
Jam menunjukkan pukul lima sore, Ziya baru saja keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian, dia hanya memakai tank top dan celana pendek, dia cukup berani memakai itu karna hanya dia dan Aditya yang tahu password kamar mereka. Jadi semisal ada yang ingin masuk pasti ketok pintu. Ziya melempar gamis dan hijab yang hendak di pakainya ke ranjang, lalu duduk di meja rias. Mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut.
Pikirannya kembali pada sikap mama mertuanya. Dulu saat, dia sampai di rumah ini, mertuanya tidak menunjukkan sikapnya yang kasar. Bicaranya pun ramah meski kadang terlihat angkuh. Ziya ingat saat itu, Maya bahkan meminta maaf padanya.
"Aditya, sudah jangan diterusin! maafkan anak saya, Ziya, dia memang tidak suka sayuran hijau dari masih kecil" Maya menjelaskan dengan tersenyum lembut. (part 9 judul *biasanya jodoh*)
Bicaranya saat itu, menunjukkan bahwa mama orang yang baik. Tapi sekarang, entahlah. Aku sulit mengenali sosok mama mertua, apakah memang itu sifat aslinya, atau memang mama tak menyukainya sejak awal, dan menutupi semua itu, kalau iya, apa yang membuat mama tidak menyukaiku.
Pikiran itu berseliweran bebas di otak Ziya, sesekali dia menghela nafas berat. Pusing memikirkan semuanya. Dia yang semula bercita cita menjadi dokter, cita citanya kandas di tengah jalan karena hutang ayahnya. Diapun datang sebagai pembantu, lalu menjadi menantu, menantu yang tidak diinginkan mama mertuanya.
Ziya tidak terlalu dekat dengan mertuanya, dan terakhir dekat malah terjadi penculikan terhadapnya.
Ya Allah, apa yang harus aku perbuat.
Ziya menekan kepalanya, merasa ada rasa pening di sana.
"Apakah aku harus tanyakan pada orang di rumah ini saja ya, tentang sikap mama kepadaku." Gumam Ziya.
"Ah sepertinya tidak pantas juga membicarakan perihal rumah tangga kepada orang luar." Ziya menggigit kuku mencari ide untuk bisa membuatnya berdamai dengan sang mertua.
Apa aku bicara sama Lisa ya, tapi Lisa kan baru satu tahun di sini. Apa aku tanya pada Cak Ali ya, diakan sudah sejak Aditya kecil disini. Kalau Syita, ah Syita pasti bilang mama baik, secara kan, dia anaknya.
Ziya masih memainkan kuku di bibirnya. Dan sesekali memainkan bibirnya.
Tanpa dia sadari, sepasang mata menatapnya dengan nyalang beberapa kali meneguk saliva dengan susah payah. Aditya yang tadinya ingin segera pulang cepat setelah melihat video rekaman CCTV. Takut jika istrinya bersedih. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk setelah menekan password dan apa yang di dapati sekarang.
Istrinya tampak begitu mempesona, rambut panjang yang sedikit basah, terurai begitu saja. Hairdryer yang di pegang diam saja tak bergeser dan bibirnya bergerak seksi seolah olah minta untuk di kecup. Aditya tak rela melihat kuku kuku yang mulai panjang itu berada di sana. Darahnya berdesir melihat pakaian yang di kenakan sang istri, seksi seperti artis Korea.
Aditya perlahan mendekati istrinya, masih saja Ziya bergeming, tak sadar jika suaminya datang. Aditya sudah semakin dekat, dan tiba tiba suara ponsel mengagetkan keduanya. Ziya melempar hairdryer yang di pegangnya. Namun dengan sigap Aditya menangkapnya. Ziya mengelus dadanya saat Aditya berhasil menangkap benda itu. Lalu menerima panggilan telpon yang sepertinya dari Rafa.
__ADS_1
Tatapan mata Aditya malah beralih ke dada yang diusap. Pikiran liarnya semakin menjadi. Aditya melepas dasi dan jasnya di sembarang. Lalu memeluk Ziya dari belakang, tak peduli jika Ziya menerima panggilan masuk.
"Ah ya kabarku baik. Kamu sendiri apa kabar, Lur?"
'Aku juga baik, hanya saja aku tiba tiba teringat padamu, kau sudah menikah, apa kau bahagia, apa kau tidak memiliki masalah?"
"Tidak, aku tidak memiliki masalah apapun."
'Syukurlah kalau begitu, entah kenapa aku sedikit khawatir dengan keadaan kamu.'
"Tidak usah khawatir, aku baik baik saja, semua orang juga sangat menyanyangi aku."
Aditya yang mendengar kata kata Ziya termenung, teringat akan perlakuan yang diterima Ziya hari ini. Perlahan dia melepas pelukan di pinggang Ziya dan berlalu ke kamar mandi.
Ziya menoleh sekejap ke arah Aditya yang masuk kedalam kamar mandi.
*Apa dia marah karna, aku cuekin ya. Aku malah menerima telpon dari Rafa.
..kau terlalu baik Ziya*.
Aditya memutar shower membiarkan air membasahi tubuhnya. Dia menyelesaikan mandinya dengan singkat.
Saat keluar, Ziya dengan gugup mendekati suaminya yang masih sedikit basah, tetesan air membuat dada suaminya terlihat lebih seksi apalagi roti sobek itu. Uhhh Ziya beberapa kali mengerjap polos. Aditya senyum menyeringai.
"Sampai segitunya yang ngeliatin. Sini mendekat biar bisa sekalian megang." Aditya sudah menarik tangan Ziya dan meletakkannya di dada bidang miliknya. Dengan susah payah Ziya menelan ludah.
Dadanya bergemuruh hebat. Aditya tampak santai walau sebenarnya jantungnya juga berloncatan.
"Sayang, lepasin tangan aku dong!" Wajah Ziya sudah merona karna malu. Tapi tangannya belum juga di lepas oleh Ziya.
__ADS_1
"Apa kamu marah karena aku mengabaikan dirimu dan mengangkat panggilan dari mas Rafa. Aku lihat kamu langsung pergi tadi."
Aditya tidak menjawab malah meraba raba setiap jengkal tubuh Ziya. Tangannya dengan nakal menelusur, meremas pelan di sana saat menemukan dua gundukan kembar. Tangan satunya tiada henti meraba perut datar Ziya.
"Ahhhh!"
Satu kata yang keluar dari mulut Ziya, semakin memacu nafsu Aditya untuk semakin berselancar.
Ziya menggeliat karna tangan nakal Aditya semakin berani masuk ke dalam miliknya di bawah. Pagutan di bibir terjadi begitu lama. Membuat keduanya tersengal karna kehabisan nafas.
Aditya mendorong lembut tubuh Ziya, tanpa melepas pagutannya. Kini mereka berdua telah berada di samping ranjang. Aditya membaringkan Ziya dengan lembut. Mengecupi setiap inci wajah Ziya. Lalu turun ke ceruk leher Ziya dan membuat tanda kepemilikan di sana. Entah kenapa udara menjadi semakin panas saja, hingga keduanya pun merasa perlu melepas apa yang menempel di tubuhnya. Aditya mengabsen setiap jengkal tubuh Ziya.
Kini saatnya tugas tongkat ajaib memainkan peran. Tongkat ajaib memutar mencari celah untuk bisa menembus goa pertahanan lawan. Tongkat ajaib sudah berhasil dengan desakan pertama, dia mengintip dan memeriksa ulang goa lawannya. Mengintip, keluar lagi dan begitulah sampai pertarungan itu selesai dengan hasil yang memuaskan.
"Ziya, maafkan sikap mama ya, dia sudah keterlaluan padamu." Ucap Aditya. Dia teringat akan laporan singkat Cak Ali sebelum menyusul istrinya di kamar.
"Iya mas, aku sudah maafin kok." Tersenyum
"Terima kasih ya sayang, kamu memang istri terbaik. Tidak salah aku memilih kamu sebagai pasangan hidup. I love you.
"I love you too"
**Bersambung...
...mohon...
...like...
...komen...
__ADS_1
...juga vote...
Terima kasih.... happy reading**