Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Apakah dia Syita


__ADS_3

"Ayo cepat bawa dia di sini mas Rafa." Ziya sangat shock dengan keadaan yang dialami oleh Syita tapi berusaha biasa saja. Bau alkohol menusuk indera penciuman. Beberapa kali gadis itu mengeluarkan isi perutnya.


"Aku benci kalian! aku benci." Begitulah igauannya. Rafa terlihat sangat buruk. Kemejanya penuh dengan muntahan Syita.


"Ziya, kali ini aku benar benar khawatir dengan Syita. Dua temannya tadi hampir saja menjebaknya. Untung bertender itu adalah temanku, setelah kemarin, dia melihat aku membawa gadis ini pulang, dia menghubungi aku lagi."


"Ada apa ini." Suara Aditya membuat Ziya menjeda obrolannya dengan Rafa. Aditya sengaja mencari Ziya yang tidak kunjung datang, padahal Aditya sudah mengirim pesan.


"Kau, kenapa kamu bisa ada di sini?" Aditya menunjuk Rafa. Dia tahu Rafa melanjutkan S2 sambil kerja di kota ini. Tetapi jarang sekali mampir apalagi malam malam seperti ini.


"Mas Rafa membawa Syita pulang, yang." Ziya yang menjelaskan pada Aditya.


"Apa yang terjadi pada Syita?" suara Aditya terdengar khawatir, dia mendekati adiknya. Cak Ali hanya menunduk.


"Aku menemukannya mabuk di klub dengan dua temannya. Hampir saja kedua temannya itu mencelakai dirinya. Mereka telah sekongkol untuk menjual Syita pada pria hidung belang."


"Bagaimana bisa, dia berada di klub. Ini bukan sosok Syita yang aku kenal. Syita tidak pernah pergi ke klub apalagi sampai mabuk kayak gini." Aditya tidak mau menerima kenyataan tentang adiknya. Karna dia berusaha keras untuk menjauhkan Syita dari dunia malam. Dia tidak ingin, Syita terjerumus ke dalam kenikmatan sesaat yang nantinya akan merusak diri sendiri.


"Aku tidak tahu itu. Aku menemukan Syita sudah dalam keadaan seperti ini. Hampir saja dia kehilangan harta yang paling berharga karena ulah teman temannya." Terang Rafa.


"Baiklah, sekarang kalian semua keluar. Aku akan mengganti baju Syita." Ziya mengusir semua orang tapi Aditya tetap diam di tempat seperti masih memikirkan sesuatu.


"Sayang, apakah kamu akan membantuku mengganti pakaian Syita." Yang ditanya malah tersentak dan gugup.


"Ah tidak, aku keluar saja." Aditya pun pergi keluar dan menghubungi seseorang.


"Halo bisakah, kau menemuiku? aku tunggu di ruang kerja." Aditya mematikan ponselnya. Dia melihat Rafa yang di kawal oleh Cak Ali menuju kamar tamu.


"Rafa!" Panggilnya.


"Terima kasih, sudah menolong adikku. Tapi bisakah, aku mendapatkan identitas teman Syita yang ingin menjebaknya?" Selidik Aditya.


"Ah iya, sebentar, aku tanya sama temanku dulu." Rafa menghubungi temannya dan dapatlah identitas yang di maksud.


"Sekali lagi, terima kasih." Aditya menepuk bahu Rafa. "Selamat malam."


"Selamat malam juga." Jawab Rafa.


Lalu dia menuju kamar tamu samping tempat Rafa dimana Rizal berada. Tapi ternyata Rizal sudah tidur pulas. Akhirnya dia keluar lagi kasihan dengan keadaan Rizal.


Sampai di ruang kerja. Disana sudah ada Cak Ali dan seorang kepala bodyguard.

__ADS_1


"Cak, aku tahu kalau Syita pasti sudah bilang kepadamu kemana, dia pergi bukan?" Aditya menatap tajam pada Cak Ali, aura kemarahan tampak jelas di sana.


"Nona hanya bilang mau pergi ke apartemen tuan besar, tuan." Memang itulah yang Cak Ali ketahui.


"Baron, dimana bodyguard yang berjaga untuk Syita. Kenapa dia belum datang?" Aditya sudah yakin jika Cak Ali memang jujur.


"Maaf tuan, tapi yang mengawasi nona Syita belum pulang semenjak nona Syita pergi." Terang bodyguard berkepala botak itu.


"Baiklah, kalian boleh keluar." bodyguard langsung saja pergi tapi tidak dengan Cak Ali.


"Ada apa, Cak?" Aditya berkata sambil memijat keningnya.


"Tuan butuh istirahat, untuk nona Syita bisakah tuan melanjutkan besok saja. Tuan perlu istirahat, saya yang akan mengurus nona Syita." Cak Ali pun hendak melangkahkan kakinya.


"Cak..!" Panggilan Aditya membuat langkah Cak Ali terhenti.


"Apakah, kamu percaya dia Syita yang selalu aku jaga?" Mata Aditya tampak berkaca kaca.


"Nona Syita manusia biasa, tuan. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Maaf atas keteledoran saya, tuan" Lirih Cak Ali sebelum benar benar pergi. Aditya mencengkeram kepalanya.


"Apakah perlu aku mengabulkan permintaan mama, Cak?" Cak Ali langsung menghampiri Aditya.


"Terima kasih, Cak." Aditya menatap Cak Ali dengan mata berkaca kaca.


"Jangan terlalu di pikirkan, tuan." Mohon Cak Ali. Aditya mengangguk sambil tersenyum tipis. Cak Ali lalu pergi meninggalkan Aditya sendiri.


Di bawah, Ziya yang sedang mengganti baju Syita sudah selesai.


Apa yang menjadi beban pikiran Syita ya. Kenapa dia terus berkata seperti itu. Siapa yang dia benci dan siapa yang berkhianat? Batin Ziya.


"Cak, apa tuan Aditya sudah tidur?"


🌸🌸🌸


Pagi yang cerah, tapi tidak secerah suasana di rumah Bagaskoro. Ziya duduk termenung sambil mengaduk aduk susu. Dia ingat cerita Aditya tadi malam. Dimana Aditya pernah sangat terluka saat mengetahui perempuan yang di cintainya bermalam di klub bersama seorang pria.


Ziya sangat tahu cerita itu semua dari kedua belah pihak. Dan menurut dua sisi yang berbeda. Dia bingung haruskah mengatakan pada Aditya, jika yang menjebak Marina adalah mamanya sendiri.


Tapi jika itu, dia katakan tentu akan menjadi masalah baru. Sedang Maya dan Aditya saja belum akur karna keberadaanya. Selain itu, Ziya juga takut akan reaksi Aditya. Aditya pasti merasa sangat bersalah dan lebih takut lagi jika Aditya masih memiliki perasaan terhadap Marina. Apalagi perpisahan mereka terjadi karna sebuah jebakan.


Dan anehnya lagi, kenapa aku tidak sanggup bertanya pada Aditya, tentang perasaannya pada Marina sekarang. Batin Ziya.

__ADS_1


Ziya berulang kali menghembuskan nafasnya. Dia lalu membawa susu yang dibuatnya ke meja makan.


"Apa Syita sudah bangun, Cak?"


Tanya Ziya sambil menata piring.


"Belum nona!"


"Baiklah, saya ke kamar dulu ya, melihat tuan Aditya."


"Iya non!" Jawab Cak Ali.


Ziya langsung buru buru ke kamarnya guna melihat apakah Aditya sudah bersiap. Seperti biasa, Aditya masih telanjang dada mengeringkan rambutnya. Ziya tersenyum lalu mulai mengurus bayi gedenya itu. Dan seperti biasa Aditya tetap saja jail.


"Sayang, jika aku nanya sesuatu, maukah jawab dengan jujur?"


"Nanya aja!" tangannya sibuk mengelus elus pipi Ziya dan sesekali menciuminya.


"Apakah sayangku ini...!"


"Ya...kenapa. Udah nanya aja gapapa.


"Apakah mas...!" Belum selesai Ziya bertanya, handphone Aditya berdering. Ada nama Rizal tertera di sana.


"Diangkat saja mas, siapa tahu penting?"


"Halo!"


Aditya wajahnya tampak berubah. Untung saja Ziya telah selesai memasang dasi di leher Aditya.


"Ayo kita cepat turun, yang!" Aditya menarik tangan Ziya tanpa permisi.


Bersambung.....


Apakah gerangan yang terjadi?


Selamat membaca.


beri aku


like, rate, vote dan komen ya terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2