Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Lebih penting


__ADS_3

"Hai anak gadis melamun aja, masih pagi juga!"


Syita menghela nafasnya kasar.


"Pagi sekali, kau kemari. Apa kau tidak punya pekerjaan lain." Rafel tersenyum tipis, lalu duduk di samping Syita. Dia memerhatikan gadis yang di temui nya saat ini dan mencari perbedaan apa yang menonjol dari gadis yang di temuinya semalam.


"Aku punya pekerjaan penting di sini. Lebih penting dari apapun malahan." Syita hanya mencebik mendengar jawaban Rafel. Tapi pria itu tidak menggubrisnya hingga Rafel duduk di sebelah Syita sambil menyodorkan sebuah plastik di hadapan Syita.


"Sangat cocok untuk ibu ibu yang sedang galau." Rafel tertawa lepas melihat perubahan wajah Syita.


"Hai, Mbah kurir yang terhormat, mana ada ibu ibu ramping begini masih modis lagi," Syita membuka kresek yang di bawa Rafel. "Tahu aja, aku belum sarapan," ucapnya lagi. Dengan antusias Syita mengeluarkan makanan yang ada di dalamnya.


"Itu sudah, aku hitung sebagai hutang juga ya," sambil nyengir Rafel membisikkan kata kata itu di telinga Syita.


"Uhuk uhuk." Rafel dengan siaga memberikan botol minuman yang baru saja di ambilnya dari kresek.


"Sebentar, aku buka dulu. Kalau makan hati hati dong! nggak bakal ada yang minta jatahmu, kok?" Rafel menepuk-nepuk punggung Syita pelan.


"Kamu pelit banget jadi orang. Apa apa semuanya di masukin list hutang piutang." Syita jadi tidak lagi berselera makan.


"Kalau tidak di habiskan ya mubadhir, sudah aku masukkan list hutang pokoknya," ucap Rafel santai. Dengan mata melotot dan muka kesal Syita memasukkan makanan ke mulutnya secara kasar, hingga mulutnya kini belepotan karna ulahnya.


"Enak banget ya, sampai belepotan gini." Rafel mengusap mulut Syita dengan jari-jarinya. "Iyalah enak banget yang bawa anaknya ganteng, makannya di temenin lagi," dasar Rafel tanya sendiri di jawab sendiri.


"Ini, sudah tidak berselera." Syita meletakkan tempat makan yang terbuat dari anyaman itu di bangku.


"Eits, mau kemana? tidak semudah itu, kau bisa lari dari sini baby." Rafel menarik lengannya Syita hingga sang empunya terduduk kembali. Setelah itu, Rafel meletakkan kakinya diatas paha Syita untuk menghalangi gadis itu, agar tidak kabur lagi.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, woooi!" Syita menunjuk kaki yang berada di atas pahanya, walau tidak menempel, karna kaki Rafel bertumpu pada pinggiran bangku, tapi cukup membuatnya tidak nyaman. Sedangkan kaki Rafel yang satunya dia tekuk di bangku, wajah Rafel kini menghadap lurus menatap Syita. (pokoknya gitu, silahkan di bayangkan betapa groginya kita saat mendapat perlakuan seperti itu)


Owh, ya, Tuhan. Kenapa dia harus lakukan ini. Apa dia tidak tahu hatiku terasa maueledak, karna ulahnya. Batin Syita.


Wahai gadis yang telah mencuri hatiku, aku akan menjeratmu dengan cintaku.


"Sudahlah nikmati saja. Sekarang buka mulutmu, aaa," ucap Rafel sambil menggantungkan sendok di depan mulut Syita. Dan dengan bodohnya Syita menerima suapan itu.


"Anak manis dan pintar, cepet gede, ya. A' lagi," sekali lagi Syita hanya menurut matanya bahkan tidak berkedip karna perlakuan Rafel.


"Nah, kalau gini, kan. Papa jadi demen banget, karna mama nurut." Mencubit pipi Syita pelan. Syita baru menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi.


"Kau...!" telunjuknya menggantung saja di udara dan suaranya tercekat di tenggorokan.


"Apa manisku!, mau cium? jangan ah, nanti papa Denny marah sama, kamu. Kamu kan harus bayar hutang kepada, aku." Rafel berkata sambil menurunkan kembali kakinya. Kini mereka berdua sudah duduk berjajar kembali. Tapi sebelum itu secepat kilat Rafel mencuri ciuman dari Syita.


"Apa, yang, kau lakukan barusan?" Syita berusaha mengatur nafasnya agar normal kembali. Rafel tersenyum simpul sambil menatap lekat wajah Syita. Dia bisa menduga bahwa ini adalah ciuman pertama untuk Syita.


"Kau... ya! Aku membencimu!" Syita menunjuk wajah Rafel. Dia pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Rafel seorang diri.


"Pergilah, Sayang. Kau pasti akan merindukan aku, nanti!" teriak Rafel yang masih di dengar oleh Syita.


"Satu, dua, tiga." Rafel menghitung detik detik Syita yang dia pastikan akan membalik badannya. Dan benar saja, Syita berbalik tapi menghentakkan kakinya, menunjukkan wajah tidak suka. Tapi sebenarnya, dia menghindari Rafel, karna detak jantungnya yang sudah berdetak kencang.


"Ya, Tuhan, aku bisa jantungan jika terus bersamanya." Syita memegangi dadanya sejenak dan bersandar pada dinding rumah sakit saat di rasa Rafel sudah tidak bisa melihatnya.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Di ruangan bernuansa serba putih ini, nampak seorang pria menyuapi pasangannya.


"Sayang, aku bisa makan sendiri," kata Ziya sambil berusaha meraih tempat makanan yang di pegang oleh Aditya.


"Tidak! kondisimu masih sangat lemah. Kau harus banyak istirahat. Agar kondisimu cepat pulih kembali." Aditya bersikeras dengan pendiriannya. Aditya sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan menjadi Ayah siaga dua puluh empat jam, jika anaknya selamat. Dan ternyata doanya di kabulkan. Iyalah, lawong Ziya cuma shock aja kok, Aditya aja yang lebay.


"Aku baik baik saja, kok! lihatlah aku bahkan bisa berdiri sendiri lho."


"Hai, mau kemana kamu? Kamu harus banyak istirahat, Yang!"


Astaga, Yang! Sampai segitunya, kamu. Aku mau duduk saja tidak di perbolehkan." batin Ziya. Dia menepok jidatnya sendiri.


"Sayang, apa kau lupa aku ini seorang...!"


"Ya, kau dokter, tapi bukan dokter kandungan. Dan satu lagi yang harus kau tahu. Tidak ada dokter yang tahu tentang kondisi dirinya sendiri. Buktinya banyak dokter yang minta bantuan dokter lain saat dirinya sakit." Pupus sudah harapan Ziya. Padahal sebenarnya dia sudah tidak betah tiduran. Tapi apa boleh buat di Ayah siaga kelewat batas siaganya.


"Owh, iya, Yang! apa mama sudah sadar sekarang?" tanya Ziya yang baru ingat akan kondisi mama mertuanya itu.


"Mama belum sadarkan diri," terang Aditya, wajahnya kini berubah muram.


"Kamu yang sabar, ya Mas!" Ziya memegang lengan suaminya untuk menguatkan. "Tapi kondisi mama baik baik saja, kan, Mas?"


"Itu yang, saya khawatirkan Ziya, karna kemungkinan mama akan mengalami cacat di kakinya," Aditya menundukkan wajahnya tak percaya semuanya akan berakhir begini.


"Ini semua salah, aku, Mas. Andai aku tidak pernah ada di antara kalian."Ucapan Ziya terdengar lirih.


"Hai, ini bukan salah siapapun, tidak salah mama juga, ini semua sudah menjadi jalan nasib yang harus kita jalani. Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri ya!"

__ADS_1


Aditya meletakkan tempat makan, lalu menangkupkan kedua tangannya pada pipi Ziya.


Bersambung.....


__ADS_2