
"Devan, sepertinya kita telah melakukan kesalahan," ucap Marina yang kini tengah duduk berdua dengan Devan. Mereka kini berada di mobil menuju rumah mereka sendiri.
"Entahlah, tapi aku tidak punya pilihan lain," bela Devan seolah tidak bersalah. Sejujurnya, Devan mengakui bahwa dirinya menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
Flasback.
"Tuan Marcell, aku mohon anda mau memikirkan hal ini?" Devan saat itu tengah dilanda kekacauan sebab usahanya yang terancam bangkrut. Sahamnya turun drastis dan membutuhkan sokongan dana yang cukup besar.
Marina yang juga mengetahui itu, mengusulkan sebuah ide gila, dengan membocorkan sebuah rahasia. Bahwa Zea adalah anak dari Marcell, dengan tujuan, agar Marcell membantu mereka keluar dari masalah keuangan.
Awalnya Devan menolak, Devan tidak ingin Ziya nantinya kecewa kepada dirinya. Tapi satu sisi dia mulai terpengaruh oleh hasutan Marina.
"Daripada Ziya mengalami tekanan terus menerus dan terancam nyawanya, sebaiknya kita beritahu orang tua kandungnya, biar Ziya tidak terus-terusan menderita sebab perlakuan buruk mertuanya, selain itu, kita juga bisa menjalin kerjasama dengan mereka untuk menyelamatkan perusahaan. Aku yakin, Tuan Marcell pasti mau, terlebih Tuan Marcell juga mengenaliku sewaktu aku masih bersama Agung," ucap Marina waktu itu.
"Apa kau ingin menjual adikku?" Devan
"Bukan! Siapa yang menjualnya, kita hanya menyelamatkan dia dari siksaan mertuanya," kilah Marina mantap.
"Tapi bagaimana jika Aditya mengetahui hal ini?"
"Aku akan buat skenario bahwa Ziya seolah-olah sudah tiada. Aku menemukan mayat kecelakaan tadi siang, yang wajahnya hampir mirip dengan Ziya. Kita hanya perlu sedikit mengubahnya agar orang lain percaya bahwa itu memang Ziya." Otak Marina yang sudah dipenuhi oleh akal licik, sebab dia tidak mau hidup miskin sebab bangkrut, segala cara akan dia lakukan.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Devan, meski masih ragu untuk berbuat jahat. Marina pun mengatakan susunan strategi yang telah mengisi otak jahatnya. Tapi Devan belum mau menjalankan rencana itu, berharap Maya akan berubah sehingga Ziya mendapatkan kasih sayang dari mertuanya.
Hingga saat itu, Devan mendapatkan telpon dari anak buahnya yang mengatakan bahwa Ziya telah diculik oleh seseorang. Devan geram dan marah. Marina yang mengetahui hal itu, semakin menghasut Devan untuk membawa Ziya kepada Marcell dan menukarnya dengan kerja sama dan saham. Devan yang tidak bisa berpikir jernih, menuruti kemauan istrinya.
Sedangkan Ziya waktu itu masih dalam perawatan dan tidak sadarkan diri pasca operasi, diculik oleh orang-orang suruhan Maya.
Ziya waktu itu dibawa kabur oleh orang suruhan Maya. Maya memindahkan Ziya ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuan Aditya. Bahkan Lisa diancam agar mau tutup mulut dan lagi-lagi Maya membuat ulah. Dia ingin menyingkirkan Ziya dari kehidupan Aditya, dengan menyuruh mucikari untuk membawa Ziya.
Devan yang mengetahui hal itu menjadi geram. Tapi kekuatan Devan masih kalah dibawah Maya, sebab dia belum bisa menormalkan kekuatan yang dimiliki Agung dahulu. Steven telah menghancurkan semuanya.
__ADS_1
Devan akhirnya meminta bantuan kepada Marcell agar bisa membebaskan Ziya dari cengkeraman Maya dan temannya Maya. Yang notabenenya adalah seorang Mucikari
"Aku sangat tahu siapa Maya, yang aku takutkan adalah, mungkin saja Maya ingin menjual Ziya seperti yang pernah dia lakukan kepadaku dulu," ucap Marina
Devan tak bisa lagi menahan diri setelah mendengar semuanya. Devan memantapkan hatinya untuk membawa Ziya kabur dari Aditya dan mengembalikan gadis itu kepada orang tua kandungnya. Agar Ziya hidup bahagia tanpa kejahatan Maya.
"Devan, bagaimana jika nanti Aditya tahu kebenarannya?"
"Kita akan hadapi Aditya sama-sama! Dan satu hal yang perlu kita tahu, Nabila juga mengetahui hal ini," ucap Devan yang membuat Marina terpengarah.
"Kapan?"
"Mungkin sejak lama."
"Tapi kenapa Nabila diam saja kalau tahu semuanya?"
"Sebab Nabila juga tidak mau Ziya terluka lagi, apalagi sampai dijual kepada mucikari oleh Maya,"
"Zea, bukankah harusnya kau istirahat dikamar, Sayang?" Marcell segera mendekati anaknya yang sudah hampir mencapai anak tangga. Marcell bahkan mengernyit heran dengan penampilan Zea yang nampak berbeda. "Harusnya, kau lewat lift saja!" Marcell memegang tangan Zea, lalu menuntunnya untuk turun.
"Dady, aku tidak sedang sakit." rengek Zea menepis tangan Marcell yang hampir menyentuh keningnya.
"Mau pergi kemana? Jangan keluar rumah dulu, Sayang. Kondisimu belum membaik," khawatir Marcell, meski tangannya dicekal tapi tetap saja masih memeriksa kening Zea dengan tangan yang satunya.
"Dady, aku hanya pergi sebentar saja kok! Jangan khawatir!" Menarik lembut lengan Marcell dan bergelayut manja disana, Marcell mengecup kening putrinya dengan lembut. Beberapa saat Marcell termenung, memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi suatu saat nanti.
Bukan tidak mungkin, jika suatu saat nanti, Zea akan menemukan ingatannya kembali. Zea suatu saat akan menyadari bahwa selama ini dia dibodohi. Dan ketika hari itu tiba, akankah Marcell sanggup berpisah kembali dengan putrinya.
"Dady, Aku mengundang seseorang untuk malam bersama kita direstoran milik kita, sebagai ucapan terima kasih Zea kepada orang itu. Sebab orang itu yang telah menolong Zea malam itu," Zea menggoyangkan lengan ayahnya. Bibirnya cemberut sebab merasa diabaikan. Marcell sejenak merasa bersalah, sebab tidak bisa menjaga Zea, walau sebenarnya itu adalah kecerobohan Zea sendiri.
"Zea, Dady minta agar kecerobohan malam itu tidak kau ulangi lagi."
__ADS_1
"Dady pikir, aku berlatih selama dua tahun hanya untuk berlindung diketiak Dady, iya!" sungut Zea. Zea lebih menyukai kebebasan tidak begitu suka dengan pengawalan yang dibentuk oleh Marcell untuk dirinya.
Marcell terkekeh, putrinya ini begitu mirip dengan Jenna, keras kepala dan cepat belajar segala sesuatu. Namun wajahnya terlihat polos mirip dengan ibu rahimnya yang juga ibu kandungnya. Keduanya memang memiliki wajah yang hampir sama, tapi dengan sifat yang berbeda. Zea memiliki kedua kombinasi itu. Gadis berwajah Asia, tapi hidungnya mancung, bola matanya coklat seperti Mila tapi rambutnya berwarna coklat persis milik Jenna dan Mike. Padahal Marcell memiliki warna rambut hitam.
"Dady, apa Dady mendengar apa yang aku ucapkan?" Zea semakin sebal sebab ucapannya tidak ditanggapi oleh Marcell.
"Ah, iya. Mau kemana kamu tadi?" Marcell tergagap namun mencoba menyembunyikannya.
"Makan malam di restoran kita, Dadyyy!"
"Apakah dengan seorang pria? Kau terlihat begitu cantik?" Marcell nampak curiga dengan gelagat Zea yang nampak merona. Pakaiannya juga terkesan lebih mewah daripada biasanya, lebih mirip seperti orang yang hendak pergi kondangan.
"Dady! Malam ini, aku mengundang seseorang untuk makan malam bersama kita, bukankah sudah aku jelaskan tadi."
"Ooooo, hanya itu?"
"Astaga Dady! Aku juga mengajak Dady!" pinta Zea setengah memaksa, lalu menarik lengan Dadynya dengan segala kekuatan yang dia punya.
"Hai, harusnya Dady ganti pakaian dulu!"
"Tidak usah! Nanti kita malah terlambat. Kan malu Dad!"
"Tuan, Nona, Anda akan keluar?" heran Mon yang kini berada di depan pintu utama.
"Tentu Mon, kami akan malam bersama seseorang!" ucap Zea antusias. Mon menatap kearah Marcell yang nampak menggidikkan bahunya, seolah menjawab bahwa dia tidak tahu siapa yang akan makan malam bersama dirinya nanti.
"Dengan pakaian Tuan yang_"
"Mon, kami hanya makan malam, kenapa reaksimu begitu? Sudahlah, kita pergi dulu, ya! Bay."
"Apa Tuan tidak sadar, dirinya masih memakai celana pendek dan kaos rumahan?" gumam Mon sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung....