
Di rumah Bagaskoro hari hari berjalan seperti biasanya. Sejak kepergian Nabila, Ziya tiap pagi melakukan call dengan sang kakak. Ada saja yang mereka bahas, mulai dari kesibukan masing-masing sampai hal hal sepele. Pokoknya jauh di nyata dekat di maya gitu lah.
Seperti pagi ini, Ziya baru saja selesai ngobrol dengan kakaknya sambil menyiapkan baju untuk suami pergi ke kantor.
"Sudah telponnya."
Aditya keluar kamar dengan handuk melingkar di pinggang dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut.
"Sudah! sini aku keringkan rambut kamu." mengambil alih handuk yang dipegang suaminya.
"Sudah kering, ayo dipakai bajunya." Sambil tersenyum.
"Pakaiin dong." melepas handuk dipinggangnya otomatis Ziya menutup matanya dengan kedua tangan.
"Sayang, kamu kenapa buka itunya?"
Apa dia tak punya malu ya. ishhh
Aditya segera memakai celana dalamnya saja. Mendekati Ziya dan meraih tangan Ziya yang tetap memejamkan matanya.
"Hai, buka matamu."
"Iya sayang, aku akan buka mata tapi kamu ganti baju ya."
masih menutup mata. Aditya malah tersenyum devil.
"Enggak mau, kamu yang harus pakaiin!"
Aditya memakai bajunya lengkap.
"Sayang ayolah, kamu pakai bajunya dong."
"Tidak mau, aku maunya telanjang aja disini sama kamu."
Mengatakannya tepat di telinga Ziya sambil menggigitnya pelan. Satu tangannya lagi bergerak meremas buah dada Ziya. Ziya merasakan sensasi luar biasa membuatnya meremang, ditambah lagi bibir Aditya berpindah ke bibirnya, bibir itu menyatu sempurna, lidah Aditya menelusup masuk bermain dengan lincah disana.
"Bernafas sayang."
Aditya menjeda pagutan itu tapi tidak dengan tangannya, mulai masuk kedalam baju. Sentuhan itu membuat Ziya semakin terangsang.
"Ahhh kau harus kekantor sayaaang, nanti kesiangan."
Berusaha mengendalikan nafsu yang mulai mengajaknya bermain.
"Sebentar saja ya." Aditya menahan gejolak yang tak mungkin dia tahan.
"Tapi mas harus ke kantor katanya ada meeting pagi." Ziya mencoba mengingatkan, walau sebenarnya dia juga menikmati sentuhan yang Aditya berikan.
"Baiklah, tapi kau harus temani aku ya."
Aditya menetralkan nafasnya yang memburu.
"Hahhh tapi aku...!"
"Tidak ada bantahan, kamu harus ikut."
"Baiklah, aku pasangkan dulu dasinya."
Ziya berjinjit, rambut panjangnya terurai indah melambai mengikuti pemiliknya saat memakaikan dasi untuk Aditya, Aditya meraih pinggang istrinya, dan menciumi pipi Ziya bertubi tubi.
"Anteng dulu dong sayang, ini kapan kelarnya kalau kamu tidak mau diam?"
Masih menerima ciuman yang Aditya berikan, malah pindah ke ceruk dan leher.
"Aku sudah tidak tahan lagi."
__ADS_1
Nafasnya mulai memburu, mata yang mulai memerah menunjukkan betapa kuatnya nafsu yang ditahan.
"Sebentar saja ya." Ziya hanya mengangguk pasrah.
Aditya mencium kembali bibir Ziya dengan lembut, tangan kanannya memegang tengkuk, tangan kiri meraba dada meremas lembut disana, membuat Ziya semakin mabuk kepayang.
"Ahhh."
Desahan lolos begitu saja, membuat Aditya makin menjadi. Tangannya melucuti baju atasan Ziya hingga telanjang setengah badan, tangan itu mulai merambat turun kebawah, meraba raba dengan halus setiap lekuk tubuh Ziya. Hingga sampailah pada hutan gambut yang terasa halus, Aditya memainkan jemarinya di sana. Ziya menggelinjang meminta lebih. Aditya semakin bersemangat dibuatnya.
Pagutan mereka semakin mendalam, Ziya berusaha mengimbangi permainan suaminya, meski masih kaku, menautkan lidahnya saling menyesap dan berbagi air liur.
"Nah, gitu dong sayang, mulai pinter ya." Suara yang begitu lembut membuat wajah istrinya semakin merona.
Aditya menindih tubuh istrinya menggesekkan tongkat ajaib yang sudah menegang sejak tadi. Pinggulnya di goyangkan perlahan, setelah melucuti pakaian istrinya yang tersisa.
"Sudah siap sayang?"
Abis itu tau sendirilah apa kelanjutannya hehe . Author bingung nulis kelanjutannya.
Dilantai bawah Rizal berulang kali memeriksa jam ditangannya, sedikit sedikit menoleh ke arah tangga, berharap tuannya turun.
Kenapa tuan belum turun juga ya.
Kopi dihadapannya habis tak tersisa, diapun memutuskan menelpon sekretaris untuk mengundurkan waktu meeting mereka pagi ini.
"Rizal, kamu tunggu saja disini, jangan ganggu kamar pengantin ya."
Peringatan nyonya besar tergiang jelas di telinganya.
"Memang kenapa om?"
"Menikahlah, kau akan tahu jawabannya." menepuk pundak Rizal."
"Tuan Rizal, apa perlu aku buatkan kopi lagi."
"Tidak usah Cak, kau lakukan saja pekerjaan yang lain."
Cak Ali pun pergi meninggalkan Rizal yang mulai membuka laptop ditangannya.
Lebih baik aku menunggu sambil bekerja. Hufft emang apa yang dilakukan tuan di kamar sampai bangun kesiangan begini ya. batin Rizal.
Waktu pun bergulir, Rizal dan Aditya sudah sampai di kantor nya. Disambut oleh sekretaris yang membacakan agenda untuk hari ini. Meski ada pengunduran waktu satu jam tapi semua berjalan dengan lancar. Aditya menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mengetik sesuatu pada hpnya.
π *Sayang, sudah makan siang atau belum?
π Sebentar lagi sayang, aku sama ceff Rina bikin puding kesukaan kamu.
πKirim fotonya*.
Diketuk ketuknya layar hp menunggu jawaban istrinya.
π*Malu ah sayang.
πHai, ayolah kenapa harus malu! cepat kirim*.
Perintah mutlak.
π Cepat kirim atau, aku akan pulang sekarang.
Ziyapun mengirimkan satu foto dirinya beserta ceff Rina dan juga puding yang berada dimeja.
πItu kenapa ada wewe gombel disana? merusak pemandangan saja. Foto lagi yang sendiri.
Ziya membaca pesan, nampaknya matanya melirik ke arah Rina, senyum terbit di bibirnya yang mungil.
__ADS_1
"Ceff bantuin aku ambil foto ya."
Menyodorkan hp miliknya pada Rina.
"Baik nona."
"Ini nona?" Selesai dengan bidikannya.
"Terima kasih ya."
Ziya memilih foto yang menarik, lalu dikirimkan pada Aditya.
π*Sayang, kenapa foto doang.
πLha tadikan minta foto kamunya.
πLain kali harus ada kata kata manisnya.
π Gula kalek*.
Tak berapa lama panggilan masuk.
"Halo sayang, kenapa menelpon?"
"Cepat katakan sesuatu, aku kangen."
Kenapa dia sekarang lebay begini seh, dan jantungku kenapa berloncatan begini.
"Katakan apa sayang?"
Bingung dengan perintah suaminya. Diapun meminta izin pada Rina melalui kode untuk menjauh dari dapur.
"Apa kau lupa tadi pagi."
Ziya mengingat ingat kejadian pagi tadi, tapi tidak ada sesuatu yang seperti Aditya minta.
"Sayang aku kok tidak ingat ya."
Mengulur waktu sampai ditempat sepi sehingga tak di dengar orang lain. Ziya masih malu jika harus mengumbar kemesraan dirinya dan sang suami.
"Baiklah, aku akan pulang dan mengingatkan dirimu saat ini juga."
"Ah tidak tidak, iya aku ingat."
"Ayo cepat katakan."
"Suamiku tercinta, yang manis dan yang menggoda I love you."
"Apa kamu bilang, coba ulangi lagi."
Dia ini kenapa sehh, tak tahu apa aku lagi deg deg an gini walau hanya bilang i love you.
"Memangnya harus banget gitu ya."
"Harus, cepat katakan."
"Suamiku yang manis dan menggoda i love you. Sudah ya sayang aku mau lanjutkan bikin pudingnya." Ziya benar benar malu setelah mengatakan itu.
"Baiklah sayang, selamat beraktivitas emmuah."
Ziya menutup panggilan dari suaminya, wajahnya berbinar. Diapun membalikkan badannya.
"Auwhh kau, sejak kapan berada disini?"
**Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya karna kesibukan dunia nyata jadi jarang up. Author sebenarnya juga sedikit enggan karna rate yang merosot ayo dong bantu author dengan kasih like, komen dan vote, jangan lupa juga bintang lima ya**.