Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Gara gara cemburu 2


__ADS_3

Ziya terkikik saat melihat Aditya yang kesal. Entah kenapa hawanya berbeda. Dia seperti ingin sekali berbuat usil terhadap suaminya itu. Ada rasa kepuasan yang sulit untuk di ungkapkan. Padahal hari hari sebelumnya dia sangat ingin menjaga hati suaminya.


"Baiklah, aku akan periksa email lewat laptopku."


Baru saja di buka notifikasi masuk dari akun Syita.


💌Kakak, jangan kemana mana, kak! aku sayang kamu. Oke besok aku pulang ya. Jangan pergi, kak. Aku kesepian tanpa kakak. Aku pulang besok oke.


💌 Kakak, kok nggak di bales seh.


💌Kak jangan ngambek dong.


💌Kak jangan marah oke, love you kakak.


Ziya tersenyum membayangkan kepanikan iparnya itu. Dia tidak benar benar ingin pergi. Hanya saja bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini.


Ziya juga mengecek kali aja ada email yang masuk lagi. Hanya dari Vin, Ziya pun membalas seperlunya dan menutup laptop lagi.


"Ini sayangku Aditya kemana ya." Ziya memegang kedua pipinya. Kenapa rasanya begitu bahagia saat orang yang kita cintai mencemburui kita.


"Aku sudah jatuh cinta denganmu, sayang!" menunjuk foto besar yang berada di kamarnya.


"Kenapa perasaanku begitu menggebu gebu ya, ada rasa bahagia yang membuncah dalam hati ini." Ziya memegang dadanya sendiri. Sekilas ingat perkataan ibunya dahulu. *Jangan terlalu senang, nak takutnya nanti jika mengalami musibah, tidak bisa mengontrol diri jadi terlalu bersedih.*


Ziya termenung lagi. Lalu beranjak mengembalikan laptop di tangannya.


"Sudahlah, aku merasa capek banget hari ini." Ziya lalu bergelung dengan selimutnya. Tapi belum sampai dia tidur Aditya sudah masuk lagi ke dalam kamarnya.


Kau sudah membuatku marah hari ini. Aku akan menghukummu.


"Apakah dia sudah tidur?" Gumam Aditya yang masih di dengar oleh Ziya. Menengok dengan pelan ke ranjang. Di sana Ziya pura pura tidur.


Aditya mendekati bangkai ponsel yang di lemparnya tadi. Menimang nimang dan mencoba menghidupkannya.


"Ah mati lagi." Kesal Aditya. "Aku akan tetap mempertahankan Ziya, bagaimanapun caranya." Gumam Aditya.


Diapun berjalan ke sisi ranjang dan mendekati Ziya. Mencium pipi istrinya pelan.


Semenjak datang Aditya terus saja kurang fokus dengan pekerjaannya. Kejadian tadi malam memenuhi isi kepalanya.


Tidak seperti biasanya, kenapa Ziya menjadi begitu agresif ya. Aku seh happy happy aja dan menikmatinya. Tapi apakah itu bagus untuk kandungannya ya.


Aditya masih melamun saja bahkan sampai Rizal menepuk kedua tangannya di depan muka Aditya.


"Mau cari mati luh!" Macan mulai menunjukkan taringnya, padahal tadi seperti patung saja.


"Habisnya gua sudah lima belas menit di sini elu masih di alam bayangan." Kesal Rizal tak peduli jika nanti Aditya marah.

__ADS_1


Aditya menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa, tuan!" Rasa hormatnya kembali. Tak tega juga melihat keadaan sang bos. Biarpun bawahan dia adalah orang yang paling dekat dengan Aditya dari pada sahabat lainnya.


"Kali ini gua jadi sahabat Luh!" Rizal menggeser kursi lalu duduk di hadapan Aditya. Dia sudah menduga jika Aditya dalam dilema dan membutuhkan teman curhat.


"Baiklah, ceritakan kenapa!"


Aditya menceritakan semua kejadian tadi malam mulai dari foto foto Ziya dengan cowok itu, hingga dia menelpon Rizal.


Sampai cerita terakhir saat Ziya yang begitu agresif di ranjang. Bahkan Ziya hampir membuatnya kewalahan.


"Jadi, sekarang lu kalah tanding sama istri lu sendiri. Apa lu sudah selonyo itu!" Rizal tertawa terbahak mendengar cerita Rizal.


"Mau mati lu hah." Melempar Rizal dengan bolpoin, tapi dengan sigap Rizal menangkapnya. Masih sambil tertawa lepas.


"Ya gua bingung lah, secara dia itu orangnya pemalu dan sekarang liar banget. Aku takut nantinya mempengaruhi janin dalam kandungannya." Aditya nampak cemas.


"Tapi bukannya ada yang bilang kalau ibu hamil itu menggairahkan!" Rizal semakin penasaran.


"Entahlah, aku was was saja dengan Ziya yang tidak menunjukkan gejala kehamilan. Dia tidak mual atau muntah muntah tapi porsi makannya saja yang memang semakin bertambah."


"Kenapa tidak kau konsultasikan saja hal ini dengan dokter kandungan?" Usul Rizal


"Hemmh, idemu brilian. Suruh Dona untuk menjadwalkan bertemu dokter kandungan besok."


"Ini ponsel yang tuan pesan." Meletakkan tas itu di meja Aditya.


"Apa sudah kau pindahkan juga data dalam ponsel itu."


"Sudah, tuan!" saya juga sudah mengganti nomer nona Ziya agar orang itu...!"


"Sudah jangan di teruskan." Potong Aditya cepat.


"Bagaimana untuk acara kejutan nanti malam?" Mengalihkan topik pembicaraan.


"Beres, tuan sesuai dengan apa yang tuan perintahkan." Rizal mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih, Rizal. Apakah ada pekerjaan penting lagi setelah ini?"


"Ada, tuan! Kita ada janji dengan PT Loyalti grup satu jam lagi." Jawab Rizal


"Baiklah, setelah itu, kosongkan jadwal ya, aku mau pulang lebih awal."


"Baik, tuan."


Sore hari.

__ADS_1


Dengan langkah lebar Aditya memasuki rumahnya. Dia cukup kesal tadi, karna kesepakatan yang alot dengan PT Loyalti. Mereka sangat teliti dalam segala hal. Ditambah tadi, Aditya mendapat telpon dari bodyguardnya, bahwa tamu Ziya sudah datang.


"Di mana mereka!" Bariton Aditya membuat bodyguardnya gugup.


"Mereka ada di taman belakang, tuan se...!" Belum lanjut bicara, Aditya pergi meninggalkan bodyguard itu.


Terdengar suara gelak tawa dari taman belakang. Bukan hanya ada dua orang. Tetapi sepertinya ada tiga orang.


"Hai kau kurang ajar sekali berani menyentuh istriku." Teriak Aditya lantang sambil mendorong teman istrinya yang kemarin berada di galeri sang istri.


"Aditya! kenapa seh kamu datang datang langsung marah?" Ziya sudah berjongkok menolong temannya yang jatuh ke rumput.


"Sakit ini Ziya." Vin menghiba, tentu saja Ziya memeriksa tangan Vin.


"Kamu ini kenapa seh Dit. Dateng dateng bukannya salam malah main dorong aja." Winda bersuara.


"Sakit Ziya. Suami kamu jahat banget ya asal dorong saja." Suaranya sedikit nyeleneh menurut Aditya.


Setelah beberapa mengamati, Aditya mendekat lagi ke arah pria bernama Vin.


"Kau jangan pernah lagi mendekati Ziya." menuding Vin.


"Ziya...suami kamu kenapa jahat banget sehh. Ganteng tapi kenapa jahat gitu."


Aditya bergidik ngeri melihat tingkah pria yang bernama Vin.


"Dia tidak jahat kok, Vin. Tapi aku yang akan jahatin kamu, kalau kau merebutnya dariku." Ziya kini yang gantian mengancam Vin.


Dengan sesenggukan Vin mengangguk.


"Tapi kalau galak begitu aku takut ih serem." Dengan gaya centilnya sambil bersembunyi di pundak Ziya.


"Mas Aditya baik kok orangnya." Dengan Pelan Vin mengulurkan tangannya ke arah Aditya.


"Kenalan mas, tadi aku pura pura kok takutnya. Habisnya ganteng banget si mas ini." Bergelayut manja di lengan Aditya. Yang mulai ada perasaan tak enak.


Winda dan Ziya saling menyenggol dan tos.


"Kita berhasil." Sambil tos lagi. Keduanya terkikik tanpa suara. Sedangkan Aditya sudah mulai frustasi karena Vin bertingkah genit kepadanya.


**Bersambung.....


Happy reading semoga suka.


jangan lupa tinggalkan jejak ya...


love you all**

__ADS_1


__ADS_2