keras, bahkan mobil itupun terguncang. Namun berbeda saat pintu itu terbuka.


"Hai kau!" Pria itu terdiam dan malah memutar badannya. Aditya menghadapi semuanya dengan santai. Begitupun Rizal, meski was was tapi sikapnya biasa saja. Dia yang keluar setelah memastikan sang Bos masih dalam keadaan yang sama.


"Tuan Rizal, dimana adikku!" tanya Mike dengan tegas.


"Ada! Dia sedang istirahat." Rizal mengatakannya dengan sangat santai. Matanya tajam menelisik lawannya satu persatu. Terhitung ada tujuh orang dengan badan kekar. Rizal tersenyum memperkirakan kekuatan mereka yang mungkin seimbang dengan dirinya dan Aditya.


"Istirahat di mobil?"


"Tuan, Nona Zea di dalam bersama Tuan Aditya." Seorang melaporkan kenyataannya. Tanpa suara Mike segera memeriksa.


"Tuan Aditya! Ka_"


"Syuut!" Aditya meletakkan telunjuknya di bibir.


"Berikan dia padaku!" ujar Mike tegas dan tertahan agar lebih terdengar halus supaya tidak membangunkan Zea.


"Tidak akan!" memeluk tubuh Zea prosesif.


"Hai, dia adikku. Dan siapa kau yang beraninya menguasai adikku begitu." Mike semakin geram. Dia membuka kasar pintu mobil dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh Zea.


"Jangan sentuh dia, biarkan dia istirahat dengan tenang." Aditya bicara tertahan juga agar Zea tetap nyaman. Jika memang benar dia Zea, tentu tidak akan terbangun. Secara yang Aditya ketahui bahwa Ziya kalau tidur pasti sulit untuk dibangunkan.


"Tuan Aditya, jangan membuat kesabaranku habis. Berikan Zea kepadaku." Mike masih kekeh mengulurkan tangannya.


"Hai!" Aditya semakin memeluk Zea prosesif.


"Nany, jangan ganggu aku tidur. Aku lelah sekali." Zea mengigau dalam tidurnya. Membuat kedua pria itu terdiam sejenak, setelahnya mengulum senyum sebab melihat wajah lucu Zea yang bergeser ke dada bidang Aditya dan kemudian tertidur kembali. Nyaman, itulah yang Zea rasakan saat ini.

__ADS_1


"Lihatlah. Dia begitu nyaman di pelukanku." Aditya tertawa dalam kebahagiaan, bahkan mencium lembut puncak kepala Zea yang bersandar di dadanya dengan begitu nyaman.


"Iya, dia tidur dengan sangat nyaman. Selama ini, dia hanya tidur di jam tertentu saja. Itupun setelah minum obat." Mike melihat wajah teduh adiknya yang begitu damai. Mike mengusap lembut anak rambut Zea.


"Jangan sentuh istriku." Menepis kasar tangan Mike.


"Dia adikku." Sungut Mike tidak terima. Mengulurkan tangannya lagi, dan lagi lagi Aditya juga menepisnya dengan kasar.


"Hai, sejak kapan dia jadi istrimu." tanya Mike saat menyadari sesuatu.


"Sejak tiga tahun yang lalu. Dia Ziya, nyonya Ziya Almahiyra istri dari Tuan Aditya Bagaskoro. Kau harus tahu itu." tegas Aditya. Mike terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Ingat akan perkataan ibunya.


"Tidak! Aku tidak percaya. Berikan dia padaku. Dia adalah Zea Almyre Anderson. Putri dari Marcello Anderson. Menarik kasar tubuh Zea hingga empunya mengerjapkan mata.


"Emmmh" terdengar suara khas bangun tidur Zea yang terdengar seksi di telinga Aditya.


"Sister, Kita pulang sekarang." Belum sepenuhnya sadar, Mike sudah menariknya keluar, Aditya ingin menghentikan namun sudah terlambat. Mike membawa Zea pindah ke mobilnya.


"Aku masih mengantuk Brother." Terseok mengikuti langkah Mike. Setelah duduk di mobil matanya terbuka sempurna. Rizal yang masih bersitegang mata dengan pengawal Mike, diam mengawasi.


"Tuan Mike, kau lancang."


"Bagaimana Tuan?" Aditya tersenyum menanggapinya.


"Aku akan menikah kedua kalinya dengan orang yang sama. Bukankah itu suatu keajaiban?" Aditya membuka pintu kemudi yang membuat Rizal shock. Setelah sekian lama Aditya duduk di kemudi.


"Zal, kau mau pulang apa tidak?" Rizal bingung dibuatnya. Apa maksudnya.


"Biarkan aku yang menyetir kali ini. Masuklah!" Meski bingung, Rizal pun menurut.


Apakah Tuan Aditya salah minum obat? Atau tertular amnesia juga seperti Nona Zea? batin Rizal meski heran duduk juga di samping kemudi.


Aditya tidak peduli dengan raut wajah Rizal yang terlihat aneh. Dia begitu bahagia, bahkan bersenandung kecil dan kadang bersiul sambil berkendara. Lebih mirip seperti ABG yang baru saja jatuh cinta.


✓✓✓


Di Kanada.

__ADS_1


Zafran dan Ano bermain dengan sangat lincah. Mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru pembimbing mereka. Ditemani oleh Steven dan Nabila.


"Mereka sangat mirip dan tidak mudah untuk dipisahkan." Nabila yang sedang menikmati secangkir tehnya terdiam sejenak, ikut mengamati wajah anak dan keponakannya yang memang mirip.


"Kata orang, seringnya dua orang yang berbeda menjalani hidup bersama maka wajahnya lambat laun akan semakin mirip." Ucap Nabila, tangannya tidak berhenti mengusap perutnya yang membuncit.


"Aldino dan Zafran adalah dua sifat yang saling melengkapi. Ano terkesan pemaksa dan mau menang sendiri jika menginginkan sesuatu, maka dia tidak akan peduli itu milik siapa. Sedangkan Zafran, dia lebih mau mengerti saudaranya, mengalah, juga sangat penyayang. Begitu mirip dengan Ziya." Nabila tersenyum ingat akan sifat adiknya yang mudah mengalah.


"Dia keras kepala seperti dirimu." Ejek Nabila membenarkan perkataan Steven.


"Iya, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka saling melengkapi satu sama lain."


"Aku berharap hubungan seperti itu akan bertahan sampai mereka dewasa nanti."


"Hai, itu sudah pasti. Mereka anak kita tentu akan rukun selamanya." Steven tidak mau kalah.


"Tapi kita hanya orang tua angkat bagi Zafran." sebuah kenyataan yang kadang membuat Nabila merasa sesak. Terkadang Nabila ingin egois dan enggan memberikan Zafran kepada orang tua kandungnya, tapi dia juga sadar bahwa itu sebuah kejahatan.


"Kau menyanyangi Zafran selayaknya anak sendiri. Meski dia tidak lahir dari rahimmu, tapi anak itu minum dari ASI mu." menarik tangan Nabila dan menggenggam erat. "Yakinlah, biarpun suatu saat nanti Zafran tidak bersama kita, tapi dia akan tetap menjadi bagian dari keluarga kita." Nabila tersenyum haru. Betapa Steven adalah suami sempurna yang begitu penyanyang.


"Terima kasih Honey."


"Jangan lagi memikirkan hal yang tidak penting. Fokuslah pada anak kita ini, oke." mengelus perut Nabila.


Ssssyyyt


"Kamu kenapa Nabila?" Steven segera bangkit dan mengelus lembut perut Nabila."


"Perutku sakit, seperti akan mau melahirkan ya mas." Nabila merintih menahan sakit. Tapi bicaranya masih lancar. Dan menit berikutnya dia merasakan sakit lagi.


"Mana yang sakit, sebelah mana? Yang ini? yang ini? Atau sebelah sini?" Meniup perut bulat Nabila dan mengelusnya. "Anak Dady yang baik hati dan tidak nakal, jangan sakiti Momy ya! Kasihan Momy, baik-baik saja kamu di dalam. Kita ke rumah sakit ya?" panik Steven mengambil ponsel di saku celananya. Dia mencari nama Riko sang asisten.


"Kamu duduk baik-baik dan jangan lupa ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan lewat mulut." Nabila mengikuti arahan dari Steven, dan sesekali memberikan contoh.


"Steven, rasa sakitnya sudah hilang. Nabila tak kuasa menahan tawa sekarang. Sungguh betapa bahagianya dia diperhatikan dan dicemaskan oleh seseorang yang begitu dia cintai.


**Bersambung......

__ADS_1


Happy reading**


__ADS_2