Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Tisya buka Syita


__ADS_3

Kekacauan dua jam lalu telah selesai. Kini gantilah dua orang terengah engah di sofa. Adu tanding antara Aditya dan Rama pun terjadi. Sebelumnya Aditya mendapati ponsel Tisya ya dia Tisya bukan Syita.


"Syita, kenapa bisa di handphone kamu banyak foto bersama relasi kerja saya ini." selidik Aditya.


Tisya belum menjawab tapi Aditya yang tersulut emosi tidak bisa disela bicaranya.


"Apakah kau begitu akrab sampai peluk pelukan dengan orang itu Syita." Tisya yang di sangka Syita itu pun gemetaran. Meremas tangan berulang kali. Para bodyguard dan pelayan tidak ada yang berani melerai.


"Sayang, yang sabar dong. Jangan kayak gini!" Ziya hampir menangis karna kemarahan Aditya.


"Jawab Syita. Sejauh mana kamu mengenal orang itu. Apakah sudah lama hah!" Tisya semakin bingung di buatnya.


Ya tentu saja, diakan dady aku. Tapi hanya di batin karna amarah Aditya membuatnya tak berani bicara.


Selang berapa lama timbullah kekacauan dialuar. Rama datang dengan Devan sambil marah marah.


"Ya halo ada apa Rama?"


"Devan, tolong bantu saya untuk menemukan Tisya. Kamu sudah lama di sini saya yakin kamu pasti tahu seluk beluk kota ini."


"Apa....bagaimana bisa?"


Ya, Tuhan ...Devan tepok jidat. Baru ingat jika yang membawa pulang Tisya adalah Rafa.


"Aku bingung Devan, dari tadi nyariin tapi tidak ketemu juga."


"Aku akan kesana kau tunggu sebentar."


Devan menuju tempat dimana Rama mencari anaknya.


Tapi sebelum itu, Devan menelpon Rafa. Akhirnya di ketahui Tisya berada di rumah Bagaskoro.


"Kami rekan kerja tuan Aditya kami ingin bertemu dengannya." ucap Devan saat berada di depan gerbang. Dan saat di persilahkan, kesalahpahaman terjadi. Aditya mengira Rama menjadi Dady sugar Tisya yang di sangka Syita.


Adu mulut pun terjadi Rama menduga keluarga Bagaskoro sengaja menyembunyikan Tisya dan ingin mengambil Tisya darinya. Akhirnya adu jotos tidak terelakkan.


"Bagaimana bisa, kau menganggap kami akan mengambil anakmu? jika aku tahu itu bukan Syita pasti sudah kami kembalikan pada orang tuanya." Aditya mulai mereda emosinya. Dengan telaten Ziya mengobati luka suaminya itu.


"Makannya jangan main otot. Lain kali cari kebenarannya." Ziya setengah berbisik memarahi suaminya. Malu juga jika di dengar orang lain tapi mau gimana lagi jengkel seh.

__ADS_1


"Tentu saja. Buktinya kau tidak membiarkan dia pulang kan."


"Itu karna, kami anggap dia Syita."


"Iya ya, aku tahu terima kasih sudah merawatnya, tuan. Dan maaf jika kami membuat keributan di sini.


"Saya juga meminta maaf tuan karna menuduh anda yang bukan bukan."Ziya yang menyahut. Aditya hanya diam mendengarkan.


"Tidak apa nyonya Aditya. Kami memaklumi itu, saya juga akan bertindak hal yang sama jika terjadi dengan Tisya."


Akhirnya mereka pamit.


"Tisya kenapa kamu harus pergi ke klub. Dan teman teman kamu itu semuanya nggak bener." Mereka sudah perjalanan pulang.


"Tisya bosen di rumah pa, nggak ada temen. Maafin Tisya pa, mereka teman baru Tisya, Tisya tidak tahu jika mereka tega melakukan itu." Ucap Tisya sendu.


"Baiklah, anggap ini sebagai pelajaran buat kamu. Berteman dengan siapa saja boleh Tisya, tapi alangkah lebih baik jika kau selektif agar tidak terjerumus dalam hal hal nggak bener seperti yang kamu alami. Bagaimana jika tidak ada yang menolongmu waktu itu. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya."


"Iya pa!" Tisya akan lebih hati hati lagi.


Diruang apartemen seorang wanita memainkan benda pipih di tangannya. Anaknya yang tidak pulang cukup membuatnya cemas. Tak berapa lama seorang pria dengan setelan jas yang melekat di badannya terlihat lesu.


"Bagaimana pa? Apakah Syita sudah ketemu."


"Jangan sok cemas ma, bukankah mama sudah tidak peduli kepadanya." Denny pergi ke kamarnya dan membanting pintu. Tapi selang berapa lama keluar lagi dengan baju yang sudah berganti.


"Papa mau pergi lagi? mau kemana pa." Tak menghiraukan pertanyaan istrinya.


"Papa, pa." Akhirnya hanya mengikuti suaminya tanpa bicara. Denny membawa mobilnya menuju rumah Bagaskoro.


"Yah kesini lagi, aku enek lihat perempuan itu." cerocos Maya. Denny hanya menghembuskan nafas masuk ke dalam rumah.


"Dimana Aditya, Cak?"


"Diatas, tuan."


"Kenapa nggak pergi kerja aja seh. Gara gara Syita aja sampai bolos kerja." Gumam Maya. Denny masih tidak peduli menaiki tangga menuju kamar anaknya.


"Pakai ganti password segala seh pasti ulah perempuan itu." Gini nih tipe pembenci main tuduh aja.

__ADS_1


"Ingat, mama jangan bersuara. Atau papa akan beberkan semuanya pada Aditya." Menunjuk Maya sebelum benar benar masuk. Maya hanya mengangguk.


"Eh papa dan mama mari silahkan masuk." Sapa Ziya ramah diapun menyalami kedua mertuanya.


Denny masuk ke dalam kamar anaknya di lihatnya Aditya duduk bersandar pada ranjang sambil berselonjoran. Ada laptop juga beberapa berkas bertebaran di karpet berbulu tebal itu. Hangat dan nyaman itulah kesannya.


"Kok di bawah, sayang. Pasti perempuan itu kan yang punya ide." Maya mulai mengeluarkan tanduk. Denny menatapnya tajam, diapun terdiam.


"Bagaimana keadaan kamu, nak." Denny mendekati anaknya dan mengelus pipi Aditya yang lebam lebam membiru.


Maya duduk anggun di sofa dengan angkuh. Ziya ikut duduk di bawah bersama papa mertua dan suaminya.


"Aditya baik, pa. Tapi Syita belum bisa kita temukan. Terakhir pengawal yang aku tugaskan mengawasinya mengalami luka tusuk yang dalam. Hingga dia tidak sadarkan diri."


Aditya menjeda omongannya menutup laptop dan mulai bicara lagi.


"Pengawal bilang, sebelum dia benar benar pingsan sempat melihat ada seorang pemuda yang menolong mereka."


"Apakah tidak ada saksi mata kejadian itu."


"Entahlah, pengawal kita ketika sadar sudah di rawat di rumah sakit. Tentu saja dia tidak tahu kemana perginya Syita. Kami sudah menelusuri rumah sakit itu dan rumah sakit sekitar tempat kejadian semuanya nihil."


"Ini semua gara gara kamu Ziya, kalau bukan karena kamu pasti Syita tidak akan hilang." Ziya terkejut bukan main apa salahnya coba. Bukankah yang bertengkar dengan Syita dia sendiri eh nyalahin orang lain.


"Bukannya mama yang bicara kasar sama Syita kemarin?" Denny yang jawab


"Ya..! Mama kan hanya becanda, pa! eh tapi...bagaimana bisa Tisya yang malah di bawa kemari." Celetuk Maya. Membuat semua orang menoleh.


"Rafa yang menemukannya berada di klub."


"Tuh orang bisa jaga anak nggak seh masak anak perempuan di perbolehkan main ke klub."


Maya nyerocos lagi. Ziya dan Aditya saling berpandangan.


"Mama, bisa diam nggak, ma." Denny mulai jengah.


"Sekarang ceritakan sama papa apa yang sebenarnya terjadi sampai kau bisa seperti ini."


Mereka pun menceritakan semua yang terjadi kepada Denny. Dan mulai mengatur rencana untuk menemukan Syita kembali.

__ADS_1


**Bersambung.....


Semoga suka dan selamat membaca. Mohon tinggalkan jejak ya, like, vote, komen dan hadiah juga rate 5**


__ADS_2