Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 16


__ADS_3

Zea berjalan santai, mematut dirinya di cermin. Paras cantiknya begitu terlihat mempesona. Zea menatap dalam ke bola matanya sendiri melalui cermin. Tiba-tiba sesuatu terlintas diingatannya, ada dua sosok manusia dua genre yang sedang bercanda tawa ria, tapi seketika bayangan itupun sirna, bukan hanya sekali, tapi Zea melihat hal itu saat-saat pagi atau sore hari di waktu tertentu.


"Aneh, kenapa aku selalu melihat bayangan itu saat bercermin," gumam Zea, dia memegang pelipisnya yang tiba-tiba saja sakit. Zea kemudian mengambil botol obat yang biasa dia minum. "Yah, habis!" Zea membuang botol obat yang dia pegang.


"Duh, kepalaku masih sakit," Zea menjambak rambutnya sendiri. Tiba-tiba banyak kejadian yang berseliweran di kepalanya kembali, sungguh sangat menyiksa. Zea semakin menekan kuat kepalanya.


Bayangan apa itu owh ya Tuhan. Siapa mereka dan siapa wanita jahat itu, dan siapa pria itu? Kenapa aku seperti tidak asing dengan siluet tubuh kekar itu, dan mereka? Siapakah mereka? Kenapa aku juga merasa bagian dari mereka. batin Zea.


"NANNY, FLOOO, LISAAA!" teriak Zea sambil terus menekan kepalanya yang mendadak sakit.


"Lisaaa... " suara Zea semakin melemah dan matanya mulai mengabur dan akhirnya gelap dia sudah tidak sadarkan diri.


Tak berapa lama datanglah Lisa membawa sebuah obat dan segelas air minum, untuk Zea.


"ZEA!" teriak Lisa. Dengan buru-buru Lisa meletakkan nampan yang dia pegang, lalu bersimpuh untuk membangunkan Zea.


"Zea!" tidak kunjung bangun juga, akhirnya Lisa keluar kamar Zea untuk meminta bantuan.


"Floo ... ayo bantu aku untuk mengangkat Nona Zea. Dan kau Nany beritahu Tuan Marcell jika Nona Zea pingsan," titah Lisa yang diangguki oleh teman yang lainnya.


"Nona Lisa, sebaiknya kita minta bantuan kepada bodyguard," tawar Flo, sadar jika hanya berdua saja, mungkin akan terasa sangat berat. Lisa hanya mengangguk saja. Tapi dari arah tangga, turunlah Mon.


"Ayah, Nona Zea ayah! Nona Zea pingsan!" teriak Lisa sambil menunjuk arah kamar milik Zea.


Mon tidak menjawab ucapan anaknya, dia langsung berjalan cepat menuju kamar Zea. "Beritahu Tuan besar, cepat! Dia berada di ruangannya!" titah Mon sebelum benar-benar pergi ke kamar Zea.


Lisa kini sudah sampai di depan ruang kerja Tuan Marcell, namun belum sempat Lisa menekan tombol, keluarlah dua orang yag liso


"Tuan Devan, Nona Marina" desis Lisa, sambil terus memperhatikan orang yang tengah berada di balik punggung Devan. Meski Lisa kini mengetahui jika dirinya adalah anak kandung dari Mon asistennya Marcell, tapi tidak bisa dipungkiri jika jiwa pembantu yang melekat pada dirinya belum juga hilang.


"Kau!"


"Maaf, Tuan, Nona, saya sedang mencari Tuan Marcell." Walau sebenarnya Lisa selalu bertanya-tanya, kenapa Devan dan Marina selalu datang kerumah ini, tapi Lisa tidak berani untuk sekedar bertanya ataupun mencari tahu apa urusan mereka.


"Siapa?" bariton itu membuat Marina dan Devan menyingkirkan tubuhnya dari pintu.

__ADS_1


"Tuan, Nona Zea pingsan!" teriak Lisa, begitu melihat kepala Marcell berada di antara Devan dan Marina. Tanpa bicara, Marcell setengah berlari menuju kamar Zea.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa Zea bisa sampai pingsan?" cecar Marcell setelah mereka sampai di kamar, terlihat Mon sedang menyelimuti tubuh Zea.


"Maaf Tuan, saya menemukan Nona sudah tergeletak di lantai," jawab Mon. Menyingkir beberapa langkah dari ranjang, agar Marcell bisa dengan leluasa mendekati Zea.


"Apa Zea belum meminum obatnya!" tanya Marcell kemudian, saat melihat nampan berisi air dan obat untuk Zea.


"Maaf Tuan, itu keteledoran saya," Lisa meremas ujung dress-nya dengan kepala menunduk. Marcell memberi tatapan dingin pada Lisa, namun kemudian Mon datang dan menarik lengan Lisa.


"Maaf Tuan, saya akan mengajari dia agar menjadi lebih bisa diandalkan."


Devan dan Marina yang masih betah di depan pintu itu, tadinya dia hendak pamit pulang, tapi setelah mendengar nama Zea, Marina segera mengikuti Marcell menuju kamar Zea.


✓✓✓


Aditya masih berkutat pada laptopnya, namun sesekali melirik ponsel. Aditya memeriksa ponselnya sambil berdecak sebal. Wajah dinginnya semakin memerah.


"Kenapa sampai sekarang belum juga kembali?" Aditya memeriksa jam yang ditangannya lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Masuk!"


"Darimana saja, Kau?" tatapan elang Aditya membuat Rizal hanya menunduk. Beberapa waktu telah berlalu, Rizal belum juga bicara.


"Katakanlah!" Aditya menutup laptopnya kemudian menatap wajah Rizal. Aditya melihat ada hal serius yang ingin disampaikan oleh asisten nya ini.


"Tuan, maafkan kelancangan saya," Rizal hanya mendongak sekilas, kemudian semakin menunduk. Aditya paham akan gelagat Rizal, pasti ada sebuah hal yang besar sampai Rizal meminta maaf terlebih dahulu.


"Apa yang kau perbuat?"


"Saya menguntit Nona Zea, dan mencari tahu segala yang berhubungan dengan Nona Zea!" Aditya sejenak tersentak dan merasa bahagia, tapi hatinya yang masih bertaut pada Ziya, menolak akan rasa yang membuatnya tergelitik.


"Apa hubungannya denganku?" ketus Aditya. Rizal tersenyum tipis, kemudian menyodorkan sebuah map. Aditya memicingkan matanya.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Bukalah Tuan!"


Aditya membuka map biru ditangannya itu, matanya menari, seirama geseran kata yang dia baca. Wajahnya berubah-ubah dari haru, tersenyum dan kemudian merangkul bahu Rizal. Aditya membaca sekali lagi setiap baris tulisan di sana.


"Kau selalu bisa mengerti apa yang aku inginkan!" Aditya segera berdiri dan memeluk Rizal.


"Terima kasih, Zal! Kau sahabat dan asisten terbaik." Aditya memeluk Rizal kembali.


"Jadi benar, Zafran adalah putraku, dia putraku dan Ziya. Aku akan membawa Zafran bersamaku, Zal! Aku pasti akan melakukan itu." Senyum bahagia yang telah lama hilang, kini terbit di bibir Aditya.


"Rizal, katakan hadiah atau bonus apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan apa saja yang kau inginkan. Ayolah katakan! Apa saja."


"Aku tidak ingin apapun, Tuan! Aku hanya sedang menjalankan kewajibanku," ungkap Rizal.


"Terima kasih, Zal, terima kasih."


✓✓✓


Devan dan Marina nampak tegang menunggu pemeriksaan dokter. Zea masih belum sadar dari pingsannya. Tapi tak berapa lama, keluarlah dokter perempuan dari kamar Zea, diikuti oleh Marcell.


"Bagiamana keadaan Ziya, Tuan?" tanya Devan dengan raut muka khawatir. Marcell berhenti sejenak.


"Zea baik-baik saja." jawab singkat Marcell.


"Bolehkah kami melihat Ziya, Tuan?" Devan bertanya dengan hati-hati.


"Apakah kalian masih punya nyali untuk bertemu dengan Zea, aku sudah katakan tiga tahun yang lalu, bukan?" Marcell tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah Devan. "Kau tentu sangat mengingatnya, Bukan?"


"Tapi, Tuan! Berikan kami kesempatan untuk melihat keadaannya," pinta Devan lagi.


"Pergilah, dan ingat janjimu, kau tidak akan dekat-dekat dengan Zea, setelah hari itu, kita anggap bahwa tidak ada kesepakatan diantara kita.


**Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya, emmuah**

__ADS_1


__ADS_2