Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Tanpa judul


__ADS_3

Malam semakin larut, bulan sabit semakin rendah ke arah barat. Seorang perempuan menatapnya dengan sendu. Teringat kembali semua yang terjadi dua hari terakhir ini. Dan ucapan Marina waktu itu.


"Kau harus tahu Ziya, mertuamu bukanlah orang baik."


"Apakah benar apa yang diucapkan Marina." Ziya semakin kalut dalam lamunan. Dia bingung dengan semuanya. "Jika mama benci kepadaku, kenapa, dia diam saat aku dinikahi anaknya."


Setelah pergumulan panasnya dengan Aditya, dia langsung tidur nyenyak, dan di waktu seperttiga malam, terbangun. Akhirnya mandi wajib dengan air hangat. Agar bisa melaksanakan sholat sunnah. Ziya bahkan memilih sholat di balkon. Dan berdoa singkat berharap Tuhan mengabulkan segala keinginannya.


Dan kini, masih dengan memakai mukena, tiba tiba teringat semua yang Marina ceritakan.


Kenapa, aku malah kasihan sama Marina ya? apa aku perlu cerita dengan Aditya


Tapi, apakah itu perlu? bukankah diantara mereka semua telah selesai.


"Kenapa semuanya terasa membingungkan?" Lirih Ziya.


"Apa yang membingungkan?" Suara halus tepat berada di telinga Ziya. Tangan kekar melingkar di pinggangnya. Harum wangi maskulin tercium oleh Ziya. Saat menoleh, di dapati olehnya Aditya dengan baju koko biru dongker berlengan pendek. Ziya menatap suaminya penuh takjub.


"Kau bangun juga, yang." Yang di tanya malah mengeratkan pelukan dan mencium bibir Ziya sekilas.


"Kau mikirin apa sampai tidak sadar jika, aku sudah lama bangun hemmmh?"


Ziya menelisik penampilan suaminya.


"Maaf!" Setelah sadar, pasti suaminya bangun sedari tadi karna baju sudah ganti dan rambutnya masih sedikit basah.


"Apakah suamiku juga sholat tadi?" Malah bertanya hal lain. Sambil mengelus rahang Aditya lembut.


"Iya, aku sudah lama tidak melakukannya. Melihatmu sholat tadi, akupun ingin melakukannya juga." Menaruh kepalanya di pundak Ziya. Sesekali mencium pipi istrinya gemas.


"Aku beruntung sekali ya, memiliki suami sholeh sepertimu. Maaf, aku tidak membangunkan mu tadi lain kali akan, aku bangunkan."


"Sudah sholeh, tampan lagi." Sontak Ziya mengulum senyum mencebikkan bibir.


"Narsis ih."


"Itu fakta, nyonya Aditya." Aditya semakin mengeratkan pelukan lagi.


"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Ziya menolehkan sedikit pipinya, malah mengenai hidung mancung Aditya sontak saja, dia menunduk malu. Dadanya pun sudah berdetak kencang.


"Nanya apa!"


Tidak merubah posisinya, bahkan sesekali mencium pipi Ziya lagi.


"Sayang, kau menciumku terus." Menghalangi pipinya dengan tangan.

__ADS_1


"Abisnya kamu manis, aku suka." Masih di posisi nyamannya.


"Nanya apa hemmh?"


"Begini, emmh!" Melirik Aditya.


"Apa...!"


"Apakah benar, yang menculikku adalah mama?" Ziya menggigit bibir bawahnya, cemas akan jawaban Aditya. "Maksud aku, begini...!"


"Maafkan sikap mama ya!" Aditya berkata lirih, matanya mulai berkaca-kaca. Ziya semakin tak bimbang untuk bertanya lebih lanjut.


"Sayang!"


Ziya membalikkan badannya, ketika Aditya merenggangkan pelukannya.


"Mama memang salah, maafkan mama!"


"Iya, aku sudah memaafkan kok sayang. Hanya saja, kenapa aku tidak melihat mama di rumah semenjak, aku pulang." tersenyum agar Aditya tidak semakin merasa bersalah dengan sikap mamanya.


Aslinya bukan itu yang ingin Ziya tanyakan. Dia ingin menanyakan apakah suaminya tahu, jika yang membuat Marina berpisah dengan suaminya adalah mamanya sendiri.


"Aku bingung menilai mama Ziya, satu sisi, dia mamaku. Dia mengandung diriku, mengasuh dan membesarkan aku. Dari sana aku menyimpulkan, dia orang terbaik dalam hidupku. Satu sisi lagi, dia yang selalu mencampuri urusanku, dia dulu juga pernah menjauhkan aku dari orang yang aku cintai. Dan sekarang, hal itu terulang kembali."


"Apakah, kau merasa kehilangan telah dipisahkan oleh mamamu waktu itu? dan tidakkah, kau ingin kembali bersamanya?"


Aditya memperhatikan raut wajah Ziya sebelum menjawab.


"Jangan tanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya." Ucap Aditya datar, dia merangkul kembali pinggang suaminya.


"Maksudmu!" Ziya menoleh dan mengernyit.


Aditya malah tersenyum memiringkan kepalanya.


"Ziya...! aku manusia biasa. Sudah pasti merasa kehilangan. Yah aku juga menginginkan semuanya kembali seperti semula." Ziya menggerakkan tubuhnya. Dia merasa ada rasa cemburu Aditya mengatakan itu.


"Maksudmu, kau masih ingin kembali kepada Marina." Suaranya sedikit bergetar.


"Tidak!"


"Kau memotong penjelasanku, apa kamu cemburu." Mencubit pelan pipi Ziya.


"Ayo tidur sudah hampir fajar lho."


"Tapi, kau belum menyelesaikan ceritamu."

__ADS_1


"Sambil tiduran saja." Menarik Ziya dengan halus. Setelah melepes mukena Ziya pun ikut berbaring di ranjang bersama sang suami.


🌼🌼🌼🌼


Di sebuah apartemen duduk dua orang beda genre yang satu mengolesi roti dengan selai strawberry dan madu. Memberikannya pada sang suami, yang sibuk membalas chat dari asistennya.


"Pa, dimakan dulu sarapannya."


Masih tidak mengeluarkan suaranya, tapi dia mengambil roti di atas piring dan memakannya langsung dari tangannya.


"Pa, nanti aku akan pulang dan meminta maaf pada, Ziya!" Suaminya masih bergeming.


"Aku memang bersalah pa...! tapi setidaknya, tolong bicaralah sedikit saja." Maya mulai jengah dengan keadaan ini.


"Bukankah ini yang, kau inginkan. Keluarga kita hancur dan aku, aku masih tidak tahu bagaimana bersikap dihadapan Ziya. Hingga aku memutuskan untuk tinggal di sini beberapa hari. Jika, kau ingin meminta maaf itu akan lebih baik." Menyuapkan roti yang terakhir.


"Aku akan pulang nanti, untuk meminta maaf." Meremas pisau yang di gunakan untuk mengoles selai. Denny melihat itu tersenyum masam.


"Jika hatimu belum menerima, sebaiknya jangan. Tapi alangkah baiknya, akal yang kau gunakan bukan nafsu yang selalu menyesatkanmu itu." Denny memperingati tindakan Maya yang membuat Ziya dan Aditya berpisah.


"Apa maksudmu!"


"Apa kau sebodoh itu, memisahkan dua insan yang saling mencintai. Apakah, kau tidak ingat pengalaman, kita." Tentu yang di maksud adalah masa lalu mereka yang lari dari rumah karna hubungan yang tak direstui.


"Jika, kau pintar. Kau akan membiarkan Ziya bahagia dengan Aditya. Tapi...! Sudahlah, apa gunanya aku menasehatimu. Kau tak pernah dengarkan aku."


"Pa...aku hanya ingin Aditya menikah dengan anak temen mama. Apa itu salah."


Denny mengelap mulutnya dengan tissue.


"Tidak! jika waktu Aditya belum menikah."


"Ah iya pa...! Aditya kan bisa memiliki dua istri. Bagaimana jika mama menyuruh Aditya poligami saja pa."


"Ma...jangan semakin keterlaluan ya ma. Mama sudah berbuat salah belum menyelesaikan nya, malah mau buat masalah baru lagi."


"Ini untuk kebaikan Aditya pa. Mama bawa Ziya kemarin saja malu, teman teman mama mengolok olok." Padahal yang mengoloknya hanya sebagian kecil dari mereka. Hanya saja, sifat Maya yang plin plan kerap membuat orang lain dalam bahaya.


"Baiklah, jika kau masih ingin menjodohkan Aditya dengan orang lain. Maka, jangan salahkan, aku jika saat itu terjadi, aku juga menikahi orang lain." Berdiri lalu meninggalkan Maya sendiri di dapur


Tapi Maya malah mengepalkan tangannya. "Aku benci wanita itu. Bahkan suamiku juga membelanya. Gadis Pembayar Hutang itu...!"


**Bersambung....


Terima kasih sudah membaca karya receh aku. Mohon like, vote, komen, dan rate. Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™**

__ADS_1


__ADS_2