
Kau bisa kerja nggak seh Zal." Cemooh Aditya. Yang frustasi karena istrinya belum juga ketemu. Perasaannya sangat khawatir saat ini. Tak berapa lama, handphone Rizal berdering.
"Ya,
"Maaf, tuan ada klien dari PT Elang ingin melihat proyek kita yang berada di kota x." Suara sekretaris terdengar sedikit gugup.
"Apa..! di mana mereka sekarang." Rizal nampak serius mendengar omongan orang yang di seberang.
"Mereka, saya arahkan ke ruang rapat, tuan." Ucapnya lagi.
"Baiklah, akan, aku sampaikan pada tuan Aditya. Sepuluh menit lagi kami akan sampai."
"Baik, tuan!" Sambungan terputus.
"Tuan, ada klien kita dari PT Elang membahas proyek kita di kota x."
"Apakah tidak bisa di cancel dulu Zal?" Bukan pertanyaan tapi sebuah perintah tepatnya. Aditya merasa enggan membahas bisnis untuk saat ini. Dia merasa kurang bergairah sebelum mengetahui di mana keberadaan Ziya.
"Tidak, tuan sudah dua kali kita membatalkan janji. Menurutku, tidak baik jika kita membatalkannya lagi. Takutnya, mereka akan mengira, kita tidak profesional."
"Siapkan mobil."
Titahnya kemudian di sambut anggukan antusias dari Rizal.
"Sesuai waktu yang ditentukan, dalam sepuluh menit sampai mereka di kantor. Jalan yang lenggang membuat mereka cepat sampai tujuan. Aditya memasuki ruangan rapat dan membahas rekontruksi bangunan yang akan diajukan.
Kami merencanakan sebuah proyek yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar 750 jt. Dana tersebut 100 juta merupakan modal kerja dan sisanya modal tetap dengan nilai residi diperkirakan sebesar 150 jt dan mempunyai umur ekonomis 5 tahun laba bersih, laba per lembar saham dan menghitung operasional cashflow. Perwakilan dari PT Elang membacakan inti rapat tapi, setelah itu Aditya tidak mendengar lagi kelanjutannya.
Rizal yang mengerti akan kondisi Aditya, mewakili sang boss untuk menentukan keputusan yang diambil meski raganya di tempat ini, tapi tidak dengan pikirannya. Aditya yang tidak fokus hanya mengangguk saat di tanya. Akhirnya rapat pun selesai dengan hasil yang cukup memuaskan. Rizal bisa di andalkan.
"Rizal apa langkah kita selanjutnya untuk menemukan Ziya." Dirinya begitu gusar.
"Aku sudah mengerahkan orang orang kita untuk mencari nona Ziya tuan."
handphone Rizal berbunyi kembali.
__ADS_1
"Ah! semoga ini kabar bagus, tuan!"
Rizal tampak sumringah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo? bagaimana apa ada perkembangan."
"Benar, tuan. Kami sudah temukan keberadaan nona Ziya. Tuan Aditya di minta datang ke sana. Saya akan sherlock tempatnya." Panggilan pun terputus dan masuklah notif denah lokasi.
"Apa katanya Zal?"
tak sabar sampai mencondongkan tubuhnya pada Rizal.
"Ketemu, tuan ini lokasinya. Sepertinya tidak jauh dari...!" Rizal belum meneruskan omongannya, Aditya sudah merampas hp Rizal terlebih dahulu dan berlalu ke tempat parkiran. Rizal sempat terbengong, namun juga mengikuti bossnya kemudian.
🍍🍍
Owh ya, seperti apa hubungan dirimu, dengan suamiku dulu." Ziya antusias ingin tahu. Padahal ya aslinya cemburu. Ziya masih penasaran tentang hubungan suami dan wanita di depannya.
"Kalau aku bilang, kami masih saling mencintai saat berpisah. Apakah, kamu percaya." Marina mengetes wanita di depannya apakah cemburu atau tidak. Dan Marina menebak ada sedikit rasa tidak suka Ziya pada pertanyaan yang di lontarkannya.
"Nah! Itu tahu."
"Maksudmu?" Ziya malah dibuat bingung.
"Kau menanyakan pada mantan suamimu tentang masa hubungan mereka berlanjut. Apakah, kau tidak merasa tersakiti?" Marina mengangkat kedua alisnya.
"Ya akukan hanya penasaran saja. Sebab kalian pacaran kenapa sesingkat itu." Ziya nampak gugup.
"Lalu, apa gunanya, kau bertanya Ziya? Biarkan masa lalu mereka seperti itu, takutnya nanti, kamu malah tidak nyaman setelah mendengar cerita yang seharusnya tidak kamu dengar. Adakalanya kita lebih baik tidak mengetahui, jika saat kamu mengetahuinya malah membuatmu tak tenang." Devan kali ini yang menjawab.
"Baiklah." Padahal, aku ingin tahu apa yang membuat hubungan mereka hanya terjalin begitu singkat. Batin Ziya.
Kau orang baik Ziya, aku tidak tega berkata jujur padamu. Semua karna perempuan licik itu. Marina membatin.
"Mas, aku penasaran saja, sebab Marina mendorong aku sewaktu acara pesta Raisa." Mata Marina membulat sempurna. Dia tidak menyangka Ziya akan menanyakan ini.
__ADS_1
"Apa itu benar Marina?" Devan menyelidik. Sebetulnya, dia sudah tahu masalah itu. Tapi, dia juga penasaran alasan Marina melakukannya. Sebab setahu Devan, Marina sudah move on.
"Harus banget gitu, aku jawab." Marina menatap keduanya bergantian. Dan mereka mengangguk antusias. Sebelum menjawab Marina menghembuskan nafas.
"Karna, aku kira kamu perempuan yang dipilih sama tante Maya." menunjuk Ziya dengan dagunya.
"Maksudmu?"
"Ceritanya panjang Ziya. Tapi yang pasti, aku katakan padamu, berhati hatilah sama wanita itu. Dia tak akan membiarkan, kamu tenang dengan Aditya. Aku mengetahui identitas dirimu setelah anak buahku mencari info lebih detail tentang dirimu. Awalnya, aku mengira, kaulah perempuan yang di pilih. Makannya, aku menyerangmu waktu itu."
"Kau sudah salah, tapi tidak meminta maaf." Devan menaikkan sebelah alisnya.
"Owhh seperti itu!" manggut manggut. "Tidak apa apa mas, sudahlah forgeted."
"Ziya...! betul apa kata Devan, aku minta maaf padamu ya!"
"Tidak apa apa Marina. Sudahlah, kita lupakan semuanya." Jawab Ziya sambil tersenyum.
"Tapi...!" Ziya menjeda omongannya dan melirik kedua orang di hadapannya.
"Tapi apa?" Marina kepo kan.
"Tolong ceritakan padaku kenapa, kau bisa berpisah." Marina menatap Devan, setelah mendapat anggukan, diapun mulai bercerita.
"Aditya adalah sosok yang baik dan sulit di gapai oleh perempuan. Padahal, dia menjadi idola semasa kami sekolah. Saat itu, kami kelas dua belas. Aditya yang aku idolakan sejak lama, tiba tiba datang menembakku." Marina menatap Ziya sebelum melanjutkan ceritanya. Setelah dirasa Ziya nampak biasa saja cerita pun dilanjut.
"Dengan membawa sebuah mawar merah, dia menembakku di acara class meeting. Akupun langsung menerimanya, karna, aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Saat itu, aku baru saja memiliki ibu baru. Ayahku yang sibuk bekerja, tidak tahu jika, aku selalu di siksa oleh ibu tiriku. Aditya selalu menjadi tempatku bersandar kala, aku bersedih."
Dua orang di hadapan Marina serius banget mendengar cerita Marina.
"Dengan adanya hubungan itu, aku merasa memiliki kekuatan untuk menjalani hari hariku yang suram. Aditya lah tempatku mengadu. Hingga empat bulan berlalu. Tanpa sengaja, kami bertemu dengan tante Maya saat kami pergi kencan."
Marina menghapus air matanya, dia memendam perasaan itu selama bertahun tahun. Dan itu sangat menyesakkan dadanya. Ziya mendekati Marina dan memeluk memberi kekuatan. Lucu bukan, awalnya Marina ingin mencelakai Ziya, tapi tanpa sadar, mereka kini berpelukan.
__ADS_1
Bersambung.....