
Aditya dan Rizal telah tiba di Negara Indonesia. Hawa dingin menyelimuti kembali sanubari Aditya, meski cuaca musim kemarau sangatlah terik. Banyak orang-orang memilih berteduh atau bermalas-malasan di ruang ber AC.
"Rizal, tolong kau awasi dan pantau terus keadaan Zea selama di Indonesia nanti. Aku harus bisa memastikan sendiri, apakah benar dia Ziya atau tidak."
"Apakah Tuan masih ragu?"
"Bukan seperti itu Rizal, hanya saja ...!" Aditya membuang pandangannya keluar jendela. "Aku takut jika ini hanya kebahagiaan sesaat."
"Apakah Tuan takut jika Nona Ziya akan berpaling?" hal yang paling ditakuti dalam setiap hubungan cinta.
"Dia tidak ingat kepadaku Zal." Terlihat kepedihan yang dalam dari nada dan kata yang keluar dari mulut Aditya.
"Jika memang jodoh, tak akan kemana Tuan."
"Yah! Kau benar. Setidaknya aku mengetahui jika dia selama ini tidak memiliki kekasih." Aditya tersenyum senang. Fakta tentang kehidupan Zea yang selama ini dihabiskan hanya untuk pengobatan dan pendidikan.
"Satu tugasmu Zal, berikan pengawasan ekstra kepada Zea."
"Baik Tuan!"
"Dan satu lagi, jangan sampai mama tahu akan hal ini. Aku akan menemui papa sebelum pulang ke mansion." ucap Aditya tanpa menoleh. Kini mereka sudah sampai pada sebuah mobil mewah mengkilap yang akan membawa mereka pada tempat yang dituju.
Aditya duduk di belakang dengan kepala tersandar, sedangkan Rizal berada di kemudi. Rizal tadi menyuruh anak buahnya turun dan mengambil alih kemudi.
"Rizal, apa kau pernah menaruh curiga pada wanita yang menjelma menjadi mama? Kadang aku berpikir, apakah dia benar-benar mamaku atau bukan?" Bersandar pada kursi sambil memejamkan mata. Terlihat santai memang, tapi Rizal tahu benar di kepala Aditya pasti terjadi pertarungan hebat antar gumpalan otak dikepalanya.
"Saya mana berani Tuan?" meski sebenarnya Rizal juga menduga hal yang sama. Sebelumnya Maya tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain, bahkan wanita yang menjadi ibu dari atasannya itu terkesan anggun dan lemah lembut. Tapi jika melihat fakta yang telah terungkap, maka siapapun pasti akan bisa terkena stroke sebab melihat sikapnya yang berbanding terbalik dengan apa yang terlihat.
"Mama memang sangat hebat. Bahkan dia bisa berbuat hal yang diluar nalar kita. Dia bagaikan mawar putih yang beracun." Aditya mengeluarkan segala apa yang bercokol di hatinya. Rizal tahu benar kesedihan atasannya itu. Kasihan! Tentu saja, tapi siapa yang berani menunjukkan hal itu di hadapan seorang Aditya Bagaskoro.
"Sabar Tuan!"
"Apa aku terlihat lemah?"
__ADS_1
"Sebab manusia tidak memiliki daya upaya melainkan dengan kekuatan sang Maha Pencipta."
"Sok bijak kamu!" Aditya masih dengan posisi yang sama. "Aku berharap semua kembali bahagia." lirih Aditya memijit pangkal hidungnya. "Semua telah bercerai berai dan hancur Zal. Bahkan tidak ada yang tersisa. Andai mama tidak berbuat lebih jahat lagi."
Rizal diam saja, mengerti akan kesakitan sang atasan yang mengalami keterpurukan sebab keluarga yang hancur. Kabar kematian Ziya dan terkuaknya kejahatan Maya, membuat keluarga Bagaskoro berantakan. Syita yang memilih menetap bersama saudara kembarnya Tisya, Denny yang memilih pergi dari rumah, lalu Aditya yang selalu terpuruk sebab meratapi kepergian sang istri, semua itu adalah dampak dari keegoisan seorang Maya.
"Semoga setelah ini hanya kebahagiaan yang menyertai dirimu Tuan!" batin Rizal. Sedangkan Aditya nampak masih betah dengan posisi yang sama.
Rizal menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sedikit lelah, sebab perjalanan yang lumayan jauh, untunglah dia sekalu tertidur bila berada di dalam pesawat. Itulah kebiasaan Rizal yang tidak diketahui oleh banyak orang.
✓✓✓
Dua gadis cantik nampak turun dari badan pesawat dengan diikuti oleh tiga orang berjaket hitam dengan model yang sama.
"Indonesia I am coming." teriak Zea yang seketika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Beberapa orang menoleh dan beberapa terlihat berbisik. Mungkin mereka berpikir ada turis gila yang masuk Indonesia.
"Hai, kau tahu orang Indonesia menyebut pendatang sepertimu dengan sebutan 'Bule'"
"Bukan!" koreksi Lisa. "Tapi BU-LE"
"Lucu sekali, memang apa artinya?"
"Bukan bermakna sesuatu, tapi Bule (dibaca bu-le) berasal dari kata boulevard. Orang-orang dahulu pada zaman kolonial untuk mempermudah komunikasi dengan sesama dalam menyebut orang-orang eropa yang berkulit putih, mereka menggunakan kata bule karena untuk mempermudah mereka merujuk pada orang-orang eropa yang pada saat itu tinggalnya di boulevard. Jadi sebutan bule itu merujuk pada orang-orang eropa yang tinggal di boulevard di indonesia pada zaman dahulu."
"Menarik sekali. Aku jadi tidak sabar untuk mendapat julukan itu." ucap Zea dengan tersenyum sempurna.
"Kau terlihat begitu bahagia Nona!"
"Tentu saja, entah mengapa aku sangat ingin berkunjung ke Negara ini. Negara dua musim yang memiliki sejuta keindahan adat dan budaya. Terutama situs candi Borobudur. Kau harus mengajakku ke sana." Zea dengan antusias berjalan terlebih dahulu.
"Hai Nona, kau salah arah. Kita harus ambil barang dahulu." teriak Lisa.
"Kau saja yang ambil, aku harus ada pekerjaan penting," teriak Zea tanpa menoleh. "Hai, kamu dan kamu, ikut aku." teriak Zea kemudian jalan dengan setengah berlari, yang tentu saja langsung diikuti oleh kedua bodyguard pilihannya.
__ADS_1
"Hai kenapa kau tidak ikut Nona muda?" ucap Lisa melihat salah satu bodyguard berambut pirang itu masih bertahan di tempat.
"Saya yang bertugas menjaga Anda Nona!" Lisa berdecak kesal. Pasti itu ulah Mon. Dadynya.
"Apa karna kemarin?"
"Maaf Nona, saya hanya bertugas!"
"Ch." Lisa berdecak kesal lalu berjalan tanpa menoleh lagi. Tentu saja pengawal itu mengikutinya.
"Jangan terlalu dekat denganku. Aku tidak suka diikuti." menoleh sejenak lalu melanjutkan langkah lagi.
"Ingat! Jaga jarak!" teriak Lisa lagi, saat bodyguard itu mendekat. Tanpa disuruh dua kali orang itupun sedikit menjauh.
✓✓✓
Di tempat lain, di rumah besar milik keluarga Anderson Jenna nampak mondar-mandir di teras rumah miliknya. Netranya langsung menuju arah gerbang yang terbuka. Sebuah mobil mewah masuk dengan perlahan.
"Bagiamana Mike? Apa kau sudah menemukan dimana adikmu berada?" Jenna segera mencecar anaknya yang baru saja turun. Tanpa menunggu jawaban dari Mike, Jenna segera mendekati pintu mobil dan memutarinya. Seketika wajahnya berubah sendu dan memerah, panik tentu saja.
"Apa kau gagal menemukannya?" tebak Jenna saat melihat raut wajah anaknya yang nampak gusar. Bersamaan itu, masuklah sebuah mobil lagi, sudah bisa dipastikan di dalamnya pasti ada Lisa.
"Lisa, bagaimana bisa kamu kehilangan Zea? Apa kau tidak tahu, dia baru saja menginjakkan kaki di Negara ini? Bagaimana kalau dia nyasar atau mungkin menemui orang jahat? Atau mungkin malah ... !" Baru saja Lisa menapakkan kakinya sudah dicecar pertanyaan oleh Jenna. Bahkan Jenna nampak mondar-mandir dan memijat pelipisnya berulang kali.
"KALIAN SEMUA TIDAK BERGUNA!" Jenna menitikkan air mata lalu berlari ke dalam rumah. Namun beberapa menit kemudian, Jenna keluar kembali dengan menenteng tas di tangan kirinya. Dan tangan kanan memegang kunci mobil.
"Momy akan cari sendiri dimana keberadaan Zea. Kalian tak guna!"
"Mom, Momy jangan gegabah Mom!"
Tak dihiraukan lagi ucapan Mike, mobil yang ditumpangi Jenna melesat pergi tanpa bisa dicegah. Mike mengumpat kesal sebelum akhirnya menyusul kemana mobil Jenna pergi.
Bersambung.....
__ADS_1