Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 35


__ADS_3

Perlahan-lahan Zea membuka kelopak matanya, pertama kali yang dia lihat adalah seorang pria tampan yang kini duduk sambil memegang tangannya erat.


"Kau sudah bangun? Aku akan panggilkan dokter untukmu." Aditya menekan tombol guna memanggil perawat jaga. Selang tak berapa lama, masuklah seorang dokter dan seorang perawat yang sibuk memeriksa denyut nadi, detak jantung serta bola mata Zea.


"Bagaimana perasaan Nona Zea saat ini?" tanya dokter.


"Aku baik-baik saja dok!" meski menjawab pertanyaan dokter, tapi tatapannya mengarah kepada Aditya. Dokter menanyakan beberapa hal seputar kesehatan Zea, dan setelah itu, dokter itupun keluar.


"Kamu siapa?" Zea yang lupa-lupa ingat akhirnya memilih bertanya.


"Jika aku menjawab bahwa aku adalah kekasihmu, apakah kamu percaya?" Zea mengerutkan keningnya.


"Apa yang terjadi kepadaku?"


"Kau sempat pingsan di sebuah kafe. Dan sebelumnya, kau mengalami amnesia tiga tahun yang lalu."


"Benarkah?"


"Ya!" Aditya mengangguk, dia tidak akan membiarkan Zea melupakan dirinya. Atau setidaknya Zea merasa pernah dekat dengan Aditya.


"Entah kenapa setiap kali bertemu dengan dirimu, aku merasa nyaman, tapi aku tidak mungkin percaya begitu saja tanpa adanya bukti."


"Maka dari itu, kau harus sehat dan baik-baik saja, aku akan memberikan semua buktinya kepadamu."


"Sebenarnya siapa kamu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti."


"Apa aku orang yang penting di dalam hidupmu?" Zea ingin memastikan rasa yang sering membuatnya tidak bisa tenang. Sebuah rasa yang membuatnya enggan menjauh dari Aditya.


"Jangan banyak bicara, kau harus istirahat." mengusap lembut rambut Zea penuh kasih sayang.


"Aku tidak mau tidur!" mencoba bangun sendiri meski dalam keadaan lemah.


"Hai, kau masih sama ya, ngenyel kalau dibilangin." omel Aditya, yang juga membantu Zea bangun dari tiduran.


"Apa kau ingin sesuatu?" Zea nampak malu-malu kemudian "Aku ingin ke kamar mandi."

__ADS_1


"Biar aku bantu!" Aditya memposisikan tangannya dibawah paha Zea, "Tapi _"


"Diam! Cukup kau bawa infusnya saja!" Titah Adutya, entah mengapa Zea menjadi penurut begini ya.


"Sampai disini saja!" tolak Zea yang merasa malu.


"Diam, atau akan berbuat sesuatu yang membuatmu lebih tidak berdaya." ancam Aditya, entah kenapa saat berhadapan dengan Aditya, dirinya mati kutu. Bahkan perasaan yang dulu kosong dan hampa, kini dipenuhi bunga musim semi yang bermekaran.


"Turunkan aku dan berbaliklah, aku bisa sendiri!" pinta Zea, menahan tangan Aditya yang hampir saja membuka bawahannya.


Duh Aditya, bagaimana kamu bisa selancang itu? Bagaimana jika dia infeel padamu. Ah bodoh amat, diakan masih istriku. Andai kamu mengingat kisah kita, maka akan aku lakukan hal yang lebih intim daripada ini. batin Aditya.


"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri? Ngintip ya!" melihat dari punggung Aditya yang terlihat bergetar.


"Tidak! Tapi kalau mau dilihatin juga nggak nolak!"


"Kau!" Zea segera menyudahi ritualnya dan bangkit dari kloset.


"Hai, kau masih sakit!"


"Aku sudah sehat! Perintahkan mereka mencabut selang ini. Aku mau pulang."


"Baik, akan aku cabut sendiri!" Zea mulai mengarahkan tangannya pada infus.


"Jangan! Oke! Aku panggilkan." Aditya pun akhirnya memanggil perawat.


✓✓✓


"Marina, kami ingin satu saja kebaikan hatimu! Kami akan membayar berapapun asal kau mau menyerahkan penawar itu." ucap Jenna yang kini telah berada di rumah Marina.


Setelah para orang tua berembuk, mereka sepakat untuk menyerahkan sejumlah uang untuk menebus obat penawar untuk Zea. Maya pernah melihat Agung membuat sebuah ramuan yang diracik untuk melenyapkan Mila. Dalam dosis tertentu, racun itu akan menjadi sebuah penawar untuk racun lain. Tapi dalam dosis rendah akan menggerogoti nyawa seseorang.


"Kalian pasti mengetahui hal ini dari Nyonya Maya bukan? Kenapa dia menyuruhmu kemari? Bukankah dia juga punya penawarnya?" Marina membalikkan pertanyaan, membuat Jenna dan Marcell memutar otaknya lagi, untuk menyakinkan Marina.


"Dia tidak memiliki penawarnya." bantah Jenna.


"Kalian dibohongi. Penawar itu sudah ada padanya. Bahkan aku sendiri yang memberikannya." Marcell tersenyum sinis.

__ADS_1


"Apakah kau akan melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Agung?" tebak Marcell to the poin.


"Mila memang terbunuh di tangan Maya, tapi itu semua adalah karena campur tangan Agung. Dia begitu licik. Dan menularkan sifat itu kepadamu." Marina membulatkan matanya sekejap, tapi sedetik kemudian, terlihat santai dan normal kembali. Tapi Marcell bukan anak kemarin sore yang bisa dibohongi dengan begitu mudah.


"Aku tidak tahu apa-apa!" ucap Marina kembali, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, guna mencari dimana anak buahnya. Dia harus bisa melarikan diri.


"Marina, kami tidak akan melakukan apapun kepadamu, tapi tolonglah Zea, dia dalam bahaya."


"Dia telah merebut Aditya ku. Aku sudah mengikhlaskan. Tapi, setelah itu, dia juga merebut Devan milikku." semua orang tidak menyangka bahwa inilah yang sebenarnya menjadi pemicu kejahatan Marina.


"Zea adalah adiknya, bagaimana bisa merebutnya?"


"Mereka hanya saudara angkat. Bagaimana tidak bisa? Mereka bisa menikah kapan saja tanpa sepengetahuanku. Iya kan?" Marina menjambak rambutnya sendiri. "Wanita itu merebut semua apa yang aku miliki. Aku tidak akan biarkan itu."


"Marina, kau salah paham, Sayang!" Devan yang kini baru pulang, terkejut saat melihat rumahnya tengah dikelilingi oleh orang-orangnya Anderson. Dan lebih terkejut lagi, saat mendengar penuturan istrinya sendiri.


"Kau bohong! Kau selalu bilang seperti itu, tapi kau tetap menemui Ziya waktu itu. Kau menghawatirkan dirinya melebihi kekhawatiran mu terhadapku. Bahkan saat Ziya amnesia, kau tetap mengkhawatirkan dirinya."


"Sayang! Aku hanya membawanya ke rumah sakit. Akibat dari pukulan vas yang dilemparkan oleh Nyonya Maya. Dan satu hal lagi Marina, kekhawatiranku terhadap Ziya, tidak lebih dari kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya!"


"Aku tidak percaya!" Marina menghentakkan kakinya, kemudian membalikkan badan dan pergi dari ruang tamu. Jenna dan Marcell menarik nafas dalam-dalam. Gagal sudah apa yang mereka rencanakan kemarin. Marina tidak bisa diajak bicara baik-baik.


"Tuan Devan, sebaiknya kami pulang terlebih dahulu. Dan jika Anda berkenan, kami mohon agar Anda mau bicara dengan istri anda agar mau menyerahkan penawar itu."


"Tentu saja Tuan. Saya akan berusaha."


✓✓✓


Di dalam sebuah ruangan, beberapa orang berbaju putih tengah sibuk dengan beragam tanaman. Mereka tengah Melakukan banyak penelitian.


"Bagaimana hasilnya?"


"Kami belum menemukan ramuan sampel yang cocok dengan kadar racun yang kami dapatkan dari darah Nona Zea," ucap salah satu dokter yang paling tua.


"Kalian memang tidak becus?" umpat Rafa yang membuat harga diri pria paruh baya itu jatuh.


"Maafkan kami Tuan!"

__ADS_1


"Satu Minggu. Hanya satu minggu. Jika kalian tidak bisa membereskannya, maka jangan salahkan aku yang berbalik membereskan kalian. Beberapa orang mulai tidak tenang.


Bersambung.


__ADS_2