
Lampu ruang IGD menyala merah. Aditya tampak tegang menyandarkan kepalanya di dinding duduk di kursi antrian.
Devan berlari cepat menuju ke sana. Ziya tertinggal jauh darinya.
"Bagaimana Marina." Devan langsung bertanya pada Aditya.
"Di dalam." Aditya menunjuk malas. "Ngerepotin banget seh pacar lu itu." Sungut Aditya kemudian.
"Thanks ya, sudah menolong Marina." Menepuk bahu Aditya. Kekhawatiran terpancar jelas di raut wajahnya.
Ziya yang sudah sampai terbengong menyaksikan interaksi keduanya. Tadi dia saat melihat ada nama Aditya di gawai Devan, diapun bertanya. Ternyata Marina sedang mengalami kontraksi alhasil dia juga ikut sampai di sini.
Pikiran buruknya tentang sang suami langsung memudar. Dia berjalan pelan mendekati suaminya. Tapi tiba tiba saja matanya berkunang kunang. Di lihatnya sekilas Aditya menoleh.
"Ziya kamu di sini?" heran Aditya.
"Aku nemu dia nangis di jalan tadi!" Suara Devan turun satu oktaf khawatir jika Ziya mendengar.
Aditya bangkit dan mendekati istrinya. Tapi malah Ziya oleng, sontak saja Aditya menangkap tubuh Ziya.
"Ziya, kamu kenapa?" Aditya panik
"Apa karna tadi tidak sempat makan ya! Dia kan punya magh kadang seperti ini jika telat makan!" Ucapan Devan membuat dada Aditya bergemuruh. Hal sepenting itu dia tidak mengetahuinya.
Aditya membawa tubuh Ziya untuk mendapatkan pertolongan pertama.
🌾🌾🌾
"Apa! berani beraninya dia terang terangan melawan diriku." Raut wajah Maya berubah merah. Dia menyuruh seseorang untuk mengawasi gerak gerik Marina.
Dia begitu geram dengan Marina setelah kejadian itu. Sebuah pertemuan tak terduga yang membuat keduanya saling menatap sinis. Tepatnya di apartemen Maya saat Marina hendak menemui temannya.
"Nona Marina, senang sekali bertemu dengan anda di sini." Menatap sinis Marina dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Sekarang kelihatan kan tampang asli wanita jalang sepertimu." Di tatapnya perut buncit Marina. Marina mengatur nafas menetralkan segala rasa yang dia pendam.
Sakit dan muak itulah kata yang tepat saat dia berhadapan dengan orang seperti Maya. Orang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Kau puas sekarang nyonya Bagaskoro yang terhormat." Marina mengelus perutnya 'Amit amit jabang bayi jangan sampai kamu ketularan jahatnya, nak."
"Puas sekali, aku bahkan sangat puas melihat dirimu hancur." Maya menyeringai.
"Kenapa kau bisa setega itu kepadaku nyonya padahal aku tidak pernah berbuat salah kepadamu. Kenapa kau hancurkan masa depanku hahhh." Luka yang lama kini terbuka kembali.
"Pertama, karna aku tidak mau sampai ada orang yang tahu tentang hubungan gelapku. Kedua karna aku tidak sudi memiliki mantu yang tidak sederajat."
Marina tersenyum sambil bertepuk tangan."Kau sungguh perempuan luar biasa nyonya. Di zaman modern dengan pemikiran sedangkal itu."
"Apa maksudmu!"
"Kau curiga aku akan mengatakan kebenaran, sehingga kau menjebakku dan menghancurkan hidup aku. Apakah kau tidak mikir." menunjuk kening sendiri. " Disana ada orang lain ada CCTV." Marina diam sejenak membiarkan Maya berpikir.
"Dan untuk menantu, siapa yang sudi jadi menantumu jika tahu tabiatmu yang sebenarnya."
"Kau yang jalang." Marina memotong pembicaraan Maya.
"Lihat sekotor apa dirimu nyonya. Ah aku jadi penasaran, bagaimana reaksi anakmu itu, jika tahu wajah asli mamanya." Marina memutar telunjuk tepat di depan wajah Maya.
"Jangan macam macam kau ya...!" Maya mengangkat tangannya, dengan sigap Marina mencekal pergelangan lengan Maya.
"Aku bukan Marina yang dulu. Marina yang telah kau injak injak harga dirinya. Aku Marina yang lahir kembali dengan wajah baru. Aku akan bongkar semua rahasia tentang dirimu nyonya, kau santai saja. Bahkan aku tahu bahwa anak keduamu juga bukan darah daging Bagaskoro."
Maya membelalakkan matanya tubuhnya sedikit bergetar bibirnya terkatup gugup. Marina semakin tersenyum sinis.
"Bukan hanya itu nyonya, aku juga tahu. Kau yang membunuh ibunya Ziya." Marina berlalu meninggalkan Maya.
Maya mundur beberapa langkah sebelum mengatakan. "Jangan lakukan itu." Maya mengatur nafas.
__ADS_1
"Apapun akan aku berikan asal jangan lakukan itu." Maya gemetar sekarang. Marina semakin sinis.
"Aku tidak perlu apapun sekarang. Aku bahkan sudah cukup setara jika di sejajarkan dengan kekuatan Bagaskoro." Marina memakai kacamata dan dengan anggun menyibakkan rambutnya meninggalkan Maya yang terpaku gemetar.
Sekarang.
"Marina, kau sudah melampaui batasmu. Aku tidak akan diam begitu saja. Aku tidak mau sampai semuanya hancur. Tapi Ziya, kenapa wajah itu selalu menghantuiku." Teriak Maya frustasi. Dia melempar vas bunga yang ada di hadapannya hingga hancur berkeping.
Dia sangat kesal pada dirinya sendiri bagaimana tidak. Sosok Mila seakan muncul dalam diri Ziya, dari cara berjalan cara bicara dan wajahnya. Maya dulu begitu segan dengan sosok Mila yang santun dan lembut.
Tapi suatu hari, Maya yang di tinggal Denny selama sebulan di luar Negeri. Melakukan perselingkuhan dengan Rama Sanjaya yang usianya lebih muda darinya. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga perbuatan dosa itu dia jalani.
Sampai Denny kembali, Maya masih menjalin hubungan terlarangnya. Terlebih Denny yang mengalami kecelakaan membuat Maya membutuhkan tempat untuk menyalurkan birahinya. Rama yang masih berdarah muda mau saja melakukannya terlebih dia mendapat bayaran yang fantastis.
Fakta itu di ketahui oleh Mila ibunya Ziya. Mila seringkali memberi nasehat kepada Maya. Dan berharap temannya itu bertaubat.
"Kurang baik apa Denny kepadamu May, sampai kau tega melakukan itu. Taubatlah may itu dosa besar." Ucap Mila waktu itu. Tapi bagi Maya ucapan Mila seperti bom waktu yang akan menghancurkannya suatu saat nanti hingga Maya memilih untuk menyingkirkan Mila.
Dia ingin menjebak Mila agar terkesan melakukan hal yang sama dengan dirinya. Tapi itu tidak sampai terjadi karena Agung menggagalkan semua. Mila malah menyelamatkan anak Tejo. Tapi Maya tidak kehabisan akal dia menyuruh bodyguard untuk menyabotase mobil milik Mila. Alhasil Mila kecelakaan dan di bawa kerumah sakit.
"Kau harus mati Mila. Kau adalah kunci di mana semua rahasiaku tersimpan di sana." Ucap Maya saat masuk ke dalam ruang ICU Mila.
Maya mencabut selang oksigen Mila. Hingga Mila gagal nafas. Maya tersenyum puas saat itu. Tapi bayangan wajah Mila, masih membekas sampai sekarang.
"Akan yang harus aku lakukan sekarang." Maya mondar mandir sambil sesekali menjambak rambutnya.
"Syita, kau juga membuat ulah di saat genting seperti ini. Apa anak itu tidak cukup membuatku was was selama ini." Maya bicara sendiri.
"Aku harus pastikan Rama masih mau tutup mulut tentang rahasia ini. Aku tidak mau sampai Denny tahu. Dan menghancurkan keluargaku."
Maya mulai mencar nama kontak seseorang dan menghubunginya berkali kali. Tapi sama saja selalu operator yang menjawab panggilannya.
"Baiklah, aku akan cari cara agar Aditya tidak lagi bertemu dengan Marina. Ah iya, aku manfaatkan saja menantu kesayangan itu." Maya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Bersambung....