
Evan tiba-tiba muncul di kelas mereka dan langsung mendekap wajah Athena yang sedang duduk di balik meja dan mencium bibir gadis itu. Athena terbelalak, meski dikhayalkannya sejak dulu tapi mendapat kejutan seperti ini tak ayal membuat tubuhnya membeku.
Sorak riuh dan tepuk tangan para siswa yang kebetulan lewat dan melihat kejadian itu membuat Athena tersadar.
Siswa-siswi yang memberi dukungan terhadap Evan yang mengambil langkah berani mencium Athena semakin bertambah berdiri mengintip di depan jendela kelas.
Axel menatap kejadian itu dengan perasaan hancur, namun diwajahnya tetap tersungging senyuman. Athena yang merasa malu akhirnya mendorong Evan perlahan menjauh. Meski Evan merasa heran tapi akhirnya memaklumi.
"Yuk, kita pulang" ajak Evan.
Athena mengangguk, mereka pun keluar kelas bersama-sama, para siswa yang mampir mengintip ke kelas Athena pun bubar. Saat berpapasan Athena menoleh ke arah Axel, laki-laki itu hanya menyunggingkan senyum dibibirnya. Athena tertunduk, mata Axel tak lepas memandang Athena, lalu beralih ke tangan gadis itu yang di genggam Evan.
Kimmy dan Vivi melambaikan tangannya, sementara Evan masih menggandeng Athena menuju parkiran mobil. Membukakan pintu mobil untuk Athena lalu berjalan ke sisi mobil lainnya. Begitu duduk di belakang kemudi laki-laki itu langsung tersenyum.
"Kemana kita hari ini? mall, bioskop atau caffe?" tanya Axel.
"Kita langsung pulang aja ya?" ucap Athena pelan.
"Kenapa?" Evan menatap Athena.
Gadis itu hanya diam menunduk, hatinya sedang merasa tidak nyaman, gelisah memikirkan perasaan Axel.
"Kamu marah soal tadi? maafin aku ya? harusnya aku minta izin dulu" ucap Evan menyesal.
Athena tersenyum simpul, terlihat kalau hati Athena masih belum pulih dari syok.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?" tanya Evan.
"Tidak, tidak perlu minta maaf, aku hanya sedikit syok" ucap Athena.
"Belum pernah berciuman sebelumnya?" tanya Evan.
Athena diam.
Dengan manusia memang belum, kalau berciuman dengan hantu tidak dihitung berarti aku memang belum pernah berciuman, batin Athena.
"Aku belum pernah melihat kamu jalan dengan cowok di sekolah karena itu aku berpikiran seperti itu, nggak tahu kalau diluar sekolah. Apa kamu punya pacar di luar sekolah ?" tanya Evan.
"Nggak, aku nggak punya" ucap Athena singkat.
Evan tersenyum, mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah Athena. Gadis itu bersyukur karena Evan mau langsung mengantarkannya pulang. Namun, dengan syarat weekend besok Athena bersedia di ajak jalan.
Sesampai di rumah, Athena langsung ingin naik ke lantai atas.
"Sayang, sini dulu nak" ucap mama Athena.
"Ada apa ma?" tanya Athena.
"Duduk dulu sini, mama bikin sop jagung asparagus kesukaanmu" ucap mama Athena.
Mama Athena langsung menghidangkan semangkok sop di hadapan Athena, lengkap dengan sambal botolnya. Langsung saja Athena menuangkan sambal itu ke dalam mangkok dengan semangatnya.
"Jangan kebanyakan nak, nanti sakit perut lagi" ucap mama Athena.
"Nggak enak ma, kalau sambalnya nggak banyak" ucap Athena.
Gadis itu tetap menambahkan sambal botol hingga menumpuk di mangkok. Mendengar itu mama Athena langsung cemberut. Athena langsung cengengesan.
"Maksud Athena itu tetap enak ma tapi kurang perfetto" ucap Athena membujuk mamanya.
Mama Athena kembali tersenyum.
"Kalau sakit perut lagi mama nggak tanggung jawab ya" ucap mama Athena.
"Tanggung jawab dong, kan mama yang bikin makanannya" ucap Athena seenaknya.
Mama Athena langsung menarik mangkok Athena menjauh dari hadapan gadis itu.
"Aaaa, mama, jangan diambil. Mama gimana sih, udah di kasih kok malah diambil lagi, mama nih plinplan" ucap Athena sambil menggeser kembali mangkok sopnya.
"Abisnya kamu itu, nggak bisa dilarang kalau menyangkut sambal botol" ucap mama Athena.
"Mana bisa sambal botol menyangkut ma, emang layangan, nyangkut" ucap Athena.
"Ih, kamu ini susah ya kalau diomongin. Mama mau nanya sesuatu sama kamu, jawab yang serius ya" tanya mama Athena.
Athena mengangguk sambil menyantap sopnya dengan serius.
"Kamu sekarang udah punya pacar?" tanya mama Athena.
"Belum" ucapnya singkat sambil terus menyantap sopnya.
"Jangan ditutupi nak, kalau kamu emang udah punya pacar, jangan sembunyi-sembunyi, mama izinkan Athena pacaran kok tapi kenalin sama mama" ucap mama Athena setengah memohon.
Athena menyatukan jari jempol dan telunjuknya membentuk lingkaran. Sambil masih serius menyantap sopnya.
__ADS_1
"Siapa namanya?" pancing mama Athena.
"Axel" ucap Athena.
"Axe? jadi pacar kamu namanya Axel?" tanya mama Athena.
Athena tercenung, Axel terperangah.
Kok gue ngomong Axel sih? mama jadi heran kan? mana mungkin kenalin Axel sama mama? batin Athena.
Athena cengengesan.
"Kan Athena bilang nggak punya pacar, kok mama tanya namanya?" tanya Athena.
"Trus siapa yang namanya Axel itu?" tanya mama Athena.
"Kan mama udah kenal, dia itu guling Athena ma" ucap Athena.
"Nggak mungkin, pasti Axel itu bukan guling, pasti seorang laki-laki. Guling kamu itu cuma simbol doang agar kamu bisa pura-pura bicara sama Axel kalau kamu lagi kangen sama dia" ucap mama Athena.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang tertahan, Athena langsung menoleh pada arah suara, dengan cepat memasang mata yang tajam. Axel berakting seolah-olah memasang resleting dimulutnya.
Athena menyipitkan mata seakan-akan mengancam Axel. Laki-laki itu lalu tertawa.
"Hei kamu liat apa disitu?" tanya mama Athena.
"Nggak ma, pengen ke atas aja" ucap Athena seakan-akan melihat tangga tempat Axel bersandar.
"Mama heran, belakangan ini kamu suka sekali mendekam di kamar. Kadang papa bertanya kalau lagi nonton tayangan kesukaanmu biasanya kamu nggak akan pernah mau melewatkannya. Sekarang, udah susah kalau mau liat kamu. Di kamar melulu, teman mama bilang itu tanda-tanda anak udah punya pacar atau punya narkoba" ucap Athena.
"Haaa, ya nggak lah ma, nggak mungkin Athena punya narkoba" ucap Athena.
"Kalau pacar?" pancing mama Athena lagi.
"Eeeenggalum" ucap Athena.
"Apa itu enggalum?" tanya mama Athena.
"Enggak, belum" ucap Athena sambil mengecup pipi mamanya.
Mama Athena hanya bisa menatap putrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Makasih atas hidangannya nona Ana, molto delizioso, perfetto" ucap Athena mengatakan sangat lezat dan sempurna dalam bahasa Italia sambil membungkukkan badannya.
Mama Athena tertawa melihat tingkah anaknya, sebelum Athena melangkahkan kaki di anak tangga. Begitu membuka pintu kamarnya Athena langsung menatap Axel yang sedang bersandar di meja belajarnya.
Axel hanya tersenyum sambil tertunduk.
"Kenapa harus minta maaf? kamu nggak salah apa-apa, dicium sama orang yang kamu sukai, kenapa merasa bersalah?" tanya Axel
Athena menunduk, dia sendiri tidak tahu kenapa merasa menyesal. Axel telah tahu perasaan Athena terhadap Evan sejak lama, bahkan Athena justru meminta bantuan pada Axel untuk mendekati laki-laki idamannya itu.
Axel berjalan mendekat, sangat ingin menyentuh pipi gadis itu, namun belum waktunya. Sebenarnya Axel juga merasa menyesal, menyesal menyatakan kesediaannya untuk membantu Athena, menyesal untuk membiarkan Athena berpacaran dengan Evan. Menyesal dengan apa yang telah dilihatnya tadi dan terlebih dari itu, menyesal karena dia bukan manusia.
"Bahagialah Athena, dia ingin menunjukkan perasaan cintanya padamu, kenapa kamu terlihat ragu-ragu menerimanya? jangan pedulikan aku, jangan selalu melirik kearahku, diluar sana jangan pernah anggap aku ini ada" ucap Axel dengan perasaan yang pedih.
"Nggak mau, aku nggak setuju. Aku nggak mau menganggapmu nggak ada. Aku tahu kamu ada, kenapa harus berpura-pura nggak tahu kamu ada disana?" ucap Athena sambil menggelengkan kepalanya kuat.
"Agar kamu merasa bebas dan bisa menerima perlakuan mesra Evan dengan perasaan yang tenang. Itu bisa membuatmu bahagia" ucap Athena.
"Dengan mengabaikanmu?" tanya Athena.
"Ya, dengan mengabaikanku" ucap Axel.
"Aku nggak mau" ucap Athena tegas.
"Kalau gitu aku nggak akan ikut ke sekolah lagi, aku akan menunggumu disini" usul Axel.
"Nggak, aku nggak setuju, i need you" ucap Athena sambil menunduk.
"What for?" tanya Axel sambil tersenyum.
"It's make me feel better, if i see you around me" ucap Athena mengatakan perasaannya yang merasa lebih tenang jika melihat Axel berada didekatnya.
"Itu nggak benar, kamu merasa terkekang, kamu nggak bahagia. Ayo kita coba beberapa hari ini tanpa aku disisimu, kamu akan bahagia, bisa dengan bebas menerima perlakuan manis dari Evan" saran Axel sambil tersenyum.
Athena tetap menggeleng, namun Axel telah bertekad. Mulai besok Athena akan berangkat sendiri ke sekolah tanpa ada Axel didekatnya. Setidaknya Axel tidak ingin Athena merasa dia sedang menatapnya.
Athena tetap menggelengkan kepala kuat. Axel tersenyum lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Athena. Berharap waktu telah tiba baginya untuk muncul. Athena merasakan sentuhan Axel, gadis itu langsung memeluk laki-laki hantu itu.
Axel membalas pelukan Athena erat.
Aku mencintaimu Athena, aku sangat mencintaimu, jerit hati Axel, jerit hati yang tak bisa diucapkannya.
"Kamu harus bahagia, Athena. Aku tidak mau menjadi penghalang bagimu untuk bahagia" ucap Axel.
__ADS_1
"Aku bahagia bersamamu" ucap Athena.
"Tapi aku tidak ada di setiap waktu, aku tidak bisa selalu ada untukmu" ucap Axel.
"Justru dalam keadaan seperti ini kamu bisa selalu bersamaku. Jika kamu manusia biasa, kamu nggak akan diizinkan masuk ke kelasku" ucap Athena.
"Selalu ada untukmu dalam bentuk bayangan? ada tapi tidak bisa melakukan apa-apa untukmu? jangankan membantumu, menyentuhmu saja aku tidak bisa" ucap Axel sambil tertawa.
"Bagiku tidak masalah jika kamu ke sekolah menemaniku" ucap Athena pelan.
Masalah bagiku Athena, setiap kali laki-laki itu mendekat, aku kesal bercampur sedih. Setiap kali kamu melirik padaku karena kehadirannya, aku merasa bersalah padamu seakan-akan aku menghalangi kebahagiaanmu. Aku tidak tahan lagi Athena, biarkan aku disini menunggu, pikiranku mungkin akan menyiksaku saat menunggumu tapi itu lebih baik dari pada menatap langsung laki-laki itu menyentuhmu, batin Axel.
Axel hanya berbicara dalam hatinya, tak mampu mengucapakannya tapi Athena mengerti apa isi hati Axel. Athena hanya ingin sedikit egois, tak memperdulikan perasaaan Axel demi dirinya sendiri.
Athena merasa hampa tanpa Axel, tak bisa tanpa Axel, setelah hitungan bulan selalu bersama laki-laki itu. Melewati hari-hari bersama laki-laki itu, membuat Athena tidak setuju dengan usul Axel. Athena akan merasa kehilangan jika Axel tak terlihat lagi disekitarnya.
Athena meraih wajah Axel, menjinjitkan kakinya meraih bibir laki-laki itu. Axel langsung mengejar bibir itu, memadukan rasa mereka. Setiap kali Athena bicara, setiap kali tertawa, Axel selalu membayangkan lidahnya memasuki rongga itu.
Kini Athena justru mendahuluinya, membuka rongga mulutnya untuk Axel. Meminta Axel memasukinya dan dia juga ingin merasakan apa yang ada didalamnya.
Athena semakin menjadi, sambil terus menciumi Axel, gadis itu melepaskan dasi Axel, membuka kancing kemeja hantu itu satu per satu. Melepaskan kemeja itu dan melemparnya ke bawah, membuat tubuh atletis Axel terbuka. Tak sampai disitu Athena mulai membuka kancing bajunya sendiri.
Apa yang Athena lakukan? kenapa dia seperti ini? batin Axel.
Laki-laki itu segera menghentikan ciumannya, menggenggam kedua tangan Athena yang sedang membuka kancing kemejanya yang ke-tiga.
"Stop, apa yang kamu lakukan?" tanya Axel.
Athena mengangkat wajahnya, air matanya telah mengalir dari situ. Axel terkejut lalu menangkup wajah cantik itu.
"Apa yang kamu lakukan?" ulang Axel bertanya.
"Untuk membuktikan kalau aku ingin menyerahkan diriku untukmu" ucap Athena masih bercucuran air mata.
"Tidak perlu, aku sudah tahu. Tapi ingatlah, kita hidup di dunia yang berbeda. Apa yang kamu lakukan ini hanya akan merugikanmu" ucap Axel sambil membelai wajah Athena.
"Tapi, aku ingin menjadi milikmu" ucap Athena begitu polos.
"Bukan begini caranya, kamu tidak boleh menyerahkan dirimu pada sembarangan orang. Kamu hanya boleh menyerahkan dirimu pada suamimu, dengan begitu dia akan selalu menghargaimu. Hidupmu tidak akan tenang jika menyerahkan kesucianmu bukan pada suamimu" nasehat Axel sambil memasang kembali kancing seragam Athena.
"Aku takut kamu akan meninggalkanku mencari gadis lain. Kalau kamu pergi, aku tidak akan bisa menemukanmu lagi. Karena itu, aku ingin menjadi milikmu" ucap Athena dengan wajah memelas.
"Kamu sudah menjadi milikku. Sejak kamu menungguku pertama kali di rooftop hingga menjelang malam. Apa kamu lupa? saat ada miskomunikasi di antara kita. Saat itu aku tanya padamu, apa kamu mau selamanya bersamaku tapi kamu malah menggelengkan kepala? saat itu kamu bilang menggeleng bukannya menolak permintaanku, tapi bingung karena tidak bisa mendengar suaraku. Saat itu kamu sudah menerima permintaanku untuk selalu tetap bersamamu. Karena itu aku bertekad akan tetap bersamamu meski suatu saat kamu akan mengusirku. Sejak saat itu kamu sudah menjadi milikku" ucap Axel.
Laki-laki itu menatap wajah gadis yang dicintainya lalu mengecup kening Athena. Gadis itu memejamkan mata menikmati hangatnya ciuman Axel sambil tersenyum.
Keesokan harinya Athena sakit perut, sebentar-bentar gadis itu memegang perutnya, Axel kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku panggilkan mamamu ya" ucap Axel.
"Axel, kamu lupa kamu ini hantu, mamaku nggak bisa liat kamu" ucap Athena.
Axel menepuk jidatnya.
"Kalau gitu kamu teriak biar mama kamu naik ke atas sini" usul Axel.
"Nggak kuat teriak" ujar Athena yang telah berkeringat menahan sakit.
Axel memutuskan menggendong Athena hingga ke lantai bawah. Dari sana barulah gadis itu memanggil mamanya. Athena dibawa kerumah sakit oleh mamanya.
"Dasar bandel, udah dibilang jangan banyak-banyak makan sambal masih aja nggak patuh" ucap mama Athena kesal.
"Ya mam, tapi jangan sekarang ceramahnya, lagi atit" ucap Athena manja.
"Nggak, kalau nanti kamu bisa lupa lagi. Waktu itu kamu juga sakit hingga nggak bisa ikut pemilihan ketua OSIS kan? waktu itu nyeselnya minta ampun, habis itu lupa lagi. Ingat Athena, kamu itu usmah" ucap mama Athena.
"Apa itu usmah?" tanya Athena.
"Usus lemah"ucap mama Athena sambil berdiri dari ranjang Athena.
Athena baru pulang dari rumah sakit saat menjelang sore, gadis itu terpaksa izin tidak masuk sekolah. Athena di minta istirahat di rumah saja. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu, Athena mempersilahkan masuk.
"Hai" ucap Evan.
Athena kaget, lalu membalik badan. Gadis itu mengira mamanya yang mengetuk pintu. Tapi ternyata Evan dan sekarang Athena merasa tak percaya diri dengan penampilannya. Athena menutup wajahnya.
Mama ini tega amat sih dalam kondisi berantakan kayak gini, malah biarin Evan masuk ke sini, batin Athena.
"Kamu kenapa?" tanya Evan sambil duduk di ranjang.
"Aku berantakan" ucap Athena singkat.
"Kata siapa kamu berantakan? kamu tetap cantik kok" ucap Evan sambil menarik tangan Athena lalu mengecup bibir gadis itu.
Axel memalingkan wajah lalu tertunduk, setengah hatinya sedih melihat pemandangan itu, setengahnya lagi bahagia melihat perhatian laki-laki itu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...