Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Pergi


__ADS_3

Dua insan sedang bersepeda santai mengitari taman.


"Pagi yang cerah!"


Diki berucap sambil mengayuh sepedanya. Tadi malam dia menginap di rumah Rizal, pekerjaan di kantor yang menumpuk membuat mereka begadang.


"Ya kau benar." Menepikan sepedanya.


"Apakah ada kabar dari Aditya hari ini?" Diki berharap besok Aditya sudah masuk kantor, sehingga bisa langsung melakukan meeting mengenai proyek di Bali.


"Sepertinya si boss bakal alfa lagi. Mengambil minuman di sepeda dan meneguknya. Luh kapan nyusul si boss, sepertinya Winda sudah siap tuh, kalian juga tidak muda lagi."


Rizal sepertinya tak sadar kalau dia juga seperantara.


"Entahlah!"


Diki gusar, dia duduk di bangku sebelah Rizal, pengunjung taman sepertinya sudah tidak terlalu ramai. Beberapa pemudi melewati mereka dengan wajah malu malu.


"Bantulah dirimu sendiri Diki, jangan sampai kenangan itu menghancurkan masa depan kamu."


Rizal meremukkan botol minumannya, lalu membuang ke tempat sampah.


"Sok bijak kau, tak sadar dirimu bujang?"


Meneguk minumannya lagi.


"Kau masih ingin disini atau pulang sekarang?" Mengalihkan topik pembicaraan, dasar Rizal.


"Nanti saja, aku masih ingin disini sendiri."


"Lihatlah, pasangan bahagia disana. Apa kau tak iri." Masih mempengaruhi sebelum benar benar pergi.


"Hai...kau!"


Belum selesai, yang diajak bicara sudah menjauh dengan sepedanya.


Diki mengamati dua orang tua yang nampak bahagia bermain dengan kedua putrinya. Dulu sekali, dia memiliki keluarga yang hangat.


Keadaan merubah segalanya, bisnis keluarga yang bangkrut menjadikan sang ayah sering marah marah.


Kedua orang tuanya sering bertengkar, entah setan apa yang membuat sang ayah tega melakukan KDRT. Hingga berakhir dengan meninggalnya sang ibu. Kejadian itu juga membuat kakak Diki kabur dari rumah, sedangkan ayahnya meninggal setelah empat tahun di penjara karna serangan jantung.


"Huffft, kau benar Rizal."


Mendongak kelangit yang biru, seterusnya diapun pergi dari sana dengan mengendarai sepeda.


🌿🌿🌿


Berbeda dengan suasana hotel pagi ini. Nabila telah bersiap untuk pergi. Riko datang bersama seorang pria yang memakai jaket kulit hitam. Perawakannya setara dengan Riko hanya saja lebih terlihat dingin dan lebih gelap warna kulitnya.


"Semua sudah siap sir?" Riko


"Kamu bisa tunggu kami dibawah."

__ADS_1


Riko pun berlalu dengan koper ditangannya.


"Kita tunggu di bawah" Pengawal mengambil koper yang dibawa Riko tepat didepan pintu.


Steven duduk bersama Nabila diikuti pria yang datang bersama Riko.


"Bagaimana, apakah ada hal yang mencurigakan?" Nabila mulai pembicaraan.


"Mereka belum beraksi. Tapi kau tenang saja, bintang kecil aman dalam pengawasan dariku, aku juga sudah menempatkan orang terpercaya disana."


"Aku percaya padamu Dev." Steven menepuk bahu Devan.


"Ini berkas perusahaan kita, aku pasrahkan semua padamu, tapi ingat yang terpenting adalah keselamatan Ziya."


"Iya, aku pastikan semua aman terkendali." mengacungkan jempolnya.


Bersamaan ini, aku akan mencari adikku.


"Devan, terima kasih kau sudah mau repot menjaga adikku, ingat satu hal Devan, tante Maya orang yang plin plan, awasi juga dia. Aku sebenarnya tidak suka akan sifatnya itu, tapi mau bagaimana lagi, Ziya mengatakan bahwa dia mencinta Aditya."


Nabila ingat betul saat hendak keluar ruang meeting saat itu, Maya datang dan langsung bersujud di kaki Nabila meminta maaf, dengan sejuta kata penyesalan. Tak tega melihat itu, Nabila pun memaafkannya.


"Pasti, semua akan baik baik saja. Aku pun tak rela jika Ziya mengalami hal yang buruk."


Bersungguh-sungguh mengatakan itu, tapi Steven menganggap itu sebagai sifat profesionalisme dalam bekerja.


"Baiklah, kami berangkat sekarang."


"Sekali lagi terima kasih Devan, kau memang kakak terbaik untuk kami." Nabila memberikan pujiannya tulus dan memeluknya.


"Maafkan aku!"


"Tidak Devan."


"Aku pergi dulu."


Ganti kini Steven yang memeluk Devan. Nabila melangkahkan kakinya menuju mobil. Devan menanti sampai mereka tak terlihat lagi.


"Terima kasih Steven."


Nabila memeluk Steven, ciuman kecil dia berikan tanpa sadar ada supir disana.


"Untuk!"


Pura pura tidak tahu.


"Untuk semua yang kau berikan padaku, aku juga berterima kasih karena kau sudah mempertemukan aku dengan Devan lagi. Tapi bagaimana kalian bisa saling mengenal?"


"Dari papa, dia dulu bekerja sebagai pegawai kami, pernah ketika papa dalam perjalanan dihadang oleh musuh musuhnya, saat papa terdesak, datanglah Devan membantu, akhirnya papa merekrutnya jadi asisten pribadi, dan dia menerimanya."


"Devan sudah lama sekali tidak pulang kerumah." Nabila menjeda omongannya.


"Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang papa berikan, aku saja harus memohon dan melakukan barter untuk membawanya ke Indonesia."

__ADS_1


Steven tersenyum kecut.


"Maksudmu!" Nabila menaruh curiga pada kata kata Steven.


"Sudah, forgeted, sekarang ceritakan padaku bagaimana ayah membawanya pulang." Mengalihkan pembicaraan, dia tak mungkin mengatakan jika Nabila lah barter yang dimaksud.


"Aku ingat betul saat ayah menemukan seorang bocah yang penuh dengan luka dan bajunya terkoyak. Beberapa teman mengepung dan meledeknya. Dia sosok yang begitu kurus dan buruk.


Nabila pun mulai cerita.


"Sampai dirumah, dia makan dengan begitu lahap, haha mungkin dia sangat kelaparan."


"Kau tahu sayang, saat itu aku tidak suka dengan kehadiran Devan, tapi dia selalu baik dan peduli dengan diriku. Ibu sangat perhatian dengannya, dia di belikan baju baru dan semuanya. Aku merasa terabaikan, sehingga kadar kebencian ku pun bertambah."


"Ibu mertua begitu baik ya." Steven merespon cerita Nabila.


"Hemmh."


"Lalu." Merangkul pinggang Nabila.


"Capek juga bercerita." meletakkan kepalanya di bahu Steven.


"Nanggung cerita kok setengah setengah, kapan kamu baikan dengan dia." Mengecup rambut Nabila.


"Suatu hari aku dibuly oleh teman temanku, datanglah Devan menolong. Saat itulah aku merasa penting memiliki kakak. Agar ada yang selalu menjagaku dari orang orang yang berniat jahat. Dia tiga tahun lebih tua dariku, cara berpikirnya pun sangat dewasa. Ayah semakin bangga terhadapnya.


Dia bercita cita menjadi orang yang kuat agar bisa melindungi diri dan keluarganya. Devan anak yang pintar dan cerdas. Tidak seperti diriku, dia sekolah keluar Negeri atas kemampuan yang dimilikinya, sedangkan aku mengandalkan uang pemberian ayah."


Tapi setelah dia keluar Negeri, kami tidak pernah bertemu lagi, ternyata dia mengikuti pendidikan militer selama ini. Padahal setahu kami, beasiswa yang dia ambil manajemen. Dia melakukan keduanya atau bagaimana kamipun tidak tahu. Kamipun susah menghubunginya, hingga kemarin saat kau menawarkan mata mata untuk menjaga Ziya."


"Tapi kenapa kamu tidak mengenalnya saat bertemu saat itu?"


"Aku pangling saja, dia lebih tinggi dan berotot, kulitnya juga sedikit gelap."


"Sebentar, apakah kamu sengaja memberiku kejutan saat itu?"


Andai benar pasti Nabila sangat bahagia.


"Tidak."


Jawaban jujur kadang terdengar mengecewakan ya.


"Aku tidak tahu jika yang dimaksud keluarga oleh Devan adalah keluarga kamu sayang. Aku hanya melihat totalitas kerjanya begitu bagus, jadi tidak ada salahnya aku menugaskan dia untuk bekerja rangkap sekaligus, menjaga Ziya dan mengawasi perusahaan."


"Owhh"


Nada kekecewaan sebenarnya ada, tapi Nabila bersyukur ternyata Steven sangat jujur padanya. Hingga dering nada handphone miliknya berbunyi.


"Ya hallo."


**Bersambung.....


Selamat membaca**

__ADS_1


__ADS_2