Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Episode 40


__ADS_3

Hari sudah berangsur senja, cahaya keemasan menelusup ke dalam kamar.


Ziya celingukan kesana kemari.


"Sayang, jadi pulang nggak?"


"Bentar sayang, aku tadi belum beresin ranjang kita, kenapa sudah rapi gini ya."


Menunjuk kasur dan matanya jelalatan mencari sesuatu. Aditya tersenyum melihat setiap kelakuan istrinya yang menurutnya selalu menghibur.


"Sudah diberesin sama Nina."


Ziya menautkan kedua alisnya. Dari masuk, dia tidak melihat orang satupun dirumah ini.


"Dia pembantu yang membersihkan rumah ini sayang."


Info Aditya bukannya membuat lega, malah membuat mukanya makin memerah.


Bagaimana semua itu dilihat oleh pembantu, memalukan sekali, baju yang tercecer, dan bercak merah itu.. ohh tidak, apa pendapat mereka nantinya ya. Batin Ziya.


Mengusap pipinya lembut lalu menggelembungkan.


Cup


Cup


Cup


"Sayang, kenapa malah menciumku."


"Ekspresi wajah kamu imut sekali, lagi mikir apa ha."


Yah, cium lagi, mentang mentang udah halal ih, dasar suami mesum.


"Apa yang mereka pikir tentang kita ya, di seprai itu ada bercak darah, terus pakaian kita tadi berserakan lho sayang."


"Mereka tidak akan sampai berpikir sejauh itu, ayo aku kenalkan pada mereka."


Menarik tangan Ziya. Tapi sepertinya yang ditarik masih ingin berdiam ditempat.


"Aku malu."


"Aku gendong kalau malu."


"Tidak tidak, baiklah ayo."


Berdiri lalu mengikuti Aditya membawanya kemana.


Diruang keluarga nampak ada dua sosok yang berdiri sambil menunduk, keduanya terlihat masih muda.


"Perkenalkan diri kalian kepada istri saya." Aditya menuntun Ziya untuk duduk bersamanya di sofa.


"Nona muda, perkenalkan nama saya Nina."


"Nona muda, nama saya Rendi."


Ziya mengulurkan tangannya pada Nina "Kalau saya Ziya."


Keduanya pun makin menunduk.


"Kami akan pulang." Itu artinya Rendi dan Nina harus menjaga dan mengunci rumah.


"Baik tuan."

__ADS_1


"Terima kasih ya." Ziya


"Sama sama nona." semakin menundukkan kepala.


Keduanya pun keluar dari kompleks.


"Selamat bertugas pak security."


"Sudah kubilang, jangan terlalu ramah sama orang lain." Aditya memperingati.


"Sayangku cemburu ya, aku hanya sekedar menyapa kok."


"Jangan mudah senyum dengan orang lain." Nadanya sudah lebih datar dari yang tadi.


"Walau senyumku untuk semua orang, tapi hatiku hanya untukmu seorang." Kata yang tanpa sadar diucapkan membuat orang yang menyetir disampingnya menyunggingkan senyum.


Manis sekali. Batin Aditya.


Jalanan semakin temaram membawa mereka ke alun alun kota. Aditya memutuskan untuk menjalankan kewajiban terlebih dahulu, setelahnya berencana mengajak Ziya jalan jalan.


Anak anak bermain kejar kejaran di samping orang tuanya, pasangan muda mudi menikmati kebersamaan mereka, ada juga beberapa yang mengobrol melingkar, minuman dan makanan berada ditengah-tengah. Pedagang kaki lima sibuk melayani pelanggan.


Ziya dan Aditya tangannya saling bertautan, perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, yang pasti keduanya terlihat bahagia.


"Sayang, sepertinya itu enak." Menunjuk salah satu pedagang kaki lima.


"Mie rasa cinta dengan bumbu kasih sayang." Ziya tergelak mendengar suaminya mengeja nama yang tertera di gerobak.


"Kita makan di restoran saja ya, takutnya nanti sakit perut." Enggan mendekati pedagang itu.


"Tidak apa apa kok, lihatlah, sepertinya dia bersih."


Ziya masih dalam pendiriannya.


"Sayang, aku sudah biasa kok makan ditempat seperti ini." Ziya masih kekeh, tapi melihat wajah Aditya yang enggan, diapun mengalah.


Sampailah kini di sebuah restoran yang nampak sepi, suasana romantis memenuhi ruangan dengan kerlap kerlip lampu yang memikat mata.


Restoran ini sangat indah dan mewah, tapi kenapa sepi sekali, apakah makanannya tidak enak.


Masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sekarang dia sadar, mengapa Aditya memakai pakaian formal, sedangkan dirinya disuruh memakai gaun.


Bukankah berlebihan hanya untuk sekedar makan malam. batin Ziya


"Silahkan duduk sayangku." menarik kursi.


Seorang waiters datang melayani mereka, memesan beberapa menu makanan. Aditya nampak santai mengahabiskan makanan didepannya, sedangkan Ziya masih sibuk berpikir, kenapa tak ada pelanggan satupun disana.


"Kenapa kau nampak gelisah? ayo habiskan makananmu." Menarik piring dan menyuapi Ziya. Entah mengapa dia hanya menurut, dan terhanyut dalam suasana romantis, seperti ada suara musik yang mengalun merdu. Ah ternyata benar, mereka berharap waktu akan bergulir lebih lama.


"Ziya!" Aditya berdiri diikuti oleh Ziya.


"Demi langit yang memiliki gugusan gugusan bintang.


Dan demi sinarnya yang bersinar terang.


Aku telah bersumpah.


Bahwa cinta dan kesetiaan aku hanya untukmu.


Walau kadang aku meragu.


Namun Allah selalu menuntunku padamu.

__ADS_1


Diriku hanya melihatmu, Ziya Almahiyra maukah kau selalu bersamaku, menemani hari hariku, melahirkan anak untukku, melewati kehidupan ini sampai akhir nanti."


Aditya memegang cincinnya sambil berlutut. Ziya hanya terbengong, dan terharu, melongo sambil mengedipkan kedua matanya tanpa bicara.


"Sayang, ayo jawab dong, capek nih berlutut dari tadi." cemberut.


"Hahh."


Ziya tergelak dengan kekonyolan Aditya, suasana romantis itupun berubah.


"Kamu meledekku kan?"


"Tidak tidak, lawong kita sudah menikah lho, malah baru dilamar kayak gini."


"Akukan belum pernah melamarmu dengan resmi. Diterima nggak nih." posisi masih saja berlutut walau bilangnya capek.


"Iya ya, sayang aku terima." memakaikan cincin di jari tengah Ziya. Iyalah, yang manis cincin pernikahan.


"Bantuin berdiri dong, ternyata enak main diranjang daripada melakukan hal romantis seperti ini." Cubitan langsung mendarat di perut.


"Aughhh."


"Dasar ya kamu, lihat ada orang lain disini, kalau ngomong difilter dulu."


Nampak tiga pemain biola dan dua temannya bergetar menutup mulutnya menahan tawa.


"Ngapain luh masih disini, pergi sana." muka berubah dingin. Ziya hanya gelengkan kepala.


Cup "Sayang, aku begitu senang hari ini." Memeluk Ziya sangat erat. Lalu mengecupi pipi beberapa kali.


"Sudah ah, malu dilihat orang."


"Aku sudah membookingnya hanya untuk kita berdua saja." memeluk lagi.


"Aku jadi haus, karna terlena olehmu." merajuk manja.


"Haha kau tak sempat minum tadi ya." diliriknya minuman Ziya yang masih penuh.


"Mari kita lanjutkan lagi." Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam romantis berdua.


Seorang pemuda dari jarak lumayan jauh, melihat keduanya dengan tersenyum mengembang.


Semoga kau selalu bahagia bintang kecilku.


Lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan mengendarai motornya.


🌱🌱🌱


Marina duduk memutar kursinya sambil memegang bingkai foto. Kursi kebesaran yang dirampas oleh ibu tirinya, seminggu lalu telah dia rebut kembali bersama Agung. Serta uang tabungan yang sengaja dipindahkan oleh Agung jauh jauh hari, membuatnya tak akan kekurangan sesuatu apapun. Walau diapun mendapatkan nya dengan tipu muslihat.


Nyatanya itu semua tak berarti, karna kini dia merasa hidupnya hampa. Segala sesuatu telah dirampas darinya. Itulah yang dia tafsirkan saat ini. Namun itu tak dia pikirkan asal kemewahan tetap bersamanya.


"Kalau aku bisa menyingkirkan ayah dan ibu tiri jahanam itu, tentu saja aku akan dengan senang hati menyingkirkan halangan yang akan membawaku padamu sayang." Meletakkan foto itu di meja kembali.


Seorang mengetuk pintu lalu masuk.


"Informasi apa yang kamu dapatkan."


"Nona Nabila telah memesan tiket, sepertinya dia akan meninggalkan Negara ini."


"Bagus, target kita alihkan saja pada burung pipit itu."


**Bersambung.....

__ADS_1


Selamat membaca, semoga terhibur, jangan lupa tinggalkan jejak**.


__ADS_2