
Di kediaman Anderson.
Meja makan malam telah tersusun rapi dengan berbagai menu favorit anggota keluarga.
"Hemmh, harum sekali bau masakan ini." Marcell mengendus sambil mengipas tatanan menu di atas meja. Jenna yang meletakkan makanan penutup tersenyum manis.
"Silahkan duduk suamiku." Menarik kursi untuk suaminya, lalu melayani dengan penuh kasih sayang.
"Eits, sekarang Dady yang akan melayani istri tercintaku ini." Segera berdiri, lalu menggantikan posisi Jenna yang hendak menarik kursi, kemudian dengan cara yang sama, Mercell mengambilkan makanan buat Jenna. Tanpa mereka sadari, jika perbuatan mereka tengah diperhatikan oleh kedua anaknya.
"Lihatlah, mereka selalu saja melupakan kita." ucap Zea sambil menopang kan dagunya di anak tangga.
"Tua-tua keladi semakin mesra dan semakin menjadi." Mike juga melakukan hal yang sama dengan Zea.
"Kau tidak ingin kesana?" melihat Mike ikut menikmati drama Korea yang diperankan oleh orang tua mereka.
"Mau apa? Jadi obat nyamuk? Enakan cari yang seksi di klub." membuat mata Zea melotot.
"Kau tidak khawatir, jika Rindi mengetahui kebiasaan burukmu itu? Dia pasti akan meradang jika mengetahui hal itu."
Mike menghela nafas panjang. Mike memang menyadari bahwa sejak Rindi mulai perhatian dan bahkan mengatakan cinta kepadanya, tidak sekalipun Mike merasakan kenikmatan saat bercinta dengan wanita ******.
"Aku hanya ingin memastikan saja apa yang tengah aku rasakan. Salah sendiri, dia bilang menyukaiku tapi tidak pernah dia merelakan tubuhnya aku sentuh." Sungguh kakak bejat yang sempurna. Bagaimana bisa dia bicara blak-blakan begitu di hadapan adiknya.
"Itulah bedanya barang branded dan murahan. Barang murahan akan disentuh dan bisa dibeli oleh siapa saja, bahkan sampai di obral sebab tidak juga laku. Selain itu, barangnya tidak bertahan lama apalagi jika sang pemilik tidak pandai merawatnya." Mike semula mendengarkan dengan telinga sebelah, tapi semakin dia mendengar, dia mulai menyadari jalan pikirannya yang keliru.
"Sedang barang branded, ketika di toko saja sudah dibungkus dengan sangat menarik, tidak semua orang bisa menyentuhnya, bahkan setelah dibeli pun, pemiliknya akan merawatnya dengan cara yang khusus. Tapi kelebihannya adalah, barang tetap awet dan tidak mudah rusak. Kau tahu itu? Dan camkan baik-baik. Rindi lebih baik daripada para jalangmu itu."
"Kau menyamakan manusia seperti barang? Dasar tukang shoping." ejek Mike menutupi pembenaran dalam hatinya. Menjitak kepala Zea. Dia memilih segera turun untuk bergabung bersama kedua orang tuanya.
"Hai, tunggu aku!"
"Cepatlah, dan segera makan agar ada tenaga untuk mengisi otakmu yang hanya diisi oleh bualan konyol itu." Zea diam dan memoyongkan bibirnya, tapi kakinya dengan patuh ikut melangkah mengikuti Mike.
"Selamat malam Mom, Dad!" Zea menyapa kedua orang tuanya, lalu cipika-cipiki. Beda halnya dengan Mike yang langsung duduk dan mengambil jatah makan malamnya.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang!" ucap Jenna dan Marcell bersamaan.
"Mike!" tegur Jenna saat melihat kelakuan anaknya yang tidak pernah berubah.
"Selamat malam Dad, Mom!" dengan nada yang malas.
Setelah berapa saat kemudian hanya suara dentingan sendok yang terdengar mengalun merdu.
Setelah makan malam selesai, Jenna dan Zea ikut serta merapikan meja. Tapi tidak dengan Mike dan Marcell, mereka berada di ruang keluarga. Zea menyusul setelah dirasa bantuannya cukup. Demikian pula dengan Jenna, selebihnya soal kebersihan dapur mereka serahkan kepada pelayan.
"Dady besok harus pergi ke Singapura bersama Momy mu." Ucap Marcell tiba-tiba. Jenna meletakkan dessert di atas meja.
"Mau pergi ya pergi saja!" Cuek Mike.
"Boy, bukan itu maksudku."
"Ya, kau harus bisa menjaga adikmu. Untung dia tidak kenapa-kenapa saat hilang kemarin."
Deg
Mike bungkam mulutnya, tidak berani mengatakan bahwa Zea sempat masuk rumah sakit.
"Beres Dady!" Apalagi, pasti juga tentang peringatan untuk memperhatikan Zea.
"Dan kamu Zea, Momy kasih kesempatan kamu untuk tinggal di Indonesia agar kamu tahu seluk beluk Negara ini. Momy malu dong jika sampai ketahuan sama orang lain, anak Momy nyasar di Negara kelahirannya Momy." sungut Jenna dengan kesal.
"Momy juga tidak habis pikir dengan anak buah Dadymu itu, bagaimana bisa lalai dalam bertugas. Kalau ada apa-apa sama Zea gimana?" Imbuh Jenna kesal. "Kalau saja tidak ada yang menghalangi, sudah Momy hajar mereka."
"Sabar Momy!" Marcell mengusap bahu istrinya sayang.
"Sayang banget sama Momy." Zea bangkit dan memeluk Jenna dengan sayang. Mike mencebik dan memutar malas bola matanya.
"Mike, peluk sini!"
"Ogah ah, ngantuk!" Mike bangkit dan pergi. Zea masih bermanja ria. Di otaknya tersusun beberapa rencana untuk mendatangi tempat-tempat bersejarah di Indonesia terutama Borobudur.
__ADS_1
✓✓✓
Dua pria sedang menikmati minumannya dengan begitu santai.
"Jadi semua yang terjadi adalah rekayasa? Kau yang membuat Zea sampai ke taman itu?" Orang yang ada di hadapannya hanya tersenyum tipis. Seolah membenarkan tuduhan lawan bicaranya.
"Rafa, kau licik sekali."
"Hati-hati kalau bicara Devan, ingat! Aku belum membuat perhitungan kepada istrimu itu. Berani sekali dia menggunakan Zea sebagai tambang emas." Menarik kerah kemeja Devan. Matanya tajam seakan menghunus jantung lawan bicaranya.
"Baik-baik tapi bisakah kau lepaskan ini." menunjuk tangan Rafa yang kuat menarik kerahnya hingga menyisakan rasa sesak, perlahan tangan itupun melonggar. Devan bernafas lega.
"Bagaimana bisa kau lakukan itu?"
"Kau lupa siapa aku?" Meletakkan gelasnya di meja, lalu bersandar dengan begitu santai.
"Aku sudah mengikuti Zea sejak di Kanada. Setelah dari rumah Nabila, aku mencoba untuk melihat sendiri bagaimana kondisi adikku. Dan ternyata dia akan pulang ke Indonesia. Keberuntungan berpihak kepadaku."
"Jadi Zea tidak salah jalur mengambil jurusan bis? Tapi kau yang mengatur itu semua?" Raga semakin tersenyum.
"Mudah bukan? Bahkan anak buah Aditya tidak tahu itu. Aku mengarahkan Zea ke tempat berbeda dan mengganti pengawal dengan pengawal milikku. Zea tetap sama, dia terlalu cuek terhadap pria, apalagi bodyguard yang dia anggap tidak penting. Meneliti wajah mereka saja enggan. Entah bagaimana dia bisa mengenali banyak pasiennya dulu." Bibir tegas nan seksi itu terangkat sempurna.
"Kau memang sulit di tebak."
"Urusan kita belum selesai Devan. Bawa istrimu padaku atau kau sendiri yang menghukumnya."
Devan berang dan berdiri dengan nafas memburu. Bagaimana bisa dia menyerahkan nasib istrinya pada seseorang yang dia kenal bagaikan serigala. Siap mencabik siapa saja dia anggap berbahaya.
"Tidak! Rafa pikirkan sekali lagi. Kita adalah saudara." bujuk Devan. Udara mendadak dingin dan mencengkam.
"Aku tahu itu, maka bawa dia ke hadapanku, atau aku sendiri yang akan menjemputnya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan." Rafa tidak menawarkan pilihan apapun. Devan diam sejenak kemudian melenggang pergi.
"Sepertinya kau ingin menyulut api di antara kita."
"Bawa saja atau anakmu juga akan merasakan dampaknya." Devan yang telah sampai di depan pintu berhenti, tapi kemudian pergi dengan sejuta rasa kekesalan. Tidak mungkin dia tega menyerahkan istrinya kepada psikopat. pikir Devan.
__ADS_1
"Bagaimanapun caranya, Marina harus bertanggung jawab. Aku tahu, racun apa yang dia berikan untuk Zea. Dasar Devan bodoh."
Bersambung....