Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Siapa yang tahu?


__ADS_3

Aditya mondar-mandir di depan ruang ICU, beberapa kali melirik lampu yang masih menyala merah. Rasa khawatir tidak bisa dia hilangkan dari pikirannya saat ini. Ada dua orang yang dia sayangi sedang berjuang untuk bertahan hidup saat ini.


Sedangkan di kursi tunggu tidak jauh dari tempat Aditya berdiri, ada dua pemuda beda genre saling duduk sambil menunduk.


"Maafkan, kami, Bang! kami tidak melihat jika ada yang menyebrang tadi." Gadis yang sangat mirip dengan Syita berbicara kepada Aditya yang masih belum duduk. Sejak Tisya di bawa pulang ke rumah Aditya saat itu, seperti halnya Syita, Tisya juga memanggilnya, Abang.


Dia adalah Tisya yang berada di dalam mobil bersama seorang pria yaitu Rafel. Tisya menyenggol lengan Rafel untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Sebelumnya.


Tisya dan Rafel tanpa sengaja, tadi bertemu di jalan. Tisya yang dalam keadaan tidak baik, karna mobilnya yang tiba tiba mogok. Tisya menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan lumayan sepi, dia berusaha menghubungi papanya, tapi nihil. Lalu mencoba menghubungi supir keluarga, tetap saja tidak ada jawaban.


"Owh, ya Tuhan! apa yang harus, aku lakukan?" Tisya mengusap wajahnya kasar sambil bersandar pada badan mobilnya. Daerah yang di laluinya saat ini lumayan sepi. Diapun bergidik ngeri menatap nanar sekelilingnya.


"Kalau, aku menghubungi teman temanku, tidak mungkin. Aku membenci mereka!" Tisya semakin frustasi. Sejak kejadian di klub saat itu, Tisya memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan temannya itu.


Tiba tiba saja ada mobil yang berhenti di depannya. Ternyata seorang pria yang menganggapnya sebagai Syita.


"Syita, ngapain, kamu malam malam di sini?" teriak pria itu dari mobilnya.


"Mobilku mogok. Maaf anda siapa, ya?"


Rafel turun dari mobilnya dan memeriksa mobil Tisya.


"Mobilmu jarang servis, ya! ini radiatornya kering." Rafel menutup kembali bemper depan mobil Tisya.


"Iya, mungkin." Tisya menjawab dengan lemah, dia memang akhir akhir ini sering pergi dengan naik taksi semenjak bertengkar dengan sahabatnya.


"Baiklah, kau mau kemana, sekarang? biar aku antar saja. Pumpung hari ini aku free." Ucap Rafel bersemangat, dia merasa senang telah di pertemukan dengan Syita. Rasa lelahnya, karna seharian bekerja hilang seketika.


Tisya masih diam di tempat mengingat ingat, siapa pria yang berada di hadapannya ini, tapi nihil, dia tidak mengenalnya. Tapi sepertinya pria ini kenal dengan Syita yang merupakan saudara kembarnya. Terdengar olehnya pria ini menyebut nama Syita.


"Syita, aku antar saja, kau, ya! biar mobilmu di ambil sama montir. Aku sudah menelpon mereka?" Rafel memasukkan handphone ke kantong celananya.


"Maaf, tapi anda siapa, ya!" Tisya ingin memastikan, jika yang di temuinya memang orang baik.


"Hei, apa kau sudah hilang ingatan? kemarin, kau selalu ingin bersamaku sekarang, kau mulai melupakanku." Rafel yang mengira jika dia adalah Syita berucap sambil mengerling.

__ADS_1


Tisya hanya bergeming di tempat tak tahu harus bagaimana, tapi Rafel malah menarik tangannya ke samping mobil dan membukakan pintu untuk Tisya.


"Tapi...!"


"Sudah ayo masuk! seperti biasa, aku akan mengantarmu kemana saja yang, kau suka hai nona Bagaskoro."


Rafel tersenyum lembut ke arah Tisya yang di sangkanya Syita.


Rafel mengira jika yang di temuinya di jalan adalah Syita. Dengan setengah memaksa membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Di perjalanan, keheningan terjadi beberapa saat.


"Syita, ayolah, katakan sesuatu. Kemarin kau begitu cerewet dan senang sekali menggodaku, tapi kenapa sekarang kau terlihat malu malu? apa kau sudah mencintaiku." Rafel memulai percakapan dengan bualannya.


"Maaf, tapi...!"


"Dari tadi, kau meminta maaf terus!" Rafel memotong ucapan Tisya.


"Aku bukan Syita, tapi aku Tisya!" ucapan Tisya malah membuat Rafel tertawa terbahak-bahak.


"Kau, ini, ya! pandai sekali membuat lelucon. Ya kemarin, kau Syita hari ini Tisya dan besok lagi Syati hahaha." Rafel sudah menyelidiki tentang Syita setelah mengantarnya ke rumah. Dan dia tidak mendapatkan info jika Syita memiliki saudara selain Aditya.


"Ya, ya, ya! kau adalah Tisya." Dengan senyum mengejek.


"Aku berkata benar!" berusaha menyakinkan.


"Baiklah, aku Rafel, kita kenalan sekali lagi, aku tidak suka mengubah namaku." Rafel menyodorkan tangannya. Tanpa dia sadari jika di depan tiba tiba muncul Ziya di tengah jalan.


"Awas, Rafel!"


Chiiiiittttt


Rafel membelokkan mobilnya berusaha menghindari perempuan yang berada di tengah jalan. Dia membanting stir ke kiri dan tanpa dia sadari ada wanita lain yang juga berdiri di sana juga.


Kecelakaan tidak terelakkan lagi badan mobil Rafel menabrak wanita yang berada di samping mobil itu hingga ringsek.


"Astaga, aku berusaha menghindar malah menabrak orang lain." Rafel berkata sambil mencengkram kepalanya.

__ADS_1


Tisya masih ngos ngosan melihat kejadian mengerikan yang baru saja terjadi.


Sekarang.


"Tuan, maafkan kesalahan saya!" saya tidak melihat tadi." Rafel sebenarnya enggan meminta maaf. Lagian dia tidak melihat jika di lain sisi ada wanita lain. Bahkan dia yang hampir celaka, karna mencoba menghindari kecelakaan.


"Iya, kak! kami tadi berdebat karna, dia terus saja menyebut namaku dengan nama Syita," jelas Tisya.


"Ya, saya, tahu!, kalian tidak bersalah dalam hal, ini. Siapa yang tahu, jika kejadiannya akan seperti ini." Aditya mulai menenangkan pikirannya. Menghembuskan nafas berulang kali. Lalu bersandar pada dinding.


Syita dan Rafel akhirnya diam lagi mereka berdua memilih duduk diam di kursi tunggu.


"Semoga, kalian berdua baik baik saja!" gumam Aditya.


Kejadian tadi hampir menghentikan detak jantungnya. Aditya sekilas mengingat kejadian itu.


"Mama cukup! hentikan!" menarik lengan mamanya. Aditya takut jika ada mobil yang melintas dan benar saja, cahaya lampu sangat terang menyinari tubuh Ziya yang sudah berada di tengah jalan.


"Ziyaaaaa!"


Chiiiitttttt mobil itu tinggal sedikit lagi menabrak dirinya dan Ziya. Tapi entah kenapa tiba tiba berbelok dan malah menabrak mamanya yang berada di dekat mobil. Bahkan mobil Maya sampai terdorong beberapa sentimeter.


"Mamaaa...!" Ziya berteriak melihat kecelakaan yang terjadi di depan matanya itu. Setelahnya, dia merasakan kepala terasa berat. Perutnya juga terasa sakit setelah itu, dia tidak ingat apapun lagi.


Aditya berulang kali mengusap wajahnya. Dia begitu khawatir dengan keadaan mama dan juga istrinya yang tak kunjung ada kabarnya. Butiran air mata tiada henti membanjiri pipinya.


"Kakak!" Syita memegang bahu kakaknya. Sedangkan Aditya yang tidak menyadari kedatangan adiknya sempat terbengong tapi, setelahnya langsung memeluk erat tubuh, Syita.


"Mereka...!" Aditya tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya semakin memeluk erat adiknya. Syita mencoba menguatkan kakaknya dengan mengelus punggung sang kakak. Dan mengedipkan mata berulang kali agar tidak ikut menangis.


"Sudah, kakak harus kuat." Melepas pelukan sang kakak dan tanpa sadar melihat seseorang di kursi tunggu.


Dia, kenapa bisa ada di sini. Batin Syita.


**Bersambung....


Selamat membaca dan mohon dukungannya.

__ADS_1


terima kasih 😊**


__ADS_2