
...Pada beberapa chapter ini mungkin akan author bahas sedikit kilas balik sebelum Ziya benar-benar menjadi orang asing dan kembali kepada keluarga yang sesungguhnya. Jadi, jangan lupa baca per paragraf ya, agar tidak kelewatan infonya....
...Happy reading...
Steven's house
3 tahun telah berlalu.
Suara canda tawa dua bocah yang hampir seumuran itu menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan kedua babysitter itu sampai kerepotan mengurus kebutuhan mereka berdua.
"Ano, Zafran Mandi dulu ya, sama Nanny!"
"Mom ... mo ... na ..!" Aldino atau yang biasa mereka panggil Ano memang lebih cadel daripada Zafran.
"Momymi." Kali ini Zafran yang menawar.
"No, Zafran, Aldino. Mandi sama Nanny sekarang!" ucap Nabila sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat. Kehamilan keduanya kali ini terasa lebih berat sebab juga harus mengurus kedua bocah kecil yang lagi aktif-aktifnya.
Nabila merebahkan tubuhnya di sofa setelah kepergian Zafran dan Hazel. Nabila menatap layar ponsel miliknya.
"Sekarang kau semakin jauh, bahkan kau tidak tahu, jika kau sudah memiliki seorang anak. Apakah kau akan memaafkan kakak saat ingatanmu kembali? Tapi kakak berharap, ingatanmu tidak akan pernah kembali, agar kau tidak kesakitan untuk yang kesekian kalinya." Nabila mengusap air matanya. Pikirannya berkelana ke mengingat kenangan tiga tahun silam.
Flashback
3 years ago
Nabila dan Steven baru saja memberikan peringatan terakhir untuk sang ibunda tercinta. Mama dari Steven. Mereka rebahan di sofa, Nabila mengangangkat kedua kaki, lalu meletakkannya berselonjor.
"Apakah kamu capek?" tanya Steven sambil meraih kaki Nabila dan memijatnya pelan. Steven duduk persis di depan Nabila tanpa sungkan.
"Lumayan, tapi aku sangat kuat kok," Nabila tersenyum dan langsung di balas oleh Steven. Kini Nabila tengah mengandung buah cinta mereka yang usianya sama dengan kandungan Ziya.
"My honey, kita jadi ke Indonesia kan? Aku sudah merindukan Ziya, beberapa hari terakhir ini perasaanku tidak enak, aku kepikiran terus tentang dirinya." Steven tersenyum dan menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Baiklah istriku yang cantik, kita akan ke Indonesia sekalian menghadiri pesta resepsi pernikahan Devan dan Marina." Nabila sangat bahagia mendengar ucapan suaminya.
"Baiklah, aku akan menyuruh Riko mempersiapkan segalanya." Steven mengambil ponselnya lalu menelpon sang asisten. Menyuruh Riko untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa membawa sang istri mengudara besok.
"Semua beres sayang, jadi sebaiknya kau istirahat." titah Steven.
Nabila sebenarnya merasa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak enak. Ada rasa cemas dan gelisah. Tapi, dia harus cukup istirahat dan baik-baik saja agar bisa ikut pulang ke Indonesia. Dia sudah menantikan moment ini berbulan-bulan lamanya.
Setelah besok paginya, Steven dan Nabila juga dengan asisten Riko serta satu staf perempuan bernama Kyle. Menempuh perjalanan dari Ottawa, Ontario, Canada selama 11 jam dan sampailah di Indonesia menjelang sore hari. Steven membawa rombongannya menginap di sebuah hotel di Jakarta.
"Aku tidak sabar membuat kejutan untuk adikku," ucap Nabila sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Wajahnya bersinar menunjukkan isi hatinya. Dia mengusap perutnya yang telah membuncit.
"Apakah kau sebahagia itu? Hemmh!" Steven memeluk pinggang istrinya dari belakang, lalu mencium pipi sang istri, Stevan menyibak rambut, kemudian membuka jubah mandi istrinya di bagian leher dengan jari.
Leher jenjang itupun terekspos sempurna, Steven memberi kecupan-kecupan mesra di sana. "Sayang, jangan sampai terlihat. Apa kau tidak ingat kita pernah di pergoki Ziya waktu itu?" Nabila menarik mengelus dagu suaminya yang belum juga mau berhenti. Bahkan Nabila merasakan ada pergerakan di bagian dada dan paha, bahkan tangan di bawah itu sudah mulai meraba ke bagian inti.
"Hemmh, ajari dia kalau masih seperti itu," balas Steven masih dengan kabut gairahnya yang semakin memanas. Nabila bahkan sudah mulai mendesah, sebab tangan nakal itu memasuki area favoritnya. Dan beraktivitas liar, membuat sensasi luar biasa yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah pernah menikah.
"Sayang, kau mandilah dahulu, aku akan membuka pintu, mungkin Riko ingin mengabarkan sesuatu yang penting." titah Steven.
Ternyata Steven menemui dua orang bodyguard yang diberi tugas untuk menjaga Ziya. Steven segera masuk lagi dan berkemas.
"Sayang, ada apa? Sepertinya kau buru-buru sekali?" tanya Nabila heran.
"Sayangku, aku mohon kau diam disini di temani oleh Kyle ya, Jangan kemana-mana. Setelah semuanya selesai, aku akan segera mungkin kembali." ucap Steven sambil merapikan kemejanya. Secepat kilat Steven menyambar jas lalu pergi setelah meninggalkan ciuman di kening istrinya." Nabila yang masih penasaran itupun tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
"Hai, Sayang! Dasi ka_" Nabila sampai di pintu dan mendapati Kyle sudah berdiri di depan pintu.
Flashback of
"Hai, Sayang!" suara yang diiringi dengan ciuman di kening itu, begitu mengejutkan Nabila sampai Nabila melepaskan ponsel miliknya.
Pria itupun mengambil benda pipih yang masih menyala, dia tersenyum tipis saat melihat gambar yang terpampang nyata di sana, kemudian meletakkannya di meja.
__ADS_1
"Sayang, ada kejutan untukmu. Kau bisa menemui saudaramu malam ini. Kita akan menghadiri undangan anniversary pernikahan Tuan dan nyonya Anderson."
"Benarkah?" Wajah Nabila berbinar, namun seketika redup kembali.
"Pasti prank doang! Mana undangannya?" Nabila mengulurkan tangannya.
"Nih tangan harusnya buat salim sama suami," Steven menjabat tangan Nabila, lalu menariknya ke hidung Nabila.
"Hehe, lupa!" Nabila nyengir kuda.
"Melamun terus seh! Sampai tidak lihat suamianya pulang." cibir Steven.
"Eh, iya, ya, tumben sudah pulang jam segini?" tanya Nabila yang baru menyadari jika suaminya pulang lebih cepat.
"Yah, kebetulan pekerjaan hari ini sedikit, jadi bisa pulang cepat. Dan buat kasih kejutan buat Mommy, kalau malam ini, mommy bisa ketemu sama adik kesayangannya. Tapi sepertinya tidak mendapat respon yang memuaskan." Steven menyandarkan punggungnya dengan mimik muka kusut sebab kejutannya tidak berjalan sesuai harapan.
"Jangan gitu dong Dady, tadi sudah tuh bilang gini "Benarkah!" masak Dady nggak bisa menilai jika itu bentuk dari rasa keterkejutan aku," ucap Nabila dengan mimik muka yang lucu. Membuat Steven gemas karenanya.
"Ih, jadi gemes ih," mencium pipi, kening, dan terakhir bibir. Steven menekan tengkuk Nabila dan memperdalam ciumannya.
"De ... dedi ... de! Ma!" Suara si kecil Zafran membuat keduanya gelagapan dan melepas ciuman mereka. Nabila mengusap bibirnya yang basah sebab ulah Steven, begitupun sebaliknya.
"Daddy ... Daddy!" Nabila membenarkan.
"Duh, anak Dady harumnya, baru selesai mandi ya," Steven mengangkat bocah itu kepangkuan. Tak berapa lama muncul juga si kecil Alvaro. Tangan mungilnya terulur minta juga untuk digendong.
"Sini-sini semuanya sama Dady yuk," Steven melambaikan tangannya, kemudian juga berbuat hal yang sama terhadap Alvaro, mengangkat bocah kecil itu ke dalam pangkuannya.
"Lihatlah! Kau semakin berat saja sekarang!" kini di kedua paha Steven masing-masing ada bocah kecil yang saling berebut perhatian.
"Iya, mereka akan menjadi Macan Asia selanjutnya," ucap Nabila terkekeh.
Bersambung....
__ADS_1