
Ziya menyisir rambutnya dengan begitu pelan, dia masih belum mengerti kenapa mertuanya belum mau pulang, apakah memang keadaan rumah sering seperti ini. Dulu, dia sering menghabiskan waktu bercanda dengan Nabila, ayah, dan ibunya. Rumah menjadi hangat dan terasa hidup walau tidak semegah dan semewah rumah yang di tempatinya kini.
Kenapa, aku merindukan saat saat kebersamaan itu ya, dimana moment saat bercanda dan tertawa bersama.
"Lagi ngelamunin apa seh, sayang!" Sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya. Sebuah dagu juga landas di pundaknya, wangi mint tercium jelas di Indra penciuman. Bibir pria itu pun mencium pipi Ziya berulang kali. Tetesan air membasahi hidung juga kulit wajahnya. Ziya tersenyum manis mendapat perlakuan seperti itu.
"Sini aku keringkan rambut, kamu." Menarik handuk yang di pegang Aditya. Ziya lalu berdiri ganti Aditya yang duduk, wajahnya tepat berada di dada Ziya.
"Sayang, geli tau." Ziya beberapa kali menghindarkan tubuhnya dari Aditya, tapi tidak berhasil karna pinggangnya di pegang erat oleh Aditya.
"Hemmh, enak aku suka. Kayaknya lebih gede ya." Mata Ziya melotot sempurna, bagaimana tidak. Aditya menekan bagian sensitif Ziya dengan tangannya.
"Pas banget di tangan, aku." menyentuh lagi saat Ziya mengeringkan rambutnya.
"Kau, mesum sekali ih." mencubit lengan suaminya. "Ini keringkan sendiri." Melempar handuk ke meja rias, ternyata nggak tega juga melempar ke wajah suaminya.
"Sakit, sayang." pura pura.
"Biarin abisnya mesum banget, heran deh. " Ziya sambil terkekeh.
"Harus itu namanya nafkah batin." Aditya malah menarik pinggang Ziya hingga duduk di pangkuannya.
"Itu namanya nafsu bukan nafkah." Ziya cemberut. Aditya malah mengedipkan mata sebelah.
"Ih genit banget jadi cowok." mengunyel unyel pipi Aditya.
"Genit sama istri itu wajib, sayang. Sebagai tanda cinta yang hakiki." Ziya malah merona.
Apakah ini yang dinamakan cinta ya. Kata katanya seh biasa saja, tidak ada kata romantis sama sekali, tapi kenapa terdengar manis. batin Ziya.
"Sayang, bagaimana menurutmu jika, kita mengadakan resepsi pernikahan?" Aditya menatap lekat wajah yang selalu membuatnya tersentak dari lamunan.
"Apa kita perlu melakukan itu." suara Ziya hampir tak terdengar. Kenangan saat di kantor Aditya pun terlintas. Membuat pikirannya menganggap itu perlu.
"Tapi....bagaimana dengan mama? apakah mama akan setuju?" lirihnya sambil memainkan jemari Aditya agar tidak berkeliaran kemana mana.
"Setuju ataupun tidak. Aku akan tetap mengenalkan dirimu sebagai istriku ke pada semua orang."
Ziya jadi teringat kejadian tadi siang. Saat Aditya mengumpulkan semua karyawan dan mengenalkan dia sebagai istri Ziya.
__ADS_1
"Perkenalkan ini Ziya, istri saya. Dan harap kalian mengenalinya dengan benar. Jika lain kali ada yang menghalangi istri saya untuk bertemu dengan saya. Saya tidak segan segan untuk memecatnya. Terima kasih."
"Sayang."
"Hemmmh."
"Apakah, kau memecat resepsionis yang...!"
"Dia sangat kurang ajar sekali padamu, aku sudah membuat perhitungan yang setimpal padanya." mata Ziya melotot sempurna mendengar jawaban Aditya barusan.
"Sayang, tapi bagaimana nanti kehidupan, dia. Mencari pekerjaan di kota ini tidak mudah. Bagaimana jika dia menjadi tulang punggung keluarga. Pasti dia akan sangat kesulitan." Aditya memeluk istrinya dengan sayang.
Aku tidak tahu, kenapa mama bisa membenci orang sebaik dirimu. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Biarkan saja mama mau apa aku akan tetap mempertahankan dirimu.
"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Salah sendiri mereka berani menghinamu."
"Itu karena mereka belum tahu."
"Tahu ataupun tidak, seharusnya mereka tidak asal menghina siapapun itu."
"Ihhh...baik banget suamiku ini."
Cup
Ziya mendaratkan kecupan di kedua pipi suaminya. Aditya pun menunjuk bibirnya agar di kecup Ziya juga. Dengan malu malu akhirnya Ziya juga melakukan permintaan itu. Bukan hanya ciuman yang di dapat, tapi juga ritual suami istri untuk mendapatkan calon penerus.
🌺🌺🌺
Di apartemen.
Maya beberapa kali menghubungi nomor seseorang, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu. Tampaklah Syita dengan antusias mendapati mamanya yang membukakan pintu.
"Mama, kenapa mama lama tidak pulang? Aku kangen tahu." Sambil cemberut.
"Mama banyak urusan, sayang. Darimana kau tahu, aku ada di sini?" membalas pelukan anaknya tapi tidak menanyakan kabar.
"Apakah mama tidak suka jika, aku kemari." Syita sudah tahu jika mamanya ini memang tidak seperti kebanyakan ibu ibu yang begitu perhatian pada anaknya.
"Sayang, bukan begitu maksud mama. Kau sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri. Mama akhir akhir ini banyak sekali pekerjaan." Membelai rambut anaknya.
__ADS_1
"Kenapa mama tidak pulang." Syita masih menahan rasa yang selalu membuat hatinya sedikit sakit. Syita ingin mendapatkan perhatian seperti layaknya anak gadis lain.
"Mama tidak mau ada keributan, sayang. Kau pasti tahu itu."
"Ma...apa yang membuat mama seperti ini? mama tidak pernah membenci dan berbuat jahat jika tidak ada sebab?"
"Mama hanya tidak suka dengan Ziya. Dia hanya menginginkan harta kita. Mama tidak akan suka dengan gadis seperti itu." Maya mulai menaikkan nada bicaranya.
"Kak Ziya bukan seperti itu, ma. Dia sayang dan cinta sama abang. Dia juga sayang sama mama hanya saja mama tidak pernah memberikan kesempatan padanya. Kak Ziya juga memperlakukan aku seperti adik sendiri."
"Kamu masih kecil. Kamu tidak tahu apa apa."
"Ma, kalau mama anggap aku anak kecil. Kenapa mama tak pernah satu kali saja perhatian pada aku, ma. Kenapa! aku juga ingin seperti anak lain yang di tanya kenapa tak pulang, apa sudah makan atau belum mama tidak pernah peduli."
"Ada Cak Ali, sayang. Cak Ali sudah melakukan semua yang kamu butuhkan. Jangan buat mama tambah pusing deh." Maya mulai jengah. Mengaktifkan kembali ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ma, mama ayo kita pulang, ma. Mengguncang lengan mamanya.
"Maafkan mama, sayang. Mama tidak akan pulang sebelum wanita itu pergi dari rumah kita." Masih berusaha menghubungi seseorang.
"Tapi ma. Aku merasa kesepian di rumah."
"Sayang, ada Cak Ali yang akan mengurus semua kebutuhan, kamu. Jangan kayak anak kecil ah."
"Aku ini anak siapa sih, ma. Anak mama atau anak Cak Ali." Membanting pintu apartemen mamanya.
Sampai di luar dia bertabrakan dengan seseorang karna tergesa gesa, membuat dirinya tidak melihat jika ada orang di lawan arah.
"Auwhh." Syita memegang sikunya karna jatuh ke lantai. Dan si pria yang di tabraknya masih tegap berdiri.
"Ah maaf maaf. Mari aku bantu." Pria itu mengulurkan tangannya.
Syita malah menangis tersedu sedu.
"Huuu huuu kenapa aku harus jatuh saat hatiku juga jatuh." Menelungkupkan wajahnya di antara kedua kaki.
"Maaf nona, tapi saya yang anda tabrak. Kenapa malah anda yang menangis." Bingung sendiri
"Hei...kau apakan anakku." Sebuah bariton mengejutkan Syita dan pria itu.
__ADS_1
**Bersambung.....
Selamat membaca, maaf jika ada banyak salah. dan jangan lupa tinggalkan jejak**.