
Aditya semakin mengendap mencari sosok yang dua hari sangat dirindukan itu. Ruangan itu hanya gelap saja, tidak ada apa pun. Sarang yang menempel pun tetap utuh.
"Kita cari tempat lain Zal!"
"Tuan, apakah seseorang telah menipu kita?" curiga akan pesan singkat yang diterima bosnya.
"Maksudmu?"
"Kenapa kita tidak menemukan petunjuk apapun di sini tuan."
"Kita cari dulu di tempat lain, Zal"
Hanya mengangguk setuju. Tak berapa lama terdengar suara kegaduhan, dari luar ada beberapa orang berkelahi di sana. Ternyata dua orang tadi dan anak buah Rizal.
"Apa kau menemukan nona Ziya." Rizal bertanya pada pengawal yang berdiri tak jauh dari perkelahian itu. Aditya langsung memukul pria yang berkelahi dengan anak buahnya.
"Kami, tidak menemukan apapun, tuan. hanya dua orang ini yang berada di sini. Dan kami menemukan ini" pengawal itu menunduk kembali. Setelah menyerahkan sebuah cincin pernikahan milik Ziya.
Aditya meraih cincin itu, lalu menerkam satu pria yang berkelahi dengan anak buahnya.
"Dimana istriku." setelah mengunci pergerakan lawannya. " Cepat katakan." matanya menyala mendengar Ziya tidak berada di tempat itu.
"Di...dia sudah di pindahkan, tuan." ucap pria itu.
"Kemana? dan siapa yang memerintahkanmu."
" Ka...kami tidak tahu, tuan. Kami hanya diperintah melalui via online. Dan kami di bayar." Semakin merasakan ngilu karna di cengkeram oleh Aditya.
"Kau jangan membohongiku, atau aku akan meledakkan kepalamu." Aditya mengeluarkan pistol dari sakunya.
"Be..benar, tuan. Kami tidak bohong. Kami hanya disuruh melalui chat. Dan, dia mengirimkan uang pada, kami."
"Lalu kemana, dia membawa istriku." Aditya sudah naik pitam. Dia sudah mulai menekan pelatuknya.
"Tuan, jangan bunuh dia, tuan. Kasihan nona Ziya kalau, tuan di penjara."
"Arggghh!"
Dor
Dor
Dor
Semua orang terkejut. Pria yang di kunci oleh Aditya menutup matanya rapat, pasrah dengan keadaannya. Tapi saat membuka mata, dia lega. Ternyata Aditya menembakkan pistolnya ke udara.
"Periksa handphone dia Rizal."
__ADS_1
Rizal mengambil hp milik pria itu, dan memeriksa.
"Katakan! Siapa yang membawa istriku." Kaki Aditya mendarat di leher pria itu.
"Cepat katakan."
"Aku tidak tahu, tuan. Dia membawa banyak pengawal, dia masih muda dan cantik."
"Tuan, lihatlah nomer ini!" Rizal menyerahkan handphone yang dipegangnya kepada Aditya.
"Kita kembali dulu, amankan mereka!"
Aditya berjalan menuju mobilnya mendahului mereka semua.
"Biar, aku saja yang nyetir, tuan. Tidak baik, tuan berkendara dalam keadaan seperti ini."
Aditya hanya diam saja membiarkan Rizal menyetir untuknya.
Sampai di rumah, Aditya kalang kabut mencari keberadaan mamanya.
"Mama...ma apa yang mama lakukan pada Ziya." Setelah menemukan mamanya.
"Di mana Ziya, apakah sudah ketemu, nak!"
"Seharusnya mama yang lebih tahu dari pada, kami, bukan." Maya mulai tegang. Dan Aditya sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuan mamanya.
"Bisakah, mama jelaskan kepadaku tentang ini, ma?" Maya terkejut dengan benda di depannya. Tepatnya hp milik pria jahat tadi. Disana ada chat dengan nomer milik mamanya.
"Jelasin apa,ma. Sekarang katakan, di mana Ziya saat ini, ma!" Deg. Maya benar benar terkejut dengan pertanyaan Aditya.
"Maksud, kamu apa Dit, bukankah kamu kesana menjemput Ziya, bukankah tadi, aku infokan alamatnya, padamu."
Maya keceplosan dengan apa yang diperbuatnya.
Maya memang tidak suka dengan kehadiran Ziya. Dan berusaha untuk menakut nakuti Ziya. Tapi, dia tidak menyangka akan ada orang lain yang menyabotase rencananya ini.
"Jadi benar mama telah melakukan semua ini." Aditya berapi api.
"Arggghh."
Menjambak rambutnya frustasi
Dor prang
prang
Aditya menghancurkan apa yang dia raih.
__ADS_1
"Lalu dimana Ziya sekarang ma, katakan." Nadanya sudah powerfull.
"Katakan ma! dimana Ziya."
"Mama hanya menyuruh orang orang itu untuk menakuti Ziya, dan menyerahkannya pada orang yang menjemputnya. Hanya untuk menakut nakuti. Mama hanya ingin agar Ziya takut berada di sampingmu. Dan setelah itu, dia akan minta berpisah dengan sendirinya karna takut." Maya terisak menjelaskan tujuannya.
"Owhh jadi mama akan menghasut Ziya untuk jauh dariku dengan cara murahan seperti ini." Suara Aditya menggelegar memenuhi ruangan, dia langsung menghancurkan apa saja diruangan itu, termasuk piring hias bahkan bingkai foto keluarga.
"Cepat katakan! di mana Ziya sekarang hahhh!" Membentak Maya sampai urat lehernya terlihat. Maya hanya menangis setelah mengatakan yang sebenarnya. Para pelayan rumah saling pandang dan bergidik ngeri melihat drama keluarga yang berlangsung live. Rizal yang menyadari itu pun memberikan tatapan maut. Otomatis mereka .menghilang dalam sekejap.
"Cepat katakan ma, aku sudah kehilangan kesabaran." memukul dadanya keras, dia begitu kecewa terhadap mamanya dan juga merasa takut Ziya tidak dapat di temukan.
"Mama hanya lakukan itu, mama tidak tahu...hu...hu!" Maya tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini. Dia pun mengingat kejadian lima tahun lalu yang menewaskan ibunya Ziya juga karna ulahnya.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Ziya, aku tidak akan mengampuni mama." menudingkan jarinya di depan wajah Maya. Aditya sudah kehilangan kendali sampai lupa statusnya sebagai anak.
"Ada apa ini?" Denny yang juga dari mencari menantunya heran, sebab keadaan rumah sudah berantakan. Istrinya juga nangis sesenggukan.
"Kau apakan mamamu? kenapa kau buat mamamu menangis seperti ini Dit?"
"Lihatlah istrimu itu? dia, telah menculik istriku." Aditya keluar dari rumah setelah membanting satu guci.
Aditya langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Menuju sebuah danau yang nampak sepi. Dia memberhentikan mobilnya dan berlutut menghadap danau.
"Arhhhhggg." menjambak rambutnya.
Dia mengingat Ziya kembali. Merogoh sakunya dan menelpon seseorang.
"Rizal kerahkan semua kemampuan kamu untuk menemukan Ziya." titahnya. Hatinya masih sangat kalut. Dia mencoba menetralkan emosinya dengan menyugar rambutnya beberapa kali. Dia merasa tak becus menjaga istrinya sendiri dari jangkauan orang jahat. Dia juga tak menyangka, mamanya tega melakukan ini padanya.
"Kenapa mama lakukan ini ma? kenapa! kenapa tidak bilang saja kalau mama tidak setuju. Ziya orang baik ma, kenapa tega lakukan ini sama Ziya. Apa kesalahannya."
Aditya semakin kalut dengan kelakuan mamanya yang tega menusuknya dari belakang. Dan juga khawatir akan keadaan Ziya karna selama ini belum ketemu. Aditya mengeluarkan cincin di saku jasnya. Matanya yang berkaca-kaca semakin buram, air matanya jatuh di pipi.
"Kamu di mana Ziya." lirihnya.
Setelah mengatakan itu, Aditya bangkit dari sana dan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di tempat berbeda yang di jaga ketat oleh banyak pengawal, seorang gadis menumpuk kakinya di kursi kebesaran miliknya.
"God job, dimana wanita itu sekarang."
"Ada di gudang nona." Jawab sang pengawal.
"Pastikan, dia tidak kabur." menyuruh pengawalnya pergi.
**Bersambung.....
__ADS_1
Maaf ya karna kesibukan di dunia nyata jadi jarang up
terimakasih yang sudah bersedia baca cerita receh saya. Terima kasih juga untuk like, komen, dan vote juga rate. Love you all**