Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 36 upaya.


__ADS_3

"Selamat pagi cantik!" yang disapa tidak bergeming sama sekali, hingga pria paruh baya itu mendekat lalu mengulurkan tangannya. "Kenapa tidak dijawab?" mengusap lembut rambut yang tergerai indah itu, lalu melabuhkan ciuman di dahi si gadis.


"Pagi!" ucap gadis itu lesu.


"Yang semangat dong Sayang."


"Zea ingin pulang Dad! Zea tidak suka bau rumah sakit. Zea selalu merasa tidak nyaman. Kadang ada dejavu yang membuat Zea seakan-akan pernah menjadi bagian dari rumah yang serba putih ini. Bahkan sampai terbawa mimpi."


Marcell tersenyum, meraih pundak anaknya, Zea dengan senang hati memasrahkan kepalanya di pundak sang ayah. "Tapi kau belum sembuh." bujuk Marcell.


"Apakah aku terlihat seperti orang sakit?" bukanlah pertanyaan sebenarnya, tapi sebuah keinginan agar Zea diizinkan pulang.


"Bukan begitu sayang, bukankah kau ingat kemarin? Kau pingsan lagi saat melewati ruang IGD, kondisimu drop kembali. Dady tidak suka itu. Sebab Dady khawatir jika anak Dady yang cantik ini kembali tidak mengingat Dady." hibur Marcell. Dia yang langsung pulang dari kantor saat mendapat berita jika Zea memaksa pulang. Infus dilepas dan Aditya menuntun Zea keluar. Belum mencapai pintu keluar, Zea sudah pingsan lagi.


"Dady, kalau dipikir-pikir, Zea percuma belajar ilmu beladiri!" Marcell mengernyit heran, kenapa tiba-tiba Zea mengatakan hal yang seperti itu.


"Maksud kau?"


"Zea sudah berlatih ilmu bela diri dan mahir dalam menggunakannya untuk melawan orang lain. Tapi Zea tidak mahir dalam menggunakannya untuk melawan sakit Zea.


Marcell terkekeh dengan penuturan putrinya yang aneh itu. "Pemikiranmu itu benar-benar kritis. Kamu benar. Musuh terberat manusia adalah dirinya sendiri." Zea duduk tegak kembali, menatap Marcell yang tengah merapikan anak rambut di dahi anaknya.


"Zea, Dady mohon, sebisa mungkin berjuanglah untuk dirimu sendiri, meski tidak dengan bela diri. Berjuanglah untuk selalu bertahan hidup, itulah jalan satu-satunya untuk melawan dirimu sendiri. Dady tidak sanggup jika harus kehilangan dirimu." mengusap lembut pipi anknya. Entah kenapa dia jadi begitu melankolis saat ini. "Jangan tinggalkan Dady sayang, apapun yang terjadi, jangan tinggalkan Dady ya! Sekian lama Dady lepas tanggung jawab terhadapmu. Maka kali ini, izinkan Dady menebusnya." Mengecup kembali tangan anaknya dengan begitu sayang.


"Dady, jangan sedih dong! Zea jadi ikutan sedih nih! Lagian, siapa juga yang mau pergi. Zea akan sembuh Dady. Terlebih, Zea sudah mendapatkan tambatan hati Zea." ucap Zea dengan malu-malu. Marcell menjawir dagu anaknya yang tengah menunduk malu.


"Benarkah? Apakah anak Dady sudah bisa merasakan jatuh cinta sekarang?" Zea tersipu malu, tapi kemudian kepalanya mengangguk lemah.


"Siapa pria beruntung itu Zea?"


"Dady pasti sudah sangat mengenalnya. Dia pria yang baik." lirih Zea.


"Hai, apa kau mencoba bermain tebak-tebakan sekarang?" tanya Marcell tidak sabar.

__ADS_1


"Dady, nanti kalau sudah saatnya, Dady akan tahu siapa orang itu. Tapi tidak dengan sekarang." Zea tersenyum dan kemudian memeluk Marcell.


"Apapun terserah kepadamu Princess, asal kau bahagia. Satu pesan Dady, jangan pernah tinggalkan Dady lagi!" mencium kening anaknya lagi.


✓✓✓


Rapat para investor asing berjalan dengan begitu lambat bagi Aditya. "Mereka selain lambat mikir ternyata juga begitu cerewet." melemparkan tubuhnya ke sofa. Aditya benar-benar lelah. Pekerjaan yang menumpuk, seakan menjadi neraka baginya.


"Jika begini terus, kapan aku meluangkan waktu untuk menjenguk Zea?" menyugar rambut kasar. "Ada baiknya aku menghubungi istriku itu. Aku berharap dia pura-pura hilang ingatan. Tersenyum sendiri. Namun beberapa detik kemudian, Aditya mur. "Ah! Kalaupun memang lupa ingatan, setidaknya berilah aku ruang di hatimu."


"Kenapa tidak diangkat?" mengamati ponselnya kembali. Mengulang hal yang sama. Tetap tidak diangkat juga. Aditya frustasi. "Apa aku harus kesana sekarang ya?" memikirkan sesuatu hal agar dia bisa pergi.


"Rizal! Keruangan saya sekarang juga!" titahnya tidak bisa dibantah. Menunggu beberapa menit.


"Ya Tuan, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" setelah sampai di ruang Aditya.


"Apa jadwal saya selanjutnya?"


"Ada janji ketemu dengan klien dari PT GUSA Tuan!" ucap Rizal.


"Tapi Tuan!"


"Apa?"


"Bukankah kita sudah menundanya dua kali pertemuan? Dan menurut saya, ini adalah kesempatan yang bagus untuk menekan Nona Marina agar memberikan penawar itu kepada kita!" Aditya berpikir sejenak sebelum senyum manis itu benar-benar terbit dari bibirnya.


"Bagus juga ide kamu! Baiklah! Majukan pertemuannya setengah jam lagi." Dasar bos. Mentang-mentang berkuasa, seenak jidatnya saja memerintah. Rizal harus memutar otak dan mencari alasan yang tepat agar rapat bisa segera dilaksanakan.


"Zal, jangan mengumpat. Atau kau akan kehilangan kesempatan ngedate dengan Lisa." Rizal menatap Aditya tidak percaya. "Jangan kamu pikir, aku adalah bos yang tidak memperhatikan karyawannya. Aku sudah membuat sebuah kejutan untukmu. Sebuah restoran mewah dengan menu terlezat serta anggur yang menggairahkan."


"Anda serius Bos? Anda menyiapkan itu semua untuk saya?" Rizal seharian penuh disibukkan oleh pekerjaan, padahal dalam hatinya ingin menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk Lisa yang tengah berulang tahun.


"Saranku, ada baiknya kau pesan sebuah cincin untuk mengungkapkan perasaanmu. Atau kesempatan mu akan lenyap selamanya." Rizal berjingkrak kegirangan dan memeluk Aditya dengan senangnya. Bahkan mencium pipi Aditya tanpa sadar. Dan bersamaan itu.

__ADS_1


krieeet.


"Tu_ maaf saya tidak melihat! Saya hanya mau menyerahkan berkas ini."


"Lain kali ketuk pintu?" titah Aditya, sedangkan Rizal masih bahagia tidak sadar bahwa tindakannya diartikan berbeda oleh sekretaris cantik itu.


Ganteng-ganteng kok miring, pantesan saja sampai saat ini tidak laku-laku. pikir sekretaris itu.


"Maaf, pak! Lain kali saya akan mengetuk pintu." Masih melihat ke arah Rizal dan Aditya dengan tatapan yang aneh, jijik, dan juga takut.


"Ngapain masih disana?" kesal Aditya, dia paham betul arti tatapan sekretarisnya. Berbeda dengan Rizal yang nampak cuek karena tidak sadar telah terjebak dalam kebahagiaan.


"Sa_saya permisi pak!" dengan sedikit terburu-buru akhirnya sekretaris itu keluar.


"Dasar cowok brengsek, Luh?" menimpung kepala Rizal dengan tumpukan map yang cukup tebal. Rizal yang tadinya sibuk berkhayal kini tersadar dengan kepala yang mendadak pusing.


"Paan se Bos!"


"Luh turunin harga diri Gua, Pe'ak!" Aditya bersungut-sungut jengkel.


"Owh, yang tadi, biarkan saja, toh yang lihat cuma dia doang!" ucap Rizal


"Hai, mulut itu lebih panjang daripada jalan tol." Rizal yang tidak mengerti itupun mengernyit heran.


"Mantra apaan itu Bos!"


"Itu pepatah peak! Yang artinya ucapan itu bisa menyebar dengan sangat mudah!"


"Tapi kayaknya tidak seperti itu, pepatah nya Bos!" Rizal mulai mengingat pelajaran anak SD tentang pepatah dan artinya.


"Terserah Gua lah, mulut-mulut Gua."


"Tau ah!" Rizal mengambil beberapa berkas dan meninggalkan ruangan Aditya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2