Ghost Love Story

Ghost Love Story
BAB 65 ~ Menemui Hani ~


__ADS_3

Keluarga Cullen akhirnya mencabut laporan mereka ke kepolisian. Dengan alasan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Saat kondisi kesehatan Hardy membaik akibat kecelakaan itu, Hardy mendatangi Hani ditemani oleh Tn. Tom Cullen dan Ny. Olivia selaku orang tuanya. Akhirnya Hardy dipertemukan dengan Hani yang telah ketakutan karena telah dilamar dan dibujuk untuk segera menikah.


Setelah mengenalkan kedua orang tuanya pada Hani dan Pak Yusuf. Hardy membicarakan tentang keinginannya untuk melanjutkan hubungannya dengan Hani. Namun orang tua Hani itu justru menceritakan kalau Hani telah dilamar oleh putra dari salah seorang kenalan Pak Yusuf. Mendengar Hani telah dilamar orang, Hardy pun tertunduk sedih.


"Tapi Hani tidak setuju Kak, Hani tidak mau menikah dengan laki-laki lain selain dengan Kak Hardy," sela Hani saat ayahnya menceritakan kalau dirinya telah dilamar orang.


"HANI! TIDAK SOPAN KAMU! Menyela pembicaraan orang tua! Apa kamu tidak malu?" teriak Pak Yusuf.


Hani menunduk, air matanya langsung menetes. Hardy menatap gadis yang tertunduk itu, dia merasa bersalah. Setelah memberi harapan pada Hani kemudian dia mengabaikannya. Hani terlanjur cinta mati padanya dan tak bisa menerima di nikahkan dengan pilihan orang tuanya. Jika saat itu Hani tak mengenalnya, atau Hardy tak memberi harapan padanya mungkin Hani tak berharap begitu besar padanya.


"Saya minta maaf Pak, tapi saya telah berjanji akan menikahi Hani. Jika diizinkan biarkan kami menikah Pak, saya juga tidak sanggup melihat Hani yang menderita karena menikah dengan laki-laki yang tak dicintainya," ucap Hardy.


"Tapi bagaimana lagi, sudah terlambat!" ucap Pak Yusuf yang terkenal sangat garang.


"Belum terlambat Pak, mereka belum menikah dan Hani juga tidak mencintai laki-laki yang dijodohkan dengannya itu. Kasihan Hani Pak, jika seumur hidupnya harus bersama dengan laki-laki yang tak dicintainya," ucap Olivia sekarang maju untuk membantu putranya.


Hani langsung mengangkat wajahnya saat Ny. Olivia bicara, gadis itu tak menyangka. Dukungan dan perhatian justru datang dari orang lain bukan dari keluarganya sendiri.


"Itu salahnya sendiri kenapa berharap pada Hardy yang tak pernah muncul-muncul selama bertahun-tahun. Membiarkan anak saya digantung tak bertali. Di daerah sini tak ada lagi seumuran dia yang belum menikah, saya juga takut jika tak ada lagi yang sudi menikah dengannya karena sudah terlalu tua. Laki-laki di sini lebih suka dengan gadis-gadis yang masih muda. Untung saja Putra dari teman saya mau menerimanya," ucap pak Yusuf.


"Usia Hani masih muda Pak, seusia dia ini anak-anak masih menempuh pendidikan. Masih ada jenjang pendidikan lain setelah SMA. Jika bapak bersedia biarkan Hani dan Hardy bertunangan, dan jika Hani juga ingin menempuh bangku kuliah kami akan bersedia membiayainya," jelas Olivia.


Hani langsung terpana mendengar usulan dari ibunya Hardy. Tak percaya dengan dukungan yang begitu besar datang dari orang tua laki-laki yang dicintainya itu.


"Ibu? Bu Olivia?" tanya seorang ibu yang baru saja datang.


Tanpa ba-bi-bu langsung menyapa Ny. Olivia dan langsung duduk disamping Hani.


"Bu Yati?" tanya Olivia kaget karena juga mengenali.


"Wah, ibu ada keperluan apa datang ke rumah saya?" tanya Yati.


Ny. Olivia baru akan bicara, belum sempat kata-katanya terucap Bu Yati sudah langsung terdengar bicara lagi.


"Pak, ini Bu Olivia yang suka ngasih bantuan ke rumah sakit sini lho pak. Bu Olivia ini yang bantu anak-anak kurang mampu untuk membiayai pengobatannya dan juga biaya sekolahnya. Ibu Olivia ini yang memberikan bantuan untuk guru-guru honor di sekolah-sekolah di kampung kita ini Pak," jelas Yati.


"Yang ibu ceritakan waktu itu? Yang ibu kaya dari kota? Yang mau makan bareng sama ibu?" tanya Pak Yusuf.


"Iya Pak, Bu Olivia yang mana lagi?" tanya Yati yang pasti tak bisa dijawab oleh Pak Yusuf.


"Oh ya maaf Bu Olivia, tadi saya bertanya, malah ngobrol dulu sama suami saya," ucap Yati yang akhirnya sadar kalau dia telah mengabaikan tamu terhormatnya itu.

__ADS_1


"Pak Yusuf ini suami ibu? Berarti Hani ini anak ibu?" tanya Olivia.


"Benar Bu Olivia, Hani anak saya, anak kandung saya. Ada keperluan apa ya datang ke rumah saya?" tanya Yati mengulang pertanyaan yang sempat terlontar tadi.


"Wah kalau memang benar Hani adalah anak ibu? Kalau ibu bersedia berarti kita bisa jadi besanan Bu," ucap Olivia sambil tersenyum.


"HAA, BESANAN SAMA BU OLIVIA?" teriak Yati yang begitu kaget dan langsung jatuh pingsan.


"Lho gimana ini?" tanya Olivia panik.


"Nggak apa-apa nyonya, ibu memang seperti itu gampang kagetan," ucap Hani langsung menepuk pipi ibunya yang bersandar padanya.


Pak Yusuf juga langsung menepuk pundak Bu Yati. Sementara Bu Olivia memberikan parfum aromaterapi di hidung Bu Yati. Tak lama kemudian ibu itu bangun dari pingsannya, dan langsung tersipu malu.


"Kenapa Bu Yati? Mau diajak jadi besanan kok malah pingsan?" tanya Olivia sambil tersenyum.


"Saya kaget Bu, kok saya bisa jadi besanan sama ibu yang jauh beda sama kami ini," ucap Yati tak percaya.


"Apanya yang jauh beda Bu Yati?" tanya Olivia sambil tersenyum.


Ny. Olivia seperti telah menguasai situasi, karena kenal dengan Bu Yati dan berharap ibu itu bisa diberi pengertian.


Hani tertunduk, gadis itu baru sadar dengan perbedaan status sosial mereka yang terlalu jauh.


"Kenapa tidak pantas Bu Yati? Bagi kami kebahagiaan anak-anak adalah yang paling utama. Putraku Hardy jatuh cinta sama putri ibu. Perbedaan apa pun tak jadi masalah bagi kami. Asalkan mereka bisa bersatu dan bahagia," jelas Olivia memberi pengertian pada Bu Yati.


"Lho nak Hardy ini 'kan, ponakannya pak Budi?" tanya Bu Yati.


Pak Yusuf langsung mengangguk-angguk, cukup heran dari tadi dengan hubungan Hardy dan keluarga kaya itu.


"Ya Bu Yati, telah terjadi sesuatu di masa lalu. Kami baru saja menemukannya, anak kami yang hilang dan akhirnya ditemukan oleh adiknya Pak Budi. Hardy diasuh dan dibesarkan oleh mereka. Belum lama ini calon mantu kami yang lain, namanya Athena...,"


"Athena?" ucap Hani tanpa sengaja karena kaget.


"Ya Athena, dia bantu kami menemukan putra kami yang hilang ini. Bagaimana Pak? Apa mengizinkan putra kami berhubungan dengan Hani? Seperti yang kami tawarkan tadi. Jika Bapak dan ibu bersedia kami mau membiayai kuliah Hani hingga memiliki pendidikan yang lebih tinggi. Tapi itu jika Hani mau melanjutkan kuliah, kalau tidak ya menikah saja," jelas Olivia panjang lebar.


"Bagaimana Hani? Kamu masih mau kuliah atau mau nikah saja?" tanya Yati langsung saat itu juga di depan semuanya.


"Lho Bu, bagaimana dengan janji bapak sama teman bapak itu?" tanya Pak Yusuf.


"Udahlah Pak, Bapak bisa bilang kalau Hani-nya nggak mau karena sudah punya pacar," ucap Yati dengan ringannya.

__ADS_1


Membuat Ny. Olivia tersenyum mendengar pembicaraan kedua orang tua Hani itu.


"Tapi janjinya bisa dipaksa," ucap Yusuf.


"Udah nggak jamannya kawin paksa. Sekarang ini bukan jaman Siti Nurbaya. Tak ada lagi orang tua yang main paksa anak-anaknya menikah," jelas Yati.


"Lho ibu ini gimana? Padahal bapak udah terlanjur janji," ucap Yusuf kecewa.


"Ya udah bapak saja yang kawin sana," ucap Yati.


"Lho ibu ini bagaimana?" tanya Yusuf.


Ditanya seperti itu Bu Yati cuek. Ny. Olivia, Tn Tom Cullen dan Hardy menahan tawa. Bu Yati seperti lebih berminat memenuhi keinginan Keluarga Cullen. Sementara Pak Yusuf yang terlihat garang tak kuasa melawan kehendak istrinya. Bu Yati akhirnya setuju memenuhi keinginan Keluarga Cullen. Hani yang juga ingin melanjutkan kuliah akhirnya memilih melanjutkan kuliah di kota bersama Hardy.


Ny. Olivia mempersilahkan Hani tinggal di rumah mereka. Hani dijanjikan akan di jemput oleh Hardy jika gadis itu sudah siap untuk pindah ke kota besar.


"Nanti saat tahun ajaran baru, siapkan segala keperluan untuk pendaftaranmu di universitas ya!" ucap Olivia.


"Baik Nyonya," ucap Hani.


"Kenapa masih panggil Nyonya, panggil Mommy sama seperti Hardy, kamu panggil Mommy saja," ucap Olivia.


"Baik Mommy," ucap Hani.


"Oh ya ampun, Hani panggil Mommy Pak. Kalau sama teman Bapak itu paling manggil simbok," ucap Yati memukul bahu pak Yusuf.


Ibu itu langsung bangga dengan calon besannya. Ny. Olivia hanya tertawa dan mereka pun pamit. Hani menatap malu-malu dan tersenyum pada Hardy.


Dalam perjalanan mereka membicarakan keberuntungan hari ini. Hani belum sempat dinikahi orang lain dan ternyata ibunya adalah kepala juru masak di rumah sakit yang biasa di datangi Ny. Olivia untuk menjadi sukarelawan.


Ny. Olivia mengusap lengan Hardy yang duduk di samping sopir. Laki-laki itu langsung menoleh.


"Kamu sudah yakin 'kan sama Hani?" tanya Olivia.


Hardy mengangguk, semakin yakin saat melihat Hani yang berani menentang ayahnya yang terkenal garang. Hani nekad menentang ucapan ayahnya di depan mereka para tamu. Meski akhirnya Hani harus menangis sedih karena dibentak oleh ayahnya. Namun, Hardy telah melihat kesungguhan hati gadis manis itu.


Saat tadi mendengar Hani telah dilamar orang, Hardy langsung tertunduk sedih. Namun gadis itu menguatkan hatinya dengan menyatakan kalau dia menolak dan hanya mau menikah dengan Hardy. Sebuah harapan yang besar bagi Hardy meski untuk itu Hani mendapat bentakkan dari ayahnya.


Bu Yati sangat senang memiliki calon besannya yang orang terpandang. Dalam waktu singkat berita tentang Bu Yati menjadi calon besan Ny. Olivia langsung tersebar. Sebagian orang iri dengan keberuntungan Bu Yati. Sebagian lagi tak yakin itu terjadi, dan sebagian lainnya ikut senang dan semakin kagum akan pribadi Ny. Olivia yang kaya raya namun bersahaja, jauh dari sifat sombong.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2