Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Mencari tahu


__ADS_3

Ziya mendatangi kamar Syita. Foto yang ditunjukkan oleh Rafa membuatnya khawatir. Ziya juga tidak pernah melihat Syita berdandan seperti itu. Dan tempat seperti itu, Syita bukan anak yang suka dunia malam. Aditya sangat menjaga adiknya.


Tadi Ziya menerima telpon dari Rafa. Rafa mengatakan jika, dia bertemu Syita dalam keadaan mabuk dan sedang berada di apartemen miliknya. Dan pagi ini saat bangun Rafa sudah tidak menemukan Syita.


"Syita...!" Ziya memanggil sambil mengetuk pintu. Syita membuka pintu dengan rambut basahnya.


"Sini kakak bantu mengeringkan rambut, kamu." Keduanya masuk kedalam kamar, Ziya mulai mengeringkan rambut Syita dengan handuk, lalu mengambil hairdryer. Ziya juga menyisir rambut Syita. Ziya masih mencari momen yang pas untuk menanyakan sesuatu yang dia ketahui. Tanpa membuat Syita tersinggung. Dia menyanyangi Syita seperti adik sendiri.


"Syita!"


"Iya, kak!"


"Apakah, kau pergi ke suatu tempat tadi malam?"


"Kakak lagi mimpi ya!" Malah memegang dahi dan pipi Ziya. Ziya juga di buat bingung dengan pikirannya sendiri.


"Maksudku, ya kali aja setelah kita pulang, kamu pergi lagi ke suatu tempat gitu?"


"Mana ada, kak. Aku langsung tidur. Eh ini sudah hampir siang ya, kakak nggak bikin sesuatu buat kita bawa ke kantor kak Aditya." Beberapa kali Syita melirik layar ponselnya.


"Baiklah, kakak akan buat bekal untuk kita makan siang di kantor." Tersenyum memegang pipi adik ipar tercinta.


"Huffft." Syita menarik nafas lega setelah kepergian Ziya. "Saatnya aku mengangkat telpon, dia. Oh beginikah rasanya jatuh cinta." Syita melompat lompat diatas kasurnya sendiri.


Sedangkan itu, di dapur Ziya banyak melamun sambil menunggu cheff Rina dan cheff Rio menyelesaikan masakan mereka. Dilihatnya cak Ali membuka kulkas.


"Cak, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Iya non boleh, silahkan!" mendekati Ziya sambil membawa botol minumannya.


"Sambil diminum, Cak." Ziya meraih dan membukakan botol minuman untuk pria paruh baya itu. Cak Ali merasa sangat terharu dengan apa yang Ziya lakukan.


"Cak Ali sudah berapa lama kerja disini?" Ziya bertanya setelah Cak Ali meletakkan minuman di meja.


"Sambil duduk sini dong Cak, nggak lagi sibuk kan?" Ziya menarik kursi di sampingnya. Cak Ali hanya menurut dan dua cheff nampak asyik dengan pekerjaan masing masing sambil curi dengar obrolan mereka.


"Saya sudah bekerja sejak, tuan muda belum lahir. Saya dulu bekerja di mansion utama. Dan ikut pindah tuan besar setelah menikah dan menempati rumah ini."


"Emmh, berarti sudah lama banget ya, Cak!"


"Masa kecilnya suami saya seperti apa ya, Cak!"

__ADS_1


"Tuan muda sangat baik, nona. Selain pintar, tuan muda adalah sosok yang penyayang, dan belas kasih. Tuan muda juga ramah kepada semua orang."


"Apa itu benar, Cak!" Karna setahu Ziya, Aditya jarang bicara kepada orang lain.


"Benar nona, tuan muda juga perhatian kepada semua orang. tuan juga termasuk anak yang sangat patuh pada orang tua. Tapi...karna nyonya besar, tuan menjadi sosok yang berbeda." Cak Ali matanya berkaca kaca Ziya dengan tenang menunggu lanjutan cerita Cak Ali.


"Cak, memangnya apa yang mama lakukan?"


"Maaf, nona. Anggap saja saya tidak pernah berkata seperti tadi." Cak Ali berdiri dan ingin menghindar dari Ziya.


"Tunggu, Cak. Saya belum selesai!" berdiri dan menghadang Cak Ali.


"Maaf nona!" Cak Ali tampak pucat. Ziya mengerti kalau orang di hadapannya ini tak ingin mengumbar aib majikannya.


"Baiklah, Cak. Saya paham saya berterima kasih Cak Ali bisa di percaya menjaga aib di keluarga ini." Ziya tersenyum, sedang Cak Ali menatap sebentar dan menunduk lagi.


"Owh ya, Cak. Apa tadi malam Syita keluar rumah lagi?" Cak Ali menatap Ziya dengan alis mengkerut.


"Maksudku setelah, dia pulang bersamaku apakah, dia keluar lagi?"


"Tidak nona! nona Syita tidak keluar dari kamar sampai tadi pagi." Ziya mencari kebohongan dari wajah Cak Ali tapi sepertinya Cak Ali berkata jujur.


"Saya permisi dulu, nona. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."


"Sama sama, nona."


🌿🌿🌿


Di kantor


Dona kini bernafas lega. Dia keluar dari ruang rapat dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Masih mengatur nafas berulang kali sambil memejamkan mata. Berjam jam lamanya dia harus bertatap muka dengan pria yang dia jumpai di lift waktu itu.


"Aku harus segera kemejaku sebelum pria itu selesai berbicara dengan Aditya." Dona berjalan cepat menuju ke meja kerjanya.


Tadi saat masuk."Anda..!"


Dona begitu terkejut, saat di pertemukan lagi dengan pria gila yang di temuinya di klub malam itu.


"Kau!"


"Apa kalian saling mengenal?" Aditya curiga.

__ADS_1


"Tidak." Dona menghindar.


" Iya." Jawab pria yang bernama Rama Sanjaya dengan santai.


Aditya dan Rizal menatap keduanya bergantian.


"Maksudku, aku tidak mengenalnya. Aku bertemu dengannya satu kali di hotel kemarin. Ah iyah seperti ituh." Dona mengeratkan pegangan mapnya erat. Dan pria itu tersenyum licik.


"Itu yang kedua, kami bertemu pertama kali di klub." Ujarnya santai. Dona makin melotot.


"Forgeted tuan Aditya, mari kita mulai meeting kita." Rama masih memandang Dona mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum devil.


Dona masih memejamkan matanya, bersandar pada kursi. Bayangan wajah pria itu seperti tak mau lepas dari ingatannya.


"Aku bisa gila jika seperti ini terus." Hufft.


Dona masih dalam lamunannya. Saat Ziya dan Syita datang untuk makan bersama Aditya. Ziya juga menyapa dan bertanya dimana Aditya. Tapi tak ada respon sampai Syita memegang pundak Dona.


"Ah jangan sentuh, aku!" pekik Dona terkejut.


"Maaf, tapi kamu dari tadi, kamu tidak menjawab pertanyaan, kami!" Syita berbicara.


"Tisya, sejak kapan kamu kemari. Dari mana kamu tahu aku kerja di sini?" Memegang pundak Syita.


"Maaf, tapi namaku Syita bukan Tisya." Dona malah terbengong.


"Iya, dan kami kesini ingin bertemu dengan tuan Aditya. Apakah dia ada di dalam." Kali ini Ziya yang berucap sambil tersenyum.


"Ah, tuan masih berbincang dengan kliennya. Kami tadi rapat tapi, aku di suruh keluar terlebih dahulu." Terang Dona melirik rantang yang di bawa Ziya.


"Kami kesini ingin makan siang bersama, kau gabung bersama kami nanti ya. Kami bawa makanan banyak kok!" Ziya menatap lembut Dona.


"Ah itu, tuan Aditya." Dona melihat Aditya dan Rizal mendekat. Keduanya pun menoleh.


"Hai, sayang!" Apakah sudah lama berada disini?" mencium kening istrinya. Dona sudah tahu dari Maya tentang istri Aditya dan saat bertemu, dia merasa kagum akan kecantikan alami yang dimiliki oleh Ziya. Lembut dan santun. Begitu penilaian Dona.


"Aku bawa banyak makanan untuk kita. Kita makan siang sama sama ya."


"Ah ya, dia Dona. Sekretaris baru aku." Lalu Dona dan Ziya juga Syita berjabat tangan perkenalan.


Kenapa dia bilang namanya Syita ya, bukankah dia bilang waktu itu namanya Tisya. Ah sudahlah. pikir Dona.

__ADS_1


Bersambung.......


Selamat membaca . jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2