
...Maaf ya atas kekeliruan author karna mengantuk, jadinya ada dua bab yang lolos review dengan cerita yang sama, jadilah satu bab terkirim dalam dua bab yang sama muncul bersamaan....
...Untuk bab ini author ganti sama bab yang baru. Terima kasih untuk para readers yang telah mendukung tulisan saya. Terima kasih yang sudah kasih aku like, komen, rate dan vote....
🌸🌸🌸🌸
Aditya kini sudah berada di sebuah rumah yang memiliki halaman luas. Ada beberapa pohon rindang yang membuat rumah ini terkesan adem dan nyaman. Semilir angin membelai kulit dua pemuda yang baru turun dari mobil mewah. Mereka mengamati sekeliling.
"Apa benar ini alamatnya Zal?"
"Benar tuan, ini alamatnya." Sambil beberapa kali memeriksa ponselnya
Keduanya sama sama mendekati pagar besi. Datanglah seorang satpam membukakan pintu pagar yang melebihi tinggi orang dewasa itu.
"Silahkan, tuan, anda sudah ditunggu di dalam." Otomatis Aditya dan Rizal saling berpandangan. Apakah gerangan yang akan terjadi, bukankah mereka kesini untuk kebebasan Ziya. Pikirnya, tapi malah di sambut seperti seorang tamu.
Aditya kini sudah berada di ruang tamu. Seorang pelayan datang membawa minuman dan camilan. Ruangan tamu yang luas itu, tidak menunjukkan identitas pemilik rumah. Tanpa ada foto keluarga satu pun.
"Tuan Aditya, selamat datang di kediaman saya." Suara perempuan yang sudah lama, dia lupakan.
"Dimana Ziya." Langsung berdiri dan menajamkan sorot matanya.
"Hemmh...duduklah dulu. Dia akan turun sebentar lagi. Ngak sabaran amat jadi orang." Marina terus turun dan duduk santai di hadapan mereka berdua. Tak berapa lama, datanglah Devin dengan Ziya. Aditya langsung memeluk Ziya tak menghiraukan adanya Devin di sana.
"Apakah, kau baik baik saja sayang? kau tidak apa apakan? aku khawatir sekali padamu!" Mencium pipi dan bibir Ziya bergantian lalu kening tak luput dari ciumannya, terakhir pelukan hangat kembali."
"Sayang, aku malu, ada orang lain di sini?" Pipi Ziya nampak merah merona karna malu.
"Aku, tidak peduli, aku sangat merindukanmu."
Mencium kembali.
"Ekhemm!" Devin.
" Uhuk uhuk!" Rizal.
Sedangkan Marina masih duduk dengan gaya elegannya di sofa. Menikmati pertunjukan ala drama Korea itu. Satu yang membuatnya merasa yakin untuk menata masa depannya lebih baik. Melihat Aditya dan Ziya bermesraan, dia sudah tidak merasakan cemburu. Tapi, kenapa tadi malah, dia cemburu dengan kedekatan Devin dan Ziya.
Apakah, aku sudah move on dan mulai mencintai Devan ya. batin Marina.
__ADS_1
Segera, dia menggelengkan kepalanya. Menepis rasa yang baru saja muncul di dadanya.
Aditya pun melepaskan pelukannya. Tapi tangan kirinya tidak berhenti memeluk pinggang Ziya.
"Bintang kecil, kau tidak ingin mengenalkan aku padanya?" menunjuk Aditya dengan dagu.
Aditya tampak terkejut dengan panggilan yang baru saja terlontar dari bibir Devan, hingga kedua alisnya terangkat.
"Kau berani sekali memanggil istriku dengan sebutan itu!" Menunjuk wajah Devan. Selama ini, dia tidak menyangka akan ada yang memanggil istrinya dengan panggilan yang berbeda, tepatnya nama yang spesial seperti itu.
"Sayang, aku jelaskan dulu...!"
Aditya meraih pinggang Ziya dan mendekatkan dengan tubuhnya lebih erat. Ziya melihat rasa cemburu yang begitu besar dari wajah Aditya. Nafasnya mulai memburu.
"Sayang, jelaskan! Siapa dia?" Suara mulai meninggi satu oktaf. Aditya merasakan tubuh Ziya terasa tegang.
"Dia, dia...! apakah kamu cemburu?" Ziya malah balik bertanya sambil tersenyum padahal badannya terasa menegang karna tangan Aditya semakin menariknya erat.
"Ini bukan becanda, Ziya!" Marina dan Devan sontak tertawa bersama. Mereka berdua nampak geli dengan kelakuan Aditya, sedangkan Ziya hanya nyengir, antara takut kemarahan Aditya, tapi juga senang karna Aditya cemburu. Itu artinya Aditya benar benar jatuh cinta kepadanya.
"Kalian mempermainkanku?"
"Sayang, dia ini, mas Devan!"
"Apa hubungan, dia denganmu? mantan pacar? katakan padanya, kau adalah istriku."
"Ziya, katakan padanya, kau adalah kekagumanku dari kecil." Devan memprovokasi dengan menarik Ziya dan melakukan hal yang sama seperti Aditya lakukan.
"Berani sekali, kau menarik istriku." Menarik Ziya di belakang tubuhnya dan mencengkeram kaos Devan.
"Sayang, mas hentikan." Ziya mulai panik.
"Kita selesaikan secara jantan." Aditya mencengkeram lebih kuat dan mendorong kuat sampai Devan terjungkal. Devan malah tersenyum penuh arti.
"Sayang hentikan! mas kamu tidak apa apa kan?" Hendak membantu Devan berdiri, tapi lengannya dicekal oleh Aditya sebelum itu terjadi.
"Kita pulang." Aditya menarik lengan Ziya dan ingin membawanya pulang.
"Jaga, dia baik baik. Kalau tidak, aku akan membawanya pulang ke Kanada." Devin berucap sebelum Aditya benar benar pergi dari rumah itu.
__ADS_1
"Apapun akan, aku lakukan untuk menjaga istriku. Kau tidak usah ikut campur hai orang asing." Melebarkan langkahnya keluar rumah.
Aditya mendorong Ziya masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras. Hanya ada keheningan setelahnya sampai mereka tiba di rumah.
Cak Ali menyambut kedatangan mereka setelah sampai di dalam rumah. Aditya masih diam melewati Cak Ali begitu saja. Ziya buru buru mengejar setelah menjawab sapaan Cak Ali. Aditya masih diam saja tak menghiraukan panggilan Ziya sampai masuk ke dalam kamar.
Lucu sekali kalau, dia cemburu seperti ini.
Ziya masuk kamar dan duduk di samping Aditya sambil senyum senyum. Aditya hanya melirik sebentar dan berpaling kembali.
"Ngapain kau senyum senyum! kau pasti bahagia bertemu dengan lelaki itukan. Dia memiliki panggilan yang sangat manis untukmu apa tadi. Dia bilang, bintang kecil. Huhh manis sekali." Aditya semakin terlihat menarik di mata Ziya. Ziya masih saja tersenyum mendengar celotehan Aditya dan meletakkan dagunya bersangga pada tangan kirinya.
"Hai, aku sedang marah dan kau...!" Aditya masih mengumpat kesal.
"Kau semakin manis kalau marah marah!" Ziya malah membuat Aditya keheranan.
"Ziya, aku peringatkan ya, jangan dekat dengan lelaki manapun. Aku tidak suka itu." Menunjuk wajah Ziya. Ziya malah memegang telunjuk Aditya dan tersenyum semakin melebar.
"Kau memang sangat manis."
"Ziya...!" Aditya makin geram.
"Aku mandi dulu ya, dari kemarin aku belum mandi." Setelah mencium pipi kanan Aditya. Aditya malah terbengong dengan kelakuan Ziya. Dia pun merogoh ponselnya menghubungi seseorang.
"Rizal, kau cari tahu tentang lelaki yang bersama Ziya tadi." Lalu mematikan ponselnya.
"Hai, aku tadi langsung pamit dari sana, dan kenapa Marina menculik Ziya. Tapi kalau memang di culik, mengapa Ziya masih berkeliaran." gumam Aditya sambil memijit pelipisnya.
Sedangkan di rumah Marina.
"Apakah, kau tidak khawatir mereka akan bertengkar nanti." Marina
"Aku yakin, Ziya akan menjelaskan pada Aditya." Marina hanya mengidikkan bahu.
"Ternyata, dia begitu mencintai Ziya." Devan tersenyum menoleh pada Marina.
"Semoga mereka bahagia." Marina hanya mengaminkan.
"Kapan kita menikah?" Devan menggenggam tangan Marina.
__ADS_1
"A..ku..mau mandi!"
Bersambung.....