
"Dia dalam masalah, Tuan!"
"Bukan urusan kita," jawab Aditya cuek, tapi ekor matanya tetap membuntuti adegan yang sedang berlangsung dimana tempat gadis itu berada. Rizal yang menyadarinya juga tersenyum tipis.
"Malam Cantik!" Dua pemuda dengan warna mata nyalang menatap Zea dan temannya. Dari raut wajahnya, mereka nampak peminum yang handal. Wajah dan mata mereka memerah, tapi cara berjalannya masih tegap. Kedua pria itu memandang gadis di hadapannya dengan tatapan liar.
"Zea, mereka mendekati kita," bisik gadis polos yang berada di hadapan Zea. Zea tahu benar jika temannya sedang badmood saat ini dan tidak mau diganggu. Zea bersikap tenang saat pria yang satunya juga mulai menggoda dirinya, tangan nakal itu hampir saja menyentuh lengan Zea, tapi dengan lihai menjauhkan dari jangkauan, seolah mengambil minuman.
"Hei, Lalisa Sayang, dia lumayan lho!" Zea malah menggoda temannya yang sedang kesal. "Hai, Sayang ini dunia malam, lihatlah orang di sampingmu itu, sepertinya itu nikmat. Dan ya ... yang di sana, apakah kau tidak ingin mencoba bagaimana rasanya." goda Zea semakin semangat.
"Nona Zea, sudah aku jelaskan berulang kali. Aku hanya akan melakukan itu dengan suamiku saja." Gadis yang bernama Lisa wajahnya nampak kusut. Sedangkan tubuhnya berusaha menjauh dari jangkauan pria yang sedang menggodanya.
"Hai, seksi, kenapa kau selalu menjauh," seringai devil muncul di bibir pria berkulit putih itu. Lisa semakin panas karena menahan kesal.
"Zea, kita pindah!" Lisa berdiri. Namun Zea menarik lengannya kembali.
"Ayolah, Sayang, kita nikmati malam ini," tangannya mulai memegang bagian tubuh Lisa. Dengan kesal, Lisa mengibaskan tangan pria berambut pirang itu. Saat Lisa hendak berucap, Zea memotong pembicaraannya.
"Maaf Tuan, kami sudah di booking oleh orang lain," ucap Zea santai. Sedangkan Lisa melototkan matanya tajam.
"Yah, apa ada waktu luang setelah malam ini?" kekeh pria itu, tangannya masih jail menyentuh pipi dan sesekali menjawil dagu Lisa. Bahkan meremas paha Lisa dengan genit.
"Hentikan_" telunjuk Lisa menggantung di udara.
"Maaf, Tuan!" Dia sudah dibeli khusus oleh Anderson." Zea dengan santai mengatakan hal itu, Lisa memukul paha Zea pelan. Dia adalah anak dari keluarga Anderson, tapi bukan berarti wanita simpanan.
Enak sekali si Nona Zea ini ngomong, gerutu Lisa dalam hati.
"Ternyata Tuan Anderson suka yang masih bersegel ya! Baiklah Sayang, sepertinya bukan keberuntungan kita" Menoel pipi Lisa, meski di tampik oleh sang empu. "Lalu, bagaimana denganmu?" kini pria yang satunya yang bicara. Sedari tadi pria itu menatap gundukan milik Zea yang nampak menantang dengan jakun naik turun.
__ADS_1
"Pergilah!" tegas Zea memperlihatkan sebuah pistol yang Zea simpan di pahanya. Kedua orang itupun saling menatap, kemudian pergi dari sana.
"Zea, lain kali, jangan ajak aku ke tempat begini! Kau pasti melihat gimana mata mereka menatap dadamu itu!" Lisa nampak frustasi.
"Hai, anak baik, aku hanya mengajarimu mencari hiburan. Kenapa kau malah marah kepadaku?" Zea terkekeh. Meski kulit Lisa tidak sebersih milik Zea, tapi wajah manisnya mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Lisa adalah anak angkat dari asisten Marcell. Ayahnya yang keturunan Afrika dan ibunya keturunan Indonesia, membuat anak itu terlihat manis dengan warna kulit yang eksotis.
"Zea, aku sudah dua puluh tahun lebih di Indonesia. Aku lahir dan dibesarkan di sana. Di Indonesia, wanita harus bisa mempertahankan dan menjaga kehormatan mereka. Berhubungan dengan lawan jenis tanpa pernikahan adalah hal yang sifatnya sensitif."
"Maaf, Lisa."
"Tidak apa-apa Zea, kita hidup di negara berbeda dan memiliki lingkungan juga latar belakang yang berbeda. Jadi aku cukup mengerti," Lisa tersenyum kemudian memeluk Lisa.
"Lisa, apa kau tahu, aku juga tidak pernah berhubungan dengan pria selama ini."
"Benarkah? Tapi_"
"Ya, aku memang sering pergi ke bar dan klub malam, minum dan berdansa, tapi aku tidak pernah sekalipun melakukan hubungan terlarang itu. Entah kenapa, setiap aku berdekatan dengan seorang pria, aku merasa ada hati yang harus aku jaga. Aku seperti memiliki sebuah tembok otomatis yang setiap saat membuatku tidak nyaman saat bersama dengan pria."
"Benar Lisa. Bahkan terkadang aku selalu bermimpi, seorang pangeran berkuda putih mendatangi diriku dan mengajakku pergi. Namun aku tidak pernah melihat dengan jelas, wajahnya. Bahkan mimpi itu berulang kali hadir. Kadang aku merasa mimpi itu begitu nyata. Aku jadi berpikir, mungkinkah ada seseorang yang menjaga hatinya untukku saat ini!"
"Zea ...!" Lisa menggenggam tangan Zea.
Zea, andai aku bisa mengatakan segalanya kepadamu. batin Lisa.
"Iya, Lisa. Bahkan aku sering bertanya-tanya kenapa hati ini selalu merasa sepi. Semua orang menyanyangi dan mencintai diriku. Tapi aku selalu merasa sendiri di sini."
"Zea!" Lisa menatap wajah Zea dengan sendu. Dia mengerti dan tahu semuanya, tapi dia harus berpura-pura. Suatu keadaan yang membuat siapa saja dilema.
"Lisa, aku hidup dalam kemewahan, harta yang bergelimang seakan tidak ada habisnya. Tapi selalu merasa kurang." Zea menghembuskan nafasnya. Keduanya kini hening, dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Lisa, kapan kau akan ke Indonesia?" Zea memulai pembicaraan kembali.
"Seminggu lagi!" jawab Lisa dengan santai. Pria itu sudah pergi, dan sepertinya dua manusia mesum yang berada di sebelah Lisa pun sudah berganti.
"Zea, apa kau tidak risih melihat ulah mereka?" Lisa melihat hampir semua orang yang berada di sana tidak dalam keadaan baik. Bahkan tidak segan memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan semua orang layaknya suami istri.
"Lisa, Lisa, Come on baby! Ini dunia malam Kanada, jangan samakan dengan Indonesia."
"Yah, aku cukup mengerti akan hal itu," Lisa menggidikkan bahunya.
"Lis, aku semakin penasaran dengan Negara Indonesia. Entah kenapa saat membicarakannya, aku seperti tidak asing lagi dengan nama Negara itu. Dan yang membuatku heran adalah, kenapa di semua Negara di belahan dunia ini, hanya Indonesia yang tidak boleh aku kunjungi." keluh Zea. "Padahal aku begitu penasaran dengan keajaiban dunia yang berupa batu bertingkat itu."
"Zea," Lisa menggenggam tangan sahabatnya. "Yakinlah, bahwa semua yang mereka lakukan, adalah semata-mata untuk kebaikan dirimu. Aku berharap kau mengerti itu," Zea mengangguk mengerti.
"Yeah, mau bagaimana lagi. Andai saja aku tidak melupakan semuanya_,"
"Zea, please! Berhentilah membicarakan itu lagi." Terlihat Zea memegang keningnya.
"Apa kau merasa pusing?" Zea mengangguk. Lisa segera membongkar dompet Zea, dan mengeluarkan sebuah kotak obat dari sana. "Minumlah!" Zea menerimanya dan meminumnya dengan cepat.
"Bisakah kita pulang saja?" ucap Zea
"Itu akan lebih baik. Aku cukup merasa horor dengan tempat seperti ini," Lisa dengan antusias berdiri dan sejajar dengan Zea.
"Lebay!" cebik Zea.
"Itu bahasaku, bahasa impor dari Indonesia!" teriak Lisa.
"Dan aku sebagai penduduk lokal, pasti boleh dong memakainya." Gaya centil Zea yang memukau membuat Lisa menggeleng kepala.
__ADS_1
"Zea, kenapa malam ini kau tidak membawa bodyguard?" tanya Lisa heran. Sebab tidak biasanya Zea sendirian datang ke klub.
Bersambung....