Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 29


__ADS_3

"Jadi, Dia tidak mengenal siapapun karena obat itu?" kini Aditya berada di ruang kaca tak tembus pandang, matanya melihat ke arah Zea duduk bersama Rizal. Pikirannya berkecamuk. Antara senang dan sedih.


"Yah, dan penawarnya kemungkinan besar belum dibuat. Sebab Agung keburu meninggal waktu itu. Aku sudah menyuruh beberapa dokter khusus untuk menangani kasus ini. Tapi, entahlah."


Berat, begitulah yang dirasakan oleh Aditya. Sudah bisa menemukan sang pujaan hati, namun harus di kalahkan oleh takdir yang membuat keduanya tidak bisa bersama.


"Lakukan apapun, aku ingin Ziya mengingat kami. Zafran pasti membutuhkan ibunya." Lirih Aditya yang merasa begitu terpukul. Dia memiliki segalanya, namun nasibnya begitu malang.


"Kita sudah berusaha, obat itu terlalu kuat, dan jika kita memaksakan Zea, takutnya dia tidak kuat. Kemarin saja dia hampir kehilangan nyawanya, sebab aku terlalu memaksa."


"Apa maksudmu?"


Rafa menceritakan semuanya. Menceritakan tentang Zea yang sampai masuk ke rumah sakit.


"Dimana Devan?" Aditya mengepalkan tangannya kuat.

__ADS_1


"Kurasa ini bukan sepenuhnya salah Devan."


"Wanita itu?"


"Aditya, berhentilah berbuat sesuka hatimu. Marina juga ingin yang terbaik untuk istrimu, hanya saja caranya yang salah."


"Dia menukar Ziya dengan saham dan properti apakah itu masuk akal? Dia menjadikan Ziya sebagai barang dagangan." berapi-api bahkan Aditya memukul meja di hadapannya hingga bergetar.


"Kau juga melakukan hal yang sama terhadap Ziya. Apakah kau bisa dimaafkan? Bahkan saat itu akupun sangat marah dan ingin menghancurkan kesombongan dirimu itu." mood Rafa tiba-tiba memburuk. Entah kenapa perjalanan hidup Ziya terlalu menyedihkan.


"Aku melakukan itu sebab jatuh cinta." satu kenyataan yang memang benar adanya. Aditya kini menatap Ziya dibalik kaca itu lagi. Meski cemburu karena Ziya tersenyum bersama pria lain, tapi hati Aditya ikut tersentuh. Cekungan di bibir tebalnya pun tercipta, membuat Rafa memutar bola mata malas.


"Berhati-hati!" lirih Aditya tidak mengerti.


✓✓✓

__ADS_1


Mike dan beberapa bodyguard mendatangi sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu. Netranya menelusuri setiap sudut restoran.


"Kalian berpencar dan cari sampai dapat."


"Maaf Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" Seorang pria paruh baya mengenakan jas rapi datang menyapa Mike. Awalnya bingung dan cukup tersinggung dengan kelakuan Mike yang tanpa izin melakukan pencarian, hal itu bisa menodai citra dan nama baik restoran.


"Hanya ingin memastikan!" Pria paruh baya itu semakin tidak mengerti. Namun beberapa detik berikutnya dia cepat tanggap.


"Bagaimana jika melihat rekaman Cctv mungkin Anda bisa menemukan sesuatu?" Biara bagaimanapun, Mike adalah teman dari pemilik asli restoran ini, tentu saja pria paruh baya ini harus berhati-hati dalam bertindak.


Mike merutuki kebodohannya kali ini. Bagaimana bisa di melupakan hal sepenting itu. Pasti semua ini gara-gara kepalanya yang pusing karena melihat kedua orang tuanya bermesraan. Andai dia tidak khawatir akan kondisi Zea, pasti dia akan melampiaskan hasratnya.


Dengan diantarkan oleh manager restoran, Mike mengobrak-abrik benda elektronik yang kini berdiri di hadapannya.


"Maaf Tuan, mereka sudah meninggalkan restoran satu jam yang lalu." menunjukkan rekaman terakhir kali Zea berada di sana. Mike mendekat dan menatap layar secara seksama.

__ADS_1


"Perbesar bagian itu!" titah Mike


Nampak dua pria yang dia kenal berbincang santai dengan Zea.


__ADS_2