
Beberapa saat yang lalu, Aditya telah mendapat panggilan dari Denny untuk segera kembali ke Indonesia. Aditya harap-harap cemas menunggu kedatangan Rizal yang belum juga kembali.
"Apa mungkin terjadi sesuatu kepadanya! Sepertinya aku harus memberinya pelajaran sebab telah berani membuatku menunggu." geram Aditya sambil melirik ponselnya yang tetap saja dalam mode diam.
"Tidak seperti biasanya" Aditya mendengus kesal, lalu menghubungi seseorang.
"Apa kau tahu dimana Rizal berada?" tanya Aditya saat lawan orang yang diseberang merespon panggilannya. Beberapa menit pembicaraan itu tersambung, namun detik berikutnya Aditya berdecak kesal, merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.
"Buat apa dia pergi kesana? Apakah ada seseorang yang dia temui." gumam Aditya. "Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat Rizal tega membiarkanku menunggu. Tapi apa? Pekerjaan apa yang membuat dia berani mengabaikan perintahku." wajah kesalnya bertambah.
Tak berapa lama terdengar suara pintu diketuk. Terlihat Rizal menggenggam tangan seorang wanita. Aditya menatap sekilas kedua orang itu, lalu nyelonong masuk.
"Kau sudah bosan hidup rupanya."
"Hehe sebab saya ingin hidup lebih lama, makannya saya bawa sesuatu buat Anda."
"Cih ... apa kau sudah lupa berapa banyak wanita yang menjerit meminta menikah dengan ku?" Aditya duduk dengan angkuhnya di sofa. Terlihat jelas kemarahan di sana.
"Tuan, jangan pernah berharap aku akan merelakan dia untuk orang lain. Termasuk Anda! Aku tidak akan pernah! Bahkan jika Anda menyakitinya seperti para jalang itu, aku akan membuat perhitungan." geram Rizal. Meski sudah menduga seperti apa tanggapan Aditya, tapi saat mendengarnya langsung, Rizal tak rela jika wanitanya dianggap seperti gadis-gadis yang disodorkan oleh Maya.
Sebab Rizal tahu benar gadis seperti apa yang Maya bawa ke hadapan Aditya. Mereka adalah wanita dengan segala kebusukan dihatinya. Sangat berbeda dengan wanita yang dia genggam erat dengan prosesif saat ini.
Aditya tersenyum tipis meski di pandangan Rizal, senyum itu terkesan mengejek. Tapi sebenarnya Aditya bahagia, sebab Rizal menemukan tambatan hatinya.
"Apa kau akan serius? Sepertinya kau tidak bisa terlepas dari pesonanya." ledek Aditya. Sebab sejak datang Rizal seperti enggan melepaskan genggaman tangannya. Dan itu cukup membuat Aditya jengkel.
"Kau ingin pamer padaku!" ketus Aditya lagi.
"Tuan, ini menyangkut kehidupan Anda!" Aditya mengernyit heran. Bagaimana bisa Rizal dengan pedenya menyangkut pautkan kehidupan asmaranya dengan dirinya.
Bahkan Aditya sudah membekukan hatinya untuk wanita lain. Dihatinya hanya ada satu nama saja, yaitu Ziya. Meski kemarin sempat terpesona dan tertarik lagi dengan seorang wanita yang bernama Zea, tapi dia betkilah sebab wajah kedua wanita itu sama. Maka dari itu, Aditya merasakan kembali debaran yang sama.
"Tuan, saya tidak ingin kehidupan anda berhenti sampai disini, oleh sebab itu, aku membawa wanita ini untuk Anda. Sebab saya ingin anda tidak terus-menerus tersakiti oleh kenangan."
"Apa maksudmu! Kau_" Aditya mengangkat telunjuknya. Sekilas Aditya kembali tercemar oleh pemikiran yang salah. Namun saat dengan seksama menatap wajah Rizal, Aditya mulai melihat ada maksud lain dari ucapan Rizal. "Cepat katakan tujuanmu yang sebenarnya Rizal, atau aku akan benar-benar meluapkan emosiku. Dan aku berharap kau bicara dengan benar." Rizal mengingat ucapan yang keluar dari mulutnya barusan. Dan tersadar bahwa Aditya tengah salah paham dengan ucapannya.
__ADS_1
"Lisa, ayo katakan dan jelaskan semuanya kepada Tuan!"
"Maaf Tuan!"
"Lisa jangan meminta maaf. Tapi langsung katakan yang sebenarnya!" titah Rizal. Ya, wanita itu adalah Lisa. Wanita yang menjaga Ziya disaat kejadian itu berlanjut, dimana Ziya diculik dan dinyatakan meninggal dunia.
"Tapi Tuan!"
"Lisa, ceritakan lah kepada Tuan Aditya apa yang kau ketahui tentang Nona Ziya."
"Apa kau yang menjaga Ziya waktu itu?" tanya Aditya mulai paham.
"Benar! Saya yang bersama Nona Ziya pada waktu penculikan itu!" ucap Lisa sambil menunduk hormat. Entah mengapa Lisa masih segan kepada mantan atasannya ini. Mungkin jika ada Mon, dagunya akan mendapatkan peringatan. Sebab Mon tidak suka anaknya menunduk dihadapan orang lain selain keluarga Marcell.
"Bagaimana istri saya bisa meninggal. Dan siapa dalang dibalik semua ini." Lisa bisa merasakan aura dingin dan mencekam mulai menjalar.
"Maaf! Saya tidak tahu. Sebab saat saya terbangun, saya sudah berada di Negara lain. Yang saya tahu, waktu itu saya menemani Nona Ziya, lalu listrik padam. Dan beberapa orang berpakaian hitam masuk untuk membawa kabur Nona Ziya. Saya pun berusaha menyelamatkan Nona Ziya. Saya mengejar para penculik itu, hingga sampai di parkiran. Saya berusaha memberontak dan meminta tolong, tapi begitu saya berteriak, mereka langsung membungkam saya dan kepala saya pusing. Selebihnya, saya tidak ingat apapun."
"Lisa! Bukan itu maksudku, katakan pada Tuan, bahwa Ziya sebenarnya adalah Zea." tegas
"Tuan bukan itu maksudku,"
"Berhentilah Rizal. Aku akan berusaha tetap hidup. Tidak usah kau bersusah payah menghiburku dengan cerita konyolmu itu. Aku tidak menduga, bahwa langkahmu untuk menghiburku jauh mengerikan dibanding Mama." Aditya beranjak dari duduknya dengan wajah yang memerah sebab menahan kegelisahan batinnya.
Aditya kalut dan kecewa, sebab selama ini yang datang untuk memberikan motivasi dan menyuruh Aditya untuk melupakan Ziya adalah Rizal. Tapi kenapa, sekarang berubah. Rizal membawa orang lain dan menyuruhnya untuk membuat cerita bohong. Mengatakan bahwa orang lain adalah istrinya yang ternyata masih hidup.
"Maaf Tuan! Tapi ... !"
"Sudahlah! Semua telah terjadi. Aku saja yang tidak bisa menjaga istriku dengan benar. Sebab itulah Tuhan menghukumku."
"Kau benar Tuan. Anda terlalu lemah terhadap ibu anda. Dan asal kau tahu, bahwa orang yang mengirimkan seseorang untuk membunuh Nona Zea adalah ibu Anda!"
"Apa maksudmu?" heran Aditya.
"Ya! Nyonya Maya adalah dalang dibalik penculikan Nona Zea!"
__ADS_1
"Berani kau menuduh!"
"Saya tidak menuduh. Saya mendengar dengan telinga saya sendiri. Mereka menyebut Nyonya Maya. Saat itu, saya belum sepenuhnya pingsan setelah berusaha menyelamatkan Nona Zea." ucap Lisa tidak mau kalah.
"Jadi maksudmu Zea adalah Ziya!"
Hening.
Hening
Lisa merutuki kebodohannya yang dengan tanpa sengaja menyebut Zea.
"Ah tidak! Saya hanya salah sebut."
Tapi Aditya bukanlah orang yang bodoh.
"Pekerjaan mu sangat bagus Rizal. Aku semakin bangga kepadamu." Berdiri lalu menepuk bahu Rizal.
"Bagaimana Tuan?"
"Bagaimana apanya?"
Rizal menoleh kepada Aditya, seolah meminta izin untuk membawa gadis ini kemanapun dia pergi.
"Kau jangan gegabah Rizal. Kau boleh membawanya jika mendapatkan izin dari walinya."
Dengan berat hati Rizal menarik tangan Lisa hingga sampai di parkiran.
"Katanya kau akan membawaku ke Indonesia?" ucap Lisa menagih janji Rizal saat berdua di mobil sebelum bertemu Aditya.
"Kau pulanglah, kau pasti akan ke Indonesia setelah hari ini!" Rizal tersenyum lembut. Mengusap puncak kepala Lisa dengan gemas.
"Jangan sentuh aku! Atau kau akan berhadapan dengan dadyku."
"Tidak masalah!"
__ADS_1
Bersambung....