
Langit terlihat cerah, secerah wajah Aditya Bagaskoro yang kini telah sampai di mansion dengan wajah berseri. Usahanya untuk mencari jejak anak dan istrinya sebentar lagi akan membuahkan hasil.
"Tuan!"
"Kau ... disini?"
Rizal sudah siaga di depan pintu dengan beberapa pengawal yang berdiri tegak di belakangnya, dengan pandangan menunduk.
"Masuk!" Seperti biasa Aditya seolah tahu dan bisa membaca arti tatapan Rizal kepadanya. Pasti ada suatu hal yang penting sehingga Rizal datang tanpa pemberitahuan, padahal tadi Aditya sudah melarangnya. Aditya berjalan terlebih dahulu, diikuti yang lain.
"Kau sudah pulang, Nak?" Aditya terus berjalan, tidak menghiraukan lagi wanita yang biasa dia panggil mama. Kini mereka sudah berada ditengah ruang keluarga.
"Nak, kau selalu mengacuhkan ibu," Tangis ala buaya kembali dia lancarkan. Aditya menoleh dan berhenti sejenak melirik sekilas pada seorang yang berada di sebelah kiri Maya. Di samping wanita yang bernama Maya itu, ada seorang gadis yang nampak gugup dan meremas jemarinya. Wajahnya menunduk.
"Pintar sekali kau memilih boneka untukku!" sinis Aditya.
Kau tidak pernah mau belajar dari pengalaman Ma. batin Aditya.
"Nak, dia anak dari teman kolega kita." Aditya tahu benar apa maksudnya. Sekali lagi, Maya berencana menjodohkan dirinya dengan wanita pilihan Maya. Jangan harap! Aditya akan selalu melukai siapa saja wanita pilihan mamanya, sebagai bentuk balas dendam nya, sebab sudah menyentuh Ziya.
Selama tiga tahun, Maya selalu berusaha menjodohkan Aditya dengan anak teman-temannya. Bahkan pernah ada yang mau sampai menginap di mansion. Tapi apa yang terjadi? Aditya secara terang-terangan menolak setiap gadis yang disuguhkan ibunya. Bahkan Aditya juga sering berbuat kasar kepada mereka. Para gadis yang mendekatinya selalu berakhir dengan beberapa luka ditubuh mereka.
"Rizal, siapkan sesajen untuknya!" Rizal menghela nafas berat. Sudah berapa banyak gadis yang menjadi korban atasannya itu. Aditya menyiksa siapa saja, wanita yang disodorkan oleh Maya. Dan yang membuat Rizal sebal adalah, Maya seperti tidak ada niat untuk berhenti membuat ulah.
"Nak, dia anak yang baik dan patuh, dia memiliki karakter yang mirip dengan Ziya," Kilatan mata Aditya berubah tajam.
"Jangan pernah kau menilai istriku dan membandingkannya dengan wanita manapun. Andai kau bukan ibuku, sudah aku pastikan kau berada di tiang gantungan." Maya meneguk salivanya dengan susah payah. Aditya sudah meninggalkan tempat itu.
Enggan sekali berdebat dengan ibu tidak punya perasaan itu. batin Aditya.
"Nyonya, belum puaskah anda mengambil sampah dan membawanya kerumah ini? Hanya semakin mengotori tempat tinggal saja." cicit Rizal yang berhenti sejenak di hadapan Maya.
"Kau kan asisten pribadinya, seharusnya kau peka terhadap Tuanmu. Dia membutuhkan sosok pendamping hidup untuk melanjutkan hidupnya. Gadis pembayar Hutang itu sudah mati."
"Itu menurut Nyonya. Apakah perlu aku beritahukan kepada Tuan, bahwa Nyonya juga dalang dibalik perginya Nona Ziya? Sepertinya yang meninggal bukan Nona Ziya. Tapi hati anda." Rizal tersenyum sinis, kemudian melanjutkan langkahnya menuju tangga.
"Apa maksudmu?" Maya melorotkan matanya sempurna, dia tidak menyangka jika kebusukannya tercium oleh Rizal. Padahal dia sudah mengeluarkan uang dalam jumlah yang fantastis untuk menyingkirkan Ziya, tanpa diketahui oleh Aditya.
"Anda ingin melihat, apa yang akan dilakukan Tuan, saat tahu istrinya telah dijual oleh mertuanya?"
__ADS_1
Maria mundur beberapa langkah dengan memegang dadanya. Bagaimana bisa dia tahu segalanya. Tunggu! Apakah dia benar-benar tahu, atau hanya menggertak aku? batin Maya.
Maya ingin bicara lagi, tapi ternyata Rizal sudah menghilang.
Diliriknya gadis yang masih berdiri mematung di sampingnya.
"Kau, pulang sana! Percuma aku mendandani dirimu, tetap saja tidak bisa membuat anakku tergoda," gerutu Maya.
"Bayarannya Nyonya." Gadis itu mengulurkan tangannya dengan gemetar. Meski begitu, Maya beranjak dari tempatnya berdiri, dan masuk ke dalam kamar. Di bawanya amplop coklat, lalu dia serahkan kepada gadis itu.
"Pergilah!" Gadis itupun menurut, pergi dari tempat itu dengan perasaan senang. Cuman berdiri mematung dan bergaya sok lembut saja bisa dapat uang. batin gadis itu.
"Aditya, kau begitu mencintai istrimu sampai membenciku." Maya seperti tidak rela jika anaknya hidup bahagia bersama wanita pilihannya sendiri.
"Rizal!"
"Ya, Tuan!"
"Kenapa aku harus menelan getirnya kehidupan ini? Haruskah aku membunuh wanita itu?"
Deg "Tuan, kendalikan amarahmu!" Rizal berjalan keluar ruangan, dan beberapa menit kembali dengan segelas air dan sebutir pil.
"Tapi bagaimana jika Nona melihat anda seperti ini? Tentu Nona juga akan memberikan anda obat ini." Aditya mengambil obat itu, dan meminumnya.
"Tuan, kemungkinan Nona Ziya masih hidup." sayangnya itu hanya ada di dalam pikiran Rizal. Dia belum bisa mengatakan kepada Tuannya, sebab tidak mau memberikan harapan palsu. Rizal ingin membuktikan penyelidikan nya terlebih dahulu.
"Aku sudah menemukan keberadaan anakku," binar cahaya terang menyelimuti perasaan Rizal. Dia ikut bahagia atas kabar baik ini, tapi kemudian berubah menjadi amarah. Tangannya mengepal. Aditya melihat itu semua dengan tersenyum tipis.
"Kau sama sepertiku Rizal, hanya saja aku bingung harus menghukum pelaku itu seperti apa!" Aditya memijat pelipisnya.
"Andai dia bukan ibumu Tuan. Tentu aku sendiri yang akan terlebih dahulu menghabisinya dengan tanganku sendiri."
Sudah berapa luka yang kau buat Nyonya. Kebohongan dan kejahatan. yang kau lakukan begitu besar. Kau rusak keluarga anakmu, dan mempermainkan kehidupannya, hingga menjadikannya sosok yang kejam dan berhati dingin. batin Aditya.
"Akupun sama Rizal. Bahkan dia telah banyak berbohong dan merusak kehidupanku." lirih Aditya terdengar begitu rapuh.
"Tuan! Berikan titahmu padaku. Aku akan menjemput Tuan Kecil." Aditya mendongakkan kepalanya.
"Tidak Rizal."
__ADS_1
Aditya mengusap wajahnya lembut. "Dia adalah jantungku yang tertinggal, aku sendiri yang akan menjemputnya. Ziya akan marah jika miliknya tidak aku rawat dengan baik." Ada sedikit senyuman tersungging di bibir Aditya. Rizal yang melihatnya juga merasakan hal yang sama.
"Kemana tujuan Tuan?"
"Kanada!"
"Nona Nabila!" heran Rizal. Rizal kini tahu, mengapa wajah anak Nabila berbeda, meski mereka dinyatakan kembar. Dan bodohnya lagi, Rizal percaya begitu saja saat Steven menunjukkan tes DNA mereka.
"Benar! Selama ini, kita dibodohi oleh wanita itu." Aditya menyugar rambutnya beberapa kali. Jantungnya berdenyut kencang dan nafasnya terasa sesak.
"Kendalikan diri Tuan. Kumohon! Demi Tuan kecil."
"Rizal, apa tujuan Steven melakukan ini kepada kita?"
"Menjaga Tuan kecil!"
"Dengan berbohong kepada kita? Dia pikir siapa mereka!" Rizal melihat ada kilatan api pada bola mata itu. Rizal tidak ingin semuanya semakin kacau. Terlebih jika Nona Ziya benar-benar masih hidup.
"Tuan, tidak ada sebuah rahasia, jika tidak ada sesuatu yang harus dilindungi."
"Haruskah aku memaafkan mereka nanti?"
Harus Tuan, terlebih jika Nona Ziya masih benar-benar hidup. Musuh anda sesungguhnya adalah ibu anda, bukan mereka.
"Itu terserah kepada Tuan kembali," Ternyata kata itu yang akhirnya dipilih oleh Rizal.
"Aku berangkat nanti malam, siapkan semuanya. Akan aku pastikan anakku baik-baik saja."
"Bolehkah aku sedikit memberi saran Tuan?" Aditya menatapnya tajam.
"Maaf!"
Aditya menghembuskan nafasnya kasar. Tidak seharusnya dia marah kepada Rizal.
"Katakan!"
"Jangan bawa pulang Tuan kecil terlebih dahulu," Rizal meremas map di tangannya, menundukkan wajahnya. Menanti segala kemungkinan yang terjadi. Tuan Aditya tidak sama seperti tiga tahun yang lalu. Bahkan senyumnya adalah awal dari kehancuran seseorang.
"Aku tahu!"
__ADS_1