Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Bukan Syita.


__ADS_3

"Halo!"


Aditya wajahnya tampak berubah. Untung saja Ziya telah selesai memasang dasi di leher Aditya.


"Ayo kita cepat turun, yang!" Aditya menarik tangan Ziya tanpa permisi.


Sampai di depan kamar Syita terdengar suara barang barang di lempar. Aditya mengetuk pintu berulang kali tapi tidak di buka.


"Berapa tombol untuk membukanya Cak?" Berpikir mungkin Cak Ali tahu.


"Hari ulang tahun nona, tuan!" Cak Ali ingat karna dialah yang tiap hari membersihkan kamar momongannya.


"Kenapa tidak masuk dari tadi? Dan kau Rizal mirip orang lain saja." cerca Aditya. Pintu terbuka sempurna namun saat baru saja melangkah, vas bunga melayang hampir kena kepala Aditya. Untung saja dengan sigap Aditya menangkapnya.


"Syita apa apaan, kau ini." Heran Aditya juga shock melihat kamar yang berantakan. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan Syita yang super bersih.


"Siapa kau, lepaskan aku tuan. Jangan lakukan itu kepadaku, aku mohon." Menangkupkan tangannya dan melorot di sisi ranjang. Aditya menjadi sendu melihat keadaan Syita seperti itu. Hanya bergeming ikut merasakan sakit atas apa yang menimpa adiknya.


Syita pasti terbayang dengan kejadian semalam. batin Aditya.


Ziya yang berada di samping Aditya langsung bergerak dan memeluk tubuh Syita. Dia juga larut dalam kesedihan yang Syita rasakan.


"Kamu akan baik baik saja, sayang. Kamu yang sabar ya. Kita akan selalu berada di sini untuk, kamu! kamu harus kuat." Memeluk sambil mengelus pundak Syita.


Aditya pun mendekat dan memeluk adiknya, mencium kepala sang adik beberapa kali.


Aku akan buat perhitungan kepada mereka. Mereka harus menerima pembalasan yang setimpal. Mencium puncak kepala sang adik kembali.


"Maaf, tapi kalian ini siapa?" berontak Syita dari pelukan Ziya dan Aditya walau sebenarnya dia merasa nyaman.


"Syita, kenapa kau seperti ini? Tenang Syita kami di sini akan ada buat, kamu." Aditya memeluk adiknya kembali. Syita hanya diam ada rasa berbeda yang dia rasakan saat ini.


"Tapi, tuan aku bukan Syita!" Mencoba berontak kembali.


"Ah Syita adek kecilku, kita kita sarapan dulu ya. Jangan di ingat terus kejadian itu. Kita sarapan saja ya. Aku akan menyuapimu." Menuntun Syita ke meja makan. Sedangkan Ziya menyuruh ART untuk membersihkan kamar Syita.


Dimeja makan, sesuai janji Syita di suapi oleh Aditya dan kadang Ziya juga ikut menyuapinya. Mereka memperlakukan Syita seperti seorang putri.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Disebuah ruang keluarga Marina membanting ponselnya. Dia sangat kesal karena apa yang di rencanakannya tidak berhasil.


Bagaimanapun caranya, aku harus bisa membalas dendam pada wanita sialan itu. Kali ini bisa saja tidak berhasil tapi tidak lain kali. Geramnya dalam hati.


Dari pintu utama masuklah Devan dengan setelan jas nya membuat aura ketampanannya bertambah. Tapi raut wajahnya menunjukkan jika hatinya kurang baik saat ini.


"Marina, katakan kepadaku kenapa, kau masih bermain main dengan keluarga Bagaskoro."


Marina dengan santai memainkan kuku kuku panjangnya dan bersikap santai, seolah tidak terjadi apa apa.


"Marina! aku mohon berhenti melakukan itu Marina. Karna, dia bukan Syita adiknya Aditya. Dia Tisya anaknya Rama Sanjaya sahabatku."


Sontak Marina terkejut mendengar berita yang menurutnya luar biasa ini.


"Apa maksud, kamu mas." Marina menatap Devan menyelidik.


"Marina sebentar lagi kita menikah. Aku tidak mau bila kau dalam masalah. Aku juga tidak menyukai wanita itu, tapi aku juga tidak mau jika sampai terjadi sesuatu kepadamu." Devan mencoba memberi pengertian. Dia tak ingin orang yang di cintainya terkena masalah.


"Bukan aku yang akan terjadi sesuatu Dev tapi, Maya." Marina masih duduk tenang di sofa.


"Iya Marina, dia anak Rama kamu salah sasaran. Untung saja ada Rafa yang menolongnya di saat yang tepat." Devan yang waktu itu berada di klub yang sama karna sebuah pekerjaan. Tanpa sengaja bertabrakan dengan Tisya dan dua temannya. Devan yang juga teman Rama, tahu betul bahwa itu adalah Tisya. Apalagi pertemanan mereka yang cukup lama.


"Darimana kamu tahu kalau, dia bukan Syita." Marina penasaran.


"Aku dan Rama teman dekat, tentu saja aku juga dekat dengan anaknya. Please Marina aku juga tidak rela jika Tisya yang harus jadi korban, kamu." Ancam Devan.


"Aku akan membuat rencana lain. Kau tenang saja. Calon istrimu ini tidak akan kekurangan ide." Marina tersenyum devil.


"Bukan itu masalahnya Marina, hanya saja. Jika kau sampai berbuat macam macam pada Tisya, kita akan berhadapan dengan Rama. Aku tidak ingin jika sampai Rama tahu dan membuat pertemanan kita berakhir, aku, Rama dan Steven telah menjalin hubungan yang begitu baik, mereka sering membantuku. Aku tidak mau pertemanan kita berakhir karnamu."


Marina diam tidak menjawab. Tapi pikirannya semakin berkelana mencari cara lain untuk menghancurkan Maya. Tiba tiba ada sebuah pertanyaan yang muncul di kepala Marina.


"Devan, Rama Sanjaya apakah dia pernah menjalin hubungan dengan Maya?" Devan mengernyit. Marina berusaha mengorek informasi dari Devan. Sepertinya sebuah rahasia besar akan terungkap.


"Kalau mengenai itu, aku kurang tahu. Tapi kalau mengenai ibu Tisya dia tidak pernah mau menjelaskan, dia hanya bilang bahwa Tisya adalah anak kandungnya. Tapi pernah satu kali pas mabuk dia menyebut nama nona Benitez."

__ADS_1


Marina tersenyum penuh arti mendapat jawaban yang pasti akan sangat membantu dirinya untuk membalas perlakuan Maya terhadapnya.


"Devan sepertinya ada sebuah rahasia besar di keluarga Bagaskoro. Aku pernah melihat nyonya Bagaskoro mengancam seorang dokter kandungan."


Devan belum mengerti kemana arah pembicaraan Marina.


"Apa maksudmu!"


"Berikan foto kamu saat malam dimana kamu makan malam bersama keluarga Sanjaya." Devan menyodorkan ponselnya.


Malam saat diadakan acara reuni SMA oleh teman teman Marina itu juga malam yang sama dimana keluarga Sanjaya mengadakan perjamuan makan malam di hotel yang sama.


Marina mencari beberapa bukti yang kuat. Yang bisa membenarkan praduganya. Dan benar saja ada beberapa foto milik Devan yang menunjukkan adanya Tisya di sana.


Marina juga meminta beberapa foto dari sahabatnya yang menunjukkan keberadaan Syita di sana.


Benar saja dari dua tempat yang berbeda ada dua sosok anak yang sangat mirip entah memang kebetulan atau tidak. Tetapi keduanya seperti pinang di belah dua.


"Benar memang aku salah sasaran. Tetapi kali ini aku akan membidik target langsung tepat sasaran." Marina tersenyum puas.


Sedangkan Devan yang berada di sana termangu. Haruskah dia juga mencari tahu tentang Tisya dan Syita atau berlagak pura pura tidak tahu.


Tak berapa lama ponselnya bergetar. Ada nama Rama di sana. Devan pun menerima panggilan itu.


"Ya halo ada apa Rama?"


.........


.


"Apa....bagaimana bisa?"


Ya, Tuhan ...Devan tepok jidat.


.........


"Aku akan kesana kau tunggu sebentar."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2