Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 28 Pertemuan.


__ADS_3

Di bawah pohon beringin yang rindang dan sejuk, dua gundukan yang telah di tumbuhi rerumputan, terdapat satu pohon Kamboja berwarna merah diantara keduanya. Duduk seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas melekat di tubuh kekarnya di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan balutan dress putih selutut. Rambutnya berkibar tertiup angin, dibalik kerudung hitam yang menutup kepalanya dengan tidak sempurna.


Sebab lupa ingatan, membuat gadis itu lupa akan kebiasaan lamanya. Bahkan cara berpakaian rapi ala santri pun sudah tidak lagi dia kenakan.


"Ini siapa?"


"Dia ayah dan juga ibu."


Perempuan itu mengusap pundak pria yang duduk di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu, ayah, aku membawa putrimu kemari setelah sekian lama. Tapi aku gagal menjaganya. Bahkan dia juga telah melupakan diriku. Entah dia masih ingat dirimu atau tidak, yang pasti aku akan berusaha untuk lebih menjaga dirinya mulai dari sekarang.


"Pasti kau sangat menyayangi mereka."


Rafa tersentak, kemudian sadar bahwa Ziya yang sekarang adalah Zea. "Aku seperti tidak asing dengan tempat ini ya."


Wajah Rafa yang tadinya mendung kini berganti awan putih dan tak selang berapa lama, berganti biru. Mungkin jika boleh akan terganti dengan sinar mentari siang.


"Kau ingat sesuatu?" Tentu Zea menggeleng, membuat Rafa menarik nafas kecewa. "Sebaiknya kita berdoa dan segera pulang." Zea hanya menurut mengikuti apa yang dilakukan Rafa sebagai pemimpin doa.


"Kemana kita sekarang?" Rafa bukannya menjawab, malah menarik tangan Zea dan menaruhnya pada lengan kiri. "Hai, kita bukan sepasang kekasih, Tuan!"


"Tapi kita adalah sepasang anak kembar dengan orang tua yang berbeda." Rafa tetap memegang tangan Zea yang kini menempel di lengannya. Membuat siapa saja bisa salah sangka. Tapi sepertinya tidak, sebab selama Zea melewati beberapa orang yang juga pergi berziarah, mereka hanya tersenyum.


"Kita dikenal sebagai anak kembar dari Pak Ardi dan Ibu Mila. Kita terlahir dua orang tua yang berbeda, tapi kita satu susuan, yang artinya, kita memiliki ikatan darah."


"Aku baru mendengar tentang hal itu? Lalu, jika aku dilahirkan oleh Ibu Mila, lalu siapa Momy Jenna?" Bingung dan rasa sesak tiba-tiba merasuk ke sanubari Zea. Apakah dia anak haram.


"Kau bisa menayakannya nanti pada Momy mu itu. Aku hanya tidak mau kehilangan saudariku satu-satunya. Tidak! Zea, dulu namamu adalah Ziya. Tapi mereka dengan lancang mengubahnya." Kini mereka telah sampai di mobil. Rafa membukakan pintu untuk Zea dan kemudian memutar untuk mengendarai mobilnya sendiri.


"Apakah kau tidak punya saudara selain aku?" Rafa menggelengkan kepalanya.


"Kau lah saudaraku sejak bayi. Kita akan kerumah lama Ayah, tapi bukan sekarang. Aku ada meeting dengan seseorang. Yang mungkin saja akan kau ingat. Dia juga sepupuku. Dan sebelum itu, kita akan mengisi perut dahulu di warung itu."


"Warung yang dahulu hanya lesehan di tempat sederhana kini berubah menjadi Saung berjajar rapi dengan bahan bambu diikat dengan ijuk aren. Terlihat elegan dan klasik juga kental akan suasana desa."


"Waoooow, keren!" puji Zea. Matanya tidak lepas dari setiap sudut tempat makan gaya desa itu. Juga pemandangan alam yang nampak hijau, hamparan sawah dan ladang.

__ADS_1


"Apa kau ingat sesuatu tentang tempat ini?"


"Tidak!"


"Dahulu kita sering menghabiskan waktu disini. Saat kita pulang sekolah. Tapi tempat ini sudah benar-benar berubah. Dahulu hanya gladak panjang yang di apit oleh bambu." Zea hanya manggut-manggut padahal tidak begitu mengerti. Dasar lupa ingatan.


"Baiklah, kita pesan makanan saja dulu."


Akhirnya mereka memesan makanan. Zea terlihat meneliti setiap makanan yang nampak asing di matanya. Padahal dahulu jenis makanan ini begitu dia sukai.


"Abang!"


"Ya!"


"Ini apa?" mengangkat tinggi-tinggi sayur pecel itu dengan garpu.


"Coba tebak, apa itu?" Tampak berpikir dan sibuk mengamati lagi. Kol mentah dan sayur matang yang disiram dengan saos kacang. Pikir Zea.


"Salad!"


Membuat Zea makin penasaran, dan dia memberanikan diri menggigit sedikit. Rafa sudah menghabiskan separuh.


"Bagaimana rasanya, hemmh!"


"Unik!" mengecap lagi dan memakannya lagi. "Enak juga, ada rasa manis dan pedas dan juga rasa berbeda yang jika di kecap tuh ..." Cukup mengangkat jempol dan mulai memakan dengan lahap.


"Itu apa?" menunjuk gorengan yang dipegang Rafa.


"Ini namanya ote-ote atau bakwan!"


Rafa pun mencocolkan gorengan itu ke dalam sambal dan menyuapkannya ke mulut Zea.


"Delicious!" Zea mengacungkan dua jempolnya. Dengan antusias dia mengulang lagi apa yang dilakukan oleh Rafa.


✓✓✓


Dua puluh menit menunggu, membuat Aditya gusar dan ingin meluluh lantakkan gedung milik pamannya itu.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kita menunggu, Zal?" Aditya memainkan jemarinya pertanda dia sudah mulai tidak sabar. Rizal melihat pergelangan tangannya.


"Lima menit lagi Tuan!"


Aditya berdiri dan berdecih sebal.


"Tidak biasanya kau membuat waktuku habis terbuang seperti ini, Zal." Aditya kini mengubah posisi duduknya. Rizal sangat tahu bahwa Aditya sudah sangat kesal, bahkan wajahnya memerah.


"Sabarlah sebentar lagi Tuan!" Rizal sebenarnya sangat gelisah dan was-was. Takut akan kemarahan Aditya dan terbuangnya waktu percuma sebab ulah rekan bisnis seperti Rafa. Rizal lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.


"Rizal, kita pergi." Titah yang sama sekali tidak bisa dibantah. Bahkan kini Rizal telah ditinggal oleh Aditya. Rizal hanya geleng kepala dan mengikuti langkah Sang Bos, tanpa bisa lagi melihat balasan dari chat yang dia kirim.


Rizal setengah berlari mengikuti langkah kaki lebar Aditya. Bahkan tanpa Rizal, Aditya memencet tombol lift dan masuk ke dalamnya. Rizal mulai merasa terancam. Aditya yang sekarang sangat berbeda dengan yang dahulu.


"Habislah kau Rizal!" Rizal menyugar rambutnya sendiri. Menekan tombol lift dengan tidak sabarnya. "Cepatlah bodoh!" meninju lift yang mulai turun.


Sedangkan Aditya yang sudah terlebih dahulu sampai lantai dasar, merogoh saku celananya sebab ada panggilan yang masuk.


"Ya, Pa!" Sibuk mendengarkan tanpa memperhatikan jalan. Memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Sambil menempelkan benda pipih itu, Aditya berjalan cepat, tapi pendengarannya fokus pada suara yang ada di seberang.


Brukkk.


"Hai, Tuan!" Aditya tidak mendengarkan suara teriakan yang membuat semua orang menoleh. Dia sibuk melihat ponselnya dengan nanar tanpa ingin mengambilnya kembali. Hingga sebuah tangan terulur mengambil ponsel itu dan menyerahkan kepada Aditya.


"Maaf, sebab adikku, ponselmu ter ... "


"Kau!"


"Kau!"


"Hai, Tuan! Kita jumpa lagi!" Tidak kusangka, ternyata dunia ini begitu sempit."


Aditya masih terjebak dalam dunianya sendiri. Mungkinkah salah apa yang dia lihat sekarang? Mimpikah? Jika "iya" Aditya tidak ingin terbangun dalam jangka waktu yang lama.


"Tuan! Anda baik-baik saja?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2