Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Gara gara cemburu. 1


__ADS_3

Ziya masih merasa canggung, dia meremas tangannya sendiri, lalu menggigit jari begitulah berulang kali.


"Bagaimana aku bisa sebodoh itu seh." Ziya kini memukul keningnya sendiri. Aditya sudah menjelaskan semuanya. Jika semua yang di lihat oleh Ziya hanya kesalah pahaman saja. Marina memang menelpon Aditya dan mengajak ketemuan.


Tapi sebetulnya pertemuan itu bertiga dengan Devan. Hanya saja Devan datang terlambat karena ada meeting.


"Bagaimana perasaan Syita nantinya, jika tahu yang sebenarnya." Ziya begitu cemas memikirkan semua yang di ceritakan oleh Aditya. "Apa mungkin mama tega mengkhianati papa yang begitu baik?"


"Jadi, anda menceritakan hal itu kepada nona Ziya?" Rizal dan Aditya kini berada di ruang kerja Aditya.


"Ya, aku tidak mungkin bilang jika yang membunuh ibu mertua adalah mamaku. Makannya aku cerita itu kepada Ziya. Aku harap dia bisa mengerti keadaan ini dan menguatkan Syita nantinya."


"Apa anda percaya begitu saja, tuan?"


"Entahlah, Zal! sebenarnya aku juga tidak sepenuhnya percaya. Hanya saja ada banyak bukti yang memperkuat itu. Foto foto dan video kemesraan mama dan tuan Rama. Aku harus menyelidiki ini, Zal."


"Apa perlu kita lakukan tes DNA, tuan." Rizal memberikan solusi.


"Apapun yang terjadi, dia tetap adikku Zal." lirih Aditya. Rizal cukup tahu sifat Aditya yang begitu mencintai adiknya. "Aku akan coba bicara sama papa." terusnya lagi.


Ziya yang tiduran melihat jika akun Syita ada yang aktif mengirim pesan kepada Syita melalui email. Sebab jika dengan akun lain tidak di balas.


💌Adek, bagaimana kabarmu? apa kau baik baik saja. Kenapa tidak pulang?"


Pesan yang mungkin sudah ke berapa puluh kalinya di kirim oleh Ziya.


💌Kabar baik kaka, aku baik baik saja. Bagaimana kabar di sana!"


💌Masih seperti sebelumnya Syita. Apa aku harus pergi dari sini ya Syita. Agar mama pulang dan kamu juga pulang. Aku merasa bersalah karna telah membuat kalian bertengkar. Akulah penyebab dari kekacauan ini."


Ziya mengakhiri pesan yang dikirim. Lalu meletakkan handphonenya di nakas. Ziya menghembuskan nafasnya berulang kali. Kenapa semuanya berubah. Saat bertemu dengan Maya pertama kali, dia menilai Maya adalah orang yang baik. Bahkan meminta maaf atas kelakuan Aditya saat di meja makan. Dan sekarang, kenapa harus begini.


"Tunjukkan jalan yang harus aku ambil ya Allah." lirih Ziya sambil memeluk guling.


Malam semakin larut, Aditya sudah kembali ke kamarnya. Dia melihat sang istri yang berada di bawah selimut belum juga tertidur. Tapi sebelum itu dia pergi ke kamar mandi.


"Kenapa belum tidur? hemmm!" Setelah kembali dari kamar mandi, mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


"Aku masih kepikiran sama Syita. Apakah dia baik baik saja saat ini?"

__ADS_1


"Kami sudah berusaha untuk mencarinya, tapi belum juga ketemu." Ucap Aditya pelan.


"Dia tadi menghubungi, aku!" antusias Ziya menunjukkan email yang di kirim oleh Syita.


"Kita bisa melacaknya melalui email ini, kan!" Ziya sangat berharap. Aditya mengangguk membenarkan.


"Semoga saja, kita bisa membawanya kembali." Aditya keluar sebentar mengambil laptop miliknya lalu berkutat pada ponsel Ziya dan tersenyum lebar.


"Kita menemukannya Ziya, dia berada di desa X. Eh untuk apa dia berada di sana."


"Mungkin pergi ke rumah temannya." Tebak Ziya.


"Baiklah kita coba hubungi Syita balik." Aditya berselancar di handphone Ziya. Karna nomer miliknya telah di blokir oleh Syita.


"Tidak bisa, dia sudah tidak aktif lagi setelah aku mengirim pesan terakhir." Ziya cemberut sambil memainkan seprai dengan kedua tangannya. Imut sekali seperti balita yang lagi merajuk.


"Kalau seperti ini, kau sangat imut sekali." Aditya menggodanya. Ziya berbinar sampai merubah posisinya. Aditya juga merebahkan tubuhnya menghadap ke Ziya.


"Sayang?" Ziya memulai pembicaraan.


"Iya, masih memegang gawai Ziya dan mengotak atiknya."


"Ini kenapa foto kamu sama cowok mesra banget?" Aditya melihat Ziya dengan tersenyum lebar memeluk seorang pria.


"Ada deh! dia idola aku sejak pertama kuliah. Tapi setelah wisuda sampai sekarang belum ketemu lagi." Ziya bercerita sambil memainkan kancing piyama Aditya.


"Siapa dia!" Selidik Aditya mulai meninggi rasa cemburu mulai menguasainya.


"Kamu cemburu, sayang!" Selidik Ziya pas deh kalau cemburu aku juga tadi kan juga cemburu salah alamat biar dia juga kena.


"Katakan siapa, dia?" Menunjuk pria tampan yang menggandeng Ziya.


"Aku hapus semua fotonya." Dengan singkat foto foto itu hilang tak tersisa.


"Jangan hapus dong, sayang. Itu kan kenangan aku sama dia, bagaimana jika aku merindukannya nanti." Drama Ziya padahal ya di laptop masih ada foto tuh cowok.


"Ziya, katakan siapa dia!" tatapannya mulai menajam. Awalnya Ziya yang ingin membuat suaminya cemburu jadi berubah haluan. Aditya pun berselancar di handphone milik Ziya lagi kali ini di bukanya sebuah chat.


💌Ziyaku zeyeng, besok gua ke rumah, luh ya. Gua sudah tiba di Indonesia tadi pagi. Pekerjaan gua juga sudah kelar."

__ADS_1


💌Iya vinku zeyeng, aku tunggu kedatangannya di rumah suami gua."


💌Ziyaku zeyeng, serlok alamatnya ya. Gua bakal capcus ke situ. Gua kangen banget sama luh.


💌Gua juga kangen sama luh Vinku zeyeng.


💌Sampai ketemu besok ya....peluk ciumku untukmu bay.


Pesan singkat itu berakhir bersama handphone milik Ziya yang di lempar Aditya ke dinding kamar mereka.


"Sayang, kenapa di lempar seh?" Ziya sudah menangis histeris. Harapannya untuk mengabari Syita dan Vin musnah sudah. Aditya di bikin pusing karenanya.


Bukankah yang marah seharusnya, aku ya. Aku yang cemburu dan dia menangis setelah aku memutuskan via online mereka.


Tapi apa daya Aditya yang ingat pesan dokter agar tidak membuat Ziya stres tidak bisa meluapkan kekesalannya. Alhasil dia keluar kamar sambil menyugar rambutnya berulang kali.


"Halo Rizal."


"Halo tuan ada apa." Masih dengan ogah ogahan Rizal mengangkat handphonenya.


"Rizal halo Rizal, Rizal. Shiiit!" Aditya mengumpat karna panggilannya di matikan sepihak oleh Rizal. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Pantas saja Rizal telah tertidur. Apalagi pekerjaan sehari ini begitu banyak di tambah tadi Rizal begadang di rumahnya.


"Ah aku hubungi saja Winda."


Beberapa saat terdengar suara di seberang.


"Iya Aditya ada yang bisa aku bantu." Dengan suara cemprengnya. Aditya menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak.


"Gua mau nanya? apa selama ini Ziya pernah curhat ke elu tentang seorang cowok?" Aditya to the point.


"Nggak pernah tuh. Setahu, aku Ziya itu nggak pernah punya pacar Deh." Winda sambil mengingat ingat tetap saja tidak menemukan fakta atau gosip Ziya pernah pacaran.


"Beruntung lu Dit, cinta pertama Ziya adalah suaminya. Kalau lu cuma nanya itu doang gua sudahin ya Dit gua lagi capek banget ini habis show."


Menutup panggilan.


"Di putus sepihak lagi."


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2