Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 24


__ADS_3

Jenna berkeliling hampir dua jam lamanya. "Dimana kamu Nak?" Memukul stir mobil dengan air mata yang menganak sungai. Sesekali menoleh ke kanan dan kiri.


"Zea, kamu jangan pernah pergi dari kehidupan momy lagi. Momy sudah sekian lama membuatmu tersiksa, momy tidak akan lagi melepaskanmu. Momy tidak ingin kamu mengalami kesulitan lagi." Jenna mengusap kasar wajahnya.


"Dimana kamu Nak? Jangan buat Momy bertambah khawatir." masih tetap fokus mencari.


Pada ruas jalan yang lainnya, terdapat pula Mike yang juga panik sebab Jenna berkendara sendiri. Jenna pernah mengalami kecelakaan dan memberikan trauma yang mendalam untuk kehidupannya.


Mike juga memasang earphone canggih di telinga guna menginformasikan kepada para anak buahnya untuk mencari keberadaan Zea dan juga Jenna.


"Ya, apakah kau sudah menemukannya?" ketika seseorang menghubungi dirinya. Mike mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh sang penelpon. Dia fokus mendengarkan dan juga menyetir.


"Oke, kalian tetap ikuti dan awasi, aku segera sampai di sana." Binar di wajahnya mulai cerah kembali. Setidaknya satu tugas sudah bisa dia atasi.


✓✓✓


"Aku tidak menyangka jika aku sudah sampai ke negara ini." Zea menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia kini menatap bangga bangunan Monas yang menjulang tinggi di hadapannya.


Beberapa waktu yang lalu, dia mengecoh anak kedua bodyguard dengan alasan ke kamar kecil. Tapi bukannya untuk membuang hajat, tapi Zea lebih memilih kabur dan berkeliling tanpa kedua orang itu. Zea memesan taksi dan minta untuk diantar berkeliling. Hingga sampailah dia ditempat ini.


"Tapi bagaimana caraku pulang? Aku lupa tidak menanyakan alamat rumah yang akan aku tinggali. Dan ponselku juga mati, menatap nanar ponsel di tangannya.


Zea mulai kebingungan dan kepalanya mendadak pusing. "Kenapa harus sekarang?" umpat Zea, langsung mencari sesuatu di dalam tas nya hingga beberapa barang terjatuh bertebaran. Zea tetap tidak peduli, mencari benda yang bisa meringankan rasa sakit di kepalanya.


"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" Pria berambut tegak dengan gigi gingsulnya itupun memegang tubuh Zea yang hampir saja terjatuh. Dengan segera pria itu membawa Zea untuk duduk pada bangku dipinggir taman.


"Anda." Zea semakin mengerutkan keningnya, mendadak lebih pusing dari sebelumnya. Pria itu memeluk erat tubuh Zea, sebelum dia benar-benar pingsan terdengar suara pria "Ziya, Ziya, Ziya."


Sampai di sebuah ruangan bernuansa putih, Zea mulai mengerjapkan mata perlahan. Mata yang baru saja terbuka setelah satu jam yang lalu itupun mengerjap berulang kali.

__ADS_1


"Kau sudah sadar." usapan tangan kekar tepat berada di jemarinya, dengan lembut bibir basah itu mengecup kening. Zea yang baru saja membuka pupilnya lalu terlihat wajah tampan yang menitikkan embun pada sudut mata, namun dengan cekatan pria itu mengusapnya kasar.


"Akhirnya aku menemukanmu! Kau masih hidup! Kau masih hidup. Aku begitu bahagia. Terima kasih Tuhan." tak hentinya pria itu terus berucap sambil sesekali mencium wajah dan tangan Zea yang dia genggam.


"Aku dimana?" ucap Zea tatapannya berkeliling menelusuri setiap detail kamar VIP yang dia tempati saat ini.


"Kamu tadi pingsan di taman, jadi aku membawamu kemari."


"Kamu siapa?"


"Ziya, ternyata leluconmu begitu bagus. Hanya tiga tahun aku pergi dan sekarang, kau sudah tidak ingat lagi padaku. Apakah aku sudah semakin tampan hemmm, sehingga kau tidak mengenaliku lagi?" mentoel pipi Zea dengan gemas tangan kanannya pun merapikan surai hitam yang berkelana pada wajah Zea.


Zea mencoba mencerna ucapan pria dihadapannya, berusaha mengerti arti dari ucapan pria itu, tetap saja dia tidak paham. Bahkan kepalanya terasa pusing kembali.


"Apa yang kau rasakan? Apa kepalamu sakit lagi?" Panik sendiri sambil memijat lembut kepala Zea.


"Rafa." tanpa menghentikan tindakannya yang begitu sayang pada Zea.


"Maaf, kita baru pertama kali bertemu." ditepisnya tangan besar dengan cara yang halus. Rafa mengambil udara sebanyak-banyaknya lalu melepaskan pelan.


"Ziya, jangan membuatku terluka begini. Aku begitu merindukanmu. Apa kau tidak mengingatku?" mungkin ini yang bisa Rafa harapkan agar Zea mengingat dirinya. Tapi diluar dugaan. Zea mengeluarkan darah dari hidung.


"Ziya, Ziyaaaaa!" Sayangnya tubuh itu semakin jatuh kembali tempat pembaringan pasien. Jangan di tanya lagi, bagaimana Rafa membuat kehebohan seperti saat dirinya sampai ditempat itu dengan membawa tubuh Zea dalam gendongannya.


Kini Rafa mondar-mandir di tempatnya dengan sesekali menyugar rambutnya frustasi.


"Ziya, aku tahu pasti itu kamu. Aku sangat yakin. Kita adalah saudara aku bisa merasakan ikatan itu, aku yakin kau juga merasakannya." Rafa memegang dadanya yang terasa sesak.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." melihat ke dalam ruangan yang masih ada Zea. Tak berapa lama dokter yang menangani Zea pun keluar.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan adik saya Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa dia bisa seperti ini? Apa yang terjadi?"


"Sabar Tuan, saya akan menjelaskannya kepada Anda, mati ikuti saya."


Rafa pun dengan patuh mengikuti dokter hingga sampai di ruangannya. Rafa menyimak dengan seksama apa saja yang disampaikan dokter. Membuat darahnya berdesir hebat.


"Ziya, kenapa kamu harus mengalami ini semua!" Rafa meninju dinding rumah sakit dengan gejolak amarah yang meledak-ledak. Setelah kepalan tangannya berubah warna merah, dia menatap sinis tangannya sendiri.


"Harusnya kau melindunginya." lirih Rafa dengan menatap nanar darah yang mulai memenuhi kepalan itu.


"Maafkan aku Ziya, sebab aku tidak bisa melindungi dirimu dengan baik. Kau pasti kesakitan selama ini."


Ingatan Rafa kembali pada dua bulan yang lalu, saat dirinya kembali ke Indonesia, setelah berjuang mati-matian memperjuangkan untuk menstabilkan bisnis keluarga yang berada di ambang kehancuran. Rafa yang baru mulai belajar itu, malah ditugaskan oleh ayahnya untuk menangani kasus yang terjadi di Paris. Karna banyaknya masalah yang terjadi, membuat Rafa tidak pernah menanyakan kabar saudaranya itu. Tapi Rafa berjanji, bahwa dia akan menemui Ziya saat kembali.


Tapi ketika Rafa menghadiri jamuan makan malam dengan relasi bisnisnya. Rafa saat itu bertemu dengan Devan. Rafa lalu menanyakan perihal tentang Ziya. Dan betapa terkejutnya dia, karna Ziya mengalami kejadian buruk yang merenggut daya ingatan.


Awalnya Rafa tidak percaya akan ucapan Devan yang mengatakan bahwa Ziya tidak bisa kembali seperti sedia kala.


"Ziya, aku akan membuat perhitungan." mengepalkan tangannya yang terasa sedikit ngilu. Dari koridor nampak satu pria yang berjalan dengan terburu-buru.


"Rafa!" tak bergeming, meski mendengar namanya dipanggil, tapi telinganya mengenali siapa orang yang kini berada di hadapannya.


"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?" Rafa memejamkan matanya. Dia berusaha menguasai dirinya sebelum benar-benar marah.


"Aku tidak punya pilihan lain. Semuanya begitu cepat tak terkendali. Segala kemampuan sudah aku kerahkan. Dan jalan yang bisa aku lakukan adalah memberikan formula itu."


"Berarti dia tidak mengingat selamanya?"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2