
Pagi ini, Zea senyum-senyum sendiri memandangi hamparan daun marple yang mulai berjatuhan sebab diterpa angin. Sejuk dan menggairahkan. Daun-daun itu bagaikan kelopak bunga yang jatuh dari langit. Zea merentangkan kedua tangannya, lalu memutar tubuhnya perlahan, merasakan udara terasa sejuk dan hangat sampai menyentuh ke dalam hati. Bahkan gaun panjang berwarna putih itu menyapu beberapa daun yang berjatuhan.
Pria itu, rasanya aku telah mengenalnya. Dan senyumnya, selalu terbayang di mata. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta, apakah begini rasanya? Aku selalu merindukan dirinya, bahkan saat ini saja aku ingin bertemu dengan dirinya. batin Zea.
"Aku gila sebab pria itu!" Zea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu duduk hamparan daun marple yang mulai berjatuhan. "Pagi ini begitu indah, seindah hatiku!" Zea langsung menelentangkan kedua tangannya.
Dari kejauhan, datanglah Lisa dengan menuntun kuda putihnya, dengan seorang pawang yang biasa merawat Ro. Kuda milik Marcell yang telah dia hadiahkan untuk Mon.
"Sepertinya kau bahagia sekali Zea!"
"Tentu saja, aku begitu bahagia Lisa. Aku benar-benar bahagia!" Menari-nari seperti orang gila, bahkan Lisa terheran dibuatnya.
"Lisa, bolehkah aku meminjam nya sebentar?" tanya Zea dengan memegang tali yang dipegang oleh Lisa. Pasalnya Marcell selalu melarang Zea ketika hendak mencoba kuda putih ini. Kuda ini telah dihadiahkan untuk Mon, jadi siapapun tidak boleh menaikinya kecuali tanpa izin Mon. Tapi dasar Zea, dia tetap ingin mencoba kuda putih itu. Terlebih tidak ada Marcell saat ini.
Lisa hanya memandang Zea dan kuda putih yang bernama Ro itu bergantian. "Tapi, Nona! Bagaimana jika Tuan Marcell tahu nanti?" menarik kasar dari tangan Zea.
"Apa kau lupa, Dady dan Paman Mon sedang ada urusan bisnis ke Singapura." ketus Zea. Lisa belum mau menyerahkan Ro, dia masih bimbang. Bukan tidak mungkin akan tetap ada yang mengawasi mereka, meski tidak ada Marcell dan Mon.
"Boleh ya! Ayolah, jangan pelit sama saudara sendiri," bujuk Zea. Hemmh kalau ada maunya pasti akan sangat manis.
"Ayolah Lisa, kamu tega banget seh! Kalau Paman disini dia pasti sudah memberikan izin," ucap Zea menunjukkan wajah imut yang dibuat-buat.
"Jangan memohon seperti itu Zea."
"Lisaaa ... boleh ya! Sebentar saja!" kekeh Zea.
"Zea, tapi ... bagaimana jika terjadi sesuatu? Kau tahu sendiri kan bagaimana sifat Ro."
"Tahu, jadi berikan padaku yuk, aku mohon Lisa!" menangkupkan kedua tangannya di dada.
Dengan sangat terpaksa, Lisa mengulurkan tangannya, memberikan tali Ro kepada Zea.
"Kau manis sekali." Zea mencium pipi sahabatnya.
"Ish, lebay!" ejek Lisa.
"Yang penting aku bisa mengajak ro jalan-jalan."
"Nona Zea! Pelan-pelan!" teriak Lisa, kala Zea mulai memacu kudanya. Zea bagaikan seorang putri yang pergi mengembara. Gaun putihnya berkibar bagaikan sayap bidadari.
"Hai Paman Pawang, lepaskan tanganmu itu!" ketus Zea. Pawang itupun melihat ke arah Lisa seolah meminta persetujuan.
"Berikan saja! Kalau ada apa-apa aku tidak mau ikut-ikutan." Lisa langsung duduk di bangku. Sedangkan Zea mulai berkuda.
"Dasar Zea, jika sudah berkuda pasti akan lupa segalanya."
"Astaga, lihatlah gadis itu, selalu saja bertingkah." ucap Lisa.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang tengah mengawasi mereka berdua.
"Rizal, apakah benar ini peternakan milik Tuan Anderson?" Aditya mengawasi sekeliling. Sebuah peternakan yang berada di kaki gunung dengan dikelilingi oleh pohon Marple. Dan beberapa perkebunan di bagian kiri terdapat beberapa kebun buah seperti anggur dan apel. Semua terawat dengan baik.
"Tuan, apa Anda melihatnya?"
__ADS_1
"Tentu!" Tanpa Aditya sadari, bibirnya melengkung sejak dari tadi saat tiba di tempat itu.
"Apa Tuan memikirkan apa yang aku pikirkan juga?"
"Aku bukan cenayang yang bisa menebak apa yang ada dipikiranmu!" ketus Aditya.
"Nona Zea begitu cantik dan wajahnya sangat mirip dengan Ziya." Rizal melirik sekilas ke arah Aditya.
"Tapi sifatnya berbeda!" lirih Aditya.
"Tapi cara jalan dan cara Nona makan masih sama. Sekarang, cara Nona menyanyangi binatang juga begitu mirip dan sama." ucap Rizal masih terus memperhatikan gadis yang mereka bicarakan.
"Sebaiknya kita pulang saja, semakin lama bicaramu semakin ngelantur!" ucap Aditya memasukkan kedua tangannya kedalam saku hoddie. Sebenarnya tidak bisa dipungkiri jika Aditya juga berharap itu adalah Ziya, 'Takut kecewa' itulah yang sebenarnya terjadi.
"Tuan, tapi bukankah Tuan yang menyuruh saya un_"
"Sudahlah diam! Teruskan pengawasan. Sepertinya dia memang benar-benar Ziya. Aku hanya menduga jika Ziya telah lupa ingatan, terlebih lagi Ziya belum sepenuhnya mengingat saat bersamaku!" kini Aditya dan Rizal menyusuri jalan.
Wajah Rizal berubah sumringah, dia sudah merancang beberapa skenario dan strategi yang akan dia guanakan untuk menguak kecurigaan yang bersarang di otaknya.
"Kemana kita Tuan?"
"Pulang!" Aditya bukannya masuk kebagian belakang, tapi malah membuka pintu sendiri dan masuk ke bangku kemudi.
"Tuan! Apa yang_"
"Sudahlah diam. Biarkan aku yang menyetir untukmu kali ini!" titah Aditya tanpa ingin dibantah.
"Terima kasih, Tuan!"
✓✓✓
Menjelang sore.
Aditya mengajak Zafran dan Aldino bermain. Mereka tengah asyik bermain bola bersama. Namun kali ini Aditya tanpa Rizal. Aditya menyuruh Rizal untuk mengurus pekerjaannya.
"Hati-hati Sayang!" teriak Nabila tetap mengawasi kedua anaknya.
"Sayang!" Steven datang dengan baju santainya, mencium kening dan pipi, kemudian beralih ke perut Nabila.
"Apa kabarmu sayang, apakah kau menyusahkan Momymu hari ini?" Steven mengusap lembut perut Nabila.
"Tidak! Dia begitu penurut hari ini," ucap Nabila tersenyum manis.
"Steven!"
Hening. Steven menatap Nabila yang nampak menghembuskan nafasnya pelan.
"Katakanlah sayang!"
"Apakah kita harus menceritakan semuanya kepada Aditya?"
Steven masih terdiam, jujur saja dia juga tidak rela jika berpisah dengan Zafran.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi bagaimana tentang Zea?" Steven malah menarik lembut bahu Nabila, hingga tubuh bersandar pada dada bidang Steven.
"Bagaimana jika Aditya tidak terima? Pasti akan ada perkelahian setelah ini. Terlebih amarah Nyonya Jenna." Steven menghembuskan nafasnya kasar. Membiarkan Nabila mengatakan semua yang ada di hatinya.
"Apa kau tidak takut kehilangan Zafran lagi?" tanya Steven setelah beberapa lama terdiam.
"Entahlah, Raka dulu juga begitu! Dia hidup bersama Zea dan aku dalam waktu yang lama, tapi suatu saat paman William mengambilnya. Itu juga karna campur tangan Tuan Denny. Kami pun terpisah. Saat itu aku kehilangan Raka. Tapi kami masih selalu berhubungan meski terpaut oleh jarak dan waktu. Tapi Zafran dan Aldino, entahlah!" Nabila masih setia di pundak Steven.
"Mereka juga akan tetap berhubungan. Dunia sudah canggih, bahkan beda Negara bukan hal yang mustahil untuk tetap menjalin sebuah hubungan." Nabila menegakkan badannya, menatap Steven dengan begitu dalam.
"Terima kasih,"
"Untuk?"
"Semuanya!"
"Berterima kasih lah dengan benar!" goda Steven.
Cup
cup
cup
"Sudah!" Steven yang tidak puas menunjuk bibirnya dengan jari.
"Mommy!
"Mommy!"
"Hai, jangan disini masih ada anak-anak!"
Aditya menghancurkan acara romantis Nabila dan Steven.
"Kau ini!" geram Steven.
"Nggak usah sok pamer!"
"Dasar ipar tak tahu diri!" geram Steven.
"Kau ipar tidak berperasaan." Aditya tidak mau kalah.
Sedangkan kedua anak yang seumuran itu nampak asyik dengan botol susunya. Terlihat mereka berebut untuk bersandar kepada Nabila. Tapi beberapa saat kemudian, Nabila menyuruh perawat membawa mereka ke dalam.
"Terima kasih kak Nabila, kau mengurus anakku dengan sangat baik!" ucap Aditya.
"Aku ibunya!"
"Ya, kau benar. Andai saja ibunya masih!" lirih Aditya hampir tidak terdengar. "Aku telah kehilangan semuanya."
"Aditya!"
Hening
__ADS_1
"Jika Ziya masih hidup, apa kau akan membawa Zafran bersamamu?"
Bersambung.....