Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 21 Dia


__ADS_3

Musim gugur mungkin saja hampir berlalu, udara sudah mulai terasa lebih dingin. Seorang pria duduk bersandar pada sebuah kursi, menghadap danau yang tenang, menggeser laptop di pangkuannya. Hari cukup melelahkan, meski waktunya libur untuk sebagian orang, tapi pria itu menghabiskan waktu santainya untuk menyelesaikan beberapa tugas yang tertunda.


"Hufft, sepertinya aku harus kembali dan memastikan semuanya!" gumam pria itu, sambil jemarinya terus berselancar. Lalu dia mengambil benda pipih di dalam saku celananya, menghubungi seseorang yang dia kira perlu. Lalu memberi tugas dan arahan sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Selesai dengan apa kata hatinya, pria itu mulai memindai sekeliling. "Warna yang indah, cantik tapi berguguran." Tersenyum masam, entah apa yang dia pikirkan dengan berkata demikian.


Tanpa sengaja netranya menemukan pemandangan langka. Berusaha mencari kejelasan dari penglihatannya, diapun mendekat dengan perlahan, dan benar saja, dialah gadis yang selama ini dia cari. Gadis yang menghilang bersama dengan Nona mudanya. Namun sialnya gadis itu tidak pernah hilang dari hatinya.


"Nona!"


Gadis itu menoleh, menatap nanar sapu tangan yang terulur sempurna.


"Tuan Rizal!"


"Ya, kau Lisa bukan?"


Gadis itu mengangguk lemah.


"Kau menangis?"


"Tidak!"


Gadis yang tangguh.


"Tapi, bagaimana Tuan bisa tahu namaku?"


Rizal tersenyum, lalu ikut duduk di atas daun-daun kering, mensejajarkan tubuhnya dengan Lisa. Laptop yang dia pegang sengaja dia letakkan dipangkuan. "Jangan kamu pikir, karna penampilanmu berubah lalu mengecoh penglihatanku."


Lisa melirik sekilas laptop di pangkuan Rizal yang diletakkan di tanah. "Tuan masih bekerja meski hari libur?" bermaksud mengalihkan pembicaraan.


"Hanya meringankan tugas saja." jawab enteng Rizal. "Bisakah kau sebut aku nama saja?"


"Tuan!"


"Rizal!"


"Ah, baiklah Rizal!"


"Lebih enak didengar!" tukas Rizal. Gadis itu merona.


"Lisa."


"Hemmh."


"Aku mencarimu, ah, bukan! Maksudku."

__ADS_1


"Ya, Nona Zea! Anda mencari Nona Zea," tukas Lisa sedikit kecewa. Begitupun dengan Rizal. Ada penyesalan tersendiri, mengapa Rizal sulit untuk mengungkapkan, bahwa dia benar-benar mencemaskan gadis ini. Sejak Lisa bekerja di rumah Bagaskoro, sebenarnya Rizal beberapa kali melihatnya. Dan sedikit menyimpan perasaan terhadap gadis ini. Dan sepertinya, Tuhan maha penyayang dengan mempertemukan mereka berdua lagi.


Beberapa jam diperjalanan saat kepulangan dari kampung saat itu, menyisakan kenangan yang sulit dilupakan oleh Rizal. Hanya saja egonya terlalu tinggi, sampai rasa itu tertunda hingga sekian lama. Bolehkah dia berharap sekarang? Mungkin Tuhan telah menjawab doanya.


"Zea, apa Nona Zea adalah Nona Ziya?" Lisa menutup mulutnya rapat. Baru saja dia keceplosan.


Diam, apakah pilihan yang tepat.


"Lisa, katakan!" Rizal menyentuh pundak gadis itu, dan memutarnya, kini mata mereka beradu. Tatapan mata itu sendu dan dalam, seirama detak jantung yang mengguncang raga mereka.


"Lisa!"


Wajah cantik itu menunduk, kemudian menatap nanar tangan yang bertengger di pundaknya.


"Hai!"


"Iya, ah bukan! Tidak. Maksudku! Aku tidak tahu!"


Rizal menekan bahu itu dengan jari tangan perlahan, tangan kekar itu menyusuri leher jenjang Lisa, lalu mengelus perlahan, hingga sampai di pipi. Entah kenapa Lisa tidak bisa menolak belaian itu, saat seluruh tubuhnya meremang. Apakah dia sudah berubah menjadi gadis Kanada? Bahkan sampai sekarang dia selalu bisa membatasi diri. Tapi kenapa hari ini tidak?


"Jawablah dengan benar, atau aku akan menghukummu!"


"Mau apa kau?" panik saat melihat wajah Rizal yang semakin dekat, bersamaan dengan bola mata Lisa yang semakin melebar.


"Tidak! emmh!"


Lembut dan kenyal, juga basah dan penuh nikmat. Owh, rasa apakah ini? Lisa menjerit dalam hati sebab ciuman pertamanya diambil oleh Rizal tanpa seizinnya.


"Kau kurang ajar, ciuman pertamaku!" Lisa menutup mulutnya dan berdiri.


"Kau belum memberiku penjelasan!" menarik tangan Lisa.


"Tidak akan kau dapatkan!" bentak Lisa.


"Sungguh gadis yang pemberani." Rizal mengeratkan tekanan tangannya, semakin ditekan, semakin gigih Lisa memberontak.


"Aku akan menciummu lagi jika tidak kau katakan!" ancam Rizal memegang kedua tangan Lisa. "Tempat dan suasana yang mendukung untuk berbuat lebih." Rizal menatap sekeliling, seolah mengatakan bahwa Rizal akan berbuat apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kau ... jangan macam-macam!" Mata Lisa melotot disertai telunjuk yang terangkat ke arah Rizal.


"Baiklah, ikut denganku!" Dengan sigap Rizal mengambil laptopnya tanpa melepaskan pegangan tangan pada Lisa.


"Lepaskan!"


"Ikut!" menyeret tangan Lisa hingga sampai di mobil. Rizal mendorong wanita itu, kemudian menutup pintu mobil dan mengaitkan seatbelt. Seingatnya, Lisa tidak bisa melepas atau memasang seatbelt, Rizal berharap hal itu tetap melekat pada diri gadis itu.

__ADS_1


"Duduklah yang tenang, oke!" seringai Rizal membuat Lisa memberontak, dan berusaha melepas tali yang melilit tubuhnya. Tetap saja, dia tidak bisa menaklukkan seatbelt itu.


"Rizal, kau mau membawaku kemana?"


"Suatu tempat, dan yang pasti, kau akan sangat menikmatinya!" pikiran Lisa berkelana gundah dan gelisah menyergap dirinya. Lalu, dia mencari sesuatu yang dia anggap bisa menyelamatkan dirinya.


"Hai, apa yang akan kau lakukan!" Belum sampai Lisa menghubungi seseorang, benda pipih itu telah berpindah tangan. Dan dengan sadinya, Rizal menonaktifkan satu-satunya benda yang Lisa bawa.


Sepertinya Lisa menyesal telah memilih pergi dari rumah.


✓✓✓


Zea mulai tersadar dari pingsannya menatap sekeliling, seorang pelayan menyodorkan sebuah obat dan juga minuman ke arahnya, tentunya setelah dia mengisi perut terlebih dahulu.


"Aku tidak melihat Lisa dari tadi, kemana dia?"


semua menunduk dan bungkam.


"Jangan pikirkan apapun untuk sementara, sebaiknya kau istirahat. Agar kondisimu cepat pulih." Semua pelayan beringsut mundur dan keluar kamar, menghormati pria paruh baya yang pastinya hanya ingin berdua dengan sang putri.


"Dady sudah pulang?" Memeluk erat tubuh Marcell.


"Dady tidak ingin meninggalkan dirimu terlalu lama." mencium kening anaknya.


"Yah, Dady benar. Tapi sepertinya tidak dengan pemikiran Momy and brother," Zea mengerucutkan bibirnya.


"Momy ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan sayang, jadi bersabarlah." Keduanya berpelukan lagi.


"Oh ya Dady, dimana Lisa? Katanya selama liburan dia akan selalu bersamaku, tapi lihatlah, aku tidur sebentar saja dia sudah pergi tanpa permisi."


"Mungkin dia keluar untuk mencari udara segar."


"Apa paman Mon memarahinya?" Marcell diam sejenak, kemudian mengangguk. Sebab percuma juga berbohong pada Zea, gadis itu akan segera tahu kebenarannya.


"Dady, bolehkah aku menyusul Momy?"


Sejenak Marcell melonggarkan pelukannya. Melihat dengan intens wajah memelas milik Zea. Ada keinginan untuk mengizinkan Zea kembali ke Indonesia, mungkin saja ingatannya akan kembali lagi, sehingga Zea tidak mudah lelah dan pingsan. Tapi Marcell juga khawatir jika hal itu akan semakin memperburuk kondisi Zea.


"Bagaimana Dady? Boleh ya!"


Marcell mengangguk pelan.


"Mon akan mengatur kepergianmu besok!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2