
Nabila menghembuskan nafasnya pelan dan senyum nampak terukir di wajah cantiknya.
Dia mendekati seorang perempuan yang dianggapnya musuh. Sudah satu hari lalu dia menyekap perempuan ini, istri Agung yang Nabila kira sangat dicintai oleh Agung.
"Jadi, dia berbuat baik kepadamu hanya sebagai topeng saja."
"Benar, kalaupun dia mencintaiku sudah pasti dia mencari ku sekarang." raut wajahnya berubah sendu.
"Lalu apa gunanya dia memperlakukan dirimu layaknya istri sungguhan."
"Dia mengidap gagal ginjal, dan membutuhkan cuci darah tiap minggunya. Dan sekarang, dia mencari pendonor ginjal yang cocok." Perempuan itu mulai menangis, karna tak tega, Nabila melepaskan ikatannya.
"Jika kau memang ingin menghancurkan Agung, hancurkan saja dia, aku tidak peduli. Tapi aku mohon, selamatkanlah anakku." menangkupkan kedua tangannya.
Nabila masih mencari cari kebohongan yang mungkin disembunyikan oleh wanita didepannya ini. Dia ingat percakapannya dengan Steven sebelum pernikahan Ziya.
"Apa yang akan kau lakukan pada keluarga itu?"
"Tidak banyak, aku hanya ingin memberi tahu istrinya yang penyakitan itu, agar terbebas dari derita."
Nabila ingat percakapan saat itu hatinya dipenuhi dendam untuk menghancurkan anak dan istrinya Agung. Tapi saat mengetahui hal ini hatinya mulai miris membayangkan kehidupan istri Agung yang hanya dijadikan tameng untuk menutupi kesalahan kesalahan Agung.
"Memang, apa yang akan terjadi dengan anakmu itu?" Suara berat yang sebenarnya enggan dia keluarkan.
"Aku mendengar dia akan melakukan transplantasi ginjal untuk kedua kalinya. Aku yakin operasi yang pertama tidak berhasil, jadi dia akan melakukannya lagi. Yang pertama dia dapatkan dari adiknya, tapi kali ini, pasti anakku yang akan jadi korbannya. Aku tidak keberatan jika anakku menolong orang yang membutuhkan apalagi ayahnya. Tapi jika digunakan untuk keburukan, aku tidak akan iklas."
__ADS_1
Wanita itupun menceritakan setiap detail rumah Agung di Makassar, dia memastikan bahwa anaknya berada disana. Bahkan wanita itu sanggup menjadi saksi atas kejahatan yang Agung lakukan asal anaknya selamat. Dia juga akan mengungkap tentang kematian istri Tejo.
Akhirnya Nabila menghubungi Tejo dan menjalankan misinya agar Agung mendapatkan ganjaran yang setimpal. Nabila menyuruh Riko untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dan membawa polisi ikut serta.
Mereka mengobrak abrik markas Agung, disana terdapat banyak bahan peledak yang diselundupkan. Selain itu, bukti penipuan juga ditemukan disana. Semakin banyak barang bukti yang bisa menjerat Agung mendekam di penjara seumur hidup.
Semua misi pun berjalan lancar, hanya saja Revan anak Agung tidak ditemukan. Tejo yang mencurigai suatu tempat tersembunyi, mengajak mereka semua kesana.
Tempat itu berada di dalam hutan, seperti sebuah goa biasa saja nampak dari luar, dan dijaga oleh beberapa bodyguard. Baku tembak sempat terjadi diantara mereka. Namun kemenangan berpihak pada anggota Riko dan Steven.
Saat masuk, ternyata ruangan didalamnya begitu lebar, seperti sebuah rumah di dalam tanah. Alat alat canggih kedokteran terpampang nyata, beberapa bungkus darah dan organ tubuh manusia yang sepertinya masih baru terjajar di sebuah kotak pendingin. Agung benar benar mafia yang kejam.
Revan tergeletak diatas brankar sudah tak sadarkan diri. Alat pernapasan dan infus sudah terpasang, dua dokter dan lima orang lainnya terlihat shock saat melihat para polisi dan orang orang Steven sampai ke tempat itu. Mereka mengangkat tangannya menyerahkan diri.
Agung baru saja keluar dari sebuah ruangan dibuat terkejut. Alhasil perang terjadi kembali Agung tidak mau menyerahkan diri berusaha untuk kabur, hingga polisi menembaknya dan dia jatuh ke dalam jurang.
Revan menangis sesenggukan di pelukan sang ibu. Selama enam bulan dikurung oleh ayahnya sendiri. Dipaksa untuk mau menggantikan kedudukan ayahnya, menyaksikan setiap kekejaman yang ayahnya lakukan.
Nabila melihat ada sepuluh orang berpakaian hitam, dua diantaranya polisi, tukang gali kubur dan Revan juga ibunya. Seseorang wanita mengenakan kaca mata hitam besar juga disana. Kenangannya kembali pada saat ayahnya meninggal, begitu banyak orang yang mendoakan, sampai kuburan penuh oleh manusia, dihadapannya kini, yang mendoakan hanya segelintir orang, yang dibayar.
"Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama." Artinya setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia.
"Ya, kau sangat benar, sekarang aku sudah mantapkan hatiku untuk ikut denganmu ke Kanada. Apakah kita jadi berangkat besok pagi?"
"Hehem." Steven dan Nabila pun pergi dari sana.
__ADS_1
Kepergiannya di lirik oleh seseorang dibalik kaca matanya, tangannya mengepal erat. Ditahannya sementara rasa yang bergejolak di dada.
Seorang gadis yang berkaca mata besar itupun memandang nanar tanah merah di depannya. Dia mendekat setelah gundukan merah itu benar benar sepi. Bunga bunga segar bertebaran diatasnya. Gadis itupun mendekat, memutar memori di kenangannya.
Sosok pria yang membuatnya mereguk kenikmatan pertama kali. Pria yang pantas menjadi ayahnya, mengajarinya banyak hal dalam bermain di ranjang, hingga dia tidak bisa melepaskan kebiasaan itu. Pria itu juga mengenalkannya pada obat obatan terlarang yang membuatnya melupakan masalah keluarga yang dihadapinya.
Mama tirinya yang tak pernah peduli padanya dan ayahnya yang tak pernah membelanya. Membuat dia keluar dari rumahnya sendiri dan menerima tawaran untuk menjadi model majalah dewasa. Karirnya semakin meroket, saat kenal dengan Agung, walau dia tahu sisi lain dari Agung, tapi dia merasa nyaman berada di sampingnya. Bahkan Agung memberikannya kemewahan yang tak pernah dia dapatkan dari orang lain.
Gadis itu semakin mendekat dan menjatuhkan tubuhnya ditepi nisan. Air matanya jatuh tanpa dia sadari, sifat keras dan arogannya hilang begitu saja. Dia pun tak mengerti kenapa merasa begitu kehilangan. Dia pikir selama ini hanya karna uang dan kenikmatan semata dia selalu menjaga agar bisa terus bersama Agung. Namun nyatanya tidak, rasa kehilangan yang berbeda, tepatnya rasa kehilangan ditinggal sang kekasih.
Gadis itu adalah Marina, dia membuka kacamata hitamnya. Hidung mancung, kulit putih halus, dan tinggi semampai membuat siapa saja bertekuk lutut. Menangisi kepergian pria paruh baya, bukan ayah atau pamannya, tetapi kekasih. Lucu bukan dunia ini?.
Marina meremas tanah merah ditangannya, satu tangannya lagi mengelus perut datarnya. Keinginannya untuk menerima pujaan hatinya dengan segala kekurangan yang dimiliki, lenyap sudah dibawa malaikat kematian.
"Aku akan membalas dendam dengan kematianmu sayang. Mereka yang menabur, mereka yang akan menuai, aku akan pastikan membalas atas apa yang kamu dapatkan. Jika aku tidak bisa meraihmu, aku masih bisa meraih adikmu."
Memakai kembali kacamata hitamnya, berjalan anggun menuju mobil, dan meninggalkan pemakaman dengan segala rencana yang tersusun rapi di otaknya.
Aku tahu, kau pasti akan membalas dendam, tapi aku pastikan, dendammu tak akan terlaksana.
Seorang pria di balik pohon meninggalkan pemakaman.
Bersambung...
Terima kasih sudah bersedia membaca cerita receh author ..love you all
__ADS_1
mohon tinggalkan jejak ya