Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 10 ~ Membuktikan ~


__ADS_3

Athena tak sempat bertemu dengan Axel sebelum pagi datang. Gadis itu ketiduran dan baru terbangun setelah langit terang. Athena sangat menyesal, ingat akan ucapan Axel, bahwa kemampuannya melihat makhluk gaib adalah anugrah karena telah berbuat baik. Gadis itupun melakukan perbuatan baik demi bisa melihat Axel disiang hari.


Salah satu perbuatan baik yang dilakukannya sekarang adalah menemani temannya Vivi yang pingsan saat apel sekolah. Gadis itu membuatkan teh hangat dan membantunya minum dengan perlahan.


Entah kebetulan atau memang yang diucapkan Axel adalah benar, tak berapa lama kemudian terlihat Axel yang berdiri didepan jendela kaca ruang UKS. Gadis itu langsung mengajak Axel masuk.


Axel berkata kalau Vivi belum makan sejak kemarin, Athena pun membalas ucapannya. Membuat Vivi merasa heran karena melihat Athena seperti berbicara sendiri.


"Teman imajiner" jawab Athena.


Lalu membantu Vivi meminumkan kembali teh hangatnya.


"Kamu bilang, kamu bicara dengan teman imajiner ? apa itu benar ?" tanya Vivi, wajahnya sudah lebih segar sekarang.


"Ya, aku punya teman imajiner" ucap Athena sambil tertawa berharap Vivi tidak begitu percaya.


"Bukannya teman imajiner itu hanya untuk anak-anak ?" tanya Vivi.


"Iya, ini teman imajinerku agak usil, jelek dan nakal, jadi udah segede ini masih suka muncul" ucap Athena.


Yang langsung kaget karena Axel tiba-tiba muncul tepat didepan wajahnya, dengan mata yang membesar. Athena tertawa, Axel berlagak seperti sedang marah namun laki-laki hantu itu justru terlihat lucu bagi Athena.


"Beruntungnya punya teman imajiner, jika aku sepertimu mungkin hidupku tidak akan menyedihkan seperti sekarang ini" ucap Vivi murung.


"Kenapa ? apa hubungannya dengan hidupmu ?" tanya Athena.


Vivi menitikkan air mata, lalu menangis terisak.


"Vi, kalau kamu nggak mau cerita nggak apa-apa, sebenarnya kalau kamu lebih suka dengan teman imajiner, anggap aja aku teman imajinermu" ucap Athena


Vivi tertunduk, gadis itu sepertnya belum siap untuk bercerita. Mungkin karena bukanlah teman yang akrab. Axel menyarankan untuk membelikan makanan untuk Vivi. Karena gadis itu belum makan dari kemarin. Athena terkejut mendengar ucapan Axel.


Belum makan dari kemarin ? batin Athena.


"Aku belikan makanan untukmu ya ?" ucap Athena meminta persetujuan Vivi.


"Nggak usah Athena, aku nggak enak merepotkan kamu" ucap Vivi.


"Nggak kok, aku pergi sebentar ya" ucap Athena langsung keluar dari ruangan itu.


Gadis itu berhenti diluar sambil memanggil Axel, laki-laki hantu itu berjalan menemui Athena sambil malas-malasan. Gadis itu kesal karena harus menunggu laki-laki itu keluar.


"Ngapain didalam situ mau berdua-duan sama Vivi ?" ucapnya langsung.


"Ngapain nungguin teman imajiner yang usil, jelek dan nakal kayak aku ?" balas Axel.


"Huh... dasar, harusnya aku bilang, usil, jelek, nakal, jahat dan kasar" ucap Athena setengah berteriak.


Lalu melangkah dengan cepat meninggalkan Axel, gadis itu ngambek. Axel mencoba menahan tangannya tapi tak bisa karena laki-laki itu hanya seperti bayangan. Axel melompat ke depan Athena tapi gadis itu cuek menembus bayangan Axel.


Axel lompat ke sebelah kiri, Athena melengos ke sebelah kanan. Axel melompat ke sebelah kanan, Athena melengos ke sebelah kiri. Axel kehilangan cara membujuk gadis yang sedang merajuk itu.


Athena seperti tidak menggubris Axel sama sekali gadis terus berjalan tanpa peduli pada Axel.


"A D U H..." teriak Axel.


Athena langsung menoleh, melihat Axel yang jatuh berlutut.


"Kamu kenapa ?" ucap Athena cemas.


Axel tersenyum lalu menggelengkan kepala, Athena kesal, Axel kembali mengerjainya.


"Athena jangan marah lagi, aku ingin menghentikanmu tapi tidak bisa. Kalau aku pakai kekuatanku disiang hari maka tubuhku akan lemah. Aku tidak bisa muncul lagi dihadapanmu" teriak Axel pada Athena yang terus berjalan.


Athena menghentikan langkahnya.


"Kamu bohongkan ? kamu cuma mau ngerjain aku lagi ?" tanya Athena.


Axel menggeleng.


"Aku serius makanya aku nggak bisa muncul disiang hari beberapa hari kemarin, itu karena aku menggunakan kekuatanku untuk melambaikan tanganmu pada Evan" ucap Axel sambil berjalan ke hadapan Athena.


"Kamu ingin aku muncul disiang hari kan ?" tanya Axel lagi.


Athena diam memandang laki-laki itu, melihat keseriusan ucapannya. Axel tak terlihat sedang bercanda.


"Baiklah aku tidak marah lagi" ucap Athena langsung melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Axel mengikuti sambil tersenyum, Athena menemui dokter dan meminta izin membelikan makanan untuk Vivi. Dokter menyarankan memberi bubur untuk Vivi, Athena pun memutuskan untuk membelikan bubur ayam tanpa sambal untuk gadis itu.


"Kamu kok tau sih kalau Vivi belum makan dari kemarin ?" tanya Athena saat berjalan menuju UKS.


"Aku sering memperhatikan dia" ucap Axel singkat.


"Kamu memperhatikan dia ? kenapa ? kamu suka padanya ?" tanya Athena bertubi-tubi.


"Bukan karena itu, karena dia seperti orang yang selalu bersedih. Kadang dia suka menangis sendiri disamping gedung sekolah. Dia seperti memiliki masalah yang berat" jelas Axel.


"Oh... kalau kamu, pernah nggak merhatiin aku ?" tanya Athena.


"Nggak, buat apa ?" tanya Axel.


Athena langsung cemberut.


"Kamu adalah gadis yang ceria dan selalu tertawa, sama sekali tidak memiliki masalah, lalu buat apa aku perhatiin kamu ?" jelas Axel.


Athena memandang Axel masih dengan cemberut. Sambil melangkah lebih cepat.


"Tapi sekarang ini, cuma satu orang yang aku perhatikan, cuma kamu" lanjut Axel.


Athena tersenyum diam-diam. Lalu menoleh ke arah Axel kembali menampilkan wajah cemberut.


"Kenapa ?" tanya Athena.


"Karena kamu gadis yang istimewa, cuma kamu yang bisa liat aku. Seharian aku perhatiin kamu hingga dua puluh empat jam" jawab Axel.


"Benarkah ? kamu nggak tidur ?" tanya Athena.


"Buat apa hantu tidur ? aku cuma berbaring tapi tidak tidur. Aku perhatiin kamu bahkan saat kamu tertidur" ucap Axel mendekati Athena.


Gadis itu berjalan menghindar, sambil tersenyum diam-diam segera berlari menuju ruang UKS. Begitu sampai Athena langsung membantu menyuapi Vivi.


"Kamu baik sekali Athena, kenapa dari dulu kita nggak akrab ya ?" tanya Vivi.


"Mungkin karena kamu orangnya kalem sedangkan aku ceroboh, anak kalem sepertimu mana mau berteman dengan anak ceroboh seperti aku" ucap Athena.


Vivi tercenung.


"Bukan seperti itu Athena, aku... entahlah mungkin ini karena dosaku yang begitu sombong sebelumnya" ucapnya dengan wajah sedih.


"Jika aku ceritakan, mungkin akan membuatmu bosan" ucap Vivi sudah mulai bisa duduk.


"Jika kamu butuh teman bicara atau sekedar teman untuk mendengarkan, kamu bisa andalkan aku. Aku akan bersedia mendengarkanmu" ucap Athena sambil tersenyum.


"Saat kamu bilang kamu memiliki teman imajiner, sungguh aku merasa iri karena aku ini anak semata wayang. Aku kesepian, aku hanya tinggal bersama ayahku. Sedangkan ibuku sudah lama meninggal" Vivi mulai bercerita.


Gadis itu menarik nafas berat.


"Ayahku sangat menyayangiku, untuk membantu belajarku, ayahku membayar seorang guru private datang kerumahku. Seorang wanita muda yang cantik, dia juga sangat menyayangiku. Aku yang kesepian, aku yang butuh teman akhirnya memiliki seseorang yang mau mendengarkan curahan isi hatiku" jelas Vivi, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hingga aku melihat gelagat dia menyukai ayahku, aku mendukung cintanya.


Aku memujinya didepan ayahku hingga suatu saat ayahku ingin menikahnya.


Aku langsung setuju, aku memiliki seorang ibu yang cantik, baik dan mau mendengarkan keluh kesahku" ucap Vivi, air matanya mulai mengalir.


"Tapi itu hanya sebentar, wanita itu mulai memperlihatkan wajah aslinya. Dimulai saat dia memecat semua pembantu dirumah kami. Ayahku merasa heran namun dengan kepandaiannya bermanis muka dia berhasil meyakinkan ayahku bahwa dia ingin berbakti dan mengabdi untuk keluarga ini sehingga dia ingin mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.


Ayahku termakan dustanya, saat para pembantu berhasil dipecat, dia berubah, bersikap kasar padaku.


Saat ayahku bekerja dia akan menyuruhku mengerjakan semua pekerjaan rumah. Jika aku lalai dia tidak mengizinkan aku makan" jelas Vivi yang sekarang telah terisak-isak.


Athena memeluk Vivi, gadis itu bisa merasakan kesedihan temannya ini.


"Kamu benar, aku belum makan sejak aku memecahkan piring makan saat mencucinya. Dia memaki, memukul, menjambakku hingga tak memberiku makan. Aku sungguh-sungguh takut padanya" ucap Vivi sambil menangis dipundak Athena.


"Kejam sekali, kita harus memberi tahu kelakuan ibu tirimu itu pada ayahmu" ucap Athena geram.


"Percuma, aku pernah melakukannya tapi wanita itu bisa memberikan alasan bahkan menjelek-jelekkan aku didepan ayahku sehingga ayahku lebih percaya padanya" jelas Vivi.


"Oh ya ampun nasibmu, kalau gitu kita harus bisa membuat ayahmu menyaksikan sendiri kekejaman ibu tirimu itu" ucap Athena.


Athena melirik Axel, laki-laki itu mengangguk setuju. Athena dan Axel akhirnya mengatur rencana, meminta alamat kantor ayah Vivi. Disanalah Athena menjelaskan semua cerita yang didengarnya dari Vivi.


Ayah Vivi tidak percaya.

__ADS_1


"Tidak mungkin, istriku itu sangat menyayangi Vivi. Bahkan Vivi sendiri yang menyarankan aku untuk menikahinya. Aku tidak bisa percaya dengan ucapanmu" sahut ayah Vivi.


"Kemarin Vivi pingsan disekolah pak, apa bapak tau kenapa ? karena Vivi sejak kemarinnya tidak makan hanya karena memecahkan piring makan, istri bapak menyiksa putri bapak. Apa bapak menunggu hingga sesuatu yang lebih buruk terjadi dulu baru bapak percaya. Jika itu terjadi maka sudah terlambat pak, bapak akan menyesalinya seumur hidup" ucap Athena tegas.


Lalu berdiri dari kursi tamu kantor perusahaan ayah Vivi.


"Tunggu, apa yang harus kulakukan ?" tanya ayah Vivi.


"Istri bapak berbuat jahat pada Vivi pada saat bapak tidak berada dirumah. Karena itu sebaiknya kita membuat situasi seakan-akan bapak pergi keluar kota sehingga membuat istri bapak merasa bebas berbuat sekehendaknya" ucap Athena menjelaskan rencananya.


Akhirnya ayah Vivi setuju, ada perasaan takut jika semua yang diungkapkan Athena terjadi, maka bapak itu benar-benar akan menyesal seumur hidup.


Saat ayah Vivi kembali dari kantornya, langsung mengabarkan bahwa secara mendadak harus menghadiri sebuah acara diluar kota. Vivi terlihat sangat sedih mendengar kepergian ayahnya itu. Gadis itu menangis hingga terisak-isak.


"Sayang, kamu ini seperti anak kecil saja. Ditinggal Daddy beberapa hari saja sedihnya sampai seperti ini" ucap ibunya sambil memeluk Vivi.


Ayah Vivi hanya menunduk sambil memasukan pakaiannya kedalam koper.


"Daddy berangkat dulu ya sayang" ucap ayah Vivi sambil memeluk anaknya.


Ayah Vivi pun pamit pada istrinya, menyalakan mobil dan pergi keluar dari gerbang rumah besar itu. Diujung jalan bapak itu berhenti dan menemui Athena yang tengah menunggunya.


"Kita sembunyikan dulu mobil bapak takutnya ada yang mengenali mobil bapak" ucap Athena.


"Baiklah, dimana kita akan sembunyikan mobilku" tanya ayah Vivi.


"Bapak titipkan disalah satu rumah yang bapak kenal penghuninya" ucap Athena.


Bapak itu setuju lalu menitipkannya di rumah ketua RT kompleks perumahan elit itu. Mereka kembali ke kediamannya dengan sembunyi-sembunyi. Axel memberikan aba-aba jika ada orang yang datang.


Menjelang malam satu persatu tamu dirumah itu datang. Bapak itu sangat terkejut melihat apa yang terjadi dirumahnya. Hingga saat pintu gerbang terbuka merekapun segera masuk dan menyelinap ke samping bangunan rumah besar itu.


Dari sana mereka memperhatikan apa yang terjadi dirumahnya. Ayah Vivi sangat terkejut, istrinya membuat pesta dan mengundang pria-pria muda untuk hadir. Bermabuk-mabukan dan bahkan menyediakan obat-obat terlarang, berdansa dengan pria muda secara bergantian.


Ayah Vivi terlihat sangat terpukul dengan kenyataan yang dilihatnya. Apa yang dilihatnya memang mengejutkan namun tuduhan Athena terhadap istrinya yang menyiksa Vivi sama sekali tidak terlihat. Bapak itu ingin segera menghentikan pengintaiannya.


"Tunggu pak, kita lihat dulu apa yang terjadi. Saya percaya pada Vivi, kalau ibu tirinya sering menyiksanya mungkin ini belum terlihat tapi nanti bisa saja terjadi pak. Kita harus sabar jika ingin membuktikan ucapan Vivi pak" jelas Athena.


Athena yang saat ini tetap didampingi Axel, mengajak bapak itu untuk bersabar membuktikan ucapan Vivi. Jika hanya melihat tingkah istrinya yang suka berpesta mungkin tak cukup kuat hati bapak itu untuk menindak perilaku istrinya.


Hanya dengan merayunya saja mungkin bapak itu akan kembali luluh hatinya.


"Athena lihatlah" ucap Axel sambil menunjuk kedalam melalui kaca jendela dapur.


Disana terlihat Vivi yang sedang membawa nampan berisi botol minuman dan gelas kristal. Hati ayah Vivi terenyuh melihat anaknya diperlakukan seperti seorang pembantu.


Bapak itu tidak sabar ingin segera menggerebek pesta itu. Namun Athena masih melarang, gadis itu ingin menunggu saat yang tepat yaitu saat ibunya melakukan sesuatu yang mengarah pada penyiksaan terhadap Vivi.


Athena melirik pada Axel, bertanya apa yang harus mereka lakukan. Hari hampir menjelang malam, sebentar lagi Axel akan melewati masa pergantian waktu, laki-laki itu akan kembali seperti bayangan dia tidak akan memiliki kekuatan apapun untuk membantu Athena.


Axel pun berubah menjadi bayangan saat itulah Vivi muncul kembali ke dapur dan mengganti gelas bekas pakai dengan gelas yang masih bersih. Axel tak cukup sabar menunggu dengan kekuatannya Axel membuat gelas yang dibawa Vivi terjatuh.


Dalam sekejap ibu tiri Vivi datang dan langsung memaki gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan ? kamu ingin menghabisi hartaku ya.


Haa.. kamu tau suatu saat nanti semua harta daddy mu akan jatuh ketanganku. Kamu ingin menghabiskannya sebelum aku menguasainya haa.." teriak ibu tiri Vivi sambil menjambak rambut gadis itu.


Tak cukup sampai disitu, ibu tiri jahat itu juga mengambil spatula untuk dipukulkannya ke punggung Vivi. Gadis itu menjerit kesakitan, ayah Vivi tidak tahan lagi. Langsung menyerbu masuk dan menemui ibu tiri itu.


"Ini yang kamu lakukan jika aku tidak berada dirumah ?" ucap ayah Vivi, wajahnya terlihat sangat emosi.


"Mengundang laki-laki dan berpesta ? mengkonsumsi obat-obat terlarang ? dan menyiksa anakku ? kau ingin hartaku, kau sangat ingin hartaku. Heh mulai saat ini juga aku menceraikanmu, aku tidak akan memberikan sepersen pun hartaku padamu, ingat itu" ucap ayah Vivi sambil membubarkan pesta itu.


Ayah Vivi masuk ke kamar dan melempar semua pakaian istrinya itu. Wanita itu menangis, mencoba merayu ayah Vivi namun bapak itu tidak terpengaruh lagi. Sangat sakit hatinya melihat kelakuan istri yang sangat dipercayanya itu.


"Athena, aku tidak kuat lagi" ucap Axel.


Bayangan laki-laki itu jatuh berlutut. Athena segera beranjak dari tempat itu.


"Ayo Axel, kita pulang" ucap Athena membuka taksi online yang dipesannya.


"Apa kamu sudah masuk ?" tanya Athena saat telah berada didalam taksi online itu.


"Sudah" terdengar suara bisikan Axel.


Athena meminta sopir taksi untuk segera mengantarnya ke alamat yang telah ditunjukkan. Raut wajah Athena terlihat sangat khawatir. Gadis itu tidak ingin Axel jatuh sakit.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2